
Malam ini suasana di kamarku agak berbeda, karena biasanya tenang, sekarang dipenuhi oleh suara ketikan dari kakakku yang tengah sibuk mengerjakan tugas kuliahnya di laptop di meja belajarku.
Setumpuk buku-buku yang cukup tebal, beberapa kertas yang berceceran, dan secangkir teh yang tampak masih berasap ikut meramaikan suasana tempat belajarku yang kini berubah menjadi meja kerjanya. Melihat itu semua membuatku jadi merasa enggan untuk meneruskan ke universitas setelah aku lulus nanti.
Aku sendiri, duduk bersandar di ranjang dibalut selimut tebal ditemani piring berisi potongan-potongan apel buah tangan teman-temanku. Kuambil satu dan kumakan, rasanya segar dan setidaknya bisa mengurangi sedikit pening yang membuatku merasa dunia kehilangan gravitasinya, juga mengurangi kering di tenggorokan karena demamku.
“Kakak mau?” Kutawarkan piring berisi apelnya pada Kak Dian.
“Tidak usah, Nda. Itu kan buat kamu,” katanya tanpa mengalihkan tatapannya dari monitor laptop.
“Tidak apa-apa kok, Kak. Nanti kalau busuk sayang karena Amanda juga tidak bisa menghabiskannya.”
“Ya sudah, taruh lagi saja. Nanti kakak makan.”
Kulakukan apa yang dia bilang. Kemudian, kupandang langit-langit kamarku seraya meletakkan tangan kananku di tempat hatiku berada. Perasaan hangat pun muncul memenuhi benakku, membuatku tersenyum.
Kunjungannya hari ini, adalah hal termanis yang kualami dalam hidup. Maksudku, terbangun dari tidur dan mendapati dia di kamarku, awalnya kupikir itu hanyalah mimpi. Namun begitu aku menyadari bahwa dia benar-benar nyata, seketika itu juga sakitku seolah terangkat.
Apalagi ketika aku merasakan kenyamanan saat kubawa dia dalam pelukanku, membuatku berharap dia bisa tetap berada di sini. Menemaniku dan menjadi obat untukku. Dan yang paling penting, agar aku bisa membawanya ke dalam pelukanku lebih lama lagi.
“Nda,” panggilan kakakku mengeluarkanku dari angan. Membuatku sontak menolehnya.
“Apa, Kak?”
“Kakak mau tanya sesuatu.”
“Tanya apa?”
“Soal pelukan.”
Sontak aku mengerjap.
“M-Maksud kakak apa?” Tanyaku memastikan.
Kak Dian lantas berhenti dari pekerjaannya, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kemudian menatapku tegas. “Soal pelukan tadi sore. Jangan kira kakak tidak tahu.”
Dalam sekejap, wajahku yang sudah terasa hangat karena demam berubah panas mendengar ucapan kakakku. “K-Kakak tahu?” Tanyaku seraya memalingkan mukaku darinya.
“Saat itu kakak dan kedua teman kamu yang juga datang heran karena Aldi belum juga turun. Karena penarasan kakak kembali ke kamar kamu dan melihat kamu lagi mesra-mesraan dengannya,” ujarnya.
“I-Itu salah Amanda,” aku ingin memberi penjelasan.Aku tidak mau Aldi dipersalahkan oleh Kak Dian karena ulahku. “Sebenarnya Aldi tidak mau, tapi Amanda yang memaksa.”
Tidak ada tanggapan dari kakak. Sepertinya dia tidak senang dengan perbuatanku, dan jika memang begitu, aku sudah siap mengahadapinya.
Kemudian dia mendekatiku dan duduk di tepian ranjang. “Lihat kakak, Nda,” pintanya lembut.
Kuturuti perintahnya dan kudapati dia tersenyum manis padaku, membuatku tertegun karena dia bersikap jauh dari yang kukira. Lalu tangan kanannya merambah kepalaku dan mengusapnya pelan.
“Kenapa kamu tidak cerita sama kakak kalau kalian sudah pacaran?” Tanya Kak Dian.
“Amanda malu, Kak,” jawabku dengan sedikit menunduk.
“Malu kenapa?” Dia terkekeh. “Padahal kan kakak nanti bisa cerita sama ibu, atau mungkin ayah supaya kamu nanti dimarahi sama dia.”
“Kakak jahat,” balasku sambil tersenyum.
“Satu lagi.” Usapan di kepalaku berhenti. Sebagai gantinya, dia meraih kedua pipiku lalu menaikkan wajahku sehingga menatapnya yang memandangku serius. “Kakak tahu kamu suka banget sama dia, Nda. Tapi harus kamu ingat, kamu cinta sama dia bukan berarti kamu bebas melakukan hal seperti sore tadi.”
“Ya, Kak. Amanda paham, Amanda minta maaf.”
“Tidak perlu, Nda. Kakak maklumi, kok. Tapi ingat pesan kakak, ya?”
“Ya. Terima kasih, ya, Kak?”
Kembali senyum merekah di bibirnya kemudian dia merengkuh dan mendekapku. Hangat ..., batinku.
“Habisnya Aldi manis banget sih, Kak. Jadi Amanda gemas kalau melihat dia, maunya peluk-peluk dia terus,” kuungkapkan alasanku soal yang kulakukan tadi sore.
Kak Dian pun tertawa. “Dan juga, rasanya seperti ini ya? Nyaman?”
“Ya. Tapi lebih nyaman Aldi.”
“Jahat.”
“Bercanda kok, Kak.”
__ADS_1
***
Kutengok jam di atas daun pintu ... sudah jam sebelas malam. “Aku tidak bisa tidur ...,” keluhku.
Meski demamku sudah tidak seburuk kemarin, tapi rasanya tetap tidak nyaman. Gerah, tapi juga dingin. Mulut dan tenggorokan pun kering. Aku haus, tapi aku tidak dapat melakukannya sendiri karena pening di kepalaku. Berdiri sebentar saja aku tidak kuat.
Kulirik kakakku yang terlelap di sebelahku. Aku ingin meminta tolong padanya tapi, aku tidak tega. Lagi pula, aku memintanya tidur bersamaku untuk menjagaku karena aku sering bermimpi buruk ketika sakit, bukan untuk menjadikannya pelayanku.
Pun dari tidurnya yang begitu pulas, pasti dia lelah setelah menyelesaikan semua tugas-tugas kuliahnya yang sudah dia kerjakan sejak teman-temanku pulang. Aku tidak mau mengganggu istirahatnya.
“Aku harus melakukannya sendiri,” gumamku. Benar, aku tidak boleh manja.
Kubangunkan diriku. “Agh!” Aku merintih memegangi kepalaku yang terasa ditusuk-tusuk.
Kemudian aku merangkak perlahan untuk turun dari ranjang. Awalnya aku ragu, namun kupaksa diriku untuk berdiri. Aku bisa.
Namun baru saja aku berjalan tiga langkah, kepalaku terasa terbang. Sekujur tubuhku lemas dan pandanganku perlahan kabur dan menghitam.
Kucoba untuk menahan tubuhku dengan berpegang pada sandaran kursi belajar namun aku sudah tidak kuat lagi. Aku pun terjatuh dengan bahu menghantam sandaran kursi.
Aku merintih, mendesah, melakukan apapun yang kusanggup untuk meredakan pusing dan mual yang amat sangat juga sakit di bahuku akibat menimpa kursi. Ingin kupanggil kakakku, namun aku tidak kuasa. Suaraku tidak mau keluar, terlalu lemah.
Dari pandangan buramku, aku melihat kakakku terbangun. “Ya Tuhan! Amanda!” Sergahnya begitu melihatku dan langsung menghampiriku. Aku beruntung.
Selanjutnya dia menggendongku kembali ke ranjang, mengusap kepalaku, berusaha menenangkanku yang merintih menahan pusing dan mual juga sakit. “Kamu mau apa sih, Nda?! Kenapa tidak bilang kakak?!” Tanyanya khawatir bercampur marah.
“Air, Kak. Amanda haus,” lirihku.
“Ya sudah, kakak ambilkan. Jangan ke mana-mana,” perintahnya kemudian pergi dengan setengah berlari.
Tidak lama kemudian dia sudah kembali. Aku agak terkejut karena dia tidak tanggung-tanggung membawa sekalian teko airnya. Dia pun menuangkan airnya ke gelas yang dia bawa lalu kembali menghampiriku, membantuku untuk duduk kemudian memberikan gelasnya padaku.
Aliran air dalam tenggorokanku begitu melegakan, meski agak terasa pahit karena lidahku yang memang sedang tidak berfungsi dengan baik. Kemudian dia membaringkanku kembali lalu menyelimutiku.
“Kenapa kamu tidak bilang sama kakak, Nda? Jawab,” tanyanya tegas dengan tatapan yang sama dengan caranya bicara.
“Habis kakak tadi kelihatan lelah banget jadi Amanda tidak tega membangunkan kakak,” jawabku setelah jeda sesaat.
“Tapi kan tetap saja—”
“Kamu pikir alasan kakak menemani kamu di sini karena apa? Supaya kakak bisa bantu kamu kalau kamu ingin sesuatu.”
Aku bergeming, karena pada akhirnya, aku sadar diriku hampir celaka karena keegoisanku sendiri.
“Maaf ya, Kak,” kataku dengan menyesal.
“Sudah, sudah.” Kak Dian kembali menaiki ranjang dan berbaring di sebelahku lalu mengelus kepalaku. “Kakak sayang banget sama kamu, Nda. Jadi kakak minta kalau butuh sesuatu bilang sama kakak, ya?”
“Ya. Terima kasih,” kataku sambil memberinya senyum yang kemudian dibalasnya.
“Coba tadi kakak tidak tahu kamu pergi terus kamu jatuh pas di tangga? Bahaya, Nda,” katanya lagi. “Lagian, kalau Aldi tahu kamu seperti tadi, dia pasti khawatir. Kamu tidak mau dia khawatir, kan?”
Mendengar namanya disebut membuat tawa lemahku keluar. “Tidak mau, Kak.”
“Makanya, dengarkan kakak.”
Aku mengangguk, yang lantas membuat kakakku terkekeh. Kemudian dia memeriksa dahiku dengan punggung tangannya.
“Syukur, deh. Panasnya sudah turun,” ucapnya lega. Kemudian dia mengecup keningku. “Ya sudah, sekarang kamu tidur. Istirahat supaya kamu cepat sembuh dan cepat bertemu Aldi lagi.”
Senyumku kembali bangun mendengar ucapannya, dan seperti yang diminta, kupejamkan mataku untuk segera tidur. Seperti yang kakak katakan, aku sudah tidak sabar untuk bertemu Aldi lagi.
“Oh ya, Nda,” celetuknya, membuatku kembali membuka mata. “Kamu merasa dingin tidak? Sini kakak peluk.” Dia pun memelukku dengan gemas. “Hangat, kan?”
“Terima kasih, Kak,” ucapku seraya kembali memejamkan mata.
“Sama-sama.”
***
Pagi-pagi sekali, ibuku mendatangi kamarku. Rambutnya disanggul, sementara gaun merah panjang berlengan pendek yang terkesan mewah menempel di badannya. Wajahnya pun dirias dengan sangat baik. Di bahu kirinya menggantung tas kulit warna coklat. Aku tidak tahu dia akan pergi hari ini.
“Ibu mau pergi ke mana?” Tanyaku.
__ADS_1
“Ibu kan mau pergi ke pernikahan anaknya Bibi Lisa. Masa kamu lupa?” Dia pun menertawai kepikunanku.
Ah, aku baru ingat soal itu. “Tapi ... apa harus sepagi ini?” Kulirik jam dinding yang baru menunjuk pukul enam pagi kurang seperempat. “Terus kalau ibu pergi, siapa yang menjaga Amanda?” Tanyaku kembali memandangnya.
“Loh, kan ada Dian.”
“Bukannya kakak kuliah?”
“Tidak, kok. Hari ini dia rela absen buat menemani kamu di rumah. Jadi tidak usah khawatir, ya?”
“Begitu, ya? Kalau begitu ya sudah.”
Kuhela napas. Rasanya tidak enak karena kakakku terpaksa tidak berangkat demi aku.
“Kalau begitu ya sudah, ibu berangkat dulu, ya?” Dia pun mengecup keningku, lalu memberiku senyum seraya mengelus pelan rambutku yang kubalas dengan senyum juga.
Ibu pun pergi meninggalkanku sendiri. Kulirik langit-langit beberapa saat lalu mendesah. “Aku bosan ....”
Ingin sekali aku turun ke ruang tengah, berbaring di sofa empuk sambil menonton kartun pagi yang lucu-lucu. Namun kejadian semalam membuatku sadar kalau aku tidak bisa melakukannya sendirian. Kakakku, entah kapan dia kembali. Lima belas menit yang lalu dia bilang ingin ke luar untuk membelikanku bubur ayam, walau aku yakin tidak akan ada satu pun dari mereka yang sudah berjualan sepagi ini.
Namun, aku berharap kakakku berhasil menemukan tukang bubur ayam. Teringat nikmatnya kuah, sate usus, dan suwiran ayam, membuatku ingin meneteskan liur.
Baru saja kuingat dia, terdengar suara pintu depan terbuka dan tertutup. Kurasa kakakku baru saja kembali. Panjang umur.
Suara langkah kakinya terdengar cepat ketika menaiki tangga, dan tidak lama kemudian dia sudah mencapai pintu kamarku. Kutoleh ketika dia membuka pintu dan kudapati di tangannya sebuah mangkuk berisi bubur ayam hangat dan terlihat lezat.
“Ayo, sarapan dulu, terus minum obat,” katanya sembari mendekatiku.
Kududukkan diriku, dan hendak mengambil sarapanku dari tangan Kak Dian, namun dia justru malah menjauhkannya. “Kakak yang suapi,” katanya.
“Disuapi? Amanda kan bisa sendiri, Kak?” Protesku, yang tidak didengarkan.
Kakak lalu duduk di sebelahku, mengaduk-aduk pelan buburnya kemudian menyendokannya dan langsung mengarahkannya ke mulutku. “Jangan banyak bicara, ayo makan.”
Aku tidak langsung menanggapi suapan kakakku, karena aku berniat untuk memberontak sedikit lagi. Tapi akupun sadar aku tidak punya pilihan lain.
“Nyam ... enak, kan?” Ucapnya sambil tertawa kecil ketika aku melahap bubur hangat yang masih terasa hambar di lidahku. Ternyata meskipun enak, diperlakukan seperti anak kecil kadang mengusik harga diri juga.
“Masih hambar, Kak,” kataku.
“Sabar, nanti juga kalau sudah sembuh kamu bisa makan enak lagi,” hiburnya. “Apalagi kalau makannya sama Aldi.”
Mendengar namanya lagi membuatku tersenyum, yang sontak kembali membuat tawa kecil kakakku keluar. Satu suapan lain pun menyusul ke dalam mulutku.
“Oh ya, Kak,” kataku tepat setelah aku menelan suapan yang terakhir tadi. “Maaf, ya? Gara-gara Amanda kakak jadi terpaksa absen kuliah.”
“Hush ... jangan bicara begitu.” Kak Dian mengibaskan tangan kanannya sekali di depan wajahnya. “Kakak melakukan ini karena memang kakak yang mau, bukan karena disuruh apalagi gara-gara kamu. Sudah ah, berhenti bersikap seolah kakak ini orang lain.” Dia tampak kesal.
“Ya, deh. Terima kasih, Kak,” gumamku. Senyum kakakku pun kembali muncul. “Kak, tolong dong, air.”
“Oke!” Dia meletakkan mangkuk buburnya di samping kakiku lalu beranjak menuangkan air minum buatku di meja belajar. “Ini.” Gelasnya diserahkan padaku.
Setelah kuminum isinya sampai habis kuserahkan lagi gelasnya pada Kak Dian untuk ditaruh di tempatnya semula. Kemudian dia pun mulai menyuapiku lagi.
“Omong-omong, Nda. Kamu sama Aldi ... apa ada rencana mau kencan atau apalah begitu?” Tanyanya sembari mengaduk-aduk buburnya.
“Ada kok, Kak,” jawabku. “Kenapa memangnya?”
“Tidak ada, cuma mau tahu saja.”
Satu suapan lagi masuk ke mulutku.
“Oh ya, Kak,” celetukku ketika aku teringat sesuatu. “Belum lama ini, Aldi bilang sama Amanda kalau dia diminta ibunya untuk memperkenalkan Amanda padanya. M-Menurut kakak, bagaimana?”
Kak Dian sempat tertegun sesaat, namun lantas dia tersenyum padaku. “Cieeee! Ternyata hubungan kalian sudah lebih jauh dari yang kakak duga!” Senyumnya pun berubah menjadi seringai usil yang menyebalkan.
“J-Jadi, bagaimana menurut kakak?”
“Ya, bagus, Nda. Temui ibunya, barangkali kalian mau dinikahkan.”
“Ih! Apa sih, Kak?”
Kupukul pelan bahu kirinya yang malah membuatnya tertawa geli. Akhirnya akupun ikut tertawa juga. Dasar, padahal masih pagi tapi sudah membuat heboh.
__ADS_1
Meskipun begitu, di bagian hatiku yang terdalam, aku berharap yang kakakku katakan benar-benar menjadi kenyataan. Di masa depan, tentu saja.