Cintaku, Pahlawanku!

Cintaku, Pahlawanku!
Chapter 33: Amanda


__ADS_3

Hujan yang cukup deras mengguyur alam untuk kedua kalinya setelah hujan yang lebih lebat turun beberapa waktu sebelumnya. Sambil berbaring, kunikmati gemuruh dan hawa mereka yang menenangkan, juga menyejukkan.



Aku sendirian, karena beberapa waktu yang lalu, kakakku berkata ingin kembali ke kamarnya. Mungkin dia mau tidur karena dirinya tampak sangat kelelahan setelah mengurusku dan rumah ini seorang diri. Ibuku juga, entah kapan dia akan pulang dari acara pernikahan anak bibiku.



Kududukkan diriku, lalu bergeser sedikit ke depan untuk mengintip hujan di luar dari jendela kamar. Senyumku terbangun, saat aku melihat ke arah gerbang rumah karena aku jadi teringat kembali dengan momen ketika dia mengantarku pulang sewaktu aku tidak membawa payung. Namun, ada sedikit penyesalan di hatiku, karena harusnya waktu itu aku menggandeng tangannya.



“Seandainya aku lakukan waktu itu, pasti akan sangat indah,” gumamku.



Juga tidak lupa dengan momen kala aku merasa ingin menangis ketika dia pulang setelahnya. Merasa cemas saat aku terpikir kemungkinan tidak dapat bertemu dengannya lagi. Ah, seandainya bisa, aku ingin mengalami momen itu untuk yang kedua kalinya dan tentu saja, aku akan menggandeng tangannya.



Aku tertegun ketika langit kelabu itu bertambah gelap dan menangis semakin deras. Mengingatkanku pada Aldi yang sekarang berada di sekolah. Apakah dia membawa payung? Atau mungkin, dia lupa dan terjebak sehingga nanti tidak bisa pulang. Atau yang terburuk, dia memaksa untuk pulang menembus hujan kemudian dia sakit. Aku cemas.



Memikirkan itu semua membuatku berharap hujan segera reda, walaupun aku menyukai kesejukan yang mereka bawa. Aku mendesah, kuharap aku bisa datang ke sana, melindunginya dari hujan, seperti yang pernah dia lakukan untukku.



“Semoga dia tidak lupa dengan payungnya ....”



***



Kurang lebih setengah jam telah lewat dari waktu pulang sekolah dan langit masih belum selesai juga dengan tangisannya meski sudah tidak sederas tadi. Kuraih ponselku di meja belajar, aku ingin menghubunginya, memastikan dia tiba di rumah dalam keadaan kering.



Selama beberapa waktu, hanya terdengar dengung dari panggilan yang menunggu dijawab. Aku mulai cemas, khawatir dia lupa dengan payungnya lalu memaksa pulang dan sekarang terbaring sakit.



“Halo, Nda.” Hatiku langsung terasa lapang karena akhirnya dia menjawab panggilanku, membangunkan senyumku.



“Halo, Aldi,” sapaku. “Baru sampai, ya?”



“Ya, aku baru sampai.” Dia terkekeh. Senang sekali hati ini mendengarnya. “Ada apa, Nda?”



“Kau saat pulang tadi ... kau tidak lupa dengan payungmu, kan?”



“Payung? Aku lupa membawanya. Memangnya kenapa, Nda?”



Aku tertegun ketika kecemasanku menjadi kenyataan.



“Lupa?” Tanyaku memastikan dia sedang tidak bercanda. “Terus, bagaimana caranya kau pulang?”



“Karena semuanya membawa payung atau mantel hujan, aku tidak mau tertinggal sendirian di sekolah jadinya aku terpaksa mandi hujan.” Aldi tertawa kecil di ujung ucapannya.



“Kenapa kau tidak menunggu sampai reda saja?” Tanyaku tegas, menghentikan tawanya. Aku kesal, karena dia begitu santai meski kesehatannya terancam.


__ADS_1


“Kau marah, Nda?” Dia malah bertanya padaku. Dasar, aku tidak pernah mengerti mengapa anak laki-laki sering begitu abai pada diri mereka sendiri.



“Ya, aku marah,” timpalku langsung. “Kau mandi hujan seperti itu, bagaimana kalau nanti kau sakit? Apa kau tidak memikirkan itu?”



Namun hanya diam yang menanggapiku hingga kemudian, tawa darinya terdengar yang membuat hatiku makin gerah karenanya.



“Nda, Nda. Terima kasih, ya? Sudah mencemaskanku,” katanya kemudian.



“Sama-sama,” balasku. “Tapi aku masih marah.”



“Oh, ya? Ya, deh. Aku tidak akan mengulanginya lagi, aku janji. Jangan marah lagi, ya?” Bujuknya dengan merengek yang dibuat-buat, membuatku tertawa kecil mendengarnya.



“Janji, ya?” Tanyaku memastikan.



“Aku janji,” jawabnya penuh kesungguhan. “Oh, ya. Omong-omong, bagaimana kabarmu, Nda? Sudah lebih baik?”



“Aku? Sudah, kok.”



“Ah, syukurlah. Kuharap kau cepat sembuh, aku tidak sabar untuk bisa kembali bertemu denganmu di sekolah.”



“Aku juga, tidak sabar ingin segera bertemu lagi denganmu. Terima kasih, sudah memikirkanku.”




“Aldi ....”



“Ya, Nda?”



“Aku mencintaimu ....”



“Aku mencintaimu juga, Amanda.”



***



Aku tidak kuasa menyembunyikan senyum saat melihat wajah kusut Kak Dian ketika dia mampir lagi ke kamarku. “Maaf, ya, Nda? Kakak ketiduran,” katanya sambil berjalan lunglai ke meja belajarku lalu duduk di kursinya. Rambutnya berantakan dan matanya sayu juga merah. Pasti dia mengantuk sekali.



“Kakak tidur saja lagi kalau memang masih mengantuk,” kataku. “Amanda tidak apa-apa, kok.”



“Tapi nanti kalau kamu mau sesuatu bagaimana? Kamu kan masih lemah,” tanyanya seraya mengusap mata kanannya lalu membekap mulutnya yang menguap.



“Tidak apa-apa, Kak,” kuyakinkan dia. “Lagian kakak juga pasti capek kan, sehabis membereskan rumah tadi? Lagian, Amanda juga cuma akan tidur-tiduran di kamar, tidak akan ke mana-mana.”

__ADS_1



Sesaat kakakku tertegun, kemudian memamerkan senyuman lesu padaku. “Kamu baik banget, sih, Nda?” Katanya sambil mencubit gemas pipi kananku. “Ya sudah, deh. Kakak tidur sama kamu saja, ya?”



“Ya sudah, Kak.” Kutepuk-tepuk ruang kosong di ranjangku. “Sini, biar Amanda keloni kakak.”



Kak Dian terkekeh, lalu menaiki ranjang dan berbaring di sebelahku. Tanpa perlu lama menunggu, kakakku sudah kembali terlelap secepat dia menutup mata yang membuatku geleng-geleng sendiri. Ternyata selama ini gelar tukang tidur yang kusandang di sekolah menurun darinya.



Kucubit pelan pipinya, karena melihat wajah manisnya ketika terlelap membuatku gemas. “Kakak lucu banget, sih?”



Lalu aku kembali duduk dan memandang langit yang masih sedikit mendung walaupun hujan sudah berhenti. “Apa masih akan hujan lagi, ya?”



Perhatianku pun sontak teralihkan ke ponselku yang berdering pendek di samping bantalku. Aku terkejut, karena mendapati pesan WhatsApp dari Rina. “Rina? Ada apa, ya?” Aku bertanya-tanya.



[Halo, Nda. Selamat sore]



[Kudengar dari Aldi kalau kau sakit. Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah lebih baik, kah? Maaf aku tidak bisa menjengukmu karena aku baru tahu.]



Aku tersenyum setelah selesai membaca pesannya. Dia memang gadis yang hebat. Setelah apa yang terjadi di antara aku dan dia, dirinya masih bisa menaruh peduli padaku. Aku kagum.



Kuketikkan balasan. [Ya, aku sakit, Rin. Tapi aku sudah baikan, kok. Tidak apa-apa, Rin, aku sudah sangat senang hanya dengan mendapat pesan ini darimu. Terima kasih, ya?]



Balasan untukku pun datang tidak lama kemudian. [Oh, syukur, deh. Aku senang mendengarnya. Sama-sama, Nda.]



[Dan omong-omong, bagaimana kabarmu?] Balasku. [Kau tahu, kita sudah cukup lama tidak bertemu dan bicara.]



Tidak ada balasan lagi buatku. Kutunggu beberapa menit, namun masih belum ada apapun darinya. Kulirik langit kelabu di luar, yang lantas menyadarkanku pada perasaan Rina.



Sepertinya, luka di hatinya masih belum terobati hingga sekarang.



Ponselku kembali berdering pendek bersamaan dengan diriku yang menghela napas. Pesan baru dari Rina telah datang ketika kulihat layar ponselku.



[Aku baik-baik saja, kok, Nda. Terima kasih sudah peduli padaku. Yah, meskipun apa yang sudah terjadi di antara kita berdua dan Aldi masih membekas di hatiku, kuharap hubungan kita akan tetap terjalin. Sungguh, aku senang bisa berteman denganmu, Nda, terlepas dari semua yang telah terjadi.] Begitu kira-kira isi pesannya.



Sekali lagi aku tersenyum. [Tentu saja, Rin. Aku akan tetap menjadi temanmu apapun yang terjadi. Aku juga, Rina, aku senang bisa memiliki teman sebaik dan sehebat dirimu.]



[Terima kasih, Nda.] Balasnya. [Sebelum selesai, aku ingin mengatakan sesuatu padamu, boleh?]



[Oh, ya? Apa itu, Rin? Katakan saja.]



[Aldi, jaga dia baik-baik, ya? Ya sudah, Nda. Sampai di sini dulu, kudoakan semoga kau cepat sembuh. Daaah!]

__ADS_1



Selesai membaca balasan terakhir darinya, kurengkuh ponselku dan kudekap dengan kedua tangan. “Tentu saja, Rina. Aku akan menjaganya, apapun yang terjadi,” gumamku seraya berharap janjiku ini bisa sampai kepadanya.


__ADS_2