
“Cieee! Yang habis pulang kencan!” Dengan heboh Kak Dian yang sedang duduk-duduk asyik dengan ponselnya di ruang depan, langsung bersorak begitu aku memasuki rumah.
Namun sambutannya hanya kubalas dengan senyum malas seraya terus berlalu ke kamarku di lantai atas. Kututup rapat-rapat pintu ruangan pribadiku, kulempar tas selempangku ke ranjang kemudian diriku. Kupejamkan mata, aku lelah ... lelah memikirkan perasaanku yang terasa buruk walaupun baru saja menjalani hari yang indah bersama Aldi dan Tante Maya.
“Amanda! Kamu kok murung begitu?! Halo!” Kak Dian berusaha memanggilku dari bawah, namun tidak kupedulikan. Aku sedang ingin sendiri, dan semoga saja dia tidak mendatangiku. Selang beberapa waktu berlalu dan tidak ada tanda-tanda kalau dia akan menghampiriku, syukurlah.
Semuanya bermula sejak aku mendengar dari Tante Maya kalau malam nanti akan ada festival di taman kota, yang sayangnya tidak akan bisa kukunjungi. Meski perasaanku sempat membaik karena perlakuan Tante Maya padaku, namun setibanya di rumah, perasaanku bagai terjun bebas. Jatuh dari titik terbaik ke titik terburuk.
“Aku akan tidur saja, deh ...,” gumamku berharap setelah bangun nanti perasaanku akan lebih baik.
***
Akhirnya malam pun tiba. Namun yang bisa kulakukan tetap tidak berubah sejak terbangun dari tidurku sore tadi, hanya berbaring lemas di kamar. Meratapi keinginanku yang tidak dapat terwujud, yaitu datang ke festival di taman kota bersama Aldi. Kalau saja aku tidak ingat untuk mandi, pasti aku masih tertidur sekarang.
Aku mengerti alasan keluargaku mengurungku setiap malam. Pun, alasan mereka masuk akal, dan aku tidak berniat memberontak. Namun untuk malam ini, aku berharap bisa sedikit egois agar bisa memaksakan keinginanku.
Kuhela napas, karena bagaimanapun harapan hanyalah harapan. Aku tidak mau membuat keributan dengan keluargaku, utamanya kakakku, hanya karena ingin memaksakan keinginanku. Pada akhirnya, yang bisa kulakukan cuma menahan keinginan itu dalam hati, bersama kesal dan sedih yang terasa begitu mengganjal di dada.
Harapanku akan keajaiban yang bisa melunakkan sedikit anggota keluargaku terhadap aturan yang mereka buat sempat muncul dalam benak, namun akhirnya asaku putus juga. Kupejamkan mata untuk segera menidurkan diriku, seraya berharap keinginanku malam ini akan digantikan dengan sesuatu yang lebih baik besok.
Tapi sayangnya tidurku yang baru kumulai harus terganggu ketika pintu kamarku tiba-tiba diketuk-ketuk. “Nda? Amanda? Ayo, makan dulu.” Ternyata orang di balik pintu itu adalah Kak Dian.
“Masuk,” seruku.
Kak Dian pun masuk, namun mungkin karena melihat wajah muramku, senyumannya langsung lenyap. “Kamu kenapa, Nda?” Tanyanya seraya menutup pintu kamarku kemudian mendekatiku dan duduk di sebelahku, di tepian ranjang.
Aku hanya bergeming, menatapnya sebentar sebelum memiringkan badanku membelakanginya. Tidak ada gunanya aku membicarakan masalahku karena dia tidak akan mengizinkanku pergi dari rumah ini malam-malam.
“Kamu kenapa sih, Nda? Hei.” Dia menepuk bahuku sekali.
“Kak,” panggilku tanpa memandangnya.
“Apa, Nda?”
“Amanda ... boleh minta izin keluar tidak?”
“Tidak boleh,” timpalnya langsung. “Sewaktu kakak marah sama kamu waktu itu, kakak sudah bilang kalau tidak ada lagi kamu keluar malam-malam. Kakak mungkin sudah minta maaf sama kamu karena sudah keterlaluan waktu itu, tapi bukan berarti larangan buat kamu sudah tidak ada lagi.”
“Begitu, ya? Ya sudah, deh.”
Kupejamkan lagi mataku, berharap dapat segera tertidur. Mungkin aku bisa datang ke festival itu bersama Aldi di alam mimpi.
“Kamu tidak mau makan dulu, Nda? Nanti kalau terlambat makan kamu bisa sakit,” Kak Dian membujukku lagi dengan nada cemas.
__ADS_1
“Amanda tidak lapar.”
“Kamu kenapa, sih? Bilang sama kakak, jujur, yang jelas, jangan seperti ini.”
“... Amanda mau pergi ke festival di taman kota.”
“Festival? Oh, festival ulang tahun kota. Kenapa tidak bilang dari tadi? Kalau kamu memang mau banget ke sana, ayo, kakak temani. Tapi kalau sendirian, kakak tidak akan izinkan.”
“Bukannya Amanda tidak mau pergi sama kakak tapi ... Amanda ingin ke sana bersama Aldi.”
Kak Dian hanya diam, karena sudah pasti dia tidak akan mengizinkanku. Namun, semua keyakinanku padanya itu segera lenyap tidak bersisa, ketika kakak justru tertawa kecil. Kutelentangkan diriku supaya dapat melihatnya, dan kudapati kakak tersenyum padaku.
“S-Sakit!” Tiba-tiba dia mencubit gemas hidungku.
“Saking inginnya pergi sama Aldi sampai berani merajuk sama kakak,” sindirnya diiringi sedikit tawa. “Kakak laporkan ke ayah baru tahu rasa kamu.”
Aku hanya diam saja karena yang dia katakan memang benar. Karena Aldi, aku jadi sedikit berani melawan Kak Dian, selain karena aku takut dengan ayahku. Aku tidak mau ketika beliau pulang, aku akan dimarahi karena berani menentang aturan yang dia buat di rumah ini.
Namun tetap saja, di hatiku, aku bersedih karena meski menjadikan Aldi sebagai alasanku, kakak tetap tidak membiarkanku pergi. “Kalau kakak tetap tidak mengizinkan Amanda, ya sudah,” kataku pasrah. “Amanda akan menurut.”
Setelah aku berkata begitu, raut wajah Kak Dian berubah sedih. “Sebenarnya kakak juga tidak mau melarang-larang kamu seperti ini, tapi kan kamu tahu sendiri ayah orangnya seperti apa,” katanya seraya mengelus-elus kepalaku. “Ayah mempercayakan kamu lebih kepada kakak karena dia tahu kalau ibu orangnya toleran. Kamu mau pergi ke Antarktika pun selama kamu minta izin dan tetap memberi kabar, ibu tidak akan mempermasalahkan. Beda sama ayah, mau pergi ke rumah teman yang jauh sedikit saja sikapnya seperti anaknya ingin pergi ke medan perang.
“Dan kamu juga tahu kan, ayah sering mewanti-wanti kamu untuk membatasi pergaulan dengan anak laki-laki. Kalau dia sampai tahu kamu pergi berdua sama Aldi malam-malam begini, kamu bisa habis dimarahi sama dia. Kamu juga tahu kalau kakak dan ibu tidak bisa berbohong darinya.”
Aku mendesah, mencoba merelakan keinginanku meski hatiku tidak demikian. Kubangunkan diriku, hendak makan malam seperti yang diminta kakakku, kemudian tidur.
“Kamu mau ke mana, Nda?” Tanya kakak.
“Amanda mau ke bawah, mau makan,” jawabku, lalu melangkah pergi. Namun ketika aku hendak menggapai gagang pintu ....
“Kakak akan izinkan kamu pergi bersama Aldi.”
Sontak aku mengerjap celetukan Kak Dian. Aku berbalik, dan kudapati dia tengah tersenyum padaku. “Kakak jangan bercanda ...,” kataku. Jantungku berdebar, karena dalam hati aku sangat, sangat berharap sekali kakakku tidak sedang menjahiliku.
“Kamu tahu kan, kakak tidak pernah bohong sama kamu?”
Seketika itu juga timbul perasaan meledak-ledak dalam dadaku. Aku pun berlari menuju Kak Dian, memeluknya seerat yang kubisa. “Terima kasih, Kak!” Kataku dengan begitu girangnya.
Kemudian tanpa menunggu lagi, aku langsung menyambar ponselku di meja belajar lalu berlari menuju gantungan baju di samping pintu. Mengambil kardiganku dan langsung melesat meninggalkan kamar. “Amanda! Hei! Makan dulu!” Kakakku berteriak, namun kuabaikan.
Di beranda, aku berhenti sejenak untuk mengenakan kardiganku, menyimpan ponselku di saku, lalu langsung berlari meninggalkan rumah. Tidak sabar untuk segera menemuinya.
Aku berlari tanpa henti menyusuri jalan-jalan yang sepi di daerah ini, namun begitu aku tidak merasakan lelah sama sekali meski aku berlari cukup jauh. Perasaanku padanya tidak membiarkanku mengalaminya.
__ADS_1
Bertemu persimpangan, aku ambil lurus terus mengikuti jalan yang kini kulalui dan berhenti tepat di depan gerbang rumahnya. Barulah terasa napasku terengah-engah dan kaki yang lemas namun aku tidak peduli karena yang terpenting, aku bisa melanjutkan kencanku dengannya.
“Amanda?” Perhatianku sontak teralih ke sisi kiri rumah, tempat dia tiba-tiba muncul dan memanggilku. Matanya membulat, membuatku tertawa pelan.
“Selamat malam,” sapaku.
Ekspresi terkejut yang menghiasi wajahnya sontak berganti menjadi berseri-seri. “Mengapa kau tidak bilang padaku kalau kau akan datang?” Katanya dengan amat gembira seraya berlari kecil menghampiriku dan membukakan gerbang rumahnya.
“Ceritanya panjang,” jawabku. “Omong-omong, kau rapi sekali. Mau ke mana?” Tanyaku. Dia memakai kemeja yang ditutupi hoodie dan celana denim panjang, membuatku penasaran.
“Mau ke festival. Barusan Chandra meneleponku bahwa dia juga akan datang ke sana dan mengajakku. Ada Sarah juga katanya. Omong-omong, kau mau tidur, Nda?”
“Eh?”
Sontak kuperhatikan diriku sendiri yang cuma memakai kaus, kardigan, celana piyama panjang, dan sandal jepit. Karena saking gembiranya aku sampai lupa merias diri.
“Tidak apa-apa, Nda. Kau tetap kelihatan manis, kok,” pujinya tiba-tiba yang sontak menimbulkan panas di wajahku. Dia tertawa pendek, lalu berkata, “tunggu sebentar, ya? Aku mau ke belakang dulu.”
“A-Ah, ya. Aku akan menunggu.”
Dia pergi ke bagian belakang rumahnya, cukup lama untuk membuatku bertanya-tanya. “Aldi sedang apa, ya?” Gumamku. Tidak lama setelah gumamanku, terdengar suara mesin motor dinyalakan dari belakang sana dan kemudian dirinya muncul dengan mengendarai motor matiknya lengkap dengan helm yang telah terpasang di kepalanya.
Aldi berhenti tepat di depanku. “Amanda, tolong tutup gerbangnya,” pintanya dengan tertahan-tahan. Sepertinya dia merasa tidak enak menyuruhku namun tentu saja, aku melakukan permintaannya dengan senang hati. “Terima kasih,” ucapnya lalu memberikan helm lain yang tergantung di lengan kirinya. “Maaf karena lama, soalnya aku tadi mencari helm ini untukmu.”
Namun, aku tidak langsung menerima helmnya, ragu. Karena aku tahu, Aldi belum cukup umur untuk memiliki SIM. “Memangnya ... tidak apa-apa pergi dengan motor?” Tanyaku.
“Taman kota dekat, Nda.” Aldi terkekeh. “Kalau semisal kita nanti tertangkap petugas, ya sudah. Anggap saja bencana. Kau tidak perlu risau, aku yang akan bertanggung jawab,” katanya dengan penuh keyakinan.
“Y-Ya sudah deh, kalau begitu.” Kuterima helmnya dan langsung kupakai. Meski aku masih sedikit takut kalau nanti Aldi diberhentikan petugas.
“Ayo, Nda. Naik,” serunya.
“Y-Ya, sebentar ....”
Aku menaiki motornya dengan duduk miring seperti ibu-ibu. Rasanya canggung, meski aku sudah pernah dibonceng olehnya ketika pulang dari pasar malam waktu itu.
“Sudah siap, Nda?” Tanyanya.
“Ya, sudah,” jawabku.
“Kalau begitu, kita berangkat.”
Kami pun melaju. Aku mendesah, masih takut kalau di jalan nanti bertemu dengan petugas lalu ditilang terlepas dari perkataan Aldi sebelumnya yang memintaku untuk tidak usah khawatir. Ketika kuintip lewat kaca spion, dia tampak begitu tenang sekali, membuatku jadi merasa konyol pada diriku sendiri. “Harusnya dia yang cemas, bukannya aku ...,” gumamku pasrah.
__ADS_1