Cintaku, Pahlawanku!

Cintaku, Pahlawanku!
Chapter 36: Aldi


__ADS_3

“Ada apa, Sayang? Hmm? Kok kelihatannya sibuk banget?” Teguran ibu yang tiba-tiba, mengalihkan perhatianku dari lemari pakaian kepadanya. Aku sedang mencari kemejaku untuk dipersiapkan buat besok.



Belum sempat aku menjawab, ibu mendekatiku sambil memamerkan senyum simpul. Kemudian dia melongok isi lemari pakaianku sebentar sebelum kembali memandangku. “Kamu tumben membuka-buka lemari pakaian. Mau mencari pakaian yang mana memangnya?” Tanyanya dengan wajah yang dihiasi keingintahuan.



“Aldi mau mencari kemeja yang suka Aldi pakai kalau lebaran. Tapi dari tadi dicari tidak ada,” jawabku. Kemeja yang kucari itu adalah pakaianku yang paling bagus, dan hanya kupakai untuk momen-momen spesial saja.



“Oh ... yang itu.” Ibu terkekeh. “Ada, kok. Kemeja kamu yang itu memang sengaja ibu pisahkan soalnya kan itu punya kamu yang paling bagus. Omong-omong, buat apa kamu mencari kemeja itu?”



Aku pun tertegun. Kupalingkan tatapanku, kuusap-usap belakang leherku. Canggung untuk mengatakan alasannya.



“Ah, ibu tahu! Kamu pasti mau berkencan dengan Amanda, kan?”



Celetukan ibu mengundang sengatan listrik yang begitu besar, menyambarku hingga terlonjak. Panas memenuhi sekujur wajahku, jantungku berdebar kencang. “T-Tidak, kok!” Aku gelagapan sewaktu berusaha mengelak. “M-Maksud Aldi—”



“Cieee!” Ibu tertawa, lalu merengkuh dan mendekap kepalaku. “Anak ibu yang biasanya cuek sama penampilan, sampai berubah gara-gara jatuh cinta!”



Sontak kututup muka dengan tangan, aku tidak mau ibu melihat wajahku yang pasti sudah merah sekali.



Kemudian dengan girangnya, ibu membawaku duduk di tepian ranjang. Lantas tangan-tangannya mencubiti pipiku gemas dan mengusap-usap kepalaku sambil tertawa-tawa. “Ih, kamu manis banget sih, Sayang?” Katanya gemas.



“S-Sudah, Bu. Aldi malu ....” Kutundukkan wajahku.



“Loh, malu kenapa? Yang namanya jatuh cinta itu wajar, Sayang. Ibu juga kan pernah mengalaminya. Harusnya kamu senang karena kamu sedang mengalami hal yang paling indah dalam hidup ini. Ah, ibu jadi makin tidak sabar buat bertemu dengan pacar kamu.”



“Aldi tahu, tapi ....”



Sekali lagi ibu tertawa pendek. “Begini saja, deh. Supaya kamu tidak malu lagi, ibu akan menceritakan pengalaman cinta ibu sama ayah, bagaimana, hmm?”



“Kisah ... cinta ibu?” Dalam sekejap perhatianku pun sepenuhnya tertarik ke apa yang ibu katakan.



“Ya. Mungkin saja setelah kamu mendengarnya, kamu tidak akan merasa canggung dan ragu lagi saat bertemu dengan Amanda besok.”



Meskipun begitu, aku tetap ragu maksudku ... apa benar sesederhana itu menghilangkan kecanggunganku dengan Amanda? Tapi mungkin jika aku mendengarkannya aku bisa mendapatkan beberapa hal yang dapat kugunakan untuk besok. Dan sepertinya ... mendengarkan ibu adalah hal yang tepat untuk kulakukan sekarang ini.



“Aldi mau mendengarnya.” Aku tersenyum, membuatnya juga melakukan hal yang serupa.



Kemudian, dia naik ke ranjangku. Bersandar di sandaran ranjang dengan kaki diluruskan. “Sini.” Ibu menepuk-nepuk pahanya.



“Kenapa, Bu?” Tanyaku kebingungan.



“Kamu tiduran di sini.”



Aku tahu niat ibu baik tapi entah mengapa permintaannya membuat harga diriku sedikit terusik.



“Tapi, Bu. Aldi bukan anak kecil lagi,” kataku, mencoba menolak dengan halus.



Sebentar ibu tertegun, namun kemudian dia terkekeh. “Kata siapa? Bagi ibu, kamu itu tetap putra kecil ibu yang manis. Jadi, sini.” Dia menepuk-nepuk pahanya lagi.



Sebenarnya aku tidak mau, namun kuurungkan niatku untuk membantah. Sekarang ibu sedang gembira, dan aku tidak mau merusaknya jadi kuputuskan menuruti permintaannya.



Aku merangkak mendekati ibu, dan seperti yang dia minta, kutidurkan kepalaku di pahanya. Meringkuk dengan kepala dielus-elus seperti balita. Awalnya memang terasa memalukan namun setelah beberapa waktu ... rasanya nyaman juga. Aku jadi ingin terus seperti ini.



“Kamu itu persis banget sama ayah kamu. Sama-sama manis,” katanya sambil sedikit tertawa.



“Tapi Aldi sendiri malah menganggap kalau Aldi mirip ibu.”



“Kamu cuma dapat wajah ibu saja, sedangkan kepribadiannya dari ayah. Kalau kamu mau tahu, kepribadian yang kamu miliki ini adalah alasan mengapa ibu jatuh cinta sama ayahmu.”



“Benarkah itu, Bu?” Aku terkejut, sungguh.



“Ya. Itulah alasan mengapa ibu tidak pernah merasa kesepian meski dia bekerja di luar kota, karena kamu adalah cerminan dirinya. Yah ... walaupun kadang-kadang ibu kangen juga, sih.”



Aku bergeming. Perkataan ibu, mengingatkanku akan sesuatu. Alasan Amanda menyukaiku, meski dia bilang tidak ada alasan, aku yakin, pasti ada sesuatu yang menjadi sebab dia menyukaiku. Alasan itu ... apa mungkin sama dengan ibuku? Dia menyukaiku karena kepribadianku?



“Apa mungkin Amanda menyukai Aldi karena alasan yang sama dengan ibu?” Aku bertanya pada ibu.



“Mungkin saja. Memangnya kamu belum bertanya padanya?”



“Sudah, tapi dia bilang dia tidak punya dan tidak butuh alasan buat menyukai Aldi. Pokoknya, dia menyukai Aldi karena memang suka, begitu katanya.”

__ADS_1



Kudengar ibu terkekeh, dan waktu kulirik, dia tersenyum. Wajahnya berseri.



“Ada apa, Bu?” Tanyaku heran.



“Itu tandanya dia menyukai kamu dengan tulus. Kamu beruntung, Sayang, karena dicintai oleh gadis sepertinya.”



Kualihkan lagi perhatianku, untuk merenung. Kuletakkan tangan kananku di tempat hatiku berada. Rasanya hangat di dalam sana, membuatku tersenyum.



Kemudian, kupasang kedua telingaku baik-baik. Aku tidak mau terlewat satu kata pun dari cerita romansa ibu bersama ayah. “Jadi, bagaimana cerita ibu dan ayah?”



Ibu terkekeh, lalu jeda sesaat sebelum kemudian mulai bercerita. “Ayahmu adalah senior ibu di universitas. Sama seperti yang ibu bilang sebelumnya, dia itu mempunyai kepribadian sama dengan kamu. Dia itu pendiam, tenang, tidak banyak bicara dan berekspresi, dan yang jelas, ganteng. Sejak awal ibu melihatnya, ibu selalu penasaran, ingin mengetahui lebih banyak tentangnya.



“Teman-teman ibu pun cukup banyak yang menaruh perasaan padanya, namun semuanya tertolak. Sejujurnya, ibu hanya ingin tahu tentangnya saja, tidak pernah terpikir untuk menyukainya. Namun kamu tahu, yang namanya cinta ... tidak bisa dikira-kira.”



“Omong-omong, apa sewaktu sekolah ibu tidak pernah menyukai seseorang?” Tanyaku, penasaran soal sekeping masa lalu ibu. “Maksud Aldi, ibu mengenal ayah di universitas.”



“Pernah, namun ... tidak ada perasaan ibu yang tersampaikan.”



“Kenapa?”



“Karena ibu selalu ragu, hingga akhirnya orang-orang yang ibu sukai menyukai gadis lain. Bahkan ketika ibu bertemu lagi dengan mereka setelah masing-masing sudah menikah, mereka terkejut karena ibu bercerita kalau semasa sekolah dulu ibu pernah jatuh hati pada mereka.



“Namun, semuanya berubah ketika ibu sudah mengenal ayahmu. Karena ingin mengenalnya lebih jauh, jadinya ibu berusaha membuka komunikasi dengannya hingga akhirnya ibu dan ayahmu jadi lumayan dekat. Lama-lama, ibu merasa senang berada di dekatnya dan ingin terus begitu.”



“Ibu mulai punya perasaan pada ayah, ya?”



“Ya. Ayahmu meski dari luar kelihatan dingin dan seolah cuek sama orang lain, tapi sebenarnya dia itu orangnya hangat. Dia punya rasa peduli yang tinggi dan diajak bicara pun juga enak. Namun, yang paling ibu sukai adalah senyumannya yang manis.



“Tapi yang tidak enak saat jatuh cinta adalah ibu tidak bisa lagi tenang waktu sedang bersamanya. Canggung, inginnya menunduk terus dan kalau bicara seperti gagap.”



“Sama, Aldi juga begitu waktu pertama kali sadar Aldi menyukai Amanda. Rasanya tidak enak.”



Aku dan ibu pun tertawa pelan bersama. Kemudian dia menepuk pelan bahuku. Aku pun bangun untuk mengetahui ada apa, namun sebelum aku sempat bertanya, dia merengkuhku, lalu mendekapku, dan membelai kepalaku. Aku tidak berkata apa-apa lagi seperti yang biasa kulakukan, hanya menghayati kehangatan yang ibu berikan. Lantas aku pun tersadar akan sesuatu, melihat bagaimana selama ini dia begitu memanjakanku, pasti cinta ibu kepada ayah begitu besar karena dia menganggapku sebagai cerminan ayah.



Apa mungkin ayah selalu dimanjakan seperti ini oleh ibu dulu sebelum aku hadir di kehidupan mereka, ya? Atau hanya aku saja yang diperlakukan seperti ini sebab aku adalah anak satu-satunya sehingga diberikan kasih sayang yang lebih? Karena seingatku, ayah dan ibu terlihat biasa-biasa saja kalau sedang ada di rumah. Aku penasaran.




Ibu terkekeh pendek, lalu melanjutkan ceritanya. “Perasaan suka ibu pada ayah terus bertambah, hingga ibu sempat berpikir untuk mengungkapkannya secara langsung. Tapi sama seperti yang sudah ibu bilang sebelumnya, ibu ragu. Sampai-sampai ibu merasa stres sendiri karena bingung harus bagaimana lagi.



“Namun suatu ketika, ibu mendengar dari teman ibu kalau ada perempuan lain yang ingin menyatakan rasa pada ayahmu. Saat itu, entah apa yang merasuki ibu, tiba-tiba ibu langsung pergi menemui ayahmu. Di depan teman-temannya, dengan lantang, ibu berkata kalau ibu menyukainya, tanpa ragu sedikitpun.”



Kudengar ibu tertawa-tawa kecil. “Ada apa, Bu?” Aku bertanya karena penasaran.



“Soalnya itu adalah pengalaman paling memalukan dalam hidup ibu. Ibu tiba-tiba datang ke kelas ayah lalu tanpa tahu malu bilang kalau ibu suka sama dia di depan teman-temannya. Pas kesadaran ibu kembali, sumpah, ingin sekali rasanya bunuh diri setelahnya.



“Saking malunya ibu sampai berjongkok menutupi muka ditengah sorak-sorai teman-temannya ayah. Tapi tiba-tiba ayahmu membawa ibu pergi menjauh dari teman-temannya lalu marah-marah sama ibu. ‘Kamu ini kenapa, sih?!’ begitu katanya sambil memeriksa dahi ibu, karena dia pikir ibu sakit terus jadi tidak waras.”



Tawa ibu sempat lepas, namun segera dia hentikan dengan membekap mulutnya. Aku jadi tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah ibuku.



“Maaf, maaf. Habisnya pengalaman itu lucu banget,” kata ibuku dengan tawa yang berusaha ditahannya.



“Terus bagaimana dengan ayah? Apa dia langsung menerima perasaan ibu?” Karena terlalu penasaran, aku langsung bertanya supaya ibu cepat melanjutkan kisahnya.



“Ayah kamu? Tidak.”



“Benarkah?”



“Ya. Dia tidak mengatakan apapun soal ungkapan perasaan ibu padanya. Namun sejak saat itu, dia jadi canggung kalau bertemu dan bicara dengan ibu. Dan, berita tentang apa yang ibu lakukan langsung menyebar cepat, sampai-sampai ibu jadi mahasiswi paling terkenal di universitas karena tingkah konyol ibu. Semuanya membicarakan ibu.



“Malahan, ibu sampai banyak dimusuhi oleh mahasiswi lain karena ayah kamu memang tergolong populer jadi banyak perempuan yang suka dengannya. Namun, ayahmu selalu membela ibu.



“Waktu terus berjalan, namun tidak kunjung juga ada jawaban atas perasaan ibu darinya. Sampai ibu benar-benar sedih, karena berpikir ayahmu tidak menyukai ibu namun suatu ketika dia datang menemui ibu dan bilang kalau dia juga menyukai ibu.”



Ketika mengucapkan kalimat terakhirnya, bagian sewaktu ayah bilang juga menyukai ibu, ibuku terdengar begitu bahagia. Meskipun itu terjadi jauh sebelum aku dilahirkan, namun mendengarnya membuatku turut bergembira.



“Pengalaman kencan bersama ayah? Ada tidak yang paling berkesan?” Tanyaku.



“Ada, satu. Ketika ibu sedang berjalan-jalan bersamanya memakai motor vespanya, tapi sekarang motornya sudah dijual, ibu dan ayah berhenti sebentar untuk makan bakso di pinggir jalan. Kebetulan di seberang jalan, ada bioskop yang baru buka. Pengunjungnya ramai banget, apalagi pas melihat pasangan-pasangan kekasih yang datang, membuat ibu jadi ingin juga.

__ADS_1



“Namun yah ... namanya juga mahasiswa jauh dari rumah, uang cuma pas-pasan. Nah, mungkin ayahmu tahu ibu mau datang ke sana, tiba-tiba dia kelihatan sedih. Pas ibu tanya kenapa, dia bilang, ‘maaf, ya, Maya. Aku tidak bisa mengajakmu ke bioskop itu', begitu katanya.



“Sontak ibu tertegun, karena tidak menyangka dia akan berkata seperti itu. Tapi, kemudian ibu bilang, ‘sudah, tidak apa-apa. Kamu menjadi pacarku, sudah lebih dari cukup untukku jadi, jangan sedih lagi, ya?’ begitu kata ibu. Akhirnya, dia pun tersenyum lagi.”



“Ayah beruntung, bisa mempunyai istri seperti ibu.”



“Dan ibu juga beruntung bisa mempunyai suami sepertinya ... dan dikaruniai anak yang baik seperti kamu, Sayang.”



Ibu mengeratkan dekapannya padaku. Nyaman ... membuatku berandai aku bisa merasakannya untuk selamanya.



“Ceritanya ada lagi, Bu?”



“Kamu kayaknya senang banget mendengarnya.”



Aku hanya menanggapi dengan senyuman yang dibalas oleh ibu dengan kekehan. “Ayo, Bu. Ceritakan lagi.”



Ibu berdeham sekali, kemudian lanjut bercerita. “Momen yang berkesan lainnya adalah ketika ayahmu telah lebih dulu wisuda. Ibu sedih, karena harus terpisah sebab masih harus melanjutkan belajar ibu di universitas. Ayahmu pun mendapat pekerjaan, dan karena zaman dulu belum secanggih sekarang, kalau mau menghubunginya harus datang ke wartel dulu.



“Cara lainnya pakai surat. Dulu setelah menikah, surat-suratnya dikumpulkan sama ayahmu buat kenang-kenangan, supaya nanti bisa ditunjukkan ke kamu eh ... tanpa sengaja ibu membakarnya karena salah mengira kalau itu buntalan sampah.”



“Yah ... sayang banget.”



Aku kecewa mendengarnya. Sungguh, aku tidak sedang bercanda. Bagaimana bisa ibu selalai itu sampai membakar sesuatu yang merupakan bagian penting dari sejarah keluarga ini? Namun, itu salah ayah juga karena mengumpulkan surat-suratnya dengan cara yang salah sampai terlihat seperti buntalan sampah.



Sewaktu kulirik, ibu hanya tersenyum meringis. Kuhela napas, ya sudahlah, semua sudah terjadi. Lupakan saja.



“Akhirnya ... salah satu saat yang paling indah dalam hidup ibu pun tiba,” lanjutnya. “Tidak lama setelah ibu akhirnya menyelesaikan belajar di universitas, ayahmu datang berkunjung ke rumah ibu dan mengajukan lamaran pernikahan. Saat itu waktu serasa berhenti berputar, bagaikan mimpi, karena laki-laki yang ibu cintai mau menikahi ibu.”



“Cieee!”



“Ih, kamu orang lagi serius juga.” Ibu tertawa kecil.



“Terus, Bu?”



“Ya itu, ibu dan ayahmu akhirnya menikah. Tapi ... tidak lama kemudian, hal yang tidak diinginkan terjadi. Suatu hari, ayahmu pulang dari bekerja dengan raut wajah yang begitu sedih. ‘Kenapa?’ ibu tanya dia, terus kata ayahmu, dia terpaksa diberhentikan dari pekerjaannya karena perusahaan tempatnya bekerja sedang krisis.



“Sedih sekali waktu itu rasanya melihat ayahmu. Ibu bilang padanya tidak apa-apa, jangan dipikirkan terus. Ayahmu sampai begitu karena setelah menikah dia mau ibu agar tetap di rumah, jadinya setelah dia diberhentikan dari pekerjaannya, keluarga ini sudah sama sekali tidak mempunyai pemasukan. Namun yang tidak dia tahu ... ibu diam-diam sudah menyiapkan kejutan untuknya waktu itu.”



“Kejutan?”



“Ya. Melihat ibu yang senyum-senyum sendiri padahal suasananya sedang kurang baik membuat ayahmu sampai bertanya kenapa. Kemudian ibu peluk dia, lalu berbisik di telinganya, ‘Sayang, aku hamil'.



“Ayahmu langsung kaget. ‘Yang benar kamu?’ begitu katanya. Pas ibu iyakan, dia langsung kegirangan malah sampai lompat-lompat seperti anak kecil yang habis dibelikan es krim, terus dia memeluk ibu sampai saking eratnya membuat ibu kesal sendiri. Yang lebih lucunya lagi, dia kemudian berlari keluar rumah sambil teriak-teriak pamer ke tetangga. ‘Maya hamil!’, sampai-sampai rumah digeruduk sama semua tetangga yang ikut senang mendengarnya.



“Itu adalah momen yang paling berkesan selama hidup serumah dengan dia karena orang yang dikenal tenang dan pendiam bisa sampai seperti itu saking girangnya. Dan sembilan bulan kemudian, hidup ibu dan ayah semakin indah dengan hadirnya kamu di keluarga ini.”



Kemudian ibu melepaskanku dari pelukannya, yang lantas diganti dengan kecupan di dahiku sebelum kembali mendekapku erat dan membelai kepalaku.



Selanjutnya, tidak ada lagi yang ibu katakan. Kurasa kisah yang dia ceritakan sudah selesai. Namun, dia tetap tidak berhenti memanjakanku.



“Bagaimana, Sayang? Masih merasa canggung buat besok?” Akhirnya setelah cukup lama hening, sebuah pertanyaan keluar dari mulut ibu.



Aku menggeleng. “Tidak kok, Bu. Terima kasih, ya? Sudah menyemangati Aldi.”



Ibu terkekeh gembira. “Ibu senang mendengarnya,” katanya seraya mengeluskan pipi lembutnya di kepalaku beberapa kali. “Tapi, ibu sedih,” mendadak suara ibu terdengar lirih, membuatku terkejut.



“Ibu kenapa sedih?”



“Soalnya ... kalau semisal kamu dan Amanda sampai benar-benar jadi, nanti kamu akan berpisah dengan ibu, dan ibu akan sendirian di rumah.”



Sontak aku pun tertegun, karena tidak menyangka ibu akan berpikiran jauh seperti itu. Tapi ... di dalam hatiku ... aku berharap apa yang ibu katakan tentang aku dan Amanda itu ... benar-benar terjadi.



“Masih lama, kok, Bu.” Aku tertawa. “Selagi Aldi masih bersama ibu, ibu boleh kok, memanjakan Aldi seperti ini setiap hari. Tidak apa-apa.”



“Itu memang maunya kamu, kan?” Ibu ikut tertawa.



Apa yang ibu lakukan malam ini membuat hatiku terisi penuh dengan kehangatan. Memberiku semacam semangat yang membuatku tidak sabar untuk segera berjumpa dengan Amanda besok. Aku yakin, aku bisa menghadapi kencan pertamaku dengannya, dan yakin bisa memberikan kesan terbaik yang tidak akan pernah dia lupakan.


__ADS_1


Aku yakin ....


__ADS_2