
Aku bukanlah orang dengan jiwa romantis yang akan merasa bahagia begitu hujan turun. Tapi harus kuakui, hujan sepertinya memang bukan sekadar air yang turun dari langit, melainkan juga membawa sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Dari balik jendela, aku menatap hujan yang kini tengah membasahi alam. Mengira-ngira kapan orang tua Sarah akan pulang, karena aku sudah cukup lama menemani anak mereka.
Sudah lewat tengah hari sekarang, namun tidak ada tanda-tanda mereka akan kembali. Aku sendirian, karena Sarah tengah terlelap di ruang tengah setelah kelelahan sehabis melakukan bersih-bersih kamarnya. Padahal aku bantu, tapi yah, dasar dia saja yang lemah.
Aku pun kembali ke ruang tengah dan duduk di sofa lain yang lebih pendek. Yang panjang, ditiduri Sarah.
Gadis itu terlelap pulas sekali. Sepertinya dia memang sungguh kelelahan karena dia bahkan tidur tanpa melepas kacamatanya yang kini melorot. Tapi biar saja, deh. Yang penting dia tidak terganggu.
“Dasar, dia sering bilang kalau aku tukang tidur. Dia sendiri saja nomor satu tidurnya,” gumamku sambil terkekeh.
Selanjutnya, karena tidak tahu harus berbuat apa, aku cuma melamun seraya menyandarkan punggung di sandaran sofa. Beberapa menit berlalu, perutku yang sama kosongnya dengan hatiku berbunyi minta diisi.
Sarah memang sudah berpesan padaku kalau aku lapar, tinggal ambil saja makanan apapun yang ada di dapur. Namun maaf saja, biarpun aku kadang memalukan, tapi aku masih punya malu. Aku bukan tikus yang asal main sikat makanan orang sesuka hati. Aku tahu, munafik dan teguh pendirian itu beda-beda tipis.
Tapi masalahnya, aku juga tidak bisa beli dari luar karena hujan. Mana Sarah tidurnya pulas banget lagi, jadi tidak enak buat membangunkan dia.
“Hmm ... kalau di rumah, aku pasti sudah kena marah Kak Dian karena telat makan.”
Ah, tapi aku rasa telat sedikit tidak apa-apa. Yang penting aku sudah makan tadi pagi. Puasa sebulan saja kuat, masa tidak makan sebentar saja aku akan mati?
Lamunanku terus berlanjut dengan sesekali menatap langit-langit yang menjadi tempat bergantung lampu kristal yang lumayan besar. Media sosial pun sama hampanya dengan hatiku sekarang, sekalipun ada keramaian, ya itu, cuma berita yang selalu berhubungan dengan isu politik. Aku sudah jenuh, tidak mau bertambah engap dengan melihat semua hal itu.
Karena sudah tidak tahan, aku memutuskan kembali ke ruang depan untuk mengintip hujan yang masih turun di luar. Aku tersenyum ketika di jalan kosong di seberang sana, tergambar bayanganku dan Aldi yang berjalan di bawah satu naungan payung. Lantas aku menggeleng, dan saat kulihat lagi, bayangan itu pun pudar.
Beginilah aku, cuma bisa membayangkan angan-angan kosong. Kadang aku kesal juga sedih karena tidak mampu berbuat apapun untuk menjadikan dia milikku sepenuhnya.
Lalu tanpa permisi, ponselku bergetar memecah lamunanku.
“Siapa, ya?” Gumamku sambil berusaha mengambil ponsel di saku celana. “Aldi?”
Notifikasi pesan WhatsApp atas namanya tertera di layar ponselku. Hatiku yang sedari tadi terasa hampa, langsung penuh dengan bunga-bunga yang baru bermekaran. Namun begitu, aku bertanya-tanya, ada apa dia menghubungiku?
Aku pun berlari kecil kembali ke ruang tengah dan duduk di tempatku semula, dan tanpa menunggu lagi, aku membuka pesan darinya.
[Halo, Nda.]
[Tadi aku datang ke rumahmu, tapi kakakmu bilang kau sedang tidak ada.]
“D-Dia ... ke rumahku?!” Saking kagetnya aku sampai sesuatu di dalam dadaku terasa copot dari tempatnya. Kubekap mulutku sebab aku berteriak cukup keras karena takut Sarah terbangun.
Dengan jantung berdebar, aku kembali melanjutkan membaca pesannya.
[Chandra memberiku tiket ke taman hiburan. Ada tiga, dan aku berniat untuk memberikannya padamu dan Sarah. Punyamu kutitipkan pada kakakmu. Besok kan tanggal merah, jadi kalau kau bisa ikut, hubungi aku atau Chandra.]
“Besok?!” Kataku setengah berteriak lagi saking kagetnya.
Astaga, aku harus bagaimana ini? Maksudku, aku butuh waktu. Mungkin berlebihan, tapi aku tidak siap sama sekali. Belum lagi untuk mengurus masalah penampilan, yang kurasa tidak akan cukup hanya dalam semalam.
Aku ingin dia terkesan. Aku ingin dia memujiku. Aku ingin dia ... aahhh! Kenapa aku jadi lebay begini?!
“Ah, ya sudahlah. Lihat bagaimana besok saja,” kataku pasrah sambil menyandarkan lagi badanku yang lemas.
Selanjutnya, aku mengetikkan balasan kalau aku akan ikut besok.
Setelah terkirim, aku menghela napas. Mengusap wajahku, berusaha untuk menenangkan perasaan yang meletup-letup. Walau membayangkannya cukup menakutkan, tapi aku juga senang. Aku janji, aku akan memberikan kesan yang terbaik untuknya.
***
“Tuh, kan. Kakak bohong terus!” Protesku pada Kak Dian yang sekarang tengah tertawa terbahak-bahak hingga berlinang air mata dan sampai memegangi perutnya di hadapanku.
Malam ini, di kamarku, aku mengundangnya untuk mampir karena aku ingin membicarakan soal masalahku tentang mempersiapkan diri buat besok. Aku meminta dia berjanji untuk tidak menertawaiku, tapi hasilnya ....
__ADS_1
“Habisnya kamu, aduh ...,” saking gelinya kakakku tertawa sehingga dia sampai lemas dan harus menopang tubuhnya ke tembok. Panas di hatiku merambah sampai telinga karena aku merasa direndahkan. “Kamu lugu banget sih, Nda? Masa cuma mau ketemu Aldi saja seperti mau ketemu presiden!”
“Ah, kakak pergi saja, deh!” Rutukku. “Di sini juga cuma tertawa saja!”
Bukannya sadar, tawa Kak Dian malah semakin menjadi. Hawa panas di hatiku menjalar ke muka. Meski dia kakakku, tapi tetap saja tidak ada bedanya dengan ditertawakan oleh orang lain.
Dengan tertatih-tatih, Kak Dian berjalan mendekat dan duduk di sebelahku, di ranjang. Dari jarak dekat, air mata tawa yang membasahi bulu matanya dan mukanya yang merah padam akibat saking gelinya tertawa terlihat jelas sekali.
“Tenang saja, Nda. Kakak bantu, kok,” katanya dengan tawa yang ditahan-tahan.
Lega sih mendengarnya. Tapi tetap saja, aku cemas.
“Omong-omong, Nda. Aldi manis, ya?” Lanjutnya lagi. “Terus, dia sopan lagi. Kakak jadi suka, deh. Buat kakak saja, ya?”
“Enak saja!” Aku bahkan tidak suka meski kakakku hanya bercanda. Entah sejak kapan aku jadi mudah cemburu begini.
“Cieee ... cemburu ceritanya?”
“Kakak mau bantu apa mau meledek sebenarnya, sih?”
“Dua-duanya.”
Sebelum aku sempat melontarkan kekesalanku lagi, Kak Dian mencubit hidungku. Aku sampai merintih karena dia melakukannya dengan gemas.
“Ih ... kamu lucu banget sih, Nda!” Katanya sambil memencet-mencet kedua pipiku setelahnya.
“Jadi bantu atau tidak, sih?” Tanyaku memastikan.
“Jadi, dong!” Jawabnya.
Kemudian Kak Dian kembali berdiri, berjalan mendekati lemari bajuku dan bercermin di sana seraya menyisiri sedikit rambutnya dengan jari-jarinya. “Memang seleranya Aldi seperti apa?”
“Selera?” Alisku berkerut.
“E-Entahlah. Amanda tidak tahu.”
“Kamu bilang kamu suka sama dia tapi kamu malah tidak tahu seleranya dia seperti apa.”
Aku tahu Kak Dian tidak punya maksud merendahkan, tapi entah mengapa ucapannya itu membuatku merasa seperti ditenggelamkan ke dalam sumur yang gelap. Pandanganku tertunduk, menyadari bahwa pikiranku ternyata lebih sempit dari yang kuduga hingga tidak menyadari hal yang harusnya kuketahui sebagai orang yang mencintainya.
“Terus, Amanda harus bagaimana?” Gumamku lemas.
“Sudah, tidak usah dipikirkan. Soal itu, biar kakak yang urus.”
“Tapi kan—”
Tanpa kusadari, Kak Dian sudah berada di hadapanku lagi lalu meraih kedua pipiku dan mengangkat kembali pandanganku. Senyum dan kekehan kecil menyambutku, yang lantas disusul dengan belaian tangan kanannya di kepalaku.
“Sudah kakak bilang, kan? Jangan dipikirkan. Pokoknya Aldi bakal lupa berkedip melihat kamu besok, percaya sama kakak,” katanya dengan penuh keyakinan.
Apa yang dia ucapkan memang berlebihan, tapi itu memberiku semacam semangat. Aku balas tersenyum. “Terima kasih ya, Kak?”
“Ya sudah.” Kak Dian menangguk dan melepaskan tangannya dariku. “Sekarang kamu tidur, sudah malam.”
Aku mengangguk, lalu merebahkan diri seperti yang dia minta. Kemudian kebiasaannya yang telah lama menghilang, kembali lagi—kecupan sebelum tidur di kening adik kesayangannya.
Lantas, dia pun pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Aku jadi penasaran, apa yang akan kakakku lakukan untukku besok, ya?
***
Pagi harinya di kamar Kak Dian ....
“Nah, selesai!” Katanya seusai menyisiri poni rambutku.
__ADS_1
Kemudian dia menyuruhku yang duduk di depan meja rias untuk berdiri dan berbalik. Kakakku lantas mundur beberapa langkah, lalu memperhatikanku dari bawah ke atas dengan mata berbinar-binar.
“Kamu cantik banget, Nda!” Ucapnya dengan senyum lebar.
Aku yang penasaran kembali berbalik untuk memandang diriku sendiri di cermin. Rambutku masih tetap sama, dibiarkan tergerai bebas, hanya bedanya sekarang terlihat lebih halus dari biasanya. Untuk pakaian, aku hanya menggunakan blus putih polos berlengan panjang yang digulung sampai di bawah siku dan rok midi warna merah.
Kulenggak-lenggokkan tubuhku untuk melihat sesuatu yang spesial dari hasil riasan kakakku ini. Namun setelah beberapa waktu, tidak ada kesan yang khusus. Justru buatku, penampilanku terlihat sederhana.
“Ini ... apa tidak terlalu sederhana, Kak?” Tanyaku seraya menarik-narik sedikit blus dan rok yang kupakai. Aku tidak bermaksud protes atau semacamnya, hanya sekadar ingin tahu apakah Kak Dian memang sengaja meriasku seperti ini karena memang cocok denganku atau akan ada tambahan lain.
“Justru kamu itu malah cantik kalau seperti itu, Nda.” Bayangan kakakku di cermin tersenyum. “Lagian, kamu sendiri juga tidak suka kalau pakai yang mencolok, kan?”
“Y-Ya, sih.”
“Nah, makanya. Justru kesederhanaan kamu itu yang jadi daya pikat kamu.”
Lalu, bayangan kakakku mendekat. Kemudian ketika tiba tepat di belakangku, dia memutar tubuhku, menghadapkanku padanya. Kedua tangannya meraih pipiku.
“Kakak senang banget punya adik yang manis kayak kamu, Nda,” pujinya lagi dengan senyum yang tidak biasa. Maksudku, dia tampak begitu gembira. “Erina Jasmine saja kalah sama kamu.”
Erina Jasmine adalah artis muda yang sedang naik daun karena parasnya yang aduhai. Dia seumuran denganku, dan saking cantiknya dia, banyak gadis-gadis termasuk teman-temanku di sekolah merasa iri. Aku senang dan bangga dibilang lebih dari dia, tapi aku sadar kakakku terlalu berlebihan.
“Kakak jangan lebay, deh! Malu, tahu!” Balasku sambil terkekeh. Ya Tuhan, kenapa aku bisa punya saudari yang hobinya hiperbola, sih?
“Permisi!” Seru seseorang dari luar yang terdengar tidak asing buatku. Suaranya Aldi. Kami menoleh ke arah datangnya suara itu bersamaan.
“Tuh, Aldi sudah datang. Sana, temui dia,” perintah Kak Dian sambil merapikan kerah blusku.
Bukannya langsung menuruti perkataannya, aku justru mematung di tempat. Jantungku berdebar, sementara kaki seolah dipaku ke lantai. Tidak bisa digerakkan.
“Kenapa diam saja?” Kak Dian bahkan sampai mengerutkan alis.
“A-Amanda—”
“Jangan bilang kamu malu, Nda.”
“Permisi!”
Aldi kembali memanggil, namun suaranya itu malah membuatku gentar.
Kak Dian pun berubah masam wajahnya. Aku menunduk. Menyesal sudah membuatnya kecewa, juga pada diri sendiri.
Tapi tiba-tiba, Kak Dian meraih tangan kananku dan menyeretku keluar dari kamar.
“Kakak! T-Tunggu! Lepaskan!” Meski aku meronta dan berteriak, dia tidak mau melepaskanku.
Akhirnya aku pun tiba di balik pintu depan dan tanpa memberiku kesempatan untuk sekadar mengumpulkan keberanian, Kak Dian langsung membukanya. Melihat Aldi yang sudah berdiri di sana, membuat wajahku panas yang segera kutundukkan.
“Amanda bilang dia malu ketemu sama kamu. Jadinya harus saya paksa, deh!” Kata Kak Dian dengan entengnya.
“B-Bohong! Kakak saja yang main tarik begitu!” Sanggahku.
Aldi tertawa. “Malu kenapa, Nda? Kau cantik banget. Kenapa mesti malu?”
Aaaahhhh! Pujian itu membuatku mau meledak!
“Tuh, kan. Aldi saja bilang begitu,” celetuk kakakku. Astaga, masih di rumah saja aku sudah sangat memalukan begini.
“Ayo, Nda. Yang lain sudah menunggu,” seru Aldi.
“Y-Ya,” jawabku.
Aku lantas beranjak keluar dan menunggu dibalik punggungnya Aldi. Kak Dian menitip pesan pada Aldi supaya menjagaku dengan baik atau nyawanya akan melayang malam ini juga. Setelah mengiyakan pesan kakakku dengan nada gemetar, dia menyeruku lagi dan berjalan beriringan denganku. Aku lega karena kupikir penderitaanku sudah berakhir. Tapi begitu aku melewati gerbang ....
__ADS_1
“Cieee! Mesra banget, sih?!” Kata Chandra dan Sarah yang sudah menunggu. Saat itu juga aku menyesal karena sudah mau ikut dengan mereka.