Cintaku, Pahlawanku!

Cintaku, Pahlawanku!
Chapter 24: Aldi


__ADS_3

"Hei, kau kenapa, sih? Perasaan dari tadi bengong terus?" Teguran Sandi membuatku tersentak karena saking kagetnya.



"A-Ah, tidak apa-apa, kok. Lupakan saja," ujarku padanya seraya sedikit tersenyum dan menggoyangkan kedua tanganku padanya. Berpura-pura kembali menikmati adegan pertempuran sengit dari film yang sedang kami tonton bersama di ponsel salah satu temanku.



Kurasa usahaku berhasil, karena selanjutnya Sandi tidak menanyai apapun lagi padaku dan justru kembali terhipnotis oleh adegan-adegan apik yang disajikan film itu, sama seperti teman-temanku yang juga menimbrung di meja ini. Aku pun berusaha keras untuk bisa seperti mereka, tapi aku selalu gagal karena tidak bisa melupakan hal aneh yang kualami sejak kemarin.



Teman-temanku bersorak, ketika si tokoh utama yang memihak pasukan pemberontak, berhasil menjatuhkan sebuah helikopter dengan misil anti-pesawat portabel. Kecuali aku, yang hanya diam karena pikiranku yang tengah terpecah.



Semenjak kembali dari taman kemarin setelah membicarakan masalahku pada Amanda, aku merasakan perasaan aneh yang tidak kumengerti. Bahkan aku sampai kesulitan tidur karena perasaan aneh itu tidak bisa membuatku berhenti berpikir, sebenarnya apa yang kurasakan ini?



Terutama kata-kata yang dia ucapkan kemarin. Semakin aku mencoba melupakannya, semakin terngiang dalam kepalaku. Khususnya, rangkaian kata yang mengatakan bahwa dia menyukaiku.



Walau begitu, aku tidak mempercayainya. Amanda pasti hanya bermain-main saja.



Lalu aku pun juga tidak mengerti, mengapa aku merasa gugup dan berdebar-debar kalau bertemu Amanda. Aku yakin aku tidak punya masalah dengannya, bahkan ketika bicara dengannya, aku tidak bisa menatapnya.



Sebenarnya, apa yang terjadi padaku?



***



Tanpa menunggu lagi, begitu bel pulang menggema ke seantero sekolah, aku langsung pergi meninggalkan kelas demi tidak berbarengan dengan Amanda. Aku berlari kecil, menerobos kerumunan murid di lorong dan tangga tanpa peduli mereka akan marah atau tidak, karena yang terpenting, aku tidak bertemu Amanda.



Setelah menginjakkan kaki di halaman luar, aku berhenti sejenak di ambang gerbang, menghirup udara sebanyak yang kubisa dan membuangnya perlahan. Lalu kutempelkan tangan di dada sebelah kiri. Jantungku berdebar seolah aku baru selesai ikut lomba lari.



"Sebenarnya ada apa denganku?" gumamku.



Selagi aku memikirkan apa yang terjadi pada diriku, entah dari mana tapi Chandra muncul begitu saja di sampingku yang membuatku sampai mengerjap karena kaget. Lantas dia tersenyum sebelum memandangku dengan alis mengernyit.



"Kau kenapa?" Tanyanya seraya melirik tanganku yang masih menempel di titik jantungku berada. "Kau kena serangan jantung?"



Tidak mau dia curiga dan bertanya lebih lanjut, kuturunkan tanganku dan mencoba menenangkan diri yang panik karena sesuatu yang tidak jelas.



"Aku baik-baik saja, kok," kilahku.



"Kau yakin tidak kenapa-kenapa?" Tanyanya lagi.



Aku tidak mau tertahan di sini dan akhirnya berjumpa dengan Amanda lagi. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Chandra begitu saja. Ya Tuhan, aku harus bagaimana?



"Aku akan ceritakan, tapi tolong, tidak di sini," pintaku padanya.



Sejenak dia terlihat heran, namun dia lantas tersenyum dan kemudian melingkarkan lengannya di leherku dan membawaku entah ke mana. Aku tidak bertanya lagi karena kupikir akan lebih baik jika aku mengikuti dia saja.



Kami pun tiba di warung kopi sederhana yang berada tidak jauh dari sekolah setelah berjalan kira-kira lima menit. Walaupun dekat, tapi lokasinya berada di gang sempit dan kuyakin Amanda tidak mengetahui apapun tentang jalan ini, jadi aku bisa menenangkan diri sedikit.



Kami ambil tempat di kursi kayu panjang yang ada tepat di depan warung, dan sesosok kakek berkopiah muncul dari balik tirai yang ada di ujung kiri warung dan lantas menyambut kami dengan senyum tuanya. “Kopi susunya satu, Kek,” kata Chandra pada si kakek. “Kau mau apa, Di?” Tanyanya padaku kemudian.



“Samakan saja denganmu.” Karena aku sedang bingung, aku bilang agar disamakan saja dengannya.



Sementara si kakek pemilik warkop melakukan tugasnya, Chandra mengambil satu bakwan dari keranjang berisi aneka gorengan yang berjajar bersama keranjang-keranjang lain berisi kue-kue dan gulungan lontong. Sambil menguyah, dia menunjuk keranjang-keranjang itu bergiliran seraya menyuruhku untuk mengambil apapun yang aku mau. “Ambillah apapun yang kau mau, Di.”



Aku cuma mengangguk mengiyakan karena memang sedang tidak berselera. Dia menanggapiku dengan anggukan juga yang kuanggap sebagai tanda kalau dia mengerti dan aku senang karenanya.



Pesanan kami pun datang, dan setelah menyerahkannya kepada masing-masing dari kami, si kakek duduk di sudut terpojok dan menyembunyikan wajahnya di balik koran yang dia baca.


__ADS_1


"Cerita padaku, kenapa kau tadi kelihatan panik begitu," kata Chandra seraya sedikit tertawa.



"Anu, entahlah, Ndra. Aku juga tidak tahu." Aku menghela napas.



Sejujurnya aku ingin memberitahunya dengan gamblang, tapi aku merasa malu. Akibatnya, dia jadi geleng-geleng sendiri. Kurasa aku sudah jadi orang aneh di matanya.



"Jujur saja, Di," dia berkata dengan penuh keyakinan. "Kalau ini masalah sensitif, aku jamin, rahasiamu aman denganku."



Aku tidak langsung menanggapinya melainkan mencoba mengumpulkan keberanian. Setelah merasa lebih baik, aku mulai menceritakan masalahku padanya.



"Kau tahu teman masa kecilku yang pernah kuceritakan padamu, kan?" Aku memulainya dengan sedikit basa-basi.



"Ah, ya. Kalau tidak salah namanya Rina, ya?" Chandra mulai menampakkan raut muka penuh antusiasme. Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. "Memangnya ada apa dengan dia?"



"Dia menyukaiku, tapi aku menolaknya karena aku tidak punya perasaan padanya."



Chandra yang baru saja hendak beralih ke kopi dari bakwan di tangannya yang sudah habis, mengerjap kaget. "Bernakah? Lantas, apa itu yang jadi masalahmu?"



"Sebenarnya ya, tapi bukan itu yang jadi masalah utama buatku."



"Terus, terus, apa yang selanjutnya terjadi?" Dia menyesap sedikit kopinya tanpa mengalihkan matanya dariku.



"Kemarin aku mencoba membicarakan masalahku dengan Amanda," jawabku sementara Chandra memutar tubuhnya sehingga langsung menghadapku dan menaikkan kaki kanannya ke kursi. "Lalu, dia berkata bahwa dia menyukaiku, dan mengucapkan beberapa kata yang aku lupa bagaimana persisnya, tapi membuatku jadi merasakan sesuatu yang aneh."



Chandra sempat tersentak, namun kemudian dia tersenyum tipis. "Aneh bagaimana?" Kali ini, ekspresinya berubah seolah dia telah paham dengan masalahku.



"Aku tidak tahu, tapi aku merasakan perasaan aneh yang tidak kumengerti. Bahkan aku pun tidak paham karena sejak saat itu, aku justru merasa gugup kalau bertemu dengannya. Apakah kau tahu sesuatu?"



Aku pun jadi semakin bingung, karena Chandra justru terkekeh. Ketika aku hendak melanjutkan lagi, dia mengangkat telapak tangan kanannya, isyarat untuk berhenti.




Sesaat aku kesal, karena setelah berucap panjang lebar, aku akhirnya hanya disarankan untuk menunggu sampai aku tahu sendiri apa perasaan itu. Tapi aku pun sadar, aku tidak bisa memaksanya untuk memberikan jawaban kalau dia memang tidak ingin.



"Lantas, aku harus bagaimana?" Tanyaku lagi.



"Sudah kubilang, kan? Kau tidak perlu memikirkannya karena nanti pun, kau juga akan tahu sendiri perasaan yang kau rasakan sekarang ini," ujarnya. "Percaya padaku, tidak akan lama, kok."



Meskipun dia bilang begitu, tapi aku sudah tidak sabar ingin segera mengetahuinya. Namun ya sudahlah, kurasa aku memang harus menunggu.



Selanjutnya kami hanya membicarakan hal-hal remeh yang terjadi di sekitaran kami saja. Waktu yang menyenangkan pun berlalu begitu cepat hingga Chandra entah sadar atau tidak, sudah memakan lima bakwan dan dua lontong. Lalu dia memeriksa jam tangannya, dan bilang kalau sekarang sudah hampir jam empat dan mengajakku untuk pulang.



Aku mengangguk, dan sementara Chandra mengambil dompet dan memanggil si kakek pemilik warkop, aku meminum dan menghabiskan kopiku yang sudah dingin karena tidak kusentuh sama sekali.



Aku pun berdiri dan kulihat Chandra membayar dengan masing-masing selembar sepuluh dan lima ribu lalu langsung mengajakku pergi. Aku bilang aku belum bayar namun dia berkata sudah membayar semuanya.



Ah, pada akhirnya aku cuma merepotkannya.



***



Dari mulut gang, aku berpisah dengan Chandra dan melanjutkan pulang dengan berjalan kaki sendirian. Kulihat langit sudah agak kelabu, yang berarti tidak lama lagi mungkin akan turun hujan.



"Aldi!" Langkahku terhenti tidak jauh dari mulut gang ketika seorang gadis dengan suara tidak asing menyeruku dari belakang.



Aku menoleh, dan mendapati Amanda berjalan ke arahku dari gerbang sekolah dengan senyum samar di bibirnya. Semakin dia mendekat, jantungku semakin berdebar. Kenapa dia masih ada di sekolah?

__ADS_1



Pikiranku ingin agar aku segera pergi, namun hatiku berkata agar aku tetap di tempat dan menyambutnya. Hingga aku pun akhirnya terlambat mengambil keputusan dan tibalah Amanda di hadapanku.



"Kau dari mana, Di? Kok, masih ada di sini?" Dia bertanya seraya celingukan, seolah dia mencari tempat asalku muncul.



"Aku, tadi habis bersama Chandra. Eh ... memangnya ada apa?" Karena begitu gugupnya aku sehingga ucapanku jadi sedikit tidak jelas. Bahkan aku tidak memandangnya sama sekali.



"O-Oh." Dia tertawa canggung. "Emm ... tidak ada apa-apa, kok. Aku cuma mau tahu saja habis, kau kan biasanya langsung pulang saja tanpa pergi ke mana-mana lagi. Terus, kau tadi kenapa buru-buru begitu pas keluar dari kelas tadi?"



"M-Mau pulang bersamaku?" Kata-kata itu meluncur saja dari mulutku, sehingga ketika aku menyadarinya aku langsung membekap mulutku. Sekarang pun entah mengapa wajahku terasa hangat.



Mendengar ucapanku, Amanda tersentak dan memalingkan wajahnya. "Ya. A-Aku mau, kok."



Tanpa memberitahu aku pun jalan terlebih dahulu dan Amanda pun menyusulku kemudian. Kami melangkah beriringan tanpa bicara dan tidak saling menoleh sama sekali. Astaga, bahkan keadaanku lebih parah daripada Amanda ketika masih baru mengenalku.



Jantungku terus berdetak cepat sementara jari-jari tanganku terasa dingin. Aku ingin sekali mempercepat langkah bahkan berlari, namun di saat bersamaan aku pun ingin tetap berada di dekatnya. Hawa panas di wajahku sekarang telah merambah ke dalam kepalaku karena terus memikirkan apa yang mesti kulakukan.



"K-Kau sendiri, kok baru keluar dari sekolah, Nda?" Tanyaku tanpa memandangnya.



"Aku tadi ... anu ... h-habis ada urusan sama Sarah sebentar," jawabnya.



"O-Oh. Begitu, ya?"



Selanjutnya tidak ada lagi kata di antara kami sampai kemudian ....



"Soal yang kukatakan kemarin itu, kau lupakan saja," celetukan Amanda itu membuatku sedikit kaget.



"Kukira ... kau serius mengatakannya," balasku dengan tertahan karena aku tidak tahu mengapa, tapi aku merasa tidak rela dia mengatakan itu.



Amanda mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa kudengar karena terlalu pelan. Walau ragu, namun kucoba untuk memandangnya meski rasanya sulit.



Dia menunduk dalam, sehingga wajahnya hampir seluruhnya tertutup oleh rambut panjangnya meski ada beberapa celah yang membuatku bisa melihat wajahnya yang kini memerah. Selanjutnya, kami hanya terus berjalan tanpa ada kata lagi hingga sampai di sebuah persimpangan yang menjadi titik perpisahan kami.



Kami berhenti, masih tanpa saling menatap. Aku merasa dia ingin mengatakan sesuatu jadi aku ingin memberinya waktu untuk bicara.



"Aku mau tanya sesuatu, boleh tidak?" Sebuah pertanyaan terucap darinya beberapa detik setelah kami berhenti.



"Tanya apa?" Perasaanku semakin campur aduk, sehingga aku bahkan tidak bisa berhenti mengusap pipiku dengan jari.



"Apakah kau merasakan yang kurasakan?"



Aku tersentak, dan membisu beberapa waktu sebelum aku bisa mengendalikan diri. "M-Mungkin ...."



Kekehan kecil terdengar dari mulutnya. "Begitukah?"



Aku mengangguk, entah dia melihatnya atau tidak.



"Kalau begitu, ya sudah. Aku pamit, Di," ucapnya, dan dia pun pergi tanpa sepatah kata pun lagi.



Saat kurasa dia sudah agak menjauh, kucoba untuk menatapnya. Melihat jarak di antara kami semakin lebar membuatku menyesal. Aku ... aku tidak yakin tapi, aku merasa tidak rela dia pergi dan penyesalanku pun mencapai puncaknya ketika dia menghilang ke sebuah jalan sebelum aku sempat memanggil namanya lagi.



Kuhela napas, mencoba untuk menenangkan perasaan aneh yang meronta-ronta dalam benakku. Sesaat aku berpikir, apakah ini yang namanya cinta?



Aku menggeleng. Tidak, tidak mungkin. Aku yakin yang kualami sekarang hanyalah perasaan suka sesaat yang nanti akan kembali normal pada waktunya.

__ADS_1



"Aku yakin," gumamku.


__ADS_2