Cogan Kamar Sebelah

Cogan Kamar Sebelah
1. Pindah


__ADS_3

Tok tok Tok


Ketukan pintu tanpa jeda mengawali momen cerita baru di pagi hari ini. Didepan sebuah kamar anak gadis yang masih bergelung dengan selimutnya. Seorang ibu tampak sangat geram dengan si penghuni kamar.


“Rainaaaaa.. bangun. Udah siang sayang, kita kan mau ketempat tante Mira.” Suara seseibu yang menggelegar seantero rumah tapi tak juga bisa membangunkan anak gadisnya.


“kalo kamu nggak mau buka pintu, mama tinggal kamu ya?. Biar aja deh kamu tinggal sendirian kalo mama keluar negri sama papa”. Suara lantang itu berubah menjadi lebih lembut tapi menyiratkan sebuah ancaman.


Namun ancaman –ancaman itu sebenarnya tidak begitu menakutkan bagi Reina.


Ceklek


Suara pintu terbuka dan Reina berada dibaliknya masih awut awutan dan iler yang masih menempel dipipi kirinya.


“astaga nak, jelek banget kamu.” Mama Dina tergelak didepan pintu


“Rambutmu itu loh kayak rambut singa yang nggak disisir sebulan. hahaha.. Dan lagi ilermu kemana-mana. Dosa apa aku ya Tuhan, punya anak gadis kok begini banget" Semakin pecah lah suara tawa sang mama.


“ih mama, namanya bangun tidur ya pasti jelek. Emang aku model iklan shampo yang bangun tidur udah siap kondangan?”. Reina mengusap bekas ilernya sembarangan, melengos masuk kamar lanjut Rebahan dan menarik selimut menutupi ujung kaki hingga kepala.


“eeh eh, mau kemana kamu? Udah siang ini, Entar telat. Ayo cepetan bangun” sang mama menyibakkan selimut dan menarik paksa tangan Reina ke kamar mandi.


“kamu tu jangan males males Na, nanti dirumah tante Mira kamu gimana? ". Sang mama mengomel menasehati putrinya yang pemalas pake banget.


Reina berusaha meronta minta dilepaskan. Tapi karena nyawanya masih belum kumpul, Reina kalah telak dengan kekuatan super emak emak dipagi hari.


"Aku mau tidur lagi ma.. Lepasin napa sih!, lagian nggak usah lah aku ke rumah tante Mira, aku bisa kok tinggal sendirian. Nggak apa kok kalo mama papa ke Amerika. Aku bisa jaga diri.” Rengek Reina ke mamanya yang masih menarik tangannya menuju kamar mandi.


Hari ini Reina akan dititipkan ke rumah sahabat mamanya yaitu Tante Mira. Orang Tua Reina akan ke Luar Negeri karena papa Reina (Suherman) akan melanjutkan study serta penelitian di sana. Reina tak bisa ikut ke Amerika karena dia sudah mendapat beasiswa kuliah di sebuah Perguruan tinggi ternama di ibukota. Dan untuk membiarkan anak semata wayangnya tinggal sendirian, tentu kedua orang tuanya sangat tidak tega.


***


“kamu nanti dirumah tante Mira jangan nakal. Nurut sama tante Mira. Jangan males-malesan. Jangan pulang malem- malem, jangan bertingkah, Kalo sampe tante Mira ngadu ke mama, kamu begini begitu. Mama bakal pulang, terus bawa kamu ke Amrik”


Mama Dina memeluk Reina sambil menceramahinya didalam mobil yang menuju rumah sahabatnya.


“ih mama tu ya, dari pagi sampe sekarang ngomel terus. Kalo nggak ngancem mo dibawa ya ngancem nggak dikasih ongkos. Sebenernya aku tu anak papa doang apa gimana sih, jahat banget deh perasaan.” Reina balas mengomel sambil menjauhkan diri dari pelukan mamanya.


“hahaha, kalian tuh bikin papa pusing. Nanti sore kita udah take off lho mah. Kamu masih ngomel aja ke Reina. Nggak disayang – sayang gitu anaknya. Ini malah di ancem terus.” Papa Reina yang berada di balik kemudi sesekali terkikik geli melihat istri dan anaknya adu mulut.


“iya ni pa, mama nih. Galak bener sama anak. Ntar aku kutuk jadi emas lo ma.” Ancam Reina sambil menangkupkan kedua tangan didada seperti seorang ibu yang memarahi anaknya.


“idih kalian sekongkol yah. Lagian biasanya yang ngutuk kan ibu ke anak. Kenapa kebalik sih Na?” Mama Dina dan Papa Suherman pun ikut tergelak mendengar celotehan sang anak.


"Ya kan mama yang jahat, kalo Reina kutuk jadi batu kan berat, kalo emas kan lumayan.. Walau nggak bakal Reina jual, seenggaknya mama masih Reina sayang deh"


Reina pun tak luput dari cubitan gemas sang ibu. Suasana didalam mobil menuju rumah sahabat keluarga mereka semakin meriah karena mereka tak henti-hentinya bercanda tawa.


***


"ma, ini rumah apa istana sultan? Gede banget? Halamannya kayak lapangan sepak bola. Tu mobil bejejer kek di showroom. Emang om Jeneva, kaya banget ya" bisik Reina ketika mobil mereka memasuki pekarangan rumah keluarga Jeneva.


"Gimana rumahnya nggak mewah. om Jeneva kan punya banyak usaha. Salah satunya ya perusahaan eksport import, salah dua nya bidang pertambangan, dan salah tiganya bidang transportasi, kamu tau maskapai "Air Blue"? Itu yang punya om Jeneva Na. "

__ADS_1


Papa Suherman menjelaskan pada Reina tapi yang di jelaskan hanya ber "oh" tanpa suara.


"Kamu tau, siapa yang biayain penelitian papa? "


"Ya masak Reina tau sih pa" pikir Reina dalam hati tapi tak lantas di ucapkannya, Reina hanya menggeleng dan tersenyum nyengir.


Papa Suherman memarkirkan mobilnya, menarik rem tangan dan berbalik badan, menatap pada Reina yang duduk dibelakang kemudi.


"Yang jadi investor utamanya ya Om Jeneva ini"


Reina hanya ber "oh" lagi tanpa suara.


"Makanya, kalo disini jangan nakal" mama Dina menepuk lembut punggung putri semata wayangnya sambil tersenyum.


"Emang Reina pernah nakal?, lagian malah g enak ma, tinggal bareng temen mama sama papa tu beban buat Reina. Mending Reina kost aja deh deket kampus. Janji deh nggak bakal nakal."


Reina mencoba menawar di detik terakhir kesempatannya untuk melarikan diri dari tempat "penitipan" meski sebelumnya sudah gagal puluhan kali membujuk orang tuanya.


Dengan senyum yang dia kembangkan selebar mungkin, kedua tangan menopang dagu bak pose girl band setelah manggung . Dia mengerahkan jurus keimutannya yang terakhir.


"Semoga kali ini berhasil" doa nya dalam hati.


"NGGAK BOLEH"


seru papa Suherman dan mama Dina berbarengan.


"Ah, pupus sudah. kebebasan gue.. Kemalesan gue.. Time to rebahan gue.. Hiks" ratap Reina dalam hati dan sudah hampir menangis.


"Ayo Turun" papa Suherman membukakan pintu mobil meminta kedua wanita tercintanya turun dan memberikan sambutan hangat pada tuan rumah yang sudah berdiri di depan rumah mewah mereka.


***


Reina yang hanya bocil ditengah para manusia paruh baya itu hanya mengangguk dan tersenyum saat dilibatkan dalam percakapan. Sepertinya Reina sudah setuju tinggal di kediaman om Jeneva, dilihat dari koper dan segala macam barang bawaannya sudah dipindahkan ke kamar lantai dua.


"Sayang, kamu ke atas dulu ya. Lihat kamar kamu sama Bi Asih dulu. Biar papa sama mama kamu ngobrol dulu sma om dan tante. "


"iya tante, makasih" Reina tersenyum seraya mengangguk patuh. Tante Mira membelai Reina sayang, memanggil bi Asih dan menyuruhnya mengantar Reina ke kamarnya.


sebenarnya Reina sempat merasa tidak nyaman karena saat kedatangan mereka tadi, sang nyonya Jeneva seolah memandang sinis kearahnya yang sedang berjalan menuju tempatnya berdiri.


"Gue jelek banget ya, gitu banget liatinnya? " Reina merasakan hawa yang kurang menyenangkan dari tatapan nyonya Jeneva, tante Mira.


Reina melihat penampilannya sekali lagi, kaos putih, celana jeans casual dipadu dengan cardigan rajut over size warna cream.


"Perasaan udah sopan deh ini baju, kenapa tante Mira liatinnya berasa gue pake bikini doang dah. Gimna kalo gue cuma pake hot pan?, tu mata bakal keluar leser kali yah" Reina menunduk sambil terkikik geli, namun tiba tiba..


Brugh


Tante Mira berlari dan menumbuk tubuh Reina. memeluknya erat, mencium kening, pipi kiri dan kanan Reina, mencubitnya gemas lalu memeluknya lagi.


"Aduh, anak tante udah gedeee banget.. Udah perawan. Cantik lagi.., Kangen deh sama pipi chubby kamu, sekarang tirus banget sih.. Nggak dikasih makan ya sama mamamu? " tante Mira melayangkan tatapan maut ke arah mama Dina. Dan yang ditatap hanya senyum dan menggeleng pelan.


"enak aja, Reina tu makannya banyak Mir. Tau deh kemana tu makanan perginya."

__ADS_1


Tante Mira menatapku sendu, hingga celotehannya yang tak terduga membuat kami semua tertawa


"Jangan jangan kamu cacingan Na"..


***


Reina menaiki tangga lantai dua rumah keluarga Jeneva. Pandangannya menyapu seluruh permukaan lantai dua.


tatkala melangkahkan kaki setelah melewati tangga, disana terdapat sofa dan televisi, mirip semacam ruang keluarga tapi lebih kecil dari ruang keluarga utama di lantai bawah. Ada banyak buku yang disusun rapi di rak sudut ruangan. Pemandangan balkon yang bisa dilihat dari dalam karena pembatasnya terbuat dari beberapa jendaela kaca dan hanya ditutupi Gorden yang menampilkan kesan minimalis namun elegan.


"Disini neng" suara bi Asih menyadarkan pandangan Reina.


"Eh, iya bi."


Bi Asih membuka pintu kamar Reina. tapi sebelum masuk, Reina melihat ada satu kamar disebelah kamarnya. Dan yang membuatnya penasaran ada sebuah tulisan di depan pintu (Do Not Entered)


"Eh, bi. Ngomong-ngomong ini kamar apa? " jari Reina menunjuk arah pintu tersebut.


"Oh, itu kamar den Miko. Tapi sudah lama kosong. Den Miko udah pindah ke apartemen. Sudah satu tahunan ini kayaknya. "


"Ooh.. " Reina hanya mengangguk. Dia tentu tahu siapa Miko. Anak semata wayang keluarga Jeneva.


"Emang Miko nggak pernah pulang bi?". Reina melangkahkan kakinya masuk kekamar. Menyapukan paandangan seantero kamar yang membuatnya membatin "gila.. Lebih gede kamar ini dari pada kamar gue. Tapi tetep aja, masih nyaman kamar gue hiks"


"Pulang non,tapi jarang nginep. " Bi Asih terus melangkah memeperlihatkan isi kamar yang lain. Kamar bercat soft pink dengan satu tempat tidur ukuran size king ditengah ruangan. Dibelakangnya terdapat jendela besar ditutupi gorden pink salem yang menambah ruangan semakin bernuansa girly.


Reina hanya ber oh pelan menanggapi jawaban bi Asoh. Dia melanjutkan langkah kakinya mengikuti bi Asih dari belakang.


"Ini kamar mandinya neng, ini lemari bajunya" bi Asih membuka pintu Sebelah kiri yang ternyata kamar mandi dan menunjuk lemari besar berpintu empat di sebelah kanan tempat tidur.


"Iya, makasih bi"


"Sama sama neng, kalau gitu bi Asih permisi dulu "Reina hanya mengangguk dan tersenyum.


"Gimana sayang. suka sama kamarnya? "


Reina menoleh ke arah sumber suara yang ternyata tante Mira dan mama Dina berada di sebelahnya.


"Suka kok tan, kamarnya gede, adem. Lemarinya juga gede. Berasa artis" Reina tersenyum nyengir kuda.


"Ini dulu ruangan musiknya Miko. Tempat alat alat band nya Miko, Udah lama nggak dipake, makanya itu ada pintu langsung nyambung ke kamar Miko". Tante Mira menjelaskan sambil menunjuk arah pintu yang memang dibaliknya adala sebelah kamar Reina tadi.


"Untung si Miko udah pindah" pikir Reina.


"waktu mama kamu bilang mau titipin kamu sama tante, tante desain ulang kamar ini.. Tante nggak tau selera kamu. jadi kalau ada yang nggak suka, kamu bilang aja ya"


"Nggak kok tan, suka banget.. Apa lagi warna pink nya kalem.. Keknya kita Satu selera deh, kalo mama sih malah bed banget sama aku, mama suka cat pink gonjreng. nggak banget pokoknya" Reina menggandeng tangan tante Mira sambil mengibaskannya manja.


"Ck ck ck.. Udah punya emak baru, emaknya yang lama di hina dina. tega kamu Na sama mama. " mama Dina menoyor dahi Reina hingga sang anak mengusap dahinya sambil menatap mamanya sinis.


"Lumayan lah ma, ngejilat dikit. Sapa tau ntar uang saku Reina nambah." Reina mencebikkan bibirnya ke arah mama Dina yang sedang tersenyum jahil.


Tante Mira hanya menggeleng penuh senyum melihat tingkah ibu dan anak didepannya.

__ADS_1


"Ya udah kita kebawah, makan dulu abis itu nganterin papa sama mama kamu ke bandara. Biar bi asih yang beresin barang kamu"


Reina mengangguk dan memberi penghormatan ala tentara "Okke deh tan".


__ADS_2