
Brugh..
Reina menghempaskan tubuhnya sekuat tenaga ke atas kasur empuk yang baru ditidurinya semalam.
entah dari mana datangnya, beberapa bulir bening mengalir deras diantara kedua matanya.
"Ah sialan tu emak emak, bikin mewek gue dah" Runtuk Reina sambil mengusap air matanya yang tak bisa berhenti menangis.
Flashback on
Dibandara yang begitu ramai, Mama Dina sedang memeluk erat putri tersayangnya. Tapi yang dipeluk malah meronta-ronta kayak orang gila.
"Ih apaan sih mah, bocil banget.. kayak pergi nggak bakal balik aja. Meluknya gini banget dah. Engap tauk!" Reina masih terus meronta, minta dilepaskan.
"Ish.. jahat banget kamu na." mama Dina menoyor putrinya
"yang jahat tu mama, Seneng banget noyor pala Reina. Sakit dah" Reina pura-pura manyun agar ibunya tertawa.
Mama Dina menatap anaknya penuh sayang sambil mengelus puncak kepala Reina, tak hentinya juga dia mencium semua bagian wajah Reina. Reina yang diperlahkukan seperti bayi hanya tersenyum geli pada emaknya yang super rempong.
"Iya.. iya.. iya mama ku sayang. Hati-hati di negeri orang. Reina bakal jaga diri baik-baik kok, lagian disini Reina kan ada yang jagain juga. Jadi mama jangan kuatir." Senyum Reina semakin lebar memandang kedua orang tuanya dan juga om Jeneva dan tante Mira.
"Ini pertama kalinya kita jauh na, mama sanggup nggak ya." Mama Dina memeluk Reina lagi sambil menangis tersedu, tak terbayangkan olehnya bahwa hari dimana dia dan anaknya tercinta berpisah akan tiba.
"udah, udah.. nggak usah melow dong Din, kalau kangen ya pulang aja. Tinggalin suamimu disana, biar aja dia pacaran sama meja laborat." Tante Mira mengusap punggung mama Dina, menguatkan.
Flashback off
"Huft.. hari pertama tanpa suara gledek mama. Aku bisa bertahan berapa hari ya? Wakkakk" tak tau kenapa, Reina tertawa tapi malah tak henti menitikan air mata.
Tok tok tok
Suara ketukan membuyarkan lamunan sendu Reina.
"Na, udah bangun belom? Hari ini kamu ospek kan ya?" Tante Mira mengetuk pintu kamar Reina, membangunkan anak gadis yang akan memulai hidup sebagai mahasiswa.
"Iya tante, ini udah rapi kok.." jawab Reina sambil menghapus sembab di kedua matanya.
"Tante tunggu di bawah ya, kita sarapan bareng"
"Asyiap tan.. bentar ya, aku gincuan dulu"
***
Dimeja makan yang sunyi, hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring yang sedang beradu. Reina berusaha menyelesaikan sarapannya secepat mungkin. Karena ini hari pertamanya dirumah ini, dia masih merasa canggung untuk memulai perbincangan. Menyelesaikan sarapan dan berangkat lebih cepat adalah cara menghindar paling efektif, pikirnya.
"Kamu dianterin supir ya na?" Tanya om Jeneva ketika melihat Reina telah selesai dengan sarapannya.
"Nggak usah om, Reina mau naik MRT aja. Sekalian cari pengalaman baru." Sela Reina yang masih berusaha meneguk susu yang tinggal separuh.
"Kalo gitu tante suruh supirnya nganterin kamu naik MRT ya?, sekalian bisa nunjukin kamu jalan" tante Mira sedikit tak tega membiarkan Reina berangkat sendiri, dia takut Reina kesasar.
"Nggak usah tan, ada GPS kok. Tenang aja, lagian Reina udah gede, nggak bakal kesasar kok" senyum Reina menenangkan kekhawatiran tante Mira dan om Jeneva
"Tapi kan.."
"ya udah lah mi, yang tua ngalah" sela om Jeneva, tak membiarkan istrinya memaksa Reina lagi.
"Ya udah, kamu hati -hati ya sayang?" Peluk tante Mira pada Reina yang akan berangkat kuliah.
***
"Haiii.. hai hai gaess.." suara Reina menggelegar, menerjang dua orang temannya yang sedang ngrumpul di pojok kantin kampus.
__ADS_1
" Ya ampun Naaaaa... Nggak di SMA, nggak di kampus.. suara elo emang yang paling dahsyat." Geleng Vina yangbhafal betul tabiat sang sahabat.
"Sumpah, bikin telinga gue tuli" teriak Keyla yang sibuk memegang kedua telinganya.
"Jiahahahahaaaa biarin, lagian lu semua nggak kangen gitu sama gue?" Celoteh Reina yang melihat dua temannya satu persatu.
"ENGGAK.." sahut mereka barengan.
Reina hanya tertawa terbahak melihat ekpresi teman-temannya. Dia duduk ditengah kedua sahabatnya dan memeluk mereka dari samping seolah mengobati rindu setelah beberapa haribtak bertemu.
"Nggak nyangka juga ya, kita masih bisa barengan dikampus.. bakalan bosen nggak ya sama kalian?" serbu Reina yang ingin mencium para sahabatnya bergantian.
"Ih ih ih.. jijik ih Reina.. lebay banget loe.." Keyla yang disosor pipinya berusaha menjauhkan bibir Reina dan mendorongnya dengan telapak tangannya. Sedangkan Vina menerima ciuman sang sahabat dengan pasrah sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kamu ngeselin ih Key, aku sama Vina aja lah" Reina beringsut memeluk Vina erat dan berusaha menciumnya lagi, namun kali ini Vina seolah menghindar dengan tawa renyahnya yang masih tak henti terdengar.
Pertemuan dengan para sahabatnya itu mengawali keceriaan Reina yang akan menghadapi ospek beberapa jam lagi.
***
Dilapangan, tempat dimana ospek tengah berlangsung. Terdapat banyak sekali mahasiswa baru yang sedang berkumpul, tak terkecuali Reina dan kedua sahabatnya. Namun karena Vina beda jurusan, maka dia tak bisa berbaris dengan mereka.
"Eh na?" Senggol Keyla yang berdiri disampingnya.
"Apaan sih.. lo gak tau kalo gue disini lagi subuk" Reina memang terlihat paling sibuk diantara barisan, sibuk ngunyah cemilan.
"Kayaknya lo dipandangin senior terus deh."
"Heh, senior yang mana?" Reina yang penasaran pun mulai clingak clinguk mencari seseorang yang dimaksud Keyla hingga tibalah pandangan mereka berdua bertemu. Seorang pemuda beralmamater kampus, tinggi tegap nan tampan yang sedang berdiri di atas podium, sepertinya salah satu anggota BEM (badan eksekutif mahasiswa).
"Eh, ganteng juga ternyata hahaha" gelak Reina yang menemukan sumber gosipnya Keyla.
"Gila, gilaa gilaa.. lo baru pertama masuk aja udah dapet gebetan.. gimana empat taon lo disini, abis dah lakik satu kampus" sinis Keyla
"lagian, paling tu senior nggak naksir gue deh.. kali aja gue pernah punya utang ama die" senyum Reina tak ambil pusing.
"Iya, utang cinta" sanggah Keyla yang membuat mereka berdua tertawa.
Sang Senior yang sibuk di gosipkan kedua gadis itu terlihat semakin intens memandang Reina yang sibuk cekiki'an dengan sahabatnya. Dia pun turun podium, melangkah menuju barisan mahasiswa. Tak ayal, membuat banyak para mahasiswa wanita berteriak pelan ketika sang senior melewati mereka satu persatu. Hingga tibalah sang senior tampan itu di barisan tempat Reina berdiri.
Dia pun menghentikan langkahnya. Melirik Reina sekilas lalu tersenyum penuh arti, dia membalikkan badannya, berdiri disamping barisan Reina, yang masih sibuk mengunyah tanpa perduli senior tampan disebelahnya sedang tersenyum geje. Sepertinya Keyla dan mahasiswi lainnya lah yang paling antusias melihat senior ganteng bebaris dengan mereka, Keyla pun menarik-narik lengan kemeja Reina, membuat gadis itu jengah.
" Loe kalo narik baju gue lagi. Bakalan gue cium" Reina memelototkan matanya dan berbisik ke telinga keyla yang masih sibuk melihat senior ganteng disebelah mereka.
"Tukeran tempat dah key" Risih Reina melihat tingkah sahabatnya.
"Nggak usah, berdiri disini aja gue dah engap engapan.
"samping dia?" Sambil nunjuk senior pake mata
"Gue bakalan pingsan, na" bisik Keyla sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Reina hanya menggeleng tak percaya, sahabatnya bisa se girlly itu saat jadi mahasiswa. Bukankah mereka sama saat SMA? Rada tomboy dan nggak suka naksir dadakan sama cowok nggak jelas.
"Baris yang rapi, makan mulu dari tadi" suara serak yang khas dari senior tampan itu meluncur dari bibirnya. Membuat kedua gadis, yang tentunya semua gadis yang ada di sekitar barisan itu melongok ke arah sumbernya.
"Gue?" Saut Reina yang merasa sedang di tegur.
"Emang disini ada orang lain yang makan?" Timpal sang senior yang masih berdiri tegap menghadap depan walau sesekali tersenyum tipis, melirik Reina yang merasa kebingungan.
"Masukin tas na" Keyla merebut cemilan Reina dan memasukkannya kedalam tas.
"Yah yah yah.. potato gue.." lirik Reina sendu kearah snack yang berusaha dimasukkan Keyla kedalam tas.
__ADS_1
'***** ni senior, cari perkara ama gue' batin Reina kesal.
"Eh babang senior, lo kalo pengen.. ngomong dong,ntar gue kasih. Jan bikin gue kesel" sewot Reina pada sang senior.
"Kamu ini nggak ada disiplin-disiplinnya jadi mahasiswa baru. Panggil senior aja lo gue." Sang senior menoleh kerarah Reina, sebelum dia kembali ke posisi semula dengan mensendekapkan kedua tangannya didada.
"Baris yang rapi dan dengerin dekan yang lagi pidato. Sebelum saya hukum kamu lari sepuluh kali keliling lapangan."
'gila ni senior, bikin jiwa antagonis gue bangkit' batin Reina yang berusaha meredakan emosinya.
"Key" panggil Reina pada sahabatnya yang dari tadi diam memandang sang senior penuh cinta.
"Tukeran" lanjutnya.
Reina dan keyla akhirnya tukeran tempat, Reina bahkan menukar tempatnya lagi dengan mahasiswa lainnya. Berharap bisa menjauh dari senior gila yang baru ditemui nya.
Sang senior hanya tersenyum manis melihat betapa kesalnya Reina.
***
Hosh hosh hosh..
Deru nafas Reina bersahutan, Mengatur nafas agar tak tertinggal.
Brugh
Direbahkan tubuhnya di atas rumput tebal lapangan sepak bola, menutupi mata dengan tangan kirinya, berusaha menghalau sinar matahari yang menyilaukan pandangan
"Sialan tu senior, beneran bikin gue lari puterin lapangan." Kesal Reina sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"Hahaha" tawa tak ikhlas Reina terdengar diantara nafasnya yang tersengal
"tampan?. Tampan apaan coba!. Dasar senior SETAN" rutuk Reina.
Tiba-tiba sebuah pantat botol yang terasa dingin menempel didahinya yang membuatnya seketika terduduk karena kaget.
"Apaan nih" gerutunya saat melihat botol air mineral dingin ditangannya.
"Minum lah, emang kamu kira jimat"
'kek pernah denger suara ni orang dah' batin Reina
Reina menengadahkan pandangannya, melihat seseorang yang berdiri dibelakangnya. Sinar matahari yang menyilaukan, membuat pandangan Reina mengabur hingga memerlukan beberapa saat dia baru bisa melihat wajah sang empunya suara.
"hadeh, gua pikir Keyla yang udah balik dari daftar ulang, ternyata senior setan" Reina memutar bola matanya jengah.
Sang senior yang dipanggil setan hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya pelan. Dia lalu duduk disebelah Reina yang sibuk meneguk air mineral.
"Kamu tu, udah panggil senior elu gue, sekarang ngatain senior setan."
"Mau minta nambah hukuman ya?" Tawar sang senior.
Reina yang mendengar tawaran sang senior langsung mendelik hingga tak sengaja tersedak.
"uhuk, uhuk... Sumpah yah, lu emang lagi cari perkara kan sama gue?" tuduh Reina
"Gue cuma ngemil sambil ngobrol, lu malah bikin gue lari keliling lapangan. Lu tu senior yang Nggak ada ahlak, tau nggak?" seloroh Reina tanpa takut.
Lagi -lagi sang senior hanya tersenyum memandang wajah kesal Reina.
"Lu nggak inget gue?" Tanya nya tiba -tiba.
To be continued..
__ADS_1
Krisan ya manteman 😍😘