
"Ternyata obat mu cuma dicium" jawab enteng Miko
"YAK, bisa-bisanya lu ketawa?". Omel Reina.
"Karna kamu lucu"
"Lucu palalu, main ***** orang sembarangan"
"Tapi kan akhirnya kamu bisa bicara?"
"Padahal sudah susah saya cari dokter, ternyata obat kamu cuma dicium"
"YAK, Dasar Mesum" teriak Reina.
"Stt, jangan berisik. Kamu mau, membangunkan mami dan papi"
"Makanya turunin gue bego" umpat Reina.
"Kamu bisa jamin kalau saya turunin, kamu nggak bakal drama lagi"
"Kagak, kagak bakal. Makanya turunin gue"
"kalo kagak lo turunin. Gue bakal gigit bahu lo sampai sobek" ancam Reina dengan mata membesar.
"Gigit saja kalau berani, nanti saya akan cium kamu lebih dari yang tadi"
Hup, Reina seketika menutup mulutnya erat.
"Mau coba?"
"Hmm" geleng Reina sambil membekap mulutnya dengan kedua tangan.
"Makanya, nurut sama saya. Saya anter ke kamar."
Reina hanya diam di gendongan Miko. Menatap Miko dengan raut wajah kesal setengah mati.
Miko membuka knop pintu kamar Reina, merebahkan Reina diatas tempat tidur dan menyelimutinya. Mengambil secarik kertas yang ditinggalkan Reina tadi dan membacanya.
"Kamu benar-benar ratu drama" geleng Miko
"Dasar mesum" umpat Reina dengan tangan masih membekap mulutnya.
"Haha,sekarang saya tau bagaimana harus mengurus kamu."
"Cih, siapa yang mau diurus orang mesum kayak lu. Gue mah ogah."
Miko hanya mengerutkan alis mendengar ocehan Reina.
"Yah,walau begitu selamat tidur"
Ctak..
"Aw.., Sakiit" keluh Reina mengusap dahi yang di sentil Miko.
"Brengsek lu"
"Haha, oh ya, tolong kurangi kata-kata umpatan dari mulutmu."
"Bodo amat, dasar mesum, brengsek, setan, iblis, buaya jadi-jadian" umpatnya beruntun.
Miko menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Reina ketika menderngar segala umpatan yang keluar dari mulut mungil yang telah diciumnya beberapa waktu lalu itu.
"Hey, Mungkin saja Tuhan risih mengdengar umpatan darimu, makanya kamu jadi bisu"
Reina hanya diam mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Miko sebelum menutup pintu kamarnya.
'Dih, sok yes banget pake bawa-bawa Tuhan. Dasar brengsek'
***
"Pagi Na" sapa om Jeneva yang akan duduk di kursi meja makan, bergabung bersama tante Mira, Miko dan Reina untuk sarapan.
"Pagi om"
"Loh, sudah bisa bicara Na"
__ADS_1
"Iya om, sudah"
"Iya, mami aja sampai kaget loh pih." Sela tante Mira.
"Wah, untunglah. Padahal tadi malem papi udah telepon ahli psikolog dari luar negeri, kenalan temen papi."
"Hehe nggak usah om, Reina udah sembuh kok. Asal nggak ada pemicu," lirik tajam Reina pada Miko yang anteng dengan sarapannya.
"Trauma Reina nggak bakal kambuh. Lagian, dokter Reina yang dari surabaya juga udah siap pantau" imbuhnya
"Kalau kamu ngomong gitu dan kamu sudah yakin sembuh, nanti papi hubungin temen papi lagi, buat cancel."
"Eh tapi kok bisa sih Na kamu sembuh, padahal tadi malam sebelum tidur kan kamu masih belum bisa bicara?" Tanya tante Mira penasaran.
"Karna Miko ci...."
Duk..
"Aw.." ringis Miko kesakitan memegang tulang kering yang ditendang Reina dari bawah meja.
"Kenapa Mik" tanya tante Mira heran.
"mm.. ngak papa kok tan" sela Reina sambil melotot ke arah Miko.
"Nggak papa mih"
"Ya udah mih, Miko berangkat dulu. Ada meeting pagi sama klien, Ken juga sudah di depan"
"Anterin Reina sekalian ke kampus dong sayang"
"Eh, nggak usah tan. Reina naik bus aja. Lagian kan beda arah"
'najis, inggris, cuih, kalo sampe gue dianterin ni buaya buntung' batin Reina.
"Nggak papa Na, tante yang khawatir. kamu kan baru sembuh. Setidaknya ada Miko yang jagain kamu kalau ada apa-apa"
"Iya Na, di anterin Miko saja" lanjut om Jeneva.
"Reina beneran udah sembuh kok, om sama tante tenang aja, Reina bisa jaga diri"
"Heh" senyum sinis Miko
"Sembarangan" marah Reina
"Kenyataan"
"Hey, gue cuma trauma ya. Bukan gila. Enak aja lu bilang gue gila. Lu ngajak ribut?" Berdiri Reina kesal
"Jangan gitu dong Na, Miko ngak maksud begitu. Maafin Miko ya?" Tenang tante Mira
"Kamu juga Mik, udah tau Reina baru sembuh, malah digodain" lanjutnya memarahi Miko
"Ya sudahlah, kamu mau ikut tidak?" Tawar Miko pada Reina
"Kagak"
"kalo gitu Miko berangkat ke kantor dulu mih, pih"
"Eit, meskipun Reina nggak mau, kamu tetep harus anterin dia. No compromize.. okke dears?" Paksa tante Mira.
"Tapi mih"
"Tapi tan" ucap Reina dan Miko berbarengan.
"No, discusion again.."
***
"Kamu duduk belakang" perintah Miko pada Ken yang sudah ada di bangku kemudi.
"Tapi tuan" bantah Ken yang mendapat lirikan tajam dari Miko.
"Baik tuan" lanjutnya yang kemudian beralih duduk ke jok belakang mobil.
"Masuk" ucap Miko pada Reina disebelahnya berdiri.
__ADS_1
"Kagak"
"Mau masuk atau saya ci.." belum sempat Miko melanjutkan kalimatnya, Reina segera menutup mulut Miko dengan kedua tangannya.
"Hey, lu stress apa gimana sih. Gila lu ya" gedek Reina.
"Iya, iya.. gue masuk." Lanjut Reina yang kemudian melangkah memasuki jok depan mobil.
'Dasar manusia blesteran buaya, dikit-dikit ancem, dikit-dikit cium. Lu kira gua segirang itu kalo lu cium. Dih, najis. Amit-amit.. bisa rabies gue' batin Reina kesal.
***
"Nyetir tu yang bener, lu kagak sayang nyawa" omel Reina yang melihat Miko menyetir mobil sambil menelpon dengan earphone menempel di telinganya.
"Okey, kita undur setengah jam lagi" ucap Miko pada orang yang di temukan telfonnya.
"Saya tidak sesenggang kamu, waktu saya sangat berharga. You know"
"Kalau gitu lu duduk belakang dong, biar si Ken-Ken.. kentang itu aja yang nyetir"
"Nona, saya bukan kentang"
"Siapa ajalah nama lu, dari pada si mesum ini yang nyetir. Trauma gue sih kagak kambuh, tapi gue bisa kena serangan jantung"
Bukannya mendengarkan apa yang dikatakan Reina, Miko malah menginjak pedal gasnya semakin dalam. Mempercepat laju mobilnya.
***
"Keluar" ucap Miko datar.
"Dasar sinting" lirik Reina kesal.
Setelah keluar dari mobil, Reina berjalan kearah gerbang kampus sambil sesekali merapikan bajunya yang kusut.
"Whey, kita ketemu lagi. Good morning" sapa sang senior tampan tiba-tiba.
"Met pagi" jawab Reina enteng tanpa melirik siapa yang berjalan disampingnya.
"Sudah sembuh"
"Lo pikir"
"Gue pikir, gue sayang sama elo" goda Ibra.
"Dih, pede mampus. Lagian kakak gada kerjaan ya, sampai aku sakit aja bisa tau"
"Ya kan itu namanya perhatian senior"
"Senior apaan sih, satu jurusan aja kagak"
"Tapi kan satu kampus"
"Serah lu dah"
"Aku denger dari Keyla, kamu sakit. Parah banget ya, sampe semingguan lebih nggak masuk"
"Nggak juga, emang lagi menghindar dari anda"
"Emang aku kenapa?"
"Berisik"
"Hahaha, eh tumben nggak naik MRT?, Padahal aku udah nungguin di stasiun"
"Tadi dianterin orang sinting"
"Ha?" Bingung ibra.
Miko memperhatikan interaksi Reina dan Ibra dari jauh. Tangan Miko dilipat reat, saat melihat Ibra tertawa akrab dengan Reina. Mata elangnya semakin menyipit kala tangan ibra ditepis Reina saat akan merangkulnya. Ibra tersenyum semakin lebar saat Reina memakinya sambil berlari menghindar.
'hebat juga dia, beru sebentar disini sudah dapat ikan' gumam Miko kesal.
"Gaji kamu mau saya potong" teriak Miko pada Ken yang tak kunjung membuka pintu mobilnya.
"Tidak tuan" jawab Ken segera membuka pintu belakang mobil.
__ADS_1
'dia yang kesal kenapa gajiku yang dipotong' batin Ken.
bersambung...