
Miko melihat ibunya sekilas sebelum melepaskan pelukan eratnya ditubuh reina, sebelum kembali rebahan
'it's drama begin' gumamnya
"mam, You're so noisy" ucap Miko menghalangi kedua matanya dengan lengan.
"dasar anak kurang ajar" mami segera melesat mendekati dua orang yang salah satunya terjingkat berdiri dengan muka setengah ketakutan.
"MIKO" sentak mami yang kini berkacak pinggang menatap Miko tajam.
"apa sih mi, ah" desah Miko mendengar teriakan ibundanya.
"mami, Reina bisa jelasin" takut Reina sambil memegang lengan baju Mami.
"ini gak kayak yang mami pikir" lanjut Reina yang langsung mendapat dekapan hangat mami.
"No" sela Miko terduduk dari tidurnya.
"what you look at now, is real" jelas Miko yang mendapat gebukan bantal dari Maminya.
"dasar anak setan" kesal Mami mempelototi Miko.
***
Reina dan Miko kini sudah berada di ruang tengah, mereka juga sudah mandi dan berganti pakaian, meskipun perut Reina sudah terasa lapar karena belum sarapan, dia hanya bisa diam karena Mami sedang serius menggelar sidang.
"sekarang jelasin, kenapa kamu ada dikamar Reina?" tanya Mami pada Miko dengan nada ala jaksa di pengadilan.
"Just, you know mam.."
"jawab yang bener" pelotot mami.
"ya saya masuk, trus tidur di sana. udah"
"Bohong banget, kamu punya kamar sendiri. Kenapa tidur dikamar anak gadia orang Miko?"
"anggap saja salah kamar"
"Dasar anak nakal, kamu pikir begitu itu pantes?"
"so what mam, saya cuma tidur disebelah Reina."
"tapi itu gak sopan Miko"
"mami gak pernah ngajarin kamu kurang ajar ya. apalagi Reina tamu dirumah ini. lagi pula kenapa sih kamu ini, biasanya kamu dewasa, gak pernah aneh-aneh" cerocos Mami tanpa jeda
"Berisik ih mam, cerewet banget sih"
"Kamu masih bisa ngatain mamu cerewet?"
"Ya terus, Reina aja no problem"
"Ya karna Reina takut sama kamu"
"justru mami yang sekarang nakutin Reina."
kedua orang itu hening seketika, menatap pada Reina yang cengo mendengar perdebatan mereka.
Miko lalu beranjak dari duduknya, berlutut didepan Reina dan menggenggam kedua tangan gadis itu.
"are you okey?"
"Hah?, Apa?" Sadar Reina setelah terkesima ibu dan anak itu selesai perang mulut.
"Kenapa bengong?"
"Ah, gak papa."
"cuma ada satu hal yang bikin gue penasaran"
"What?"
"lu masuk lewat mana?" kernyit Reina heran menatap manik mata Miko.
"pintu"
"kok bisa, kan gue kunci?"
__ADS_1
"I have the key" senyum Miko tanpa merasa bersalah.
"augh" jerit Miko ketika Reina menendang tulang keringnya.
"Sakit" desis nya.
"Rasain, lagian lu nagapain sih masuk kamar gue"
"Kangen" jawab Miko enteng
Reina seketika menatap tajam Miko, mendekap mulut lelaki didepannya dengan tangannya sebelum melihat ekspresi bingung mami yang memandangi mereka dari tadi.
"Jangan ngaco dong Mik" bisik Reina geram.
Miko melepaskan tangan Reina yang menutup mulutnya, sambil tersenyum dia oun berkata "sudah gak marah kan?"
"menurut loe?" kesal Reina.
"kalian ada hubungan apa sih?" sela Mami yang kini duduk di sebelah Reina dengann memandangi mereka bergantian.
"eh, kaget" jingkat Reina.
"gak ada hubungan apa2 kok mam" lanjutnya.
"Kalian pacaran?" Tanya Mami to the poin.
"Enggak" jawab Reina
"Iya" jawab Miko
"Yang bener yang mana?"
"Enggak"
"Iya"
"Ish, Miko seriusan kenapa sih. Enggak mam."
"Padahal kalau kalian pacaran, tante malah seneng lo Na" jujur Mami.
"Ya tapi enggak mam" bantah Reina.
"Just.. Abang?.. adek?"
Miko langsung berdiri, memandang Reina dengan tatapan kesal lalu berlalu naik ke ketas.
"Miko, mau kemana?" Teriak Mami namun Miko sama sekali tak menoleh.
Reina kebingungan namun ia tau betul kalau perkataannya menyakiti hati Miko, namun mau bagaimana lagi. Karena dia belum bisa meyakinkan dirinya untuk menerima pernyataan cinta miko, baginya sekarang ini hubungan mereka baru sebatas saudara beda ayah beda ibu.
"Mami tau kok, Miko sebenernya suka sama kamu dari dulu" ucap mami sambil mengelus kepala Reina.
"Tapi mami juga gak membenarkan tingkah Miko yang seenaknya kayak tidur dikamar kamu, mami minta maaf kalau miko kayak gitu"
"Gak papa kok mam, lagian kita gak ngapa-ngapain.beneran, sumpah"
"Iya sayang. Mami tau kok, sekarang kamu makan dulu ya biar mami ngomong sama Miko."
"Iya mam"
Ketika Reina sedang makan dengan anteng diruang makan, Mami dan Miko yang membawa sebuah tas, turun dari lantai atas, entah apa yang mereka bicarakan tapi Miko sama sekali tak menampakkan raut wajah bahagia. Dia bahkan berlalu pergi tanpa memandang gadis yang pernah ditembaknya beberapa hari lalu.
Mami duduk dimeja makan, tersenyum manis pada anak gadis temannya yangs sedang makan tanpa suara.
"Miko mau kemana mi?"
"Apartemenya" singkat mami.
Entah apa yang dipikirkan Reina, dia terlihat menggelengkan kepalaa pelan sebelum melanjutkan makannya.
***
Seminggu berlalu. Reina menjalani hari seperti biasanya, bedanya saat berakngkat dan pulang kuliah dia harus bolak balik naik MRT / bus karena tak lagi di anatar jemput Miko, meski Mami sering memarahi anak lelakinya itu karena tak lahi perhatian pada Reina. Sesekali dia juga diantar pulang oleh Ibra, namun tidak seperti biasanya. Miko sudah tak pernah marah lagi seperti dulu. Bahkan Miko jarang pulang setelah hari itu.
Malam ini pun mereka hanya makan malam bertiga, dalam hati Reina ingin bertanya Miko kemana tapi dia urungkan karena melihat Papi dan Mami tak membahas Miko sama sekali.
"Makannya kok sedikit, kamu gak suka makanannya?" Tanya Mami.
__ADS_1
"Enak kok mi, cuma lagi gak selera aja"
"Kenapa, kamu sakit?"
"Nggak kok, tadi oas pulang dari kampus Reina mampir makan sama temen-temen" bohong Reina.
"Akhir-akhir ini Miko kemana mi, kayaknya dia gak pernah pulang?" Tanya papi
"Katanya dia mau tinggal di apartemen lagi"
Reina seketika berhenti menyendokkan makanan ke mulutnya saat mendengar ucapan Mami.
"Kenapa?, Padahal sejak ada Reina dia sudah mau pulang. Bahkan selalu sarapan dan makan malam bareng kita"
"Gak tau lah pi, tau sendiri kan Miko anaknya gimana, dia mana mau diatur"
"me..memang kenapa mi, Miko gak mau tinggal disini lagi?" Reina memberanikan diri bertanya
"Mami juga gak tau, udah jangan dipikirin, sebelum kamu disini pun Miko udah tinggal diapartemen jadi kamu gak usah kuatir" santai Mami.
***
Reina gelisah, sejak selesai makan malam tadi dia terus mondar mandir mengelilingi ranjang tidurnya. Sesekali dia duduk tapi tak lama kemudian dia terjingkat lalu lalang dari balkon ke kasur. Sudah seperti setrika loundry yang tak kunjung usai masa kerjanya.
"Apa gara2 omongan gue ya, Miko minggat dadi rumah" gumamnya sambil mengigit pelan jari jemarinya.
"Apa gue WA ya?"
Reina mengbil Hp nya, namun sedetik kemudian dia mengurungkan niatnya.
"Tapi tengsin dong,"
"Udah seminggu lebih dia gak hubungin gue, padahal biasanya kalau dapat laporan dari satpam gue dianterin Ibra pulang, dia langsung marah kek abis nelen petasan tu mulutnya."
"Salah gue dimana coba?!. Ya,masak depan maminya gue bilang kalau kami mau pacaran. Tar dikira gue tinggal disini ada motif terselubung"
"Tapi paling gak lo tanya kek, jawaban pertanyaan lo ke gue tempo hari.. ini malah gue dicuekin. Gimana sih nih anak?" Kesal Reina membanting hp nya dikasur.
"Bodo ah"
"Minggat sekalian sono ke mars" gerutunya.
***
Dua minggu berlalu, Hari-hari Reina tanpa Miko pun masih berlanjut. Tapi kali ini Ibra makin mengibarkan eksistensinya, dia tak pernah absen mengantar pulang Reina sejak Reina tak lagi diantar jemput Miko.
Meski kadang Reina menolak namun masih kalah dengan ibra yang memang pandai membujuk orang. Maklumlah, ketua BEM. Sudah terlatih dalam bicara.
"Ngantuk, Na?" Ucap Ibra yang heran saat helm Reina sesekali terantuk helm nya.
"Iya, mata gue ngantuk kena angin. Dari semalem belom tidur gegara ngerjain tugas dari pak Reno"
"Dosen Ilmu Ekonomi?"
"Hmm"
"Gue nepi aja ya, takut loe jatoh"
"Eh, gak usah. Gue masih bisa melek kok. lagian kan bentar lagi udah sampe"
"Kalo gitu Loe pegangan ya?"
"Udah" jawab Reina sambil memegang pundak Ibra
"Ya elah, loe udah kayak yangkung gue kalo gue bonceng. Pegang nya bahu" geli ibra sambil terkekeh.
"Trus gue pegangan apa?"
"Pinggang bego"
"Bukan muhrim" celetuk Reina.
"kita mampir KUA dulu dah, biar sah pegangannya"
"Dih, dasar cowo gila" Tempeleng Reina pada kepala yang berbalut helm hitam didepannya itu.
Karena Ibra tiba-tiba menarik Gas nya, Reina spontan memegang pinggang lelaki itu. Tanpa disadari dari kejauhan ada tatapan penuh amarah di dalam sebuah sedan hitam yang mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1
Bersambung....