
Karena baru kali ini mereka bisa hang out bareng setelah menjadi mahasiswa. dengan penuh antusiasnya, mereka mengelilingi se isi mall dengan bahagia, tentu Ken masih setia ngintilin mereka dibelakang. memastikan ke amanan 'majikan' baru nya itu.
namun Keyla dan Vina heran melihat ekpsresi Reina, ketika mereka dengan gembira memilih baju, sepatu dan lainnya dia hanya duduk bengong dipojokan.
"ngapa lo bengong kek orang bego sih Na?" tanya Keyla yang melihat temanya duduk diam seperti tanpa nyawa.
"lo kesambet setan Mall ya?" duduk Vina disebelah Reina sambil menatap khawatir wajah sahabatnya itu.
"gue, gak papa"
"trus kenapa ngelamun?" tanya Keyla
"gue boleh nanya gak sama kalian?"
"boleh lah" bareng Keyla dan Vina
"kalau ada cowok, kasih loe black card kaya gini tuh apa maksudnya ya?"
Reina memperlihatkan kartu unlimit yg diberikan Miko pada kedua sahabatnya
"Ee.. buset.. lo Open BO, Na?" menganga mulut Vina yang langsung dapat tabokan dari Reina
"dih, mulut loe Vin" kesal Reina
"pertanyaannya, siapa dulu yang kasih" ucap Kelya.
"Miko"
"fix, dia suka sama elo" lanjutnya
"gak bisa gitu lah" sangkal Vina
"kenapa gak bisa?" tanya Keyla.
"timbang kasih black card mah, buat Miko masalah kecil. gak harus dia suka sama Reina" jelasnya Vina
"trus"
"bisa jadi dia cuma pengen nafkahin adeknya"
"adek dari hongkong" Keyla menoyor kepala Vina kesal.
"duh, kalian berdua suka banget sih mukul"
"abisnya, alesan lo gak logis"
"serius dong ah" sela Reina
"ya gue serius, dia suka sama elo"
"trus gue harus gimana dong" tanya Reina
"pacarin lah" seru Keyla
"gak, gak boleh" Vina menyela
"dih kenapa?"
"Miko itu jodoh gue" jelasnya dengan mata berkaca-kaca.
"tadi lo bilang Ibra jodoh elo, sekarang Miko. maruk banget sih" cerocos Keyla.
"pokoknya yang ganteng dan kaya, itu jodoh gue" senyum bangga Vina
Reina dan Keyla yang sudah tak sanggup menahan kesal dengan spontan berjalan meninggalkan Vina.
"tungguin"
"gue gak kenal elo" kesal Keyla.
***
Reina pulang kerumah dengan Ken yang berada dibelakangnya sambil membawa beberapa godie bag ditangan.
"taruh atas aja pak" uca Reina sambil rebahan di sofa ruang tamu.
Ken hanya mengangguk pelan lalu menaiki tangga menuju kamar Reina. setelah meletakkannya di atas kasur dia pun pamit pada Reina lalu beranjak pergi.
"eh kak Ken" jingkat Reina menghentikan langkah Ken
"Miko dah pulang belom?"
"sepertinya belum Non, mobilnya juga gak ada digarasi"
"oh, ya udah. makasih kak"
"sama-sama,Non" pamit Ken sekali lagi.
"kamu panggil Ken, kakak?" tanya tante Mira yang duduk disebelah Reina.
"abisnya bingung mau panggil apa, dia kan gak setua om jeneva kalo mau dipanggil om" senyum mringis Reina.
"kamu tuh ada ada aja. udah makan belum?"
"udah tan, tadi sama temen2 di mall"
"oh ya na, tante boleh minta sesuatu gak?"
"minta apa tan"
"kamu jangan panggil lagi panggil tante Mira, sama om Jeneva, tante sama om dong.."
"trus panggil apa dong?, panggil aunty, uncle biar kaya bule gitu?" gelak Reina kemudian.
"hasih, dasar jail" gemas tante Mira mencubit pipi Reina.
"ya trus panggil apa?"
"panggil tante itu mami, panggil om itu papi"
__ADS_1
"lah kok, emang boleh?"
"kenapa gak boleh?"
"takut di marahin Miko"
"gak lah. Miko malah seneng. biar sekalian latihan"
"latihan apa tan?"
"ada deh, coba sekarang panggil"
"mmm... ma..mami" pelan Reina
"trus"
"pa..papi"
"nah gitu dong" tante Mira memeluk Reina sayang lalu mengecup kening gadis itu.
"ih, bau acem" nyengir tante Mira sambil mencubit hidungnya.
"hehe, iya deh Reina mandi dulu" senyum Reina lalu berlari menuju kamarnya.
***
Reina memasuki kamarnya, lalu meletakkan tasnya di atas nakas, melepas ikat rambut, jam tangan hingga gelang mainannya diatas meja rias.
kemudian dia melihat Godie bag hasil belanjaannya yang ditaruh Ken diatas kasur, segera dia membongkar mereka untuk mencari baju tidur yang dia beli kembaran bersama teman-temannya tadi
setelah menemukannya, Reina lalu mengambil handuk yang menggantung di ruang wardrobe dan segera menuju kamar mandi.
Selesai mandi, Reina keluar dengan menggosok rambutnya yang basah, dia pun sudah memakai baju yang baru dibelinya tadi.
sudah menjadi kebiasaan Reina, dia akan langsung berpakaian setelah mandi meski badanya masih basah semua.
"ck.. gue mau tidur dimana" desis Reina melihat barang berserakan diatas kasurnya
Dia lalu menggulung handuk dikepalanya, membereskan godie bag serta isinya yang bertaburan di atas tempat tidur.
"hah.. beres" senyum Reina bangga.
Dia lalu menuju meja Rias, duduk rapi disana lalu mengoleskan beberapa produk di wajahnya.
"oh, iya.. kabarin mereka ah" gumam Reina lalu mengambil HP nya.
Reina melepas handuk dikepalanya, memotret dirinya sendiri, lalu mengirimkannya pada kedua sahabatnya.
/lucu parah, punya kelen gimana?/
/belum gue pake, masih mager mo mandi, Vina malah udah ngorok/ balas Keyla
/hadeh, dasar para pemalas/
Reina hanya menggeleng sambil tersenyum membaca pesan dari Keyla.
"uhuk"
"sapa tu yang batuk?" gumam Reina mendengar suara batuk seseorang dari kamar sebelah
"Miko udah pulang ya?"
"bukannya tadi Ken mau nyamperin ke kantor?"
Heran Reina sambil terus mendengarkan suara-suara dari kamar sebelah.
Teringat kartu kredit yang diberikan Miko, Reina pun bergegas mencarinya di saku tas.
"mana nih, mau gue balikin" cari Reina menggeledah isi tas nya.
"nah, ketemu" pekiknya ketika menemukan kartu itu.
dia berjalan mendekati pintu sambungbkamar mereka, mengetok pelan hingga makin keras.
tok..tok..
TOK..TOK..
"Miko.." panggi Reina di balik pintu.
"loe didalem kan?" tanya nya kemudian.
"masuk" jawab Miko singkat
tanpa menunggu lama, Reina pun membuka pintu itu dengan sekali dorongan.
ceklek..
"Astaga mata gue"
jerit Reina ketika melihat Miko yang sedang bertelanjang dada di depan matanya.
"loe tu bisa gak sih kalau gak bikin gue jantungan" kesal Reina hendak berbalik pergi masih dengan menutup matanya.
"jangan lebay, ada apa?"
Reina seketika berhenti saat mendengar pertanyaan Miko.
"mo balikin ini"
Reina mengulurkan kartu ditangannya tanpa menoleh sedikitpun pada lelaki yang sedang pamer otot kekarnya itu
Miko mendekati Reina, meraih tangan gadis itu sedangkan tangan yang satu mengambil kartu yang terulur kepadanya.
"kenapa dikembalikan?"
"dah gue bilang kalau gue gak butuh" jawab Reina masih dengan mata terpejam.
__ADS_1
Miko melempar kartu itu sembarangan, memegang kedua tangan gadis itu hingga Reina mundur beberapa langkah dan terkunci diantara tembok dan Miko.
"buka mata kamu"
"gak mau, apaan sih mik"
"buka"
Reina membuka kedua matanya, terlihat jelas dada bidang yang kini sedang memanjakan indra penglihatannya itu. beberapa kali dia menelan saliva, menenangkan detak jantung yang sedang heboh didalam sana.
"saya tidak suka jika apa yang saya berikan, dikembalikan"
"ta.. tapi gue gak butuh."
"butuh ataupun tidak kamu tidak boleh mengembalikannya" tegas Miko.
"dasar otoriter" umpat Reina sambil mendelik sebal
"iya udah, lepasin" lanjutnya.
Miko melepaskan genggamannya, mencari kartu kredit yang dilemparkannya sembarangan tadi. dan setelah menemukannya, dia memberikannya lagi pada Reina.
"kenapa Rambutmu basah" tanya Miko kemudian
"mata loe gak bisa liat, gue abis keramas" sentak Reina.
"saya tau, kenapa tidak dikeringkan. kamu bisa masuk angin"
"males"
Reina berbalik pergi kekamarmya sendiri, namun Miko malah berjalan mendahuluinya.
"ngapain loe ke kamar gue" teriak Reina.
Miko malah menggandeng tangan gadis itu, menyeretnya menuju meja rias, mendudukan Reina anteng lalu mengambil sisir dan memasang colokan kabel Hair dryer.
"gue bisa sendiri" ucap Reina yang tau bahwa Miko akan mengeringkan rambutnya.
"kalau kamu bisa sendiri, harusnya rambut kamu sudah kering dari tadi"
"Tapi kan!"
"sudah, diam saja"
Miko menyalakan hair dryer, mulai menyisir rambut Reina helai demi helai dengan telaten.
Sesekali Reina melihat cermin didepannya, menatap raut wajah serius Miko yang nampak fokus pada rambutnya. Tapi ketika dia menurunkan pandanganya, Reina tak kuasa menata irama jantung yang berpacu dalam dadanya
'gue bisa kena serangan jantung kalo begini'
Cleguk..
Reina susah payah menelan salivanya yang tersangkut ditenggorokan saking gugupnya.
Mungkin gadis itu akan merasa biasa saja jika Miko mengeringkan rambutnya dengan pakaian lengkap.
Tapi kini dia duduk didepan Miko yang tak memakai sehelai kain pun di bagian atas tubuhnya. Menampakkan dada bidang yang eksotis, beserta enam bagian perut yang sangat sayang jika dilewatkan.
'mampus, ni orang ngerjain gue apa gimana sih' batin Reina sambil mengerjapkan matanya.
"Loe kenapa gak pake baju sih" protes Reina
"Saya tadi mau mandi, pas baru lepas jas dan kemeja, kamu masuk "
"Ya bilang dong, kalau loe mau mandi"
"Buat apa"
"Ya.. ya biar mata gue gak ternodai"
"Bilang saja kalau kamu suka"
"Dih, najis"
Miko tersenyum memperhatikan Reina yang mengintipnya dari cermin diam diam.
"lihat saja, saya tidak keberatan" goda Miko.
"Brengsek loe" kesal Reina cemberut
'Memang sapa yang bakal tahan dengan pemandangan seindah ini, apalagi dengan aroma maskulin yang menyeruak dari tubuh kekar itu. gue yakin, kalau Vina sih bakal mimisan' gumam Reina.
"Ngomong apa?" Tanya Miko.
"Gak papa, udah belom sih"
"Iya, sudah. Cantik kan"
Pamer Miko sambil memandang Reina melalui cermin,kedua tanganya yang bersandar dimeja rias, membuat Reina terkurung di pelukannya dari belakang. Tubuhnya yang semakin condong ke depan membuat Reina jadi salah tingkah.
"I.. iya.. gue mah emang cantik" jawabnya asal karena gugup
"Trus, untuk mengucapkan terimakasih. Saya dapat apa?" Tanya Miko semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Reina.
"Ya.. ya kan gue gak minta."
"Saya dapat apa?" Paksa Miko.
"Serah loe deh, minta apa?" Panik Reina kala wajah Miko semakin dekat.
Miko menyentuh dagu Reina dengan tangan kanannya, mendekatkan wajah mereka lalu mengecup bibir gadis itu lembut namun hanya sebentar.
Cup..
"It's enough" ucapanya pelan lalu meninggalkan Reina.
"Dasar, Miko sialan" kesal.
Bersambung..
__ADS_1