
"Mik.."
"Miko.. balikin tas gue kagak" teriak Reina sambil meraih tas di genggaman Miko.
"ih, lo ngeselin sih. balikin tas gue, gue gak mau berangkat bareng Lo"
Miko mempercepat langkahnya, tak menghiraukan Reina yang mengejarnya dari belakang.
"Miko gila..." umpat Reina kesal yang seketika membuat Miko berhenti hingga Reina menabraknya.
Brugh..
Reina terpental jatuh dibawah Miko, namun miko tak bergeming. Dia hanya menyilangkan tangannya, melirik Reina dengan senyum mengejek.
"ih, jahat.. gue bilangin tante mampus lo" kesal Reina.
"bantuin napa sih" teriaknya pada Miko yang berdiri dihadapannya namun tak juga mengulurkan tangannya.
dugh..
"aw.." keluh Miko ketika Reina menendang tulang keringnya dengan raut wajah emosi setengah mati.
"rasain lo, ada orang jatuh bukannya di bantuain malah dipelotitin doang." Reina berdiri sambil mengibaskan celananya yang kotor.
"sini'in tas gue" bentak Reina sambil menengadahkan tangannya.
"berangkat sama saya" datar Miko setelah mengusap tulang keringnya.
"ogah"
"saya buang tas kamu" ancam Miko sambil mengangkat tas reina tinggi2.
"dih, bocil"
Miko menatap Reina tajam lalu berjalan memasuki mobilnya
"Miko....." Reina mecak-mencak karena Miko masih membawa tasnya.
mau tidak mau, Reina memasuki kursi depan penumpang mobil dengan mulut maju lima senti.
hampir lima menit mereka berkendara dengan diam, bahkan Reina malah memalingkan wajahnya dari Miko.
"Rein" panggil Miko.
"jan panggil gue"
"Reina"
dipanggil beberapa kalipun sang gadis masih diam saja, dia menatap luar jendela dengan wajah cemberut. Miko mengelus lembut kepala Reina
"jan pegang-pegang" nge-gas Reina menepis tangan Miko yang membelai kepalanya.
"tadi mau dijemput siapa?" tanya Miko lembut
"Keyla"
"ouhm"
"ehm doang?"
"eh, lupa gue belom ngabarin Keyla."
panik Reina lalu merogoh HP didalam tasnya. mengetik singkat beberapa kata lalu mengirimkannya pada sahabat terbaiknya itu.
"lo pikir gue mau dijemput siapa?" tanya Reina pada Miko setelah memasukkan Hp kedalam tasnya.
"Ibra?" lanjutnya.
"lo pikir gue mau dijemput Ibra?"
"jangan sebut nama pria itu dari mulutmu, saya tidak suka" dingin Miko.
__ADS_1
"ngapa lo ngatur, mulut juga mulut gue"
"susah sekali bicara sama kamu"
"bodo"
"Ibra.. ibra.. ibraa"
"wee... ibra.. ibra.. ibra"
Reina mengulang nama ibra beberapa kali dengan senyum mengembang, menggoda Miko yang mendesis kesal jika dia menyebutkan nama Ibra.
Miko menepikan mobilnya kesal, melirik Reina yang tertawa riang sambil menyebutkan nama Ibra.
Dia mengulurkan tangan kirinya dibelakang tengkuk sang gadis dan..
Cup..
Miko mengecup singkat Reina yang membelalakan matanya lebar.
"Miko.."
Belum sempat Reina menyelesaikan kalimatnya, Miko kembali ******* bibir gadis itu, kali ini lebih lama dari kecupan singkat tadi.
Reina yang 'hampir' terbiasa dicium Miko. Kini hanya bisa membiarkan lelaki itu menelanjangi seluruh bagian bibir dan mulutnya. Dia memejamkan matanya sambil meremas erat tas yang digenggamnya.
Miko melepaskan ciumannya pelan, memandang singkat manik mata Reina sambil tersenyum lalu menempelkan keningnya ke kening Reina hingga hidung mereka bersentuhan.
Reina menundukkan pandangannya, menghindari mata Miko yang hanya berjarak beberapa centi darinya.
"jangan sebut nama lelaki itu didepan saya, atau saya bisa menggila"
"hmm" jawab sang gadis tanpa kata
Miko mencium kening Reina, lalu mengusap lembut rambut kuncir kuda yang diikat pita biru itu.
"ehem ehem" dehem Reina membasahi tenggorokannya yang kering karena tak kaget.
"emm.. yang tadi maksudnya apa?" tanya Reina takut-takut.
Miko hanya tersenyum membuat Reina lanjut bertanya.
"yang semalem juga artinya apa?"
"menurut kamu?"
"ehem.." dehem Reina lagi, mengatur detak jantungnya yang jedag-jedug dari tadi.
"gi.. gini ya mik. Gue tau lo itu lama di luar negri, tapi gue kan bukan orang amerika nih ya, jadi yang tadi itu bukan sebuah tata krama atau sopan santun. so, maksud lo apa ngelakuin itu ke gue, sampai berkali-kali pula"
"memang saya ngelakuin apa?"
"jangan berlagak bego dong Mik, ih"
"ya memang saya melahkukan apa?"
"MIKO.." bentak Reina
"apa?"
"ngapain Lo cium gue" kesal Reina
"kapan" datar Miko.
"Miko, lo ngeselih banget sih."
"lo itu pikun apa punya Bipolar sih"
"bentar baik, bentar jahar, bentar inget, bentar enggak"
Miko tak bisa berhenti tersenyum melihat raut wajah kesal Reina.
__ADS_1
"gue seriusan Mik, lo jangan cengengesan dong."
"sudah saya jawab"
"tau ah, lo ngeselin"
"jawabannya simple"
"apa?"
"jawabannya sama jika saya tanya kenapa kamu balas ciuman saya"
"hah?"
"jawab saja pertanyaan saya itu, nanti kamu juga dapat jawaban dari pertanyaan kamu sendiri"
"kok lo malah balik tanya gue sih"
"ya makanya jawab saja"
"..."
"sudah menemukan jawabannya?" tanya Miko lagi sambil serius mengemudi.
"karna.. karna gue kepaksa"
"hah" kecewa Miko.
"kok lo hela nafas?"
"ternyata memang beneran susah ngomong sama kamu, dasar otak udang"
"eh kok lo malah ngatain gue?"
"kuliah saja yang benar biar kamu sedikit pintar"
"lo ngatain gue bego"
"Haah" Miko menghela nafas pasrah.
"Miko.."
"sudah sampai, turun" kesal Miko.
"iya, gue tau. gak usah ngegas dong"
Reina bergegas melepas sabuk pengaman, membuka pintu mobil sambil mengumpati miko esal, namun Miko menarik lengan gadis itu hingga dia duduk kembali di kursinya.
"apaan lagi" jutek Reina.
"jangan dekat-dekat apalagi saya tau kamu di bonceng lagi sama lelaki bermotor itu."
"terserah gue dong, bodo amat"
"kamu mau saya marah seperti kemarin"
"..."
"Rein"
"Reina" ulang Miko
"iya.. iya.. kagak.. gue kagak dibonceng lagi sama ibra, tuanku yang agung"
"bagus, kamu boleh pergi"
"dih, dasar, berengsek mesum" umpat Reina sebelum menutup mobil dengan keras.
brak..
bersambung...
__ADS_1