
"Lo nggak inget gue?" Tanya nya tiba -tiba.
'siapa lu pengen gua inget - inget' batin Reina kesal.
"Dah lah, ga usah berteletubis. Lu tu sebenernya sapa sih? Jan sok akrab sama gua, mentang - mentang gua keliatan kek gadis cantik, tapi lugu nan polos, lu pikir gua bisa dikibulin?." seru Reina tanpa menoleh kearah senior yang sedang duduk disampingnya.
"Lagian, biasanya kalo ada orang sok kenal sama gua, sok akrab, besoknya langsung meninggal" Lanjutnya.
"Hahaha" tawa sang senior pun pecah seketika saat mendengar kalimat absurd Reina.
"Ternyata lo tu kocak juga ya hahaha" selanya ditengah tawanya yang renyah.
"Eh bentar bentar.. tadi lu bilang sama senior junior kaga boleh pake lu gua, kenapa sekarang lu pake lu gua?" Tanya Reina heran.
"Kan tadi sitkon nya lagi formal, sekarang kan cuma kita berdua dan juga nggak lagi upacara nah, Markonah"
"Eh, sembarangan panggil gue Markonah." Reina yang sedang minum pun menghentikan aktivitasnya saat mendengar namanya diganti.
"Kapan lu bikin selamatannya?" Tanyanya kemudian.
"Lha terus nama lo siapa?" Imbuh sang senior.
"Idiih, ogah gua kasih tau.." semburnya kemudian.
"Kalo nama gue, Ibrahim Raka. Temen - temen gue biasa panggil gue Ibra, orangvtua gua biasa panggil gue Raka , tapi khusus lo, bisa panggil gue sayang" senyum sang senior menatap kearah Reina yang duduk bersila disampingnya.
'Waahh.. gua digombalin. Untung hensem, kalo kagak bisa epilepsi gua' batin Reina saat digombali sang senior.
Matanya pun melihat kearah seniornya dari atas sampai bawah, keatas lagi, kebawah lagi den seterusnya hingga diapun berkata
"Emang situ okke" cibirnya.
"Hahaha.. dasar ya lo tu kocak banget..
oh ya, gue jurusan seni, tingkat 3 yang berarti gue ini senior lo" tambahnya.
"Kek gua perduli aja sih siapa elu, nama elu. Lagian gua tetep kagak tau lu sapa. Gua keknya dulu pas playgroup sampe SMA kagak pernah punya kakak kelas yang namanya Ibrahim Raka, apalagi sifatnya ngeselin kek elu dah"
"Wah, pedes juga omongan lo.
Lo nggak inget kejadian di MRT tadi?" Ucap Ibra berusaha mengingatkan Reina.
'MRT?' pikir Reina sambil menautkan kedua alisnya, berusaha mengingat.
"cepet banget gue dilupain, padahal biasanya gue orang yang paling susah dilupain mahasiswi satu kampus loh"
"eh, tunggu.. tunggu.. tunggu.."
"Waaahh... Cari mati lu" seru Reina saat telah mengingat kejadian di MRT.
"Berani banget lu nyamperi gua, lu mau gua gebukin disini?" Reina lantas berdiri didepan Ibra sambil berkacak pinggang.
"Wah, santai bos. Justru gua mau lurusin duduk perkaranya." Ibra pun menarik Reina kembali duduk disampingnya.
"Jelas - jelas gua lihat pas di MRT tadi lu dorong nenek - nenek sampe jatuh. Jan bikin gua emosi"
Flashback
Saat Reina berbaris akan turun dari MRT yang super padat, dia melihat seorang pria berkaos abu dengan membawa ransel dibahu sebelah kirinya, berlari terburu-buru menerobos antrian. Meski semua penumpang memprotesnya dia masih tak berhenti dan tetap mendesak keluar terlebih dahulu.
Setelah Reina keluar dari MRT dia melihat beberapa orang berkerumun dan karena penasaran dia pun menghampiri kerumunan tersebut.
"Ada apaan sih bu" tanya Reina pada seorang ibu yang tengah berusaha menyusup masuk kedalam kerumunan.
"Katanya ada nenek yang habis turun MRT, pas jalan dia di tabrak sama orang yang lagi lari sampai si nenek jatuh kejungkal. Kesian neng, katanya lutut sama keningnya sampe berdarah" jelas si ibu yang memakai gamis coklat dengan jilbab mocca menjulur sampai siku itu.
"Wah, siapa sih orangnya. Tega banget" seru Reina geram.
"Katanya sih mahasiswa neng" jawab si ibu.
__ADS_1
Reina hanya ber 'oh' tanpa suara, dia pun berusaha masuk kearah sumber kejadian. Karena tubuhnya yang ramping, dan berbekal kemampuannya yang bisa menerobos kerumunan saat sedang ada diskonan di Mall, diapun dengan mudahnya sampai di tengah sumber perkara.
Reina melihat seorang pria berkaos abu - abu yang menerobos keluar MRT tadi sedang memapah nenek yang terluka bersama seorang bapak paruh baya keluar dari keramaian.
Reina pun tak ayal berfikir bahwa pria si kaos abu adalah tersangka dikasus ini, melihat dia adalah seorang pria muda dan membawa ransel,
'Fix lah, dia mahasiswa." Batin Reina
Tanpa Babibu, Reina pun meraih bahu ptia berkaos abu, membalikkan badannya dan seketika itu pula dia melayangkan tinju nya ke arah pipi sang pria hingga menimbulkan kehebohan kembali.
"Eh.. apa ini" seru si nenek dan bapak paruh baya. Bahkan ada yang berteriak histeris.
Si pria yang dipukul hanya bisa memegang pipinya, menatap Reina terheran - heran.
"Kenapa dipukul neng" seru si nenek yang terluka sambil memegang pipi si pria berkaos abu.
"Dia yang bikin nenek jatuh kan?" Tanya Reina geram.
"Sini, biar ku bikin bonyok sekalian" tambahnya
"Aduh duh, jangan neng.. kasian" si nenek menghalangi Reina yang sudah akan melayangkan tinjunya yang kedua pada pria berkaos abu.
"Salah paham neng, ini salah paham" seru si nenek
"Jangan di belain dong nek" teriak Reina.
"Salah orang neng" imbuh yang lainnya.
"Lagi pula masalahnya sudah selesai,jangan dibikin rumit lagi" jelas si bapak paruh baya.
"Udah neng, udah.." bela si nenek.
"Huft"
Reina menghela nafasnya kasar berusaha meredam emosinya.
"Ya udah lah, serah kalian." Dia pun mengambil ranselnya yang sempat terjatuh saat memukul si pria barkaos abu dan berlalu meninggalkan kerumunan.
"Bukan gue yang nabrak nenek tadi" jelas Ibra.
"Terus kalo bukan elu, siapa?" Tanya Reina tak percaya.
"Nah lo kenapa bisa nuduh gue yang nabrak? Alesannya apa?"
"Gua denger yang nabrak itu Mahasiswa, siapa lagi kalo bukan elu. Disitu adanya ibu-ibu sama bapak-bapak semua, kalo ada cowok muda juga pake hem lengan panjang berdasi, pasti pegawai kantor. Yang tampilannya kek mahasiswa kan elu doang" papar Reina
"tampilan mahasiswa apaan? dari mana lu bisa nyimpulin kalo gue mahasiswa?"
"Karna lu bawa ransel" tunjuk Reina pada Ransel Ibra yang tergeletak diantara mereka
"Hahaha cuman karna gua bawa ransel gua jadi mahasiswa?"
"Ya ampun mbak Markonah" lanjut Ibra yang dapat pelototan tajam dan dari Reina.
"Ya, jangan melotot, kan gue nggak tau nama lo"
"Reina" jawab Reina singkat
"Oh Reina, jadi gini. Gue lari dari dalem MRT karena gue pengen nolongi si nenek yang jatuh tadi, karena pas kejadian gue sempet liat dari dalem MRT makanya gua langsung lari. Nah, si pria muda yang nabrak udah minta maaf sama si nenek dan ngasih si nenek uang buat berobat. Dia nggak sempat nganterin si nenek beobat karena dia buru- buru pulang, istrinya mau melahirkan. Disitu gue mo nganterin si nenek nyari kendaraan buat nganterin ke RS terdekat. Begitu" jelas Ibra panjang lebar.
"Lah, kenapa jadi bapak-bapak yang mo punya anak yang nabrak dah, Katanya mahasiswa?" Heran Reina
"Dia emang bukan bapak - bapak, tapi pria muda yang lagi bawa ransel juga. Sama kayak gue. Bedanya dia bawa ransel isinya baju sama alat kerja, gue bawa ransel isinya buku."
"Mungkin orang ngira dia mahasiswa juga, lagian kan pas kejadian gue pake kaos doang, ga pake almamater, elu aja mikirnya gue mahasiswa" terangnya.
"Jadi bukan elu?" Tatap Reina saat Ibra selesai bicara.
"Ya bukan lah" hindar Ibra
__ADS_1
"Oh, ya sorry.." balas Reina enteng.
"Lah, cuman gitu doang? Abis lu tunjok langsung gue kompres Es loh, Untung pipi gue gak berbekas. Mana tadi ada pidato ospek" tunjuk Ibra pada pipinya yang abis di tonjok Reina
"Iya dah, iya. maaf maaf.. maafin gua dah bikin pipi lo menderita" ucap Reina sambil mengulurkan tangan kananya nya meminta maaf.
Ibra menyambut tangan Reina yang terulur, menjabatnya erat sambil tersenyum geli.
"Makanya jangan suka suudzon, apalagi sama orang ganteng, nggak baik. Ntar nyesel" godanya.
"Ih, narsis.. situ juga. Jangan suka godain anak orang, ntar malah situ yang naksir" balas Reina
'emang udah naksir' batin Ibra
"Udah dong salamannya, kesempatan banget pegang tangan anak orang" nyinyir Reina saat Ibra tak kunjung melepaskan tangannya.
"Haha ketauan" canda Ibra bergegas melepaskan tautan tangan mereka.
"Lo jurusan apa?" Tanyanya kemudian
"Management bisnis" Jawab Reina
"Wah, anak bisnis..
selamat datang, welcome to our campus.."
Reina hanya mengangguk - anggukan kepalanya sambil menatap senior handsome nya dengan seksama dan baru menyadari bahwa bukan hanya ganteng dan berwibawa diatas panggung, tapi ternyata ounya jiwa seni dan baik hati juga.
'paket lengkap' batinnya.
"Oh ya, selain gue senior elo, gue juga Ketua BEM dikampus"
"Iya gue tau, tadi kan lu pidato dipodium"
"Gue panggil kak aja ya, gak enak banget kalo panggil senior pake lu gue" lanjut Reina.
"Weh, bisa sopan juga ternyata. Hehe"
"Kalo gitu gue bisa panggi lo Reina juga kan?" Timpal Ibra
"Boleh, temen - temen gua juga biasa panggil gue Na doang"
Tring tring tring...
Suara HP yang sedari tadi berdiam di dalam tas Reina membuyarkan lamunanya.
"Hallo, Key" sapa Reina
"Ayo pulang, gua tunggu di gerbang depan" serunya di seberang telepon.
"Oh ya, tungguin" jawab Reina lalu menutup sambungan teleponnya.
"Maaf nih, temen gua ngajakin pulang" ucap Reina pada ibra sambil memasukkan Hp kedalam tas dan kemudian berdiri.
Ibra yang melihat Reina berdiri dan berpamitan pun ikut berdiri, dan tersenyum.
"Iya nggak papa, hati - hati jangan suka nonjok orang sembarangan lagi kalo di tempat umum" canda Ibra
"Haha nggak lah, maaf sekali lagi soal tadi pagi"
"Nggak masalah"
"Ya udah.. pamit dulu kak" pamit Reina
"Iya"
" bye.." Reina mulai berjalan menjauh sambil melambaikan tangnnya ke arah Ibra.
'estetik banget ni cewek' batin Ibra saat melihat punggung Reina yang sudah berjalan menjauh darinya.
__ADS_1
Bersambung...
sorry, masih banyak typo 😘