Cogan Kamar Sebelah

Cogan Kamar Sebelah
22. pengakuan


__ADS_3

Reina masih ngos ngosan, menata detak jantung yang masih loncat-loncat kegirangan.


"gue udah biasa di cium mendadak sama tu bocah, tapi kenapa dada gue masih deg deg ser begini."


Dia segera melompat ke atas kasur, duduk bersila sambil memangku boneka Tedy bear buluk namun masih empuk kesayangannya.


"sebenernya tu anak maunya apa sih, gue ini dianggep apaan sama dia.. kalau dia anggep adek, ya kali gue di ciumin pake nafsu gitu."


"kalau dianggap pacar, kapan dia nyatain cinta ke gue?"


"lagian, gak mungkin Miko suka sama gue. secara dia kan jahat banget kalau sama gue" pikir Reina keras.


"dih, bodo amat ah, mending gue nugas aja dari pada mikirin tu bedebah gila"


Reina membuka leptopnya, mengerjakan tugas hingga larut dan terlelap masih dalam posisi duduk.


Miko yang entah sejak kapan punya kebiasaan masuk kamar Reina ditengah malam, kini pun melenggang bahagia menatap wajah gadis itu yang bersender di selasar headboard ranjangnya..


senyumnya tak henti mengembang memandangi wajah ayu reina yang tertidur lelap.


"dasar, bisa-bisanya dia tidur sambil menganga begitu" Miko tersenyum geli.


di keluarkannya Hp di dalam saku nya, memotret Reina yang tertidur sambil mangap tak bergeming meski Miko memperdengarkan suara tawanya yang terpingkal.


setelah puas memotret Reina tanpa izin, dia pun memindahkan buku-buku dan leptop Reina ke meja disebelah ranjang.


membaringkan dan menyelimuti Reina pelan lalu mengecup lembut dahi gadis itu.


Miko duduk disebelah gadis itu, memangku laptop Reina yang masih menyala dari tadi.


"makalahnya berantakan sekali" geleng Miko heran setelah membaca sejenak apa yang tengah dikerjakan Reina.


Dengan cekatan Miko memperbaiki makalah Reina, mengerjakannya sampai selesai lalu kembali ke kamarnya sendiri.


***


"hoaaahhmm" geliat Reina menekuk segala aspek sendi tubuhnya.


segera dia meraih jam beaker di nakas, mengamati jam yang menunjuk pukul 8 pagi.


"mampus gue" jingkat Reina melotot memandangi jam kecilnya, melemparbya ke kasur sembarangan lalu bergegas ke kamar mandi.


selesai mandi dan dandan, dia pun buru-buru merapikan isi tasnya.


"mana makalah gue belum siap" gerutu Reina membuka leptopnya.


"loh, kok udah selese, rapi banget lagi?" herannya.


"perasaan, tadi malem baru kelar setengah jalan deh. siapa yang ngerjain?"


"yang bisa masuk kamae gue cuma Miko"


"tapi masak iya dia yang kerjain tugas gue?"


"tau ah.." gelengnya pelan lalu memasukkan leptop ke dalam tasnya.


...


"pagi mi, pi" sapa Reina saat baru tiba dimeja makan.


"pagi,Na"


"pagi sayang, nih"


Mami (red. tante Mira) memberikan roti isi selai stroberry pada Reina.


"thank you mami"


"you're wellcome dear"


"cepat, saya tunggu di depan" berdiri Miko, meninggalkan meja makan.


"baru juga mau maka, mik"


"siapa suruh telat" jutek Miko lalu melenggang pergi.


"kejam banget sih"


"udah dimakan saja sayang, pasti ditunggin kok sama miko"


"ditungguin sih iya, tapi ngomelnya itu yang gak bakalam kelar"


gumam reina lalu bergegas meminum susu dan membawa roti selai tadi ditangannya.


"pelan-pelan, Na"


"sorry mi, Na cabut dulu" salim Reina pada papi, disertai kecup sayang pada mami.


"masa muda yang indah" ucap papi melihat Reina ngeloyor pergi.


"ke inget waktu muda pi" senggol mami.


"yah, tapi bedanya dulu kamu gak seriang Reina. judes banget"


"biarin, judes juga masih dikejar-kejar"


"kalau gak ada papi, gak tau deh mami bakal nikah apa nggak" goda papi


"dih kepedean si papi"


***


"kebiasaan banget sih, maen tinggal pas orang baru mau makan" gerutu Reina setelah mereka didalam mobil.


"kamunya saja yang lelet"


"ya maaf"


"habiskan sarapan mu dulu, jangan makan sambil ngomong"


"saya nanti siang tidak bisa jemput, ada rapat"


"rapat mulu, sok sibuk loe" kesal Reina.


"memang saya sibuk, kamu nya saja yang kebanyakan main"

__ADS_1


"ye.. serah gue dong"


"kamu dijemput Ken saja"


"gak mau, ntar biar dianterin temen"


"siapa?, cowok kemaren?"


"keyla..."


"oh ya sudah, hati-hati"


namun pada akhirnya Reina mengingkari perkataannya pada Miko, bukannya diantar Keyla, Reina malah pulang diantar Ibra.


"udah nyampe" berhenti Ibra di depan Mansion mewah tempat tinggal Reina.


"thanks" jawab Reina sambil turun dari motor Ibra.


"gak ngajak gue masuk gitu"


"mau sih, tapi gue takut disembelih nyonya rumah" mesem Reina.


"kenapa emang?"


"gue dapet teguran pas lo anter kerumah tempo hari, katanya gak boleh deket deket cowo gak jelas"


"cowok gak jelas gimana, silsilah gue jelas ya"


"lagian, kolot banget sih mama kamu?"


"mending kalau emak gue, gue numpang disini"


"oh"


"kalo gitu besok gue jemput ya?"


"jangaaan.."


"kenapa?, gak boleh karna dianterin abang loe?"


"iya"


"ck.. dasar anak mami" goda Ibra


"haaah setan loe.. gue harus nurut peraturan disini, kalau tante sampai ngadu ke emak gue, kalau gue disini jadi anak badung, gue bisa dibawa kabur ke LN"


"yah, jauhnya.. ya udah deh. gue tunggu dikampus aja"


"ye.. maunya"


"tapi Na"


"hmm?"


"gak jadi deh"


"ngapa sih?"


"gak jadi, loe masuk gih sana"


"bye.. mimpiin gue" ucap Ibra sambil melambaikan tangan


***


"dianter siapa tadi?" tanya dingin Miko sambil memotong steak di piringnya.


"temen"


pletak.. Miko melempar pisau dan garpunya di atas meja makan sembarangan hingga membuat Mami, Papi serta Reina tersentak kaget.


"kenapa sih Mik" tanya mami.


Miko tak menjawab pertanyaan maminya, dia segera mengalihkan pandangannya ke wajah Reina yang menatapnya heran disampingnya.


"kamu diantar siapa?"


"temen" kekeh Reina.


"jangan bohong"


"dianter Ibra"


Miko segera berdiri dari duduknya ketika nama Ibra mencuat dari mulut Reina.


"temui saya setelah selesai makan" ucap Miko lalu meninggalkan meja makan menuju kamarnya.


"apaan sih" heran Reina.


"kamu gak pulang sama miko?" tanya tante


"gak Mi, Miko bilang dia ada meeting, tadinya mau minta anter Keyla tapi ternyata Keyla ada acara Ekskul, trus si Ibra nongol nawarin. ya Na bilang oke, salah ya Mi?"


"gak salah sih, tapi kenapa Miko semarah itu ya?"


"dasar, tempramental anak itu saja yang masih bocah, udah selesaikan makan malamnya. papi juga masih harus kerja" ucap Papi santai memotong steak dipiringnya.


Reina dan Mami menggedikkan bahunya berbarengan, lalu melanjutkan makan mereka dengan tenang tanpa Miko.


selesai Makan malam, Reina beranjak menuju taman dipinggir kolam renang. merebahkan tubuhnya di selasar bangku kayu disana, menikmati siliran angin malam yang dingin.


mami yang sudah selesai membantu Bibi membereskan meja makan, segera menghampiri Reina. Dia meletakkan segelas susu hangat di meja lalu duduk di bangku lainnya.


"maafin Miko yang suka marah-marah Na"


Reina segera membuka matanya, menoleh pada mami yang sedang tersenyum memandangnya.


"gak kok tan"


"dia sebenernya sayang sama kamu, tapi gak bisa mengkespresikannya"


'sayang apaan, yang ada dia jahat banget'


"iya, Na tau kok." senyum Reina


"ya udah kalau kamu ngerti, minum susu dulu gih. abis itu balik kamar. disini dingin"

__ADS_1


"tapi na kenyang, Na bawa ke kamar aja ya Mi?"


"boleh, sekalian bawain punya Miko ya?"


"hah, iya deh" terpaksa Reina.


***


"Miko.. " teriak Reina di depan pintu kamar Miko namun tak ada jawabam dari sang pemilik kamar.


"Miko, nih susu kamu dari Maki"


sunyi.. sepi..


"Miko..."


"Miko..Miko.. Miko.." ulang Reina bak anak kecil memanggil temannya untuk main.


ceklek..


Miko membuka pintunya, melihat Reina yang sedang menyodorkan susu dari tangan kanan gadis itu pada nya, sedangkan tangan kirinya memegang susu miliknya sendiri.


"nih" ucapnya.


Miko tak menjawab dia malah merangkul pinggang gadis itu lalu membawanya masuk.


"nanti tumpah Miko" teriak Reina.


"siapa yang izinin kamu pulang dengan laki-laki?"


Miko menatap Reina tajam, mengintimidasi hingga gadis itu mundur beberapa langkah dan bersandar di tembok, lalu Miko menguncinya di kedua lengannya.



"ya gak ada" pelan Reina, menghindari tatapan miko.


"katamu mau pulang dengan Keyla"


"ya mau gimana, Keyla nya sibuk. adanya ibra"


"kamu bisa talfon saya, minta jemput"


"katanya koe sibuk, mana mungkin gue ganggu"


"lagian, gue slamet sampe rumah juga kan"


"tapi saya tidak suka, bagaimana jika kamu diapa-apain sama itu anak"


"lah, ngapa. Ibra itu baik. gak mungkin dia jahatin gue" timpal Reina membela ibra.


Miko merasa kesal dengan jawaban Reina, dia seketika menciumnya tanpa jeda.


"mmhh"


Berontak Reina, namun dia tak mungkin bisa menepis Miko karena dia masih meemgang dua gelas berisi susu dikedua tangannya.


saat pagutan itu berakhir, Reina menatap Miko kesal sambil mengumpat.


"Miko"


"brengsek"


Miko yang mendengar, sekali lagi berusaha mencium Reina paksa. mendekap kedua telinga gadis itu, lalu ********** tanpa ampun.


Entah setan apa yang merasukinya, sejak tau rasa ciuman dari bibir Reina, Miko seakan tak ingin berhenti.


Reina yang emosi karena tak jua dilepaskan, akhirnya menyiramkan susu yang ada ditangan kanannya, keatas kepala Miko.


curr...


air berwarna putih itu meluncur begitu saja, menerobos rimbunan rambut hitam Miko hingga mengalir deras, membasahi kemeja navi yang dipakainya.


Miko melepaskan bibir mereka, dia terkejut Reina menyiramkan susu dikepalanya.


hening, Miko mematung sejenak. setelah melihat bajunya yang basah, dia menatap Reina, meminta penjelasan.


"apaa?" sentak Reina


"apa? apa liatin gue, mau gue siram lagi" Reina mengacungkan susu ditangan kirinya.


Miko mendekatkan dirinya lagi pada Reina.


"mau apa lagi loe" ngeri Reina


Miko segera memeluk erat gadis itu sebelum terkena siraman yang kedua. membenamkan kepalanya diantara ceruk leher Reina.


"ngapain sih Mik"


"maaf, saya jadi brutal ke kamu"


"ya tapi gak perlu gini dong, lengket tau. badan loe basah nempel ke gue"


"saya gak suka kamu dekat lelaki lain" ucap Miko masih menangkupkan wajahnya dileher Reina.


"jangan ngatur gue"


"tapi saya kesal"


"ya terus?, ini kan idup gue. masak iya kalau gue mau berteman harus izin dulu sama elo. loe pikir gue bayi" kesal Reina.


"kamu boleh berteman dengan siapa saja asal perempuan, tapi jangan sama lelaki apalagi yang bernama Ibra"


"kenapa emang"


hening sejenak, Miko tak menjawab bertanyaan Reina. Dia hanya mempererat pelukannya, mengusap-usapkan wajahnya ke dalam ceruk leher Reina.


"kenapa gue gak boleh temenan sama Ibra, dia baik. bahkan dia selalu ada saat gue butuh"


"saya jealous" jujur Miko


"hah?"


"saya cemburu" ulangnya.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2