Cogan Kamar Sebelah

Cogan Kamar Sebelah
11. PDKT


__ADS_3

Reina berjalan semakin cepat, meninggalkan Ibra yang tertatih mengejarnya.


"Buru-buru banget sih"


"Ya lu ngapain ikutin gue, ke kelas elu aja sono" usir Reina.


"Hari ini gue gak ada kelas"


"Lah ngapain ngampus?"


"Ada rapat BEM"


"Ya udah sih, sono ke gedung BEM. Ngapai Dimari? Jan kintilin gue, kayak emak-emak aja gue dikintilin bocah" ketus Reina.


"Dih, cantik sih, tapi sayangnya makin hari makin galak?"


"Timbang situ, makin hari makin gila" ejek Reina.


"Hahaha"


"Eh, ngomong-ngomong sepatu kamu bagus"


"Jelas"


"Tapi kok kayak kebesaran ya?"


"Jan ngarang, gue yang pake dan gue gak ngerasa kebesaran. Dasar aneh"


"Emang itu nomor berapa sih"


"40"


"Oohh.."


"Eh, lu liat bus lewat gak sih?, Tau plat nomernya?"


Reina berhenti berjalan, melirik seniornya kesal lalu melipat tangannya dengan satu tarikan nafas keras.


"Lu kalo mau nanya aneh-aneh, mending minggat gih. Mana gue tau plat nomer bus yang lewat" semprot Reina yang ditanggapi senyuman geli oleh Ibra.


"Kalau nomer togel?"


"Lu tanya lagi gue pukul loh" gedek Reina.


"Kalau nomer hape?"


"Modus"


"Kasih dong cantik" goda Ibra.


"Gue gak pake hape"


"Trus kalo mau hubungin lo pake apa dong"


"Telepati"


"Canda mulu sih"


"Dari pada situ, ngajak tawuran"


"Ya udah deh, kalo gak dikasih. Minta Keyla aja."


"serah"


Pulang jam berapa?"


"Sore"


"gue anterin ya?"


"Gak"


"Kenapa?"


"Lu mau gendong gue sampe rumah?" Tanya Reina yang tau jika Ibra ke kampus pakai MRT.


"Hahahaha.. ya gak lah. Segede gini mana kuat gue gendong" gelak Ibra


Reina semakin emosi kala ibra mengatainya 'gede'


"Maaf ya kakak senior yang tuampan tiada tandingan, dambaan mahasiswa. Sang casanova yang popularitasnya mencapai bumi serta luar angkasa. Saya, Reina. tidak butuh anda antar pulang." Geram Reina lalu meninggalkan Ibra.


"Dasar ngambekan"ucap Ibra pelan dengan mata berbinar memandang Reina yang berlari menjauh.


"Kalo deket tu cewek lo suka cengar-cengir sendiri" bisik Ego, teman Ibra yang baru saja datang.


"Lo suka ya sama tu cewek?" Lanjutnya


"Kenapa lo bisa bilang gitu?"


"Dari awal masuk kampus sampai sekarang, baru kali ini, lo tiap hari nungguin cewek distasiun MRT. Sampai motor yang lo sayang, yang kalo bisa lo kelonin di kasur itu lo tinggal di garasi gedung BEM."


"Kebaca jelas ya?"


"Dasar bucin" ejek Ego


***


Hari ini sangat melalahkan untuk Reina, dia harus menyalin semua catatan Keyla. seminggu lebih tak masuk kelas membuatnya tertinggal beberapa mata kuliah.


"Siapa yang suruh gue ambil management, gak ada ya jurusan yang cuma rebahan tapi bisa kumlaude" rengek Reina.


"Mimpi aja lu neng" sahut Keyla disebelahnya.


"Vina mana sih, tu anak gak kangen gue apa ya?" Tanya Reina sambil clingak clinguk mencari satu sahabatnya yang seharian tak nongol batang hidungnya itu.


"Dia tadi WA gue, katanya dia pulang duluan"


"Kenapa?"


"Katanya mau tidur, dia dua hari ikut ospek jurusan. Capek mungkin"


"Oh, tapi kita gak ada ospek jurusan?"


"Gak ada, makanya diganti tugas seabrek yang kamu salin tadi. Oh ya, deadline nya minggu depan"


"Mampus, mana bisa seminggu 3 makalah... hik hik.."


"Uu tu tu.. jan nangis baby"


"Bantuin" kedip mata Reina manja pada sahabatnya.


"Bantuin pala lo, gue aja baru dapet satu makalah"

__ADS_1


"Trus nasip gue Key"


"Pikir aja sendiri"


"Eh, kita ke lapangan pensi yok"


"Ngapain"


"Hari ini penutupan ospek jurusannya anak seni"


"Lha apa hubungannya sama kita"


"Ya gak ada hubungannya tapi kalo kita dapet cowo anak seni kan jadi ada hubungan" girang Keyla.


"Ngarep banget sih"


"Lu gak tau sih, visual kampus ini tu di anak seni, ya walaupun sempat mampir ke jurusan management gegara abang KW elu"


"Abang KW siapa?"


"Si Tampan, pintar, cool tapi cuek abis, MIKO..."


"Dih..."


"Udah ayok.."


"Iya bentar gue beresin meja gue dulu"


Keyla dan Reina berjalan ditengah kerumunan, banyak sekali mahasiswa yang tertarik dengan pentas yang diadakan jurusan seni. Keyla yang tak ingin ketinggalan, menggandeng tangan Reina erat dan menariknya kedalam keramaian. Menelusup setiap celah yang ada hingga sampai di barisan paling depan.


"Semangat amat sih Key" kesal Reina yang ditarik tangannya tanpa ampun.


"Lu kalo gak gue tarik, pasti gak bakalan ikut"


"Ya udah, ayo pulang"


"Tunggu dong, katanya sekarang giliran kak Ibra. Kalo kak Ibra udah selesai,baru kita pulang" bujuk Keyla.


"Hello everybody, good evening, good looking and good bye.. eh salah ya" canda Ibra yang kini duduk di kursi panggung sambil membawa gitar kesayangannya.


"Selamat buat kalian para mahasiswa baru, semoga betah di kampus kita, torehkan prestasi dan tunjukan bakatmu disini."


"Tak perlu lama, saya akan membawakan sebuah lagu berjudul kasmaran, dan lagu ini saya persembahkan untuk seseorang yang tadi pagi menolak memberikan nomor hapenya pada saya, dia yang berambut panjang berbaju biru, yang kini berdiri di antara kalian" senyum goda Ibra.


Tepukan riuh menggema di seluruh lapangan, teriakan nama Ibra pun tak henti di elukan para mahasiswa yang menontonya, sedangkan Ibra sendiri tak henti memandang Reina yang berdiri tepat di depannya.


"stres ni orang" cebik Reina yang tau bahwa yang dimaksud adalah dirinya.


"Ta, ta-ra-ra-ra, ra-ra, ra-ra-ra


Ta, ta-ra-ra-ra, ra-ra, ra-ra-ra


Ta, ta-ra-ra-ra, ra-ra, ra-ra-ra


Ta, ta-ra-ra-ra


Aku di sini padamu


Sekali lagi padamu


Kubawakan rindu yang kau pesan utuh


Aku di sini untukmu


Percayalah lagi kau gundah


Pun aku merasakan getaranmu


Mencintaiku seperti ku mencintaimu


Sungguh kasmaran aku kepadamu"


Petikan senar gitar yang dimainkan Ibra semakin menambah syahdu suaranya yang merdu. Teriakan nama Ibra semakin riuh terdengar kala Ibra melambaikan tangan dengan keren nya di atas panggung.


"Gimana cewe gak pada gila, dia ganteng banget Tuhan" decit Keyla sambil memandang Ibra dengan bahagia.


"Dih alay" bisikku di belakangnya.


"Gak ada selera lu mah, makanya idup lo hambar" ketus Keyla mengatai sahabatnya yang dijawab dengan ancaman kepalan tangan oleh Reina.


"Kak Ibra, aku padamu" seru Keyla membabi buta.


"Dah ah, gue tungguin di cafe depan kampus. Gue mau nyari referensi makalah" pamit Reina yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Keyla.


***


Hampir sejam sudah Reina menunggu Keyla dicafe, dia bahkan sudah menghabiskan seporsi ayam goreng, sepiring kentang goreng, dan dua gelas cola yang kini tinggal es batunya saja.


"Lama banget tu bocah, gue sampe lumutan"


Ting..


/Kamu pulang jam berapa, saya jemput/ Wa chat dari Miko.


"Dih, gak sudi. Tadi aja kalau nggak tante yang maksa mana mau gue dianter elu" gumam Reina setelah membaca isi pesan itu.


/Gak usah, gue bisa pulang sendiri/ balas Reina.


/Saya tidak suka mengulang, kapan pulang/


"Dih otoriter" kesal Reina.


/Udah pulang ini di cafe depan kampus/


/Tunggu disana/


/Ogah/


/ bandel/


/Dasar cowo mesum brengsek/


Reina memasukkan HP nya ke tas dengan emosi setelah membalas pesan Miko.


"Dasar cowok aneh, dikit-dikit gak mau anter gue dikit-dikit mau jemput gue. tu manusia punya pendirian kagak sih"


"Tapi sejak dia cium gue, kenapa dia jadi rada bawel ya. Perasaan dia kayak patung es batu, dingin "


"Lagian, tumben dia mau jemput gue. Pake acara kirim chat juga. Dia tau nomer gue dari mana?". heran Reina


"Ngomong sama siapa Na" sapa Keyla yang sudah duduk didepan Reina.


"Sama setan, lu kemana aja sih. Lama banget. Nonton gituan aja sampe satu jam." Marah Reina pada sahabatnya yang malah cengengesan didepannya.

__ADS_1


"Lu kok malah cengar cengir sih, gue tabok pake buku nih ya" ancam Reina.


"Perasaan emosian mulu deh, cepet keriput loh."


"Biarin"


"Gue lagi happy nih"


"Kenapa?"


"Kayaknya sahabat gue bakal punya pacar"


"Siapa?"


"Elu" girang Keyla.


"Haha, Lu kepanasan sampe halu apa gimana sih"


"Gue gak halu, bego. Ini beneran ada yang suka sama elu."


"Siapa?" Tanya cuek Reina sambil memasukkan leptopnya di tas.


"kak Ibra"


"Cih" sinis Reina


"Beneran, bego. Tadi tu gue disamperin kak Ibra"


"Trus"


"Dia minta nomer elu"


"Lu kasih"


"Ya gue kasih, trus pas gue tanya ada perlu apa sampai minta nomer elu. Lu tau dia jawab apa?"


"Apa emang?"


"Dia bilang 'saya mau pdkt sama dia' dih, melted gue Na... Aura dia udah kayak cowok di FTV"


" dah gila lu ya, sama gilanya kaya tu orang"


"Lu mah gitu, eh orangnya dateng" jingkat Keyla saat Ibra mendekati meja mereka berdua


"Boleh gabung"


"Gak" sinis Reina yang mendapat tendangan kaki oleh sahabatnya.


"Boleh kok kak, gabung aja" seyum Keyla ramah yang kemudian berubah menjadi pelototan tajam ketika dia dan Reina bertemu tatap.


"Lagi ngapain" tanya Ibra basa-basi.


"Jan duduk sebelah gue bisa" kesal Reina karena Ibra tiba-tiba duduk disebelahnya.


"Galak bener sih"


"Udah selese kak pensi nya?" Sela Keyla


"Udah, tinggal beresin peralatan nya aja. Kalian udah pesen?"


"Lu gak liat meja gue udah ada banyak piring sama gelas" jawab Reina.


"Tapi kan gue belum pesen Na" balas Keyla.


"Sapa suruh lo lama"


"Pesen lagi aja" sela Ibra


"Lu traktir?"


"Iya, gue bayarin asal lu gak judes lagi sama gue" senyum Ibra sambil memandang gadis yang kini duduk disebelahnya itu.


"Gak bisa, gue masih kesel sama elu gegara ospek. Cuman gegara sragam, gue disuruh lari lapangan sampe mau pingsan"


"Itu namanya disiplinitas. Lagian, Jangan suka menyimpan dendam, biasanya yang kayak gitu malah jadi cinta"


"Apes banget gue bisa cinta sama elu"


"Gak apes, tapi beruntung" ralat Ibra


"Gue berasa obat nyamuk" senyum Keyla geli melihat tingkah dua manusia didepannya.


"Eh Na, ada Miko" seru Keyla yang melihat Miko dengan tatapan datar mendekati mereka dengan langkah cepat.


"Apa?" Belum sempat Reina menoleh Miko sudah menggenggam tangan Reina erat.


"Pulang" ucap Miko sambil menarik tangan Reina.


"Tunggu"


Ibra spontan memegang tangan Reina yang lainnya. Berusaha menahan Reina agar tidak pergi.


"Anda siapa main tarik tangan orang?"


"Kamu tanya saya siapa?"


"Dia.. dia abang Gue" jawab reflek Reina yang mendapat kerutan alis Miko


"Abang dari hongkong" batin Keyla lirih dengan senyuman tak lepas dari wajahnya.


Melihat pemandangan yang indah didepanya tentu tak lepas dari kamera Keyla, dia segera mengeluarkan hapenya dan memfoto adegan menggelikan didepannya itu, hitung-hitung sebagai bahan candaan kala menjahili Reina nanti, pikirnya.


"Oke, gue pulang dulu ya Key, kak" pamit Reina pada sahabat dan seniornya itu.


"Bisa lepasin tangan gue" pinta Reina sambil berusaha melepaskan tangannya yang di genggam Ibra.


'lebih baik gue turutin Miko dari pada dia jadi gika kayak waktu itu' batin Reina.


Ibra tak henti memandang sinis Miko, begitu pula sebaliknya. Entah mengapa Ibra tak menyukai lelaki yang diakui Reina sebagai abangnya tersebut. Dan Miko semakin menunjukan raut wajah tak suka kala Reina memanggil Ibra dengan sebutan kakak.


"Bisa lepaskan tangan ADIK saya" ucap Miko dengan penuh penekanan yang membuta Ibra harus melepaskan genggamannya.


"Ya sudah, nanti kabari kalau sudah sampai rumah" ucap Ibra ramah sambil mengelus kepala Reina.


'Gila ni bocah, dia lagi drama apa ni' gedek Reina kala tangan Ibra menyentuh kepalanya.


"Hehe liat ntar"


Miko segera menarik tangan Reina, menyeretnya keluar cafe dan memasukkanya paksa ke dalam mobil sebelum dia membuka pintu kemudi untuk dirinya sendiri. Menginjak pedal gas secara brutal hingga mobil hitam itu melesat cepat di jalan raya.


"Mau bunuh gue ya" teriak Reina.


"Diam atau saya cium" bentak Miko yang membuat nyali Reina menciut.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2