
Tante Mira yang sedang duduk santai menikmati teh sore, berjingkat kaget saat melihat Miko berjalan sambil menggendong Reina masuk ke rumah dengan diikuti asistennya.
"Reina kenapa Mik?" tante Mira tergopoh berlari kecil mendekati Miko.
"Kamar?" Tanya Miko tanpa menjawab pertanyaan mami-nya.
"Di.. di atas, sebelah kamar kamu?" Tante Mira masih tergagap shock.
Miko pun bergegas menuju kamar Reina. Ken, sang asisten dengan sigap membuka pintu kamar hingga tuannya bisa masuk dan membaringkan tubuh gadis itu diatas ranjang.
"Reina kenapa sih, Mik?" Ulang Tante Mira yang sedari tadi mengekor dibelakang Miko yang masih diam menatap Reina.
Tante Mira mendekati Reina dan duduk diatas ranjang, memperhatikan wajah Reina yang kini pucat pasi dengan keringat dingin masih mengucur dari dahi berponinya.
"Kalau mami tanya tu dijawab Mik?"
"Nona pingsan, nyonya." Ken-lah yang akhirnya menjawab pertanyaan.
"Kok bisa?"
"Tadi saat nona Reina saya masukkan ke dalam mobil, nona teriak histeris hingga muntah hebat. Setelah itu pingsan" jelas Ken singkat
"Kamu masukkan gimana sih, yang jelas kalau bicara"
"Karena nona tidak ingin pulang bersama, terpaksa saya gunakan cara sedikit kasar"
Plak..
Tamparan tante Mira tepat mendarat mengenai pipi sang asisten.
"Berani sekali kamu kasari Reina?"
"Maaf nyonya, tuan muda yang suruh"
"Apa? Benar begitu Mik?" Tanya tante Mira yang kini memfokuskan tatapanya pada wajah dingin Miko, tapi Miko masih terdiam bahkan tak mengalihkan pandangannya pada gadis yang dia bawa.
"Panggil dokter" titah Miko melirik pada asistennya.
"Baik tuan"
***
"Melihat secara gejala dan cerita penyebab dia seperti ini, bisa dipastikan gadis ini punya PTSD, post- traumatic stress disorder atau bisa dibilang gangguan stress pascatrauma". Jelas Dokter Hendra, dokter pribadi keluarga Jeneva.
"Trauma?"
Tante Mira dan om Jeneva saling bertatapan mata tanpa suara.
"Apa kondisinya baik Ndra?"
"Iya, dia akan baik-baik saja setelah istirahat. Saya sudah kasih obat penenang, dan juga infuse agar kondisi fisiknya tetap stabil. Dan saya sarankan untuk memanggil Psikiater, karena dia yang lebih tau bagaimana mengobati pasien PTSD"
__ADS_1
"Karena sudah tidak diperlukan, saya permisi" pamit Dokter Hendra.
"Oh ya, nanti akan saya kirimkan draft pskiater terbaik di ibukota, kalian tenang saja."
"Baiklah, terimakasih Ndra" ucap tante Mira.
"Gimana nih pih, sebagian besar ini juga salah mami. Mami nggak tau kalo Reina belum sembuh dari traumanya, hiks" isak tante Mira pada suaminya.
"Kita telfon dulu orang tuanya"
"Iya, aku telfon Dina dulu"
setelah tante Mira keluar kamar, Miko yang sedari tadi penasaran akhirnya bertanya pada papinya.
"Dia trauma apa?".
"Dia pernah punya hal buruk gara gara supir"
Miko hanya mengerutkan dahi.
"Kapan?"
"Waktu dia umur tujuh tahun, setelah kita pindah dari surabaya. kalau di ceritain bisa panjang"
Setelah beberapa menit berlalu, tante Mira bergegas kembali kekamar Reina. Masih dengan HP ditanganya, dia berjalan cepat menghampiri suami dan anaknya.
"Gimana,Mi?"
"Dina bilang dia nggak bisa pulang karena Herman masih sibuk, sedangkan kita tau sendiri kalau Dina juga yang mengurus segala keperluan Herman disana. Tapi Dina juga bilang kita bisa hubungi psikiater yang rawat Reina dulu. Namanya dokter Vivi."
"Tapi masalahnya dia ada disurabaya."
"Biar aku yang urus" sela Miko pada kedua orang tuanya. Dia merogoh HP dari dalam saku jas nya, berjalan keluar kamar sambil bicara pada seseorang.
"Ken, bawa anak buahmu ke surabaya"
***
Tak butuh waktu lama, dokter Vivi pun sudah tiba dikediaman keluarga Jeneva. Entah cara apa yang digunakan Miko, namun dokter itu kini telah duduk disamping ranjang. Memeriksa Reina yang masih tak sadarkan diri.
"Kalian semua jangan cemas, Reina memang begini kalau traumanya kumat.
Karena sudah diberi obat penenang, maka kondisinya akan lebih cepat membaik."
"Syukurlah" lega tante Mira yang kini dalam dekapan suaminya.
"Tapi ada yang perlu saya sampaikan. Biasanya selang beberapa jam setelah serangan panik, Reina cenderung gelisah dalam tidurnya bahkan mengigau dan merancau. Saya sarankan agar jangan meninggalkan dia sendirian. Berikan dia rasa aman dan nyaman, maka dia akam kembali tenang."
"Baiklah dok"
"dari pengalaman rekam medisnya dulu, Reina mungkin akan menjadi lebih pendiam setelah siuman tapi tidak lama dia akan ceria kembali. cukup temani dia, dan bersikaplah seperti tak pernah terjadi apapun."
__ADS_1
"Apa tidak perlu dibawa kerumah sakit?"
"Tidak perlu, yang Reina butuhkan saat ini hanya terapi lingkungan. Saya akan resepkan obat penenang, hanya untuk berjaga saat gejala panik Reina menyerang"
"Baik dok, terimakasih"
"Sama - sama. Kalau ada sesuatu yang terjadi pada Reina, anda bisa hubungi saya lewat telefon. Jika memang gawat saya akan sesegera mungkin terbang sendiri kesini karena Reina memang tanggung jawab saya. Dan tolong lain kali jangan membuat kehebohan di Rumah sakit saya praktek dengan mendatangkan banyak sekali bodyguard bahkan mendatangkan Heli diatap RS".
Mendengar cerita bagaimana Dr Vivi bisa sampai ke kediaman mereka secara kilat, Tante dan Om Jeneva hanya melirik Miko yang masih diam menatap Reina intens.
***
"Mami lelah?" Tanya om Jeneva kala melihat sang istri tengah tertidur menopang dagu disamping ranjang Reina.
"Nggak pi, ini jam berapa?"
"Jam 12 malam. Mami tidur saja, nanti biar papi yang temenin Reina"
"Biar aku saja" sela Miko yang berdiri ditengah pintu yang menghubungkan dua kamar mereka.
"Kamu? mau jaga Reina" ucap tante Mira tak percaya.
"Tapi ini juga salah kamu sih, memang sudah seharusnya kamu yang jaga Reina" lanjutnya.
"Ya sudah, mami sama papi kebawah. Kalau ada apa-apa, kamu panggil mami ya?."
"Hmm" jawab Miko singkat.
Setelah kedua orang tuanya pergi, Miko duduk disamping ranjang Reina. Menyilangkan sebelah kaki dan kedua tangan bersendekap didada bidangnya. Menatap Reina dengan lekat, pelan tangannya bergerak hendak menyeka poni Reina yang menutupi mata terpejamnya.
"Mah.." ucap Reina dikala tangan Miko menyentuh dahinya.
"Mama.. tolong hiks"
Reina semakin gelisah dalam tidurnya, keringat menetes semakin deras, air mata pun mengalir dari sudut matanya yang terpejam.
Miko memperhatikan Reina semakin gusar, ragu -ragu dia ulurkan tangannya, menggenggam tangan Reina. Melihat tak ada penolakan, kini kedua tangannya telah menggenggam erat tangan Reina.
"Mama" ucap Reina tatkala tangannya digenggam erat.
"Hmm"
"Jangan tinggalin Reina"
"Hmm"
"Na takut"
"hmm"
"tolong Reina"
__ADS_1
"hmm"
Miko tak tau harus berucap apa, selain deheman yang dia keluarkan. rasa canggung menyerangnya ketika tangan lebarnya kini di peluk erat di dada Reina. Namun sebalikny bagi sang gadis, tangan itu memberinya kenyamanan, perlindungan dan suara tak berkata itu mampu membuat Reina kembali tenang, Dan akhirnya berangsur terlelap dalam tidur nya.