
"Sudah bangun?" Sapa Miko saat melihat Reina yang bangun lebih dulu darinya sedang membuka matanya lebar menatapnya heran.
"Sudah baikan?"
"Mau minum?"
"Kamu baik - baik saja?"
Tak ada sahutan apapun dari Reina, dahinya malah semakin mengkerut heran menatap miko, namun dia masih tetap ayu seperti biasa meski masih sembab di kedua matanya.
"Apa masih mual?"
"Apa kamu merasa tidak nyaman?"
"Perlu saya panggilkan mami?"
"Atau perlu saya panggilkan dokter Vivi?"
Miko yang tak mendapat jawaban akhirnya mulai sedikit kesal.
"HEY, SAYA SEDANG BERTANYA"
"Kamu punya mulut kan?"
"Shit" umpat Miko semakin kesal.
Miko beranjak dari duduknya, meninggalkan kamar Reina melalui pintu hubung kamar mereka.
Bruak
Dibantingnya keras pintu tak berdosa itu.
POV Reina
Sinar lampu terang menyilaukan mataku yang masih terpejam. Aku lantas mengerjapkan mata, entah mengapa berat sekali rasanya saat ku coba untuk membukanya. Mataku berat, seoalah ada yang mengganjal di pelupuk mata. Ah, mataku bengkak.
'Ya Tuhan, trauma itu lagi'
batinku saat samar ku ingat mengapa mataku jadi begini.
'ayo lah Na, semua sudah berlalu'
pikirku menyemangati diriku sendiri.
Masih dengan mata terpejam, aku berusaha menenangkan gejolak mental yang menghantuiku.
'kamu sudah dewasa, itu masa lalu yang tak perlu kau ingat. Buang Reina, BUANG' kataku dalam hati.
'hari esok menantimu, jadi lupakan.. LUPAKAN'
BUANG..'
'LUPAKAN'
Ingin sekali aku teriak, tapi mulutku terkunci. Tenggorokanku rasanya kering, pita suaraku tak bergetar sama sekali meski aku berusaha sekuat tenaga.
Ya, inilah yang ku benci saat aku tersadar pasca trauma, aku akan menjadi orang bisu, Manusia yang tak berguna. Aku tak akan mampu bicara selama beberapa hari, bahkan pernah juga aku hanya bisa berbaring dan membuka mata tanpa bisa menggerakkan anggota badanku. Tapi kali ini aku hanya tak bisa bicara saja. Meski begitu aku masih benar benar merasa buruk.
'Tuhan aku benci seperti ini'
Beberapa kali saat masih dalam fase terapi, aku juga pernah mencoba bunuh diri. Aku lelah, aku capek jadi manusia bermental lemah. Rasanya dunia ini akan baik baik saja tanpaku, namun saat teringat ada mama yang juga sama menderitanya denganku. Aku berusaha ubtuk kuat, karena keadaan mental mama yang sama menderitanya sepertiku, Mama yang akan suka rela ikut denganku jika aku bunuh diri. Mama, ya.. Mama.
Seingatku, mama menemaniku tadi malam. Aku yakin saat aku membuka mata, semua akan baik - baik saja. Ada mama yang menjagaku. Aku bahkan telah memegang tangannya semalaman. Kuraba pelan jemari yang ada digenggaman.
'Eh, mengapa tangan mama begitu besar?.'
Perlahan ku paksa mataku untuk terbuka, melirik kearah tangan yang ku genggam didada. Betapa terkejutnya saat ku lihat sesosok lelaki duduk tertidur disamping ranjangku. Segera ku tepiskan tangan lebar itu hingga membuat si pemilik tangan terbangun dari tidurnya
'Siapa dia' benakku berkelana.
'oh, Miko' batinku saat teringat sang pemilik wajah.
"Sudah bangun?" Sapa Miko melihatku
"Sudah baikan?"
"Mau minum?"
"Kamu baik - baik saja?"
__ADS_1
'dia tanya apa mau introgasi maling sih, gak ada jedanya.. gue kan lagi nggak bisa ngomong SETAN' sebalku saat mendengar pertanyaan beruntun dari miko
"Apa masih mual?"
"Apa kamu merasa tidak nyaman?"
"A...a.." aku berusaha membuka mulutku, tapi memang masih sulit sekali.
'haish.. sialan' umpatku.
"Perlu saya panggilkan mami?" Lanjut Miko.
"Atau perlu saya panggilkan dokter Vivi?"
"HEY, SAYA SEDANG BICARA?"
"Kamu punya mulut kan?.
"Shit"
Brak
Terdengar Miko sedang menutup pintu yang dia hempaskan.
'lah, kenapa dia yang marah?, Bukannya gue nggak mau jawab. Tapi emang mulut gue ke kunci bangs*d.' umpatku dalam diam
***
"Hallo dok, saya Miko." Terdengar suara Miko membuka percakapan di handphone nya, setelah keluar dari kamar Reina.
"Oh iya pak, bagaimana kondisi Reina?" Sapa seorang diseberang
"Dia sudah sadar, tapi kenapa dia tidak bicara ketika saya bertanya. Apakah dia sedang kesal dengan saya?"
"Reina mungkin bukan bermaksud untuk mendiamkan bapak"
"Maksudnya?"
" ehm.. bukankah kemarin sudah saya jelaskan secara singkat tentang psikologis yang Reina alami. Kasus Reina memang sedikit unik dan rumit. Dulu saat serangan paniknya kambuh dan saat dia sadar, bahkan lebih dari seminggu kami baru bisa membuatnya bicara. Tapi konfisi Reina sekaeang sudah jauh lebih baik"
"Lalu?"
"Menurut rekam medis Reina, saya yakin ini tidak akan berlangsung lama. sebentar lagi dia akan membaik dan bisa bicara, hanya saja bapak perlu lebih Sabar saat menghadapi Reina"
"Apa tidak perlu penanganan serius"
"Tidak perlu"
"Baik lah kalau begitu."
Dan sambungan telefon pun terputus.
'Kehangatan keluraga apa?' pikir Miko bingung.
***
'Untunglah kali ini gue bisa bangun, tapi kenapa gue masih nggak bisa ngomong sih' pikir Reina
BRAK
"Reinaaaaa...." Teriak tante Mira seraya berlari dari diambang pintu.
'bahkan senyum ke tante aja gue nggak bisa, bibir gue kek kekunci, njir'
"Reinaa... Hu.. hu..hu.." isak tante memeluk Reina, mencium ubun - ubunya dengan sayang.
"Kamu kenapa nak, tante takut kamu kenapa - kenapa"
Reina tak bisa menjawab, hanya bisa menatap wajah Tante Mira sendu.
"Kenapa Na? Kamu baik- baik aja kan?"
"Na, kamu kenapa"
"Na, kamu kenapa nggak jawab? Kamu marah sama tante? Sama Miko? Na, tante minta Maaf Na.. tapi jawab tante"
Tante Mira mulai merancau hingga terisak kembali karna Reina tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Dia nggak bakal bisa jawab Mi" ucap Miko di tengah pintu tembusan kamar mereka.
__ADS_1
"Hah, apa Mik?"
"Kata dokter Reina memang akan bisu setelah siuman"
"Kok bisa?"
Miko hanya menggedikkan kedua bahunya.
"Ya Udah Na, asal kamu baik-baik aja mami udah seneng"
"Kamu mandi ya, kita sarapan dibawah"
Reina pun beranjak dari kasur menuju kamar mandi
***
Diruang makan, telah hadir berbagai jenis hidangan, mereka berempat pun makan dengan susana diam.
"Makan yang banyak na"
Reina mengangguk sopan. Dia mengambil kertas didalam saku nya. Memeberikannya pada tante Mira.
'maaf tante kalau Reina ngrepotin, Reina juga nggak tau kenapa penyakit Reina kambuh. Reina pikir udah sembuh'
"Gak papa sayang, enjoy aja sama tante dan om. Lagi pula Miko yang bikin kamu kayak gini"
Tante Mira melirik sinis pada Miko yang sedang serius mengunyah sarapannya.
"Kamu dengar Mik?, Kamu harus tanggung jawab ke Reina"
"Saya tidak salah, lagi pula dia jadi bisu juga tidak ada pengaruhnya pada saham maupun investor. Kenapa saya harus perduli"
Miko berdiri meninggalkan meja makan, berlalu tanpa menoleh kebelakang.
"Dasar nggak punya perasaan" teriak tante Mira sambil melempar sendok yang mengenai punggung jas Miko.
Miko berhenti sejenak, menoleh oada asisten setia yang sudah berdiri disamping tuannya.
"Ken, siapkan jas baru"
Ken membungkuj patuh
"Baik tuan"
***
Tiga hari Reina masih dengan kondisi yang sama, dia menjalani harinya tanpa bicara bahkan tanpa berekspresi.
Berbagai usaha telah dilahkukan keluarga Jeneva, memanggil berbagai dokter psikologi sampai melahkukan terapi gelombang otak untuk Reina, namun hasilnya nihil.
Miko yang seolah tak perduli pada Reina sebenarnya sangat cemas jika Reina tak bisa kembali berbicara, dia pun tak tinggal diam. dia merasa bertanggung jawab karena dialah penyebab Reina mem'bisu' .
Meskipun masih dengan perkataan yang kasar dan tajam tak jarang Miko mengajak Reina bicara, mengajaknya jalan-jalan, mengobrol dan mengantarnya ketempat psikiater.
Miko yang tak pernah pulang ke rumah, kini makan siang pun dia sempatkan makan bersama keluarga karena Reina.
Baru Kali ini Miko benar benar merasa bersalah dalam hidupnya. Namun tetap saja, perasaan itu tak bertahan lama karena Miko yang terkenal punya tempramen buruk.
"Sudahlah, saya menyerah" ucap Miko mendekati Reina yang sedang berdiri di balkon, menatap kosong ke atas langit.
"Kamu benar - benar menghabiskan kesabaran saya"
"Sebenarnya apa mau kamu?
Reina hanya memandang Miko sekilas, lalu kembali menatap langit hitam berhias bintang.
"Sial"
"Biar saja kamu membisu selamanya" umpat Miko mencapai batas sabarnya lalu meninggalkan Reina yang masih diam.
Reina masih dengan pandangannya menuju langit gelap, menatap nanar bintang diangkasa. Sesekali dia mengerjapkan mata, hingga bulir bening mengalir di pucuk kelopak pipinya.
'Gue juga nggak mau gini, gue juga pengen sembuh'
'gue juga capek, gue bener-bener nggak punya niat buat nyusahin banyak orang'
Isak Reina dalam hati.
'Apa semua salah gue, padahal dia yang bikin gue begini..
__ADS_1
dasar cowok gila, brengsek, setan.. NYEBEELIN!'
'MIKO SI BRENGSEK NYEBELIN' Reina duduk terisak dalam hening.