Cogan Kamar Sebelah

Cogan Kamar Sebelah
12. sopir


__ADS_3

Miko membawa Reina pulang, dia terus diam sambil menyeret tangan gadis itu memasuki rumah.


"Duh, Mik. Sakit" jerit Reina kesal


"Kagak perlu lu seret gua bisa masuk sendiri" lanjutnya


Miko tak menghiraukan rengekan Reina, tangannya mencengkeram erat pergelangan gadis itu sambil membawanya memasuki rumah. Terlihat jelas diraut wajahnya bahwa dia sedang menahan kesal yang teramat hebat.


"Miko, ada apa ini" suara tante Mira yang keluar dari arah ruang keluarga.


"Tau ni tan, Miko seret Reina mulu, dikira kambing kali"


"Miko, lepasin tangan Reina" tegas Tante Mira


Miko berhenti seketika, melepaskan tangan Reina dan berbalik menghadap mereka berdua.


"Nih, saya sudah antar anak angkat mami sampai rumah, tapi tolong besok lagi jangan suruh saya jemput dia pulang kuliah"


"Kenapa" heran tante Mira


"Saya sibuk dan saya tidak mau jemput orang yang sedang pacaran"


"Dih, ngawur" sela Reina


"Pacaran gimana?" Tanya tante Mira.


"Dia tadi sedang pacaran"


"Enggak, tan. Bohong banget itu mulut. Bohong tan"


"Saya melihat sendiri, jangan mengelak"


"Enggak, dibilang enggak juga"


"Hey, stop" teriak Tante Mira


"Kalian ini udah seperti tom Jerry, ribut terus."


"Miko, kalau Reina sedang pacaran ya sudah, kamu jangan ribut. Tinggal jemput, pulang, beres"


"Dan Reina, saya ini dititipi mama kamu sayang, kamu boleh pacaran tapi inget batasan"


"Ya ampun tan, jangan percaya. Tadi senior Reina lagi ngajak ngobrol biasa. Dan ada temen Reina juga kok"


"Ya sudah apapun itu, tante minta, selama kamu tinggal disini kamu harus turutin tante. Berangkat dan pulang kuliah harus sama Miko, kalau mau kemana-mana minta anter Miko"


"Kenapa saya, Suruh saja pak Rahmat" protes Miko


"Nggak boleh bantah Mami, you Know dear?"


"Tapi Mi"

__ADS_1


"YOU KNOW DEAR?" Ucap Tante Mira penuh penekanan


"Terserah sajalah" kesal Miko sambil berlalu meninggalkan mereka berdua, beranjak ke kamarnya.


Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya, heran melihat tingkah sang anak lelaki kebanggannya tersebut. Dia pun beralih kepada Reina, mengelus kepala Reina dengan sayang dan penuh perhatian.


"Tante minta kamu jangan bandel Na, turutin tante karena ini semua juga untuk kebaikan kamu. Berangkat sama Kuliah dianter Miko ya?"


"Dianterin supir aja deh tan, aku berasa uji nyali kalo sama Miko"


"Nggak boleh, harus sama Miko"


"tapi tan"


"Gak ada bantahan"


"Iya deh"


"Ya sudah kamu ke kamar dulu, bersih-bersih nanti kita makan malam sama-sama"


Reina mengangguk pelan tanpa bisa membantah tante Mira meski dia enggan sekali jika harus diantar jemput Miko.


Reina memasuki kamarnya dengan wajah lesu, pikirannya semrawut memikirkan jika dia harus kemana-mana bersama Miko yang sudah seperti musuh baginya.


"Mungkin karna Weton gue ama tu bocah kagak cocok kali ya" gumamnya setelah memasuki kamar yang baru beberapa hari ditidurinya.


Reina merebahkan diri di kasurnya, menggeliat nikmat sambil memejamkan mata. Tanganya meraba, mencari keberadaan guling yang sangat ingin dipeluknya.


Namun dia tak lagi ambil pusing, setelah menemukan gulingnya,seketika dia memeluknya erat. Hingga suara serak khas lelaki mengejutkannya.


"Setidaknya cuci tangan dan kakimu dulu, dasar jorok"


suara Miko membuat mata Reina membulat seketika, tanganya meraba dan menyadari bahwa yang dipeluknya bukanlah guling. Melainkan manusia yang entah mengapa sekarang ada didekapannya.


'Mampus gue' jerit Reina dalam hati.


Reina terduduk seketika, memperhatikan Miko yang sedang berbaring santai sambil menopang kepala di sebelahnya.


"Eh, lu main masuk aja kamar perempuan. Dasar mesum" Reina berusaha mendorong Miko turun dari kasurnya.


"Pegi,pegi,pegi lu.. dasar cowok mesum"


"Hey, jangan dorong saya"


"Dasar cowok gila, ngapain sih pake masuk kamar gue. Apa perlu gue tembok tu pintu biar lo gak sembarangan keluar masuk kamar gue"


Reina berdiri disamping ranjang, menarik tangan Miko sekuat tenaganya. Namun Miko tak bergeming dia hanya duduk bersila di atas kasur dan melihat dengan santai apa yang Reina lahkukan padanya.


"Lu kuat banget sih" teriak Reina lalu melepaskan tangan Miko.


Beberapa kali Reina mengehembuskan nafasnya dalam, gadis itu terlihat lelah.

__ADS_1


'anjir, makan apa sih ni anak' batin Reina kesal.


"Saya tidak masuk ke kamar kamu" ucap Miko santai.


"Trus ngapain lu disini"


"Coba kamu buka mata lebar-lebar, ini kamar siapa"


Reina seketika menengadahkan kepalanya, melirik disegala penjuru ruangan dan menyadari bahwa kamar bernusansa abu ini bukanlah kamarnya.


"Malu?" sinis miko.


Reina hanya bisa menundukan kepalanya, wajahnya memerah bak udang rebus.


"Anjir malu-maluin" desisnya pelan.


"Sorry" ucap Reina sambil berbalik ingin kabur.


Miko mendengus sinis melihat tingkah Reina yang salah tingkah, dan saat melihat Reina ingin melarikan diri tentu saja dia tak tinggal diam. Dia dengan cepat menarik tangan gadis itu. Namun yang tidak disangka Reina malah tersandung kakinya sendiri dan membuat tubuhnya oleng, terjatuh menimpa badan Miko.


Brugh..


Cup..


Lama mereka terdiam diposisi tersebut, pupil mata Reina mulai bergerak panik ketika dia sadar bahwa bibirnya sedang mendarat di leher Miko.


'haish... anjir' jerit hati Reina.


Reina berusaha bangkit, namun Miko malah meraih tubuhnya, menarik leher nya dan mencium bibirnya. Reina membulatkan matanya tak percaya dengan kelakuan pria yang kini berada di bawah tubuhnya itu.


'dasar si mesum gila' geramnya.


Reina berusaha melepaskan diri dari 'ciuman' itu, tapi tenaganya tak cukup kuat untuk melawan otot yang ada dibadan Miko. Sedangkan Miko malah menikmati sekali adegan ini, Miko semakin menekan tengkuk gadis itu, memperdalam penyatuan bibir mereka.


Lama Miko menyesap bibir Reina meski sang empunya tak memberi respon apapun. Dia tak hentinya ******* bibir Reina yang terkatup keras. Nafasnya semakin memburu, lidahnya berkali-kali mencari celah agar bisa masuk ke rongga mulut Reina meski sang gadis tak juga melemahkan pertahanannya. Hasrat Miko semakin menggila, Bahkan tak memberikan kesempatan dirinya sendiri untuk bernafas.


Berkali-kali Reina memukul dada Miko,sekuat tenaga dia melepaskan diri dari cengkraman pria yang sedang asik dengan aktifitasnya itu.


Miko berhasil menangkap tangan Reina yang sibuk memukulinya dari tadi. Perlahan dia melepaskan ciumannya, memandang Reina intens, mencari keberadaan pupil mata yang memantulkan wajahnya, namun Reina malah menghindari tatapannya. Dilihatnya lekat wajah gadis di atas tubuhnya itu sudah merah bak tomat.


Miko berguling dan sekarang dia yang berada diatas tubuh gadis itu.


"Lihat saya" ucap Miko.


Namun Reina semakin memalingkan wajahnya, benar-benar tak berani menatap Miko. Dia tak bisa manata perasaanya, antara malu, takut, terkejut dan yang heran dia merasa sedikit bahagia.


'gue bisa gila kalo begini' batin Reina.


"This is your punishment" bisik Miko ditelinga Reina.


"But... It's not enough"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2