Cogan Kamar Sebelah

Cogan Kamar Sebelah
9. mau kemana?


__ADS_3

Setelah melampiaskan kekesalannya pada Reina, Miko beranjak memasuki kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur.


"Ah, sial nih perempuan. Bikin susah hidup saya"


"Tinggal buka mulut saja, bikin saya pusing" rutuk Miko memegang dahinya.


"Olah raga saja lah, dari pada puyeng mikirin dia"


Miko beranjak dari kamarnya, berganti pakaian olah raga dan menuju ruang Gym dirumahnya.


Sedangkan Reina masih terbenam dalam kesedihannya. Dia tak ingin jadi beban, apalagi dia baru beberapa hari tinggal dirumah ini. Rasa sungkan masih bergelayut dalam pikirannya


'sedandainya ada mama' isak reina terduduk diam sambil memeluk lututnya.


'nggak, nggak boleh begini. aku harus sembuh' tekat Reina dalam hati.


Reina pun membuka mulutnya, berusaha mengeluarkan suara dari tenggorokannya. Dia mencoba bicara namun suara itu tak terdengar sama sekali, dia pun berusaha berteriak sampai urat lehernya membiru. tapi suara itu tetap saja tak keluar.


'anjir, ni pita suara dah putus apa gimana sih'


Reina membuka mulutnya lagi, entah berapa lama dia komat kamit atau berusaha teriak sekencang mungkin, namun hanya semburan udara dari mulutnya yang keluar.


'haish, sial' Kesal Reina sambil menghentakkan kakinya di lantai beberapa kali.


'kalo begini terus, malah bikin repot ni keluarga. Belum lagi anak laki nya yang suka marah-marah itu. Mana betah gue di bentak-bentak tiap hari. Bukannya sembuh malah mati kurus'


'nggak boleh begini. Gue harus cari jalan keluar.' pikir Reina.


Hampir satu jam Reina mondar mandir tak jelas dikamarnya, dan akhirnya dia mendapat ide setelah melihat notifikasi yang tertera nama Keyla di layar HP nya.


'ah, iya Kayla. Kenapa gue nggak kepikiran dari tadi sih. Kan gue bisa numpang disana.'


'Tapi ini udah jam 11 malem. Mau naik apa gue kekontrakan Kayla.'


'Gue aja nggak bisa ngomong'


Batin Reina sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


'ah, sebodo amat lah. Penting keluar dari rumah ini dulu. Masalah kesana pake apa ya dipikir nanti aja.'


Reina pun bergegas ke kamar ganti, mengepack beberapa baju kedalam koper.


'Bawa koper satu ajalah, yang lain besok-besok kemari lagi, kalo ga ada tu cowok sial'


Reina bergegas keluar kamar, namum sebelum itu, dia menulis sesuatu di kertas yang diletakkannya di atas bantal tidurnya.


'maaf tante, Reina nggak mau tante semakin repot karna ngurusin Reina. Reina mau tinggal dirumah temen Reina, tante nggak usah khawatir' tulis Reina dalam suratnya.


Reina pun memandang sekilas kamar yang beberapa hari ini ia tempati, berusaha tersenyum meski tau keputusannya akan makin memperumit keadaan, tapi dia yakin ini adalah keputusan terbaik untuk semua orang.



Reina memyeret kopernya dengan berat hati, teringat bagaimana tante Mira sangat menyayangi dirinya selama ini. karena Reina merasa, keberadaan dirinya lah yang membuat tante Mira dan Miko saling bertengkar, maka dengan kepergiannya keluarga ini akan baik baik saja seperti sedia kala


sesampainya diluar pintu kamar, Reina berjalan mengendap-endap. Dia berusaha untuk tidak menimbulkan suara di setiap hentakan kakinya. Apalagi saat berada di depan kamar Miko. Meskipun tanpa seperti itupun, Suara langkah Reina tak mungkin bisa terdengar oleh siapapun dirumah itu.


Reina menuruni tangga sepelan mungkin, menenteng kopernya agar tak menimbulkan suara benturan. Saking fokusnya melangkahkan kaki, Reina bahkan tak melihat ada seseorang yang menunggunya dibawah tangga dengan peluh yang menetes di sekujur tubuhnya.



"Mau kemana" tegur Miko melihat Reina menenteng koper ditangan kanannya.


Reina pun menoleh kesumber suara, dan dia melihat Miko dengan hanya memakai boxer sedang menatapnya penuh tanda tanya.


Gluk...


Suara air liur yang ditelan Reina terdengar sangat nyaring saat matanya jatuh tepat melihat dada bidang Miko yang terpampang nyata di depannya.

__ADS_1


'anjir, kekar banget tu otot' batin Reina kala memandang tubuh atletis Miko.


'mampus, seksi abis' mata Reina semakin melotot melihat perut six pack itu.


Saking fokusnya pada tubuh Miko, Reina tak memeperhatikan langkah kakinya saat menuruni tangga.


"Hey pelan pe.."


Brugh


Belum sempat Miko menyelesaikan kalimatnya, Reina sudah jatuh menimpa tubuhnya.


"Aw.." desah Reina memegang dahinya yang menghantam dada Miko.


"Yang harusnya kesakitan itu saya"


"Minggir" kesal Miko pada Reina


"Hey, Bangun nggak" bentak Miko yang melihat Reina tak juga bangun, malah asik meraba perutnya.


Reina yang kaget mendengar Miko membentaknnya pun seketika bangun. Berdiri menunduk ketakutan.


'berabe nih urusan, kenapa harus ketemu dia sih'


"Kamu mau kemana"


Tanya Miko namun hanya dijawab gelengan kepala oleh Reina.


"Kenapa kamu bawa koper, ini sudah malam, kamu mau kemana"


'dih nih cowok kayak emak gue kalo nanya, gak ada titik koma'


"JAWAB SAYA, kamu mau kemana" bentak Miko.


Reina sekali lagi hanya menggeleng. Namun kali ini dia dengan berani menatap mata miko sambil menunjuk mulutnya sendiri seolah ingin mengatakan.


"Lu bego apa pikun, gue nggak bisa ngomong goblok"


'bisu pala lu. Gue cuma nggak bisa ngomong sementara, bego.. sementara.'


'Dasar cowok sialan' rutuk Reina dalam hati.


"Mana hape kamu" ulur tangan Miko pada Reina.


Reina pun terpaksa menyodorkan HP nya pada miko. Setelah itu, Miko mengetikkan beberapa nomer di HP Reina lalu mengembalikannya pada pemiliknya.


"Itu nomer WA saya"


"Sekarang kirim chat ke saya, kamu mau kemana"


Reina yang mengerti arah pembicaraan Miko pun akhirnya mengetikkan sesuatu dan mengirimkan ke Miko.


/Gue mau kerumah temen/


"Ini sudah malam dan kamu mau kerumah teman kamu"


/Iya, kalo disini gue bisa gila, elu nya ngomel terus. Gue nggak betah. Bisa makin parah trauma gue/


"hey, saya sudah berusaha menyembuhkan kamu. Bukannya terimakasih, kamu malah bilang saya memperburuk trauma kamu"


/Lah, yang bikin trauma gue kambuh sapa?, Kan elu/


Reina mempelototi wajah Miko yang tengah membaca pesan nya itu.


"Saya tidak sengaja, dan saya juga sudah minta maaf atas itu."


"Oh, jadi sekarang kamu mau minggat dan kamu mau buat mami sama papi saya jantungan kalau besok pagi mereka tidak menemukan kamu"

__ADS_1


/Gue udah tulis surat kok diatas, pokoknya gue mau kerumah Keyla/


Setelah Reina memastikan Miko membaca pesannya, dia pun menyeret kopernya kembali dan berjalan ke arah pintu. Namun dengan cepat Miko menggapai tangan Reina erat.


"Nggak, balik ke atas."


'dih sapa elu perintah-perintan gue' batin Reina makin kesal.


"Balik ke kamar" titah Miko yang hanya mendapat kerutan kening dari Reina.


"Mau balik sendiri atau saya paksa" Miko mencengkram tangan Reina paksa.


'nih cowok diktator banget. Pengen gue garuk muka nya'


Reina pun berusaha melepaskan diri dari genggaman Miko. Menghempaskan tangan yang memegangnya erat sekuat tenaga, tapi tangan itu tak bergeming sedikitpun.


'anjir, kuat banget nih cowok'


Reina melihat wajah Miko kesal, dia melepaskan koper yang dipegangnya, meraih tangan miko, lalu menggigitnya.


"Aduh"


"Hey, habis kesabaran saya sama kamu"


Tanpa aba-aba, Miko menggendong Reina ala putri. Menempatkan Reina di dada bidangnya yang tanpa sehelai kain pun menutupi, dan dia pun membawanya menaiki tangga.


Reina kaget bukan main, tak menyangka Miko senekat itu menggendongnya. Dia meronta, memukul dada Miko, bahkan menggigit bahunya. Namun Miko tak bergeming.


"Kamu mau nurut atau saya jatuhin" ancam miko.


Reina masih tetap meronta berusaha melepaskan diri dari dekapan Miko.


"Kamu ini benar-benar menyusahkan"


"Kalau kamu masih tidak bisa diam, saya akan cium kamu"


Mendengar kata cium, Reina seketika terdiam. Tak berani bergerak sedikitpun.


Mendapat reaksi Reina yang tiba-tiba menurut, Miko pun terheran. Miko semakin tersenyum geli saat memandang wajah gadis yang tadinya beringas itu, kini diam mematung di gendongannya.


'jadi hanya segini kebringasanmu' batin Miko.


Namun entah mengapa, Miko malah ingin menggodanya.


Cup..


Kecup singkat Miko dibibir Reina.


Reina tertegun, matanya melotot melihat Miko.


"Mau lagi"


Miko mengehentikan langkah kakinya, menatap intens pemilik kedua mata yang hampir keluar mempelototi wajah tampan itu.


Melihat raut terkejut Reina, Miko malah semakin ingin menjahilinya.


Dia mendekatkan kembali bibir mereka, semakin lama semakin dekat.. semakin dekat dan..


Cup...


Akhirnya Miko benar-benar mendaratkan bibirnya lagi, namun kali ini tak sesingkat yang pertama.


Miko membuka mulutnya, mengeluarkan lidah dan mengetuk lembut bibir Reina yang mengatup erat. Sedangkan Reina masih belum sepenuhnya sadar. Dia masih terdiam kaku dengan mata terbelalak, dan matanya semakin membuka lebar ketika lidah Miko berhasil menyentuh deretan gigi depannya.


"Kyaaaaaaaaa.........." Teriak Reina saat dia berhasil menjauhkan bibirnya dari pagutan panas Miko.


"Dasar Gila, brengsek, bedebah edan, setan, iblis, aaaaahhh"

__ADS_1


Miko hanya tersenyum geli mendengar segala umpatan Reina.


"Ternyata obat mu cuma dicium" bisik Miko pelan.


__ADS_2