
"Why?" Tanya Miko heran.
"Panas" ucap Reina ambigu
"We just a kiss, we haven't do anything, " heran Miko yang salah paham pada maksud Reina.
"Dasar mesum" Reina menoyor kepala Miko pelan sambil tersenyum
"Maksud gue, bibir loe panas. Loe kan demam"
"Ah, ya.. saya lupa kalau saya sakit"
Miko bergegas berdiri sambil menggendong Reina ala putri. Reina spontan merangkulkan tangannya dileher Miko, takut jatuh.
"turunin gue,gak?" teriak Reina heboh.
Cup..
Kecup Miko lalu menjatuhkan Reina diatas kasurnya pelan.
"Jangan macem-macem ya Mik."
Reina mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Miko dengan nada mengancam.
"Ya, saya tau. Saya cuma mau kamu temani saya tidur disini"
Miko menarik selimut hingga menutupi keduanya, memeluk Reina erat lalu mengecup dahi gadis itu lembut.
"Thanks a lot, and I love you so much"
"Cih, gombal banget. Tadi aja loe kasar banget"
"Hmm sorry" miko mendusel-duselkan hidungnya kerambut reina.
"Lo gak ke dokter dulu? Minimal minum obat supaya demam loe turun."
"Saya sudah ke dokter sebelum kesini, dan sudah makan dan minum obat juga."
"Really" ak percaya Reina dengan nada di buat-buat.
"Kamu pikir saya anak TK? Kamu lupa kalau saya tinggal diluar negeri sendirian selama bertahun-tahun?. Kalau cuma demam begini, belum seberapa"
"Trus kenapa tadi kayak lemes banget"
"Supaya kamu iba" ucap miko lalu mengecup dahi didepannya itu lagi.
"Dasar jahat"
"But, I love you"
Miko mencium seluruh wajah gadis itu, lalu berusaha mencium bibir nya namun Reina menghindar dengan cepat.
"Bisa geseran gak?"
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Miko heran.
"Badan loe panas, gue gak nyaman"
"Halah" Miko mendesis dan malah mendekapnya erat.
"Ntar kalo gue ketularan gimana?"
"Biar saya yang jagain sambil kelonin kamu"
"Dih, ogah.."
"Sanaan kenapa sih, Gue engap Miko.."
***
Miko dan Reina tertidur sambil pelukan, sakit Miko tak menjadi halangan, dia masih kuat memenjarakan Reina dalam pelukannya meski gadis itu berusaha melepaskan diri sekuat tenaga.
Beberapa saat kemudian, Reina terbangun, dengan pelan dia melepaskan diri dari cengkraman lelaki tampan tapi bucin itu.
'Gila ni orang makan ape si, kuat banget padahal lagi sakit' heran Reina sambil meregangkan seluruh tubuhnya.
Dilihatnya Miko sudah penuh dengan keringat dingin, bajunya basah, wajahnya penuh dengan keringat bercucuran. mungkin efek obat yang sudah diminumnya tadi pikir Reina.
Reina bergegas mengambil handuk kecil di kamar mandi, menyeka keringat di wajah Miko pelan agar dia tidak terbangun.
Selesai mengelap wajah Miko, Reina bingung harus apa lagi. Memang Demam Miko sudah lumayan turun tapi kelihatannya dia lelah sekali sampai tak terbangun saat Reina mengelap keringatnya.
Reina bergegas kebawah, namun tak dijumpainya satupun orang. Ya, ini kan weekend. Pegawai semua libur kecuali penjaga keamanan. Dia memperhatikan sekitar rumah yang sepi seperti kuburan.
"Rumah gede tapi gak ada orangnya, berasa di film horor." Gidik Reina lalu bergegas menuju dapur.
dia memanggil bi inah, namun tak ada sahutan sama sekali, padahal biasanya satu panggilan saja bi inah langsung mak bedunduk nongol entah dari mana asalnya. Dia juga pergi mencari dikamarnya, tapi tetap saja, nihil.
"Bi inah belum pulang,ya?" Gumamnya.
Dilihatnya jam dinding menunjukkan pukul 5 sore.
"Apa gue telfon aja ya?"pikirnya lalu menunuju telfon rumah.
'Biasanya ada Mami sama Papi, tapi ini gak ada orang sama sekali. Ternyata gak enak juga dirumah sendirian' batin Reina.
Setelah memastika keberadaan Bi inah yang tak mungkin pulang secepat kilat, apalagi bi inah harus menjaga temannya tersebut karena keluarganya sedang pulang mengambil keperluan dirumah, sudah dipastikan jika bi inah akan pulang malam.
Reina tak bisa bilang jika Miko sakit, timbang demam doang masak harus bikin ribut semua orang pikirnya. Jadi dia berusaha memasak sendiri bubur yang dia dapat dari resep Google,
Dimulai dari mengikat rambutnya ekor kuda, dia menuj
u kulkas dan membukanya. Sesekali Reina juga mengaduk laci-laci tempat bumbu dapur di sembuyikan dan juga mengobrak abrik isi lemari persembunyian bahan pangan dirumah tersebut.
Setelah berkutat satu jam, akhirnya dia berhasil menyelesaikan sepanci kecil bubur sayur yang resepnya sudah dimodifikasi olehnya. Saat resep tertulis agar menambahkan daging cincang, dia malah menambahkan telur. Reina tidak mau ribet harus mencincang daging yang prosesnya lama, lagian sama-sama protein katanya.
Entah bagaimana rasanya.
__ADS_1
"Huft, gue emang punya bakat jadi chef ternyata" bangganya sambil mengecilkan api kompor, menunggu ainya susut.
"Tapi, berantakan banget ni dapur" heranya saat melihat sekelilingnya.
"Bodo ah, biar dibersihin bi inah ntar kalo dia pulang, gue mandi dulu aja, bau gue dah kayak ikan busuk." lalunya kembali ke kamar.
Hampir 20 menit Reina berada di kamar mandi, entah apa yang dia mandikan sampai butuh waktu selama itu.
setelah selesai, Dia pun bergegas melihat Miko yang masih tidur ala prince di kamarnya.
"Gue bangunin apa ya?, Tapi kesian juga, pules gini"
"Eh, buset" kaget Reina tiba-tiba yang ingat dia sedang meninggalkan bubur di dapur dengan api masih menyala.
"Tar aja deh gue bangunin dia. Gue siapin buburnya aja dulu. Biar pas dimakan gak terlalu panas"
Reina bergegas kedapur,mengecek keadaan buburnya yang hampir saja gosong.
"Anjay.. masih bisa dimakan kagak nih" batinya melihat bubur buatannya hampir kering di panci.
Dia mengambil mangkuk dan menyendokan bubur yang masih bisa diselamatkan, masih layak makan.
Reina juga membuat secangkir teh hangat untuk menemani bubur buatannya. Lalu hendak meletakkan 'para' hasil karyanya itu di meja makan.
"eh, tapi gak menarik banget ni makanan, gue hias dikit deh" idenya.
dia lalu mencari stroberi , mengirisnya beberapa potong lalu menaruhnya sebagai toping bubur.
'ni bubur konsep nya apaan sih' gidiknya geli sendiri
belum selesai dia menghias , tiba-tiba dia dikejutkan dengan seseorang yang memeluknya dari belakang.
"Astaga" pekiknya saat membalikkan badan.
Wajah yang tampan, Dada yang bidang, Aroma Semerbak wangi maskulin menghampiri hidung Reina, terlihat Miko sudah mandi.
cleguk..
Reina menelan saliva berulang kali, tak mungkin ada gadis yang tahan dengan pesona lelaki didepannya ini.
'mampus' bisik Reina saat matanya tepat menatap bibir seksi Miko.
dia segera balik badan dan memejamkan matanya sebentar, meraba kesadaran agar tak khilaf untuk sesaat, dengan tangan gemetar dia membubuhkan sisa-sisa stroberi yang diirisnya.
Miko yang sadar, tersenyum nakal.
dia mencondongkan tubuhnya hingga membuat Reina salah tingkah. Dan Dia pun berbisik manis ditelinga sang gadis.
"Sayangku"
Bersambung...
__ADS_1