Cogan Kamar Sebelah

Cogan Kamar Sebelah
26. Miko sakit


__ADS_3

Hari ini Reina sendirian dirumah, hanya di temani bi inah ART senior, namun beliau juga sibuk lalu lalang menata segala hal di rumah tersebut.


Dua hari sudah Mami dan papi pergi ke Australia untuk mengurus bisnis mereka disana. Reina hanya berteman beberapa pembatu dirumah dan beberapa pegawai lainnya. Namun saat akhir pekan (Minggu) semua pegawai rumah itu diliburkan oleh sang nyonya kecuali bi Inah dan para pekerja keamanan.


Mami tidak ingin menghalangi quality time orang lain meski itu merupakan asisten rumah tangga, karena mami tau bahwa keluarga juga butuh hari dimana kebersamaan itu dibutuhkan.


Sebenarnya nyonya Jeneva sangatlah suka keramaian tapi Miko yang mandiri sejak dini membuatnya kesepian. Bahkan saat Miko ulang tahun pun, Mami tak bisa merayakannya karena Miko selalu menolak setelah menginjak usia 10 tahun.


Bi Inah yang merupakan pembantu senior dirumah itu memang tak pernah libur diakhir pekan karena selain kampungnya jauh dia juga seorang janda yang anak-anaknya sudah besar, dia hanya cuti dihari-hari tertentu jika memang diperlukan.


Mami dan Papi bilang ke Reina jika urusan bisnis mereka di Ausie selesai, mereka akan menyambangi 'besan' alias mama dan papa Reina di amerika.


Bukannya Reina tak diajak tapi Reina lah yang tidak mau ikut karena setiap hari mama nya selalu mengabarinya jadi kangen itu tidak terlalu menggebu katanya.


Sabtu ini Reina libur kuliah, karena bosen dirumah dia berencana nongki bersama bestie-bestienya. Namun karena Keyla yang tiba-tiba punya janji nge-date bersama kakak senior, dan Vina yang sedang sibuk dengan ekskul nya. Reina jadi terbaring di sofa ruang keluarga jeneva dengan muka masam sendirian.


"Dasar bestie gak punya akhlak" geram Reina membanting HP nya disofa.


Reina bukannya tak punya teman selain mereka, namun kepribadiannya yang jarang percaya pada orang lain membuatnya selalu waspada saat memilih teman hang out.


"Nona mau makan siang apa, biar saya siapkan dari sekarang. meskipun tidak seenak koki yang biasanya, tapi masih bisa dimakan kok non" canda bi inah yang melihat nyonya mudanya bergumam sendirian sambil memencet remot tv sembarangan.


"Apa aja deh bi, yang ada aja" meringis Reina.


"ya sudah kalau gitu, nanti saya siapkan di meja makan. kalau sudah selesai nona tinggal saja biar saya bereskan nanti, soalnya saya mau keluar sebentar"


"bibi mau kemana?"


"saya mau pergi jenguk teman, nona gak papa kan sendirian? kalau butuh apa pun bisa langsung telfon saya, atau bisa minta tolong pada para penjaga rumah di depan" ijin bi inah sopan.


"oh, gak pa pa bi. saya gak butuh apapun kok. bibi gak usah bingung balik rumah, santai aja"


"baik non, terimakasih"


***


Setelah makan siang dan mencuci piring, Reina yang tak ada kerjaan pun memutuskan tidur siang saja demi menyalurkan jiwa rebahannya yang sudah mendarah daging. Namun setelah berusaha memejamkan matanya beberapa saat tanpa ada hasil, dia mendengar suara keluh seorang pria dari kamar sebelahnya.


Mata Reina auto melotot, "Miko, pulang?" Bangunnya antusias


Dia langsung berjingkat, lari menghampiri pintu tembus kamar mereka, membuka sedikit pintu itu lalu mendongakan kepalanya ke dalam kamar Miko


Dilihatnya Miko sedang bergelung dengan selimut dengan mata terpejam dan sesekali dia mengeluh lirih sambil memegang kepalanya.


"Dia kenapa?"bisik reina pelan.


Dia mendekati miko pelan


'apa dia sakit' pikirnya.


karena penasaran dia hendak menjulurkan tangannya, akan memegang dahi miko.


Takh..


tak disangka, Miko segera menepis tangan Reina sebelum sampai di jidat putih mulus bak oppa korea itu.


"OUT" teriak Miko dalam satu kata.


"Lo sakit?"lirih Reina


"Get Out" bentak Miko tanpa meperdulikan pertanyaan Reina.


"Kok gitu sih, gue kan nanya baik-baik Mik" kesal Reina yang di teriaki dua kali oleh orang yang terbaring didepannya itu.


"I feel bad, so keluar sekarang juga dari kamar saya. Saya gak mau ketemu anda"


"Anda, anda.. formal banget loe kek dasi kupu-kupu."


"Lagian, kalo ketemu gue emang ngapa?, Gue bawa virus?" Dengusnya


"I'm not Kidding, please get out from here"

__ADS_1


"Loe ngambek ke gue ya?, Sampe lo minggat dari rumah?"


Miko tak menjawab, dia malah berguling memunggungi Reina.


"Dih, jawab"


Reina naik ke atas ranjang, berusaha membalik badan Miko. Saat tanggannya meneyetuh kulit lelaki yang mengacuhkannya itu, dia pun auto kaget.


"Buset, panas banget"


Dia menyentuh dahi Miko lalu dahi nya sendiri berulang kali untuk memastikan perbedaan suhu mereka.


"Gimana nih, loe demam mik" kaget Reina hingga membuat nya mematung sejenak sebelum mondar mandir kebingungan sendiri disebelah ranjang Miko.


"Uhuk uhuk" batuk Miko sebelum dia membuka matanya dan melihat Reina panik sendiri.


"Gimana dong, gue panggil dokter?.. eh bi inah?.. apa gue telfon mami dulu?.. nomer dokternya mana? Namanya siapa?.. apa gue kasih tau Ken?"


"gue harus ngapain ini"


reina semakin mempercepat langkahnya karena parno sendiri.


"Saya pusing lihat kamu, bisa tidak jangan mondar mandir disini"


"Gimana gue gak panik, loe sakit. Mami papi loe gak ada?"


"Saya bukan bayi, saya bisa jaga diri saya sendiri. Sekarang kamu keluar dari kamar saya"


"Gak mau, loe sakit. Mik"


"saya baik-baik saja, kamu keluar saja"


"Gue kompres ya?" Tawar Reina.


"Tidak usah"


"Gue panggilin dokter?"


"Gue ambilin obat ya"


"apa makan dulu?, ah tapi gak ada apapu didapur abis gue makan tadi, gue harus masak dulu dong, tapi badan loe panas banget. keburu step ntar" tanyanya sendiri yang juga dijawab sendiri olehnya.


"No, i'm okey, keluar saja dari sini"


"oke deh, minum paracetamol dulu gak apa kali ya"


"Tunggu bentar" reina seolah tuli karena tak menggubris ucapan Miko sama sekali yang membuat Miko mendesis jengkel.


Reina keluar dari kamar miko, namun Sebentar saja, Reina sudah kembali dengan obat penurun panas dan segelas air ditangannya.


"Nih, minum dulu" sodor Reina.


Takh.. prang..


dengan kejam Miko menepis semuanya hingga obat dan gelas berisi air itu pecah berceceran di lantai.


"loe tu maunya apa sih" kesal Reina.


"GET OUT FROM HERE" teriak Miko penuh amarah sambil menunjuk pintu kamar, memberitahu Reina agar segera keluar dari kamarnya.


"Loe kenapa sih, dari tadi usir gue mulu?"


"Karna saya benci kamu" ucap Miko tanpa ekspresi.


"Benci, ke gue?" Heran Reina sambil menunjuk hidungnya sendiri kesal.


"yes, sebenarnya saya enggan pulang. Tapi karna saya sakit, mami memaksa saya pulang agar bisa dirawat orang rumah. Tapi tenyata cuma ada kamu" geramnya lalu memejamkan mata kembali.


'emang napa kalo cuma gue?, Loe pikir gue gak bisa ngerawat orang sakit?'


Reina tak terima ucapan Miko, benci dia bilang? Bukannya beberapa minggu lalu miko baru saja nembak dirinya. Secepat itu kah cinta jadi benci?

__ADS_1


"Gue yang pikun apa elo yang amnesia? Bukannya beberapa hari lalu loe bilang cinta ke gue? Kenapa sekarang loe bilang benci?" Tanya Reina dengan tangan bersendekap dada menahan marah.


"Mungkin anda yang amnesia, bukannya anda juga bilang kalau kita hanya kakak-adik ke mami?"


"Jadi lo marah gegara itu?"


Hening, tak ada sahutan apapun dari Miko.


"Jawab Mik?, Loe marah gegara gue bilang kita cuma kakak-adik"


"Yes I hate you"


"Loe udah gak butuh jawaban dari pernyataan loe tempo hari?"


"When you said, we just brother and sister. Is'nt an answer?"


"NO, it's Big No. I love you but it's not easy" bentak Reina yang membuat Miko seketika membuka mata.


"Loe gila apa gimana sih, meskipun sebenernya gue sayang sama elo, Gue gak mungkin kan bilang ke mami 'ya mami, saya suka anak mami,bolehkah kami pacaran?'"


"Trus mami loe bakal mikir, ni anak udah nyusahin, maunya numpang gratis disini, tapi malah mau godain anak laki gue, enak aja, dikasih hati minta jantung" jelas Reina menggebu-gebu.


"Mau ditaruh dimana muka gue, harga diri keluarga gue? Dan lagi Keluarga gue udah seenaknya nitipin gue kesini, seenggaknya gue harus punya sopan santun dong? Apa kata mami loe kalo sampe kita pacaran?, Bukannya ngasih restu, gue bakal diusir. Dan yang lebih parah mami loe bakal musuhin mama gue karna nganggep mama gue emang sengaja ngirim anaknya kesini buat godain anak sahabatnya yang super ganteng dan super kaya"


"loe gak ngerti perasaan gue"


"Trus gimana gue jelasin ke mama gue? Mama gue bakal marah sama gue karna nganggep gue gak punya adap, gak punya sopan, bisa-bisanya bertingkah di rumah orang." Cerocos reina tak berhenti.


"Gue gak mau keluarga kita jadi canggung, gue gak mau memicu masalah yang sebenernya gak perlu di perdebatin, gue gak mau mami dan mama marahan cuma karna ke egoisan gue."


"Lagian gue tau diri kok, kalo gue penyakitan." Reina mulai berkaca-kaca saat melanjutkan ucapannya.


"Dan sakit mental itu gak akan ada orang yang bakal terima gue apa adanya. Mungkin sekarang loe bisa bilang sayang ke gue, tapi saat penyakit gue kambuh atau bahkan makin parah. Gue bakal jadi beban, dan loe bakal ninggalin gue." Reina mulai menangis tersedu


"Hik, Gue cuma gak mau sakit hati, dari dulu gue menghindar dari yang namanya cinta. Karna gue sadar, gue gak pantes"


"Lalu loe dateng, loe kasih perhatian. Lo bilang sayang, meskipun loe jail, tapi gue tau kalo tempramen gue keras, loe lakuin itu biar gue nyaman tinggal disini. Dan.. dan loe yang bikin ilang first kiss gue huaa..?" mewek Reina


"Hiks, Lalu entah sejak kapan gue jadi sayang ke elo. Ta.. tapi gue harus gimana?" Hiks hiks...


"Gue lagi mikir gimana caranya gue bisa nolak loe secara halus, Tapi loe malah pergi ninggalin gue, loe dengan tega pindah apartemen berminggu-minggu, loe minggat tanpa kabar. Loe pikir gue gak cemas? Loe pikir gue gak bingung?, Gue mau hubungin loe duluan, tapi gue gengsi.. gue gak mau ngakuin kalo gue sayang ke elo" Reina terduduk, menangkupkan kedua tangan kewajahnya, menangis tersedu tanpa suara.


Miko tersenyum, dia bangkit dari tidurnya. Menghampiri Reina lalu duduk memeluknya.


"Beneran kamu cinta saya?" Tanyanya lirih.


Reina tak menjawab, dia hanya menggangguk dua kali lalu dengan pelan Miko menengadahkan wajah Reina untuk menatap senyum nya yang mengembang sejak Reina bilang I love You pertama kali.


"Hiks, loe kok malah cengengesan sih"


"Saya bahagia, ternyata benar kata mami. Saya harus jauh dari kamu dulu supaya kamu sadar betapa pentingnya saya"


"Hah, maksudnya?"


"Rahasia" bisik Miko sebelum mengecup lembut bibir gadis yang ada dipelukannya itu.


"I love you" ucap Miko tanpa Ragu.


Reina tersenyum, dia merengkuh belakang kepala Miko lalu perlahan mencium bibir Miko duluan. Sedangkan Miko semakin mempererat pelukannya.


Reina sudah tak sepolos dulu lagi, saat Bibir mereka saling bertemu, dia dengan inisiatif membuka mulutnya, mencari seluruh jejak kalimat I love you yang barusan terlontar dari dalam sana. Menyapu bersih semuanya tanpa sisa. Lidah mereka yang saling beradu semakin lama semakin ekstrem hingga keduanya terpaksa melepas pagutan sebelum lebas kendali.


Mereka berdua bertatapan, sedetik kemudian Reina teertawa kecil saat memandangi manik mata yang melihatnya dengan penuh cinta.


"Why?" Tanya Miko heran.


"Panas" ucap Reina ambigu


"We just a kiss, we haven't do anything, " heran Miko yang salah paham pada maksud Reina.


"Dasar mesum" Reina menoyor kepala Miko pelan sambil tersenyum

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2