Cogan Kamar Sebelah

Cogan Kamar Sebelah
20. minta izin


__ADS_3

Reina dan Sahabat-sahabatnya berjalan santai menuju parkiran. Setelah kelar kelas, mereka berencana 'ngemall'. Namun, sebuah notifikasi WA menghentikan langkah Reina.


Tring..


/saya udah didepan/ chat WA Miko pada Reina.


"On time banget ni bocah"


"Apaan sih" ucap Keyla usil ingin mengintip chat di HP Reina.


"Dasar kepo"


"Yee... Biarin"


"Waahh Sini lo, gue jitak"


Reina pun mengejar Keyla sambil tertawa terbahak, mengelilingi sebuah mobil yang terparkir entah punya siapa seperti anak kecil.


"Kalian ih, becanda mulu" seru Vina yang memperhatikan tingkah konyol dua sahabatnya itu.


"Ayolah, keburu sore. Ntar Reina keburu di kandangin" Lanjutn


"Anjir, kambing kali ah di kandangin" gelak Reina


"Abisnya sejak kuliah lo susah banget diajakin keluar."


"Ya, maap"


"Maklumin ajalah, sekarang kan dia jadi anak mami, beda sama dulu yang kalo dia ilang emaknya kagak bakal nyari'in, soalnya makannya banyak" ledek Keyla sambil terbahak


"Dih, setan lo pada" cemberut Reina.


"Udah ah, ayok.. kok malah main lempar slipah sih kalian"


"Hahaha upin ipin kali ah" gelak Keyla semakin keras.


"Kayaknya gue gak bisa deh"


"Eh"


"Ngapa" bareng Keyla dan Vina.


"Udah dijemput"


Reina memperlihatkan chat dari Miko ke kedua temannya itu.


"Yaaahh... Tu kan, dikandangin"


"Ah, lo Vin. Bilang gue dikandangin lagi, gue cium nih"


"Lo sekarang punya pawang ya Na"


"Pawang pala lu, gak lah. Jan ngadi-ngadi dong Key"


"Lah itu"


"trus gimana, kita gak jadi hang out dong" cemberut Vina


"sorry deh, lain kali aja ya. Ntar kalo majikan gue marah, gue bisa diusir. Maaf ya" pinta Reina sambil menangkupkan kedua tangannya.


"Ya udah deh, pulang sono pulaaang" kesal Keyla.


"Kok ngambek sih, sorry Key"


"Tapi kan ini masih sore Na, ngomong aja sama Miko, loe mau pergi sama kita. Pasti di ijinin kok" sela Vina.


"Gimana ya, gue berani gak ya. Miko tu serem banget anjir"


"Kita berdua deh yang bilang" inisiatif Vina


"Loe berani vin?" Bareng Reina dan Keyla.


"Hah?" Cengo Vina


"Gue sih, ngeri" gidik Keyla


"Trus gimana dong, gue kan mau cari baju2. Kan loe tau sendiri Key, Baju-baju kita kan masih diloundry" sedih Vina.


"Hah, ya udah deh ayok. Kita minta ijin ke si Miko. Demi temen kita"


"demi loe pada kali, demi gue apaan"


"demi lo lah, biar lo bisa cuci mata juga"


"ya deh, iya.. serah kalian"


"trus, dia Dimana?"


"Depan kampus"


Mereka bertiga bergegas menuju tempat Miko memarkir mobilnya, dari kejauhan Reina menunjuk sebuah mobil sedan hitam mewah pada teman-temannya. dan mereka pun bergegas menghampirinya.


Setelah didekat mobil, Vina menarik Keyla untuk berhenti sejenak, sedangkan Reina dibiarkannya ngeloyor sendiri mengetok pintu mobil abang gadungannya itu.


Vina segera merapikan baju serta riasannya. Mengedip-ngedipkan mata manjah bahkan mencepak-cepakkan lipstik mate yang sudah kering di bibirnya itu sambil berkaca di layar ponselnya.


"Dih, ganjen banget sih" desis Keyla pada Vina.


Keyla melipat kedua tangannya kesal saat melihat betapa hebohnya Vina.

__ADS_1


"Loe tu bikin lama Vin"


"Bentaran"


"Apaan sih"


"Bentar doang, gue rapiin muka gua dulu. Mau ketemu cowo ganteng, boleh dong jual tampang dikit" kedip Vina manjah


"Lah, pede parah"


"Ya kalau gue jadi nyonya Jeneva kan loe juga yang untung"


"Dih najis. Miko juga liat2 kali kalau mau milih istri. Modelan kayak loe mah, paling bagus juga jadi ART"


"Jahatnya itu mulut"


"biarin, wee..."


"Udah lah, ayok.."


"Bentaran dong, gue rapin lipstik gue"


"pecuma Vin, loe dandan ampe abis bedak sekarung juga gak bakal dilirik"


"Lah ngapa?"


"Noh liat, percuma juga loe jual muarah, semuanya dah di borong abis sama Reina" tunjuk Keyla pada Miko yang tersenyum lebar saat mengusap lembut kepala Reina.


"Astogeh, mereka pacaran?" Vina menutup mulutnya melihat tingkah Reina dan Miko.


"Ada gitu orang pacaran tapi pas kepala pacarnya di usap,malah kaki cowoknya ditendang sambil ngomel begitu?" Jelas Keyla pada Vina yang masih melongo menyaksikan Reina marah-marah pada Miko.


"Iya juga sih"


"Kita kesana aja lah, ntar keburu Miko babak belur di hajar tu anak"


Keyla spontan menyeret tangan Vina, mempercepat langkah mendekati dua orang yang sedang ribut itu.


"Hallo, pak" sapa sopan Keyla pada Miko.


"Ha.. hallo pak ganteng, eh pak Miko" senyum Vina centil.


"Hay, you know me?" Tanya miko heran.


"Kami teman Reina yang tempo hari debat sama bapak pas bapak paksa Reina pulang" jawab Keyla


Miko mengerutkan alisnya, berusaha mengingat dua wajah yang kini menatapnya dengan wajah penuh harao, namun Miko sedikit tak suka mendengar jawaban Keyla yang menyebut bahwa dirinya memaksa Reina pulang tempo hari.


"Mereka itu sahabat gue, gak usah pasang tampang preman dong" kesal Reina melihat raut wajah Miko.


"So?"


"No" singkat Miko


"Dih, kenapa No sih"


"You Know, saya orang yang on time. Waktunya pulang ya pulang. Main ya main. Sekarang waktunya pulang, so.. saya tidak ijinkan"


"Dih, lo kan bukan bapak gue. Kenapa ngatur?"


"Mau saya marah?"


Reina seketika diam mendengar ancaman Miko.


"Please lah pak, sejak kami kuliah, kami belum pernah main bareng lagi. Ijinin ya pak" rayu Vina.


"Liat tuh pak, tampang Reina sedih banget" lanjutnya.


"Kalian mau kemana?"


"Ke mall" seru Keyla dan Vina bareng.


"Mall lagi?" Tanya Miko pada Reina.


"Kan kemaren gue sendirian, beda situasi dong kalau main ke mall sama mereka" jelas Gadis berkuncir kuda didepannya itu.


"Boleh?" lanjutnya.


"Tapi saya masih ada meeting"


"Wah, silahkan tuan muda.. saya persilahkan anda pergi meeting dengan nyaman"


Senyum Reina girang yang kemudian mendapat jitakan jari dari Miko.


"Aw.. saaakiit" desisnya.


"dasae bandel" cebik sayang Miko.


"lha terus, apa hubungannya meeting lo sama rencana ngemall kita."


"saya gak bisa menemani kamu"


"dih, siapa juga yang mau ditemenin elu. kagak"


"kamu lupa apa kata mami?"


"kemana-mana gue harus sama elu"


"nah"

__ADS_1


"Ehem" dehem Keyla melerai perdebatan Miko dan Keyla.


"Jadi gimana pak, diizinin gak?"


"gak" jawab Miko


"kok gitu, bodo ah, lo ga ijinin juga gue bakal tetep pergi" ngambek Reina


"baiklah, kamu boleh pergi. tapi saya telfon bodyguard dulu buat kawal kamu"


"emang gue anak presiden, gak usah ngaco dong Mik"


"saya gak mau ambil resiko"


"ya gak harus pake bodyguard juga dong"


"baiklah, kamu ditemani ken saja"


"sama aja dong"


"mau atau tidak pergi sama sekali".


"haish, ya udah oke"


"good girl" senyum Miko penuh kemenangan.


Setelah Miko menelfon Ken, menyuruhnya segera ke Mall menemani Reina dan teman-temannya belanja. Miko mengantar Reina ke Mall. sedangkan Keyla dan Vina menaiki mobil mereka sendiri.


sepanjang perjalanan Reina hanya diam memperhtikan jalanan. sesekali dia juga melirik Miko yang menyetir dengan tampan.


"apa?" ucap Miko saat mereka bertemu tatap.


"gak ada"


"coba, mana tangan kamu"


"buat apaan"


"nurut saja kenapa sih, nanya terus"


"abisnya kalo lo yang suruh, bawaanya horor"


"udah jangan banyak omong, sini. mana tangannya"


Reina mengulurkan tangan kanannnya, lalu Miko merogoh saku dalam jas nya, mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dan meletakkannya ditangan Reina


"apa nih"


"Kartu kredit unlimit, bodoh" seru Miko.


"ya tau, kenapa lo kasih gue"


"katanya kamu mau belanja. pake itu"


"gak mau ah, lo pikir emak bapak gue gak kasih gue uang jajan"


"saya tau, tapi pakai saja kenapa sih. gak usah bantah saya terus. dikasih enak malah gak mau"


"bukannya gak mau, cuman gue curiga. kalau elo yang kasih, ujungnya pasti gak enak"


"enak kok, kata siapa gak enak"


"gak percaya"


"mau percaya?" tanya Miko dengan senyum nakalnya.


"apaan sih, jan senyum gitu. gue ngeri" Reina bergidik sendiri melihat senyum Miko


Miko pun segera menepikan mobilnya.


"mo apa lo"


'firasat gue gak enak' batin Reina.


"ngapa lo berenti?"


Miko tak menjawab, dia melepas sabuk pengamannnya. mendekat kearah Reina yang spontan memundurkan badannya kebelakang.


"jan gila lo mik" bentak Reina.


"gue bisikin sesuatu" ucap pelan miko


"gak usah bisik2, gak ada orang juga"


Reina merangkul dirinya sendiri, takut akan tingkah jahil Miko yang tiba-tiba.


"sudah, sini"


suara Miko semakin memelan, hingga Reina mau tidak mau akhirnya percaya dan mendekat kearahnya.


Namun saat Reina semakin mendekat, Miko malah menunjukkan senyum jahil nya.



dia lalu menarik dagu gadis itu untuk di cium pipi kanan dan kirinya.


"udah saya bilang, enak kan?" bisik Miko pelan lalu mengecup singkat bibir Reina.


"MIKO" teriak Reina sambil mengusap pipi dan bibirnya yang di cium lelaki itu.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2