
"mau dianterin pulang neng?"
senyum Ibra manis menanggalkan helm hitamnya.
"gak,thanks" singkat Reina lalu menyadarkan lagi kepalanya ditiang halte, kembali memainkan ponselnya.
"judes banget sih, emang kenapa gak mau dianter?"
Ibra turun dari motornya, mengahmpiri gadis itu lalu duduk disebelahnya.
"ya gak pengen aja, lagian lo tau banget sih gue ada dimana dan jadwal gue pulang kampus. berasa di pasangin GPS deh?"
"haha ya gak lah, abisnya aura lo tu suka nusuk mata gue.. jadi dimana ada loe, radar gue pasti nyambung"
"dih, lebay" gidik geli Reina
"duduknya agak sana boleh gak?, risih gue diliatin fans lo"
Ibra melirik sekitar, melihat banyak orang dihalte itu memperhatikan mereka berdua dengan pandangan kepo. tapi dia tidak perduli.
"gue mau manggung dicafe kayak biasanya, lo gak mau ikut? ntar gue anterin sampe rumah kalo udah selese"
"jangan sekarang deh kak, gue lagi mode anak ilang, bakal dicariin kalau kelayapan"
"hah, kenapa emang?"
"lagi disuruh jadi anak sholekah" Reina menyunggingkan senyum meringis nya pada ibra.
"sama abang loe?"
"hmm"
"kan kita cuman ke cafe, gak ke bar"
"tetep aja, apalagi sama loe, bisa dibunuh gue"
"abang lo kejam amat sih"
'abang dari hongkong' batin Reina
"ya gitulah pokoknya"
"ya udah, gue anterin kerumah aja langsung"
"kagak, lo pergi aja deh, kak"
"lo sendirian dong disini?"
"kayak sebelum lo kesini gue gak sendirian aja" sinis Reina
"dasar" gemas Ibra menoyor kepala Reina
"ih, sakit bego"
"kalau gak aja jadwal manggung pasti gue temenin lo disini, gimana dong?"
"ya lu pegi aja"
"gue tinggal beneran nih?"
"ya.. sana lo, pegi.. go.. go" usir Reina melambaikan tangannya acuh
__ADS_1
"ya udah deh, bye cantik" kiss bye Ibra pada Reina sebelum menyalakan motornya.
"dih, jijik gue" gelak Reina tertawa
hampir satu setengah jam Reina menunggu jemputannya. entah sudah berapa kali Reina mengirim WA pada Miko, dari isi chat yang kata-katanya baik sampai makian via voice chat dia lontarkan karena sang empunya tak juga membaca pesan nya.
"brengsek ni anak, tau gini tadi gue pulang sama ibra"
saking pegalnya menunggy, Reina sampai mondar mandir balik kanan puter kiri, duduk lagi sampai lompat-lompat tak jelas namun Miko tetap tak memperlihatkan batang hidungnya meski chat Reina sudah bercentang biru.
"anjir, duduk disini lima menit lagi bisa tumbuh pohon rambutan di pala gue" decak kesal Reina sambil mengetuk-ngetukkan pelan kepalanya di tiang halte.
ditengah gerutuannya, sebuah sedan hitam yang sangat dinanti Reina itupun tiba. namun alangkah makin kesalnya dia karena yang menjemputnya adalah Ken, asisten Miko.
"mana boss lo kak?" bentak Kesal Reina setelah Ken turun dari mobil.
"tuan sedang ada rapat penting non"
"lah, gue nunggu dia satu setengah jam. dia masih nyuruh elo jemput gue? setan bener nih bocah. tau gitu gue pulang dari tadi" gedek Reina.
"tuan sedang rapat dengan insvestor dari jepang, dan tidak mungkin diwakilkan jadi saya yang disuruh jemput nona"
"bodo ah, kesel gue lama-lama sama Miko. di PHP in mulu perasaan"
Ken bergegas membuka pintu mobil saat melihat Reina beranjak dari duduknya. dan seketika mata Reina membelalak, melirik Ken sesaat sebelum pandangannya tertuju lagi pada benda di atas kursi yang akan dia naiki.
"apaan nih kak?" tanyanya heran melihat sebuah bucket bunga bersandar rapi di tempat duduknya.
"tuan bilang, saya disuruh memberikan nona bunga sebagai ucapan minta maaf"
"dipikir gue susana, bakal luluh dikasih kembang"
Ken hanya tersenyum menanggapi candaan nona nya itu.
"loh, non kok dibuang. kan rusak bunganya"
"biarin, udah naik. ntar aku turun nih"
ken bergegas masuk mobil, mengemudikan mobil sesegera mungkin, menghindari amarah Teina yang terlihat dari raut wajahnya.
"jangan beresin itu bunga, biar dia tau kalau gue ngambek" perintah Reina pada Ken yang fokus nyetir.
"baik non"
'ini sih, saya yang jadi tumbal tuan Miko' batin Ken.
sampai Rumah, Reina langsung menuju kamar. merebahkan badanya yang sudah ingin di istirahatkan dari tadi.
"sialan Miko, satu setengah jam gue nunggu, dia cuman kasih kembang?, gak ada permintaan maaf pula."
"baru juga calon pacar, gue udah di kibulin. gimana kalau pacaran?"
"bisa-bisa gue masuk kisah nyata nya Indosiar" kesal Reina.
"gak gak gak.. gue gak boleh pacaran sama dia, makan ati yang ada"
"gue harus tolak dia, oke fix, gue tolak" yakin Reina.
"tapi gak lucu kalau dia tiba-tiba muncul dari pintu itu kan?" pikir Reina melihat pintu sambung kamarnya.
"bisa gue cakar kalau ketemu muka dia" geramnya sebelum beranjak dari kasurnya.
__ADS_1
Reina menyeret sofa kecil dikamarnya, lalu laci disamping tempat tidurnya, berusaha menghalangi pintu hubung kamar mereka. setelah itu dia menindih laci itu dengan kursi riasnya, dan segala macam benda yang bisa menghalangi pintu itu, dia seret kesana.
"seenggaknya dia gak bisa masuk kamar gue lewat pintu ini" kesalnya setelah selesai.
"kalau masih bisa, besok gue minta mami nembok ni pintu"
***
Minggu pagi, Reina merasa memang waktunya dia bangun siang. tak ada kuliah apa lagi jadwal kegiatan. pokoknya hari ini dia jadwalkan untuk rebahan.
Dari semalam, dia sudah menyelesaikan berbagai tugas kuliah yang menumpuk, dia bahkan sudah meng-Email-kan makalah yang tempo hari diminta dosen. Reina juga sudah berpesan pada mami dan para Bibi dirumah itu kalau dia tidak ingin dibangunkan, karena selain dia lelah jasmani, dia juga sedang healing rohaninya yang sudah dibikin emosi oleh Miko kemarin siang.
"sayang, bangun" bisik seseorang ditelinga Reina yang matanya masih tertutup rapat.
tak ada tanda pergerakan dari Reina, bahkan tangannya makin melingkar erat di tubuh orang itu.
cup..
safu kecupan mendarat di kening Reina, namun gadia itu masih tak sadarkan diri juga.
"oke.. kalau gak mau bangun. kita tidur lagi" gumamnya lalu membenarkan posisi selimut yang membungkus mereka berdua. mendekap erat pelukkannya.
Matahari semakin terik, terdengar suara ketukan dari pintu. semakin lama semakin keras diikuti suara nyaring mami dibalik pintu.
"Na, bangun sayang. udah jam 12 siang. kamu belum sarapan. makan dulu baru tidur lagi. Na.."
beberapa kali mami memanggi nama Reina. tak ada sahutan bahkan apalagi tanda-tand pintu akan terbuka. tapi karena mami tak menyerah, akhirnya Reina pun sadar dari keterlelapannya.
"hooahmm, iya mi.. ntar Reina turun" jawabnya masih setengah sadar.
sebelum membuka matanya, sejenak Reina terdiam, ada yang aneh pada posisi tidurnya. dia membatin sebentar lalu dengan pelan membuka mata, sungguh terkejutnya dia melihat sebuah jakun tepat di depannya
bola mata Reina memutar jengah, tanpa mendongak dan melihat wajahnya pun, dia tau betul siapa yang kini tidur dipelukannya. dari aroma tubuh dan posturnya, dia yakin sekali kalau itu Miko.
'perasaan tu pintu udah gue halangin, kenapa dia bisa masuk' batin Reina.
"udah bangun sayang?" tanya Miko lalu mengecup kening Reina pelan.
Reina segera menyingkirkan tubuh mereka, menjauh dari jangkauan Miko.
"kenapa?"
tak ada sahutan dari Reina, dia segera beranjak namun Miko segera menggapai tangannya dan menariknya kembali kepelukannya.
"masih marah?"
tak ada sahutan
"I'am sorry, Iam so busy kemarin"
"Ken bilang kamu ngambek"
"sorry" Miko mengeratkan pelukannya. mendekap Reina penuh penyesalan
hening, bukan suara jawaban dari Reina yang Miko dengar, tapi suara pintu terbuka di iringi jeritan khas ibu negara dari rumah itu.
"oh My God" Mami membungkam mulutnya sendiri dengan kedua mulutnya, di ikuti mata melotot bi inah di belakangnya.
kedua sejoli yang masih berpelukan diatas kasur itupun terlonjak kaget, Reina membulatkan matanya sedangkan Miko malah melihat ibunya dengan wajah datar lalu rebahan lagi.
"mam, You're so noisy" Gerutu Miko.
__ADS_1
bersambung...