CONSEQUENCE

CONSEQUENCE
009. Kembalinya Sang Permaisuri [1]


__ADS_3

Waktu seakan membeku diudara dengan membawa kesuraman yang tajam. Para pejabat yang hadir mematung ditempat dengan wajah yang pucat pasi seakan darah ditubuh mereka tersedot habis entah kemana. Mereka berkeringat dingin ketika melihat sosok keagungan itu kembali dalam keadaan hidup tanpa luka sedikitpun.


Bagaimana ini bisa terjadi?


Bukankah,


Permaisuri telah...


Ahng Mingmei melangkah anggun dengan jubahnya yang berkibar, ia terlihat begitu mempesona. Kedua kakinya yang jenjang menapak keatas lantai membuat aliran udara berganti dingin yang kelam.


Matanya yang begitu jernih tanpa noda terlihat begitu tajam menulusuri setiap wajah disekitarnya yang berkeringat dingin menyembunyikan getaran takut. Surai hitam panjangnya yang tergerai indah terlihat bergetar dingin seiring pergerakan tubuhnya.


Disaat Ahng Mingmei menginjakkan kaki dan masuk ketengah aula, Ahng Mingmei melihat sosok gurunya, Yao Sunye sedang duduk di kursi penasehat kekaisaran. Sebagai pendamping Permaisuri Ming sekaligus orang kepercayaanya, Yao Shunye membantu menstabilkan rakyat dan mengajari pemilik tubuh sebelumnya dalam mengurus jalannya pemerintahan.


Pria itu terlihat begitu tenang seakan kembalinya Ahng Mingmei kali ini, sudah bisa diprediksi olehnya. Melihat hal itu, membuat Ahng Mingmei sedikit kagum, memang seorang penasehat kekaisaran yang pandai menyembunyikan isi pikiran dan hati.


Disisi tangga pertama aula terdapat deretan kursi yang telah diisi oleh wajah wajah yang familiar. Berdasarkan ingatan pemilik tubuh sebelumnya, disisi kanan, pamannya, Ahng Tian Yu mempunyai kedudukan sebagai Jendral Besar Kekaisaran. Ahng Tian Yu adalah saudara angkat dari mendiang ayahnya. Pria itu sedang menatapnya dengan ekspresi tak percaya sekaligus lega secara bersamaan.


Ahng Tian Yu duduk berdekatan dengan seorang pria setengah baya yang Ahng Mingmei kenal sebagai Perdana Menteri Ling, Ling Hanzhue. Perawakannya terlihat penuh wibawa yang lembut layaknya seorang pelajar dengan sepasang mata tua yang penuh kasih.


Di sebelah Ling Hanzhue, Ahng Mingmei bisa melihat satu lagi pria dewasa yang memiliki sepasang mata berwarna hitam segelap malam. Mata itu terlihat begitu polos dan lembut. Ahng Mingmei yakin kalau pria itu adalah Zhang Bingjie. Seorang budak yang pernah ditolong oleh pemilik tubuh sebelumnya lalu diangkat menjadi seorang selir dengan status Selir tingkat Ketiga.


Ahng Mingmei kembali mengalihkan perhatiannya kepada rentetan orang di sebelan kiri. Mata Ahng Mingmei bertemu dengan seorang pria dewasa yang memiliki bola mata berwarna biru sejernih lautan dengan surai pirangnya yang begitu mencolok. Alis yang tebal dan garis mata yang tajam menunjukkan kalau pria ini memiliki tekad yang kuat dan ambisi tersembunyi.

__ADS_1


Deg!


Dia merasakan perasaan sesak ketika kenangan tentang pria itu berputar didalam benaknya. Pria itu adalah selir tingkat pertama Wang, Wang Zhengyi. Pria yang paling dicintai Permaisuri Ming sekaligus pria yang sudah mengkhianati hubungan pernikahan diantara mereka. Mengetahui hal ini membuat Ahng Mingmei menyeringai dalam hati, aku menemukanmu!


Perhatiannya kembali teralihkan kepada sosok pria setengah baya yang memakai kain brokat dengan kualitas tinggi. Pria itu adalah menteri keuangan, Hao Xi Li. Salah satu menteri yang selalu mencari masalah dan selalu bertentangan dengan Permaisuri Ming. Belum lagi, Hao Xi Li adalah ayah dari sahabat pemilik tubuh sebelumnya sekaligus wanita yang telah mengkhianati hubungan pertemanan diantara mereka. ' Heh! sungguh sepasang ayah dan anak yang serasi. '


Setelah selesai mengamati seluruh orang diaula, Ahng Mingmei melangkah anggun melewati para pejabat dengan dipenuhi ketidakacuhan. Langkahnya terhenti di undakan tangga terakhir. Tepat disinggasana naga yang begitu megah dipandangan seolah olah sedang menyambut kedatangannya kembali.


' Srek.. ' Kibasan lengan baju yang begitu angkuh terdengar memecahkan keheningan yang memberat.


Ahng Mingmei duduk di singgasana naga menunjukkan kekuasaannya yang tak tertandingi. Raut wajahnya yang begitu tenang menguarkan tekanan. Kedua mata indahnya menyapu para pejabat yang masih mematung ditengah aula.


' Sekumpulan tua bangka yang merusak pemandangan. '


' Brukk.. ' Suara benturan kepala dengan lantai aula terdengar serentak. " Kami telah lancang. Mohon Yang Mulia menghukum kami atas kelancangan yang telah kami perbuat. Semoga Yang Mulia berbelas kasih. " Ujar para pejabat serentak sebagai wujud permohonan maaf kepada sang Permaisuri.


Ahng Mingmei mengerjap pelan, " Oh? Apa kesalahan yang telah kalian perbuat? Kenapa memohon kepada Permaisuri ini untuk menghukum kalian? " Ia memasang ekspresi bingung dengan netra hijau zamrud yang dipenuhi keteduhan. Terlihat begitu polos dan naif.


Orang orang berpakaian para pejabat itupun saling melirik seolah sedang berbicara satu sama lain. Mereka terkejut sekaligus bingung dengan tingkah Permaisuri yang berubah menjadi sedikit... aneh.


Bukankah sudah sangat jelas? Apakah Permaisuri tidak tahu niat mereka mengadakan rapat disini, hari ini?


Melihat tidak ada yang bersuara, Ahng Mingmei menolehkan wajahnya untuk menatap kearah Yao Shunye berada. " Penasehat Yao, bisa tolong jelaskan masalah apa yang sedang terjadi hari ini? " tingkahnya begitu polos seakan-akan ia tidak mengetahui apapun.

__ADS_1


Yao Shunye sedikit tertegun, tapi ia dengan lihai menyembunyikan keterkejutannya. Dengan segera ia beranjak berdiri untuk memasang postur menunduk penuh penghormatan. " Izin menjawab Yang Mulia. Para menteri begitu mengkhawatirkan anda, sehingga mendesak untuk mengadakan rapat hari ini.


Namun, ditengah tengah rapat. Menteri Hao malah mengajukan saran yang membuat hamba sedikit terkejut karena tak percaya dengan apa yang Menteri Hao katakan sebelumnya. Bahkan, Jendral Besar Ahng dibuat marah karena hal itu. " Yao Shunye menjelaskan dengan lugas dan tenang.


Ahng Mingmei memasang ekspresi bingung dengan kerutan didahinya yang tercetak samar, seolah olah gadis itu sedang mencoba untuk berfikir. Raut wajahnya menunjukkan ekspresi yang biasa pemilik tubuh sebelumnya tunjukkan. Akan tetapi, perhatiannya teralihkan kepada Ahng Tian Yu ketika pamannya itu berkowtow dengan tiba tiba.


" Itu benar, Yang Mulia. Amarah hamba tersulut karena Menteri Hao memanfaatkan keadaan kekaisaran yang berada disituasi yang genting tanpa adanya seorang pemimpin. Dia dengan berani memberikan saran untuk mengangkat [1]pangeran pendamping disaat Yang Mulia belum ditemukan. "


" Bahkan... " Kemudian Ahng Tian Yu mengalihkan pandangannya untuk menatap kearah Hao Xi Li dengan tajam.


" ....hukuman mati untuk seluruh keluarganya tidak akan cukup untuk menebus kesalahan yang telah ia perbuat. "


Setelah Ahng Tian Yu menyelesaikan kalimatnya, Aula persidangan berubah menjadi hening beberapa saat.


Perkataan sang Jendral Besar yang tepat mengenai sasaran, membuat semua orang menarik nafas dengan keringat dingin yang mulai membanjiri punggung.


......


______


[1] Pangeran Pendamping : Status yang memiliki kekuasaan dibawah pemimpin negara. Bertanggung jawab membantu masalah pemerintahan, mengelola harem, menemani pemimpin negara saat perjamuan.


Jika kurang mengerti, silahkan baca chapter sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2