
Aku sedih dengan kira yang indah memuja akan dunia
Luka yang memahat
Luka yang begitu menusuk
Luka yang menghujam jantungku
Tapi tak ada yang tahu bahwa aku kecewa dalam cerita
Sampai untuk berpikir tentang cinta
Dengan hati bukan mata rasakan cinta
Untuk kehilangan akal sehat
Dan untuk membuat aku tenggelam
Tenggelam dalam kesedihan
Tenggelam dalam kepedihan dan kehancuran
Dengan semua janji janji busukmu
Dengan semua janji janji palsumu
Membuat sayap ini patah dan mati
Aku menangis meratapi takdir
Merasakan seakan dunia ini tak berarti lagi
Dan kini hanya kesedihan, kekecewaan yang menemaniku
Cinta ini sungguh aku tidak mengerti
^^^ ---Dari gadis yang cintanya tidak habis-habis, karena cintanya paling^^^
•••••
' Tidak berguna! Sebagai seorang Permaisuri aku memang tidak berguna. '
Disela-sela pelariannya, sebuah belati melesat kearahnya dan berujung menusuk paha kuda.
Alhasil, kuda yang ditunggangi Ahng Mingmei meringkik nyaring sebelum akhirnya goyah ke samping. Menyebabkan penunggangnya terpelanting jatuh keatas tanah dengan cara yang mengenaskan.
Ringisan kesakitan terdengar dari balik celah bibir Ahng Mingmei ketika suara retakan tulang bisa terdengar. " Urgh.. "
Kemungkinan tulang rusuknya patah karena berbenturan langsung dengan tanah saat terjatuh tadi.
Dengan menghiraukan rasa sakitnya, Ahng Mingmei segera beranjak berdiri untuk berlari kedalam hutan, menghindari kejaran dari para pembunuh bayaran. Nafasnya memburu diiringi detak jantungnya yang berpacu cepat.
" Berhenti! "
Teriakan dari salah satu pembunuh bayaran di kejauhan membuat langkah Ahng Mingmei semakin cepat.
Meski kakinya terluka karena tidak memakai alas apapun, ia tidak peduli. Gadis itu sama sekali tidak mempedulikan rasa sakitnya, terlalu fokus untuk berlari hingga tidak menghiraukan rasa sakit yang dirasa.
Manusia biasa melawan kuda, tidak perlu ditanya lagi siapa yang akan menang. Belum sempat Ahng Mingmei menjauh, sebuah panah melesat tajam ke arahnya dan sedikit lagi akan tertancap di tubuhnya jika ia tidak menghindar dengan cepat. Namun, perhatiannya yang sempat teralihkan membuat gadis itu terjatuh berderak diatas tanah untuk kesekian kalinya.
Bruk!
' Urgh! ' ringis Ahng Mingmei dalam hati, berusaha menahan rasa nyeri yang menusuk.
Dia hendak berdiri, tapi belum sempat Ahng Mingmei beranjak dari posisinya, para pembunuh bayaran sudah mengepung. Berbeda dengan sebelumnya, mereka tak langsung menyerang.
' Tidak! Aku tidak boleh mati. ' batin Ahng Mingmei menguatkan tekad.
Dia hendak melawan, tetapi suara dari seseorang dibelakangnya yang menginterupsi membuatnya tertegun sejenak.
" Bagaimana keadaanmu, Yang Mulia? "
' Deg! Suara ini! '
Tanpa disadari olehnya, seorang wanita sedang berjalan menghampirinya. Lengannya terulur dan tanpa sungkan menjambak surai Ahng Mingmei dengan kuat.
' Shhh.. ' ringisnya kesakitan ketika kepalanya dipaksa menengadah untuk bertatapan dengan seseorang yang memperlakukannya dengan kasar.
__ADS_1
Ketika pandangan mereka bertemu, Ahng Mingmei membelalak dengan pancaran kekosongan yang melanda pikirannya. Wajah yang tidak asing ini, dengan pancaran dari kedua mata yang familiar.
Tidak mungkin pria itu... mengatakan yang sebenarnya.
Ketika mengingat hal itu, kelopak matanya terpejam, " Kau--" air mata mengalir ketika suaranya terasa tercekat di tenggorokan.
" Bagaimana bisa--" lagi lagi, tenggorokannya terasa tercekat dengan rasa tidak percaya.
Tidak percaya bahwa sosok wanita yang berada dihadapan Ahng Mingmei saat ini tidak lain adalah Hao Mengqiu, pelayan pendampingnya, teman yang begitu ia percayai, telah... mengkhiatinya.
" Bagaimana bisa kau melakukan semua ini..." lanjutnya dengan suara yang begitu lirih penuh pancaran kekecewaan.
" Heh! begitu terkejut? " Suaranya yang begitu rendah namun tajam penuh kebencian yang dalam.
Tujuan awal Hao Mengqiu datang ke tempat itu tidak lain adalah untuk melihat keadaan Ahng Mingmei setelah disiksa dan diculik oleh pembunuh bayaran yang telah ia bayar. Tentu saja, tujuan utama Hao Mengqiu merencanakan semua ini untuk Ahng Mingmei... adalah untuk membunuhnya.
Seakan penderitaan yang diterima gadis itu masih dirasa kurang. Hao Mengqiu malah semakin menjambak surainya dengan kuat.
Bibirnya yang mengait keatas perlahan mengalirkan suara yang begitu rendah namun tajam ketika Hao Mengqiu berucap. " Permaisuri yang lemah dan bodoh sepertimu ingin menjadi teman dari nona ini. Tidakkah kau terlalu bermimpi? " Ujarnya penuh ejekan yang dingin. Penuh keangkuhan yang tajam nan dalam.
Ya, dia, Hao Mengqiu... adalah wanita yang dianugerahkan panggilan ' Peony kerajaan Ahng ', sebuah julukan yang diberikan oleh seluruh rakyat karena kecantikannya yang menjadi pertama di kekaisaran. Tidak hanya cantik, Hao Mengqiu juga merupakan wanita yang bertalenta di seluruh Kekaisaran.
Bagaimana bisa seorang wanita yang dijuluki ' Peony kerajaan Ahng ' sepertinya malah menjadi pelayan pendamping Ahng Mingmei yang berstatus sebagai Permaisuri Penguasa Utara?
Itu tidak pantas!
Benaknya berhenti berucap ketika gadis dihadapannya tiba-tiba menyentuh wajah Hao Mengqiu pelan penuh kelembutan. " Tidak... kau pasti berbohong. Mana mungkin kau tega mengkhianati hubungan pertemanan diantara kita, Qiu'er. " ia menyangkal dengan suaranya terdengar serak yang lemah.
Melihat tatapan Ahng Mingmei yang begitu teduh sedang menatapnya lembut membuat sudut bibir Hao Mengqiu terangkat membentuk seringai tajam, " Heh! sebagai seorang Permaisuri, kau benar benar bodoh. "
" Pantas saja, kau tidak pernah mengetahui seberapa banyak orang terdekat disisimu yang menusukmu dari belakang. " lanjutnya begitu tenang dengan kedua bola matanya yang menyiratkan hinaan.
Ya, sebagai seorang permaisuri, Ahng Mingmei yang begitu bodoh dan naif dengan mudah memberikan kepercayaan kepada orang-orang disekitarnya. Termasuk Hao Mengqiu sendiri, dia baru dua tahun masuk kedalam istana, dan lihatlah sekarang... kepercayaan permaisuri itu begitu kuat hingga kebenaran yang ia ucapkan hanya dianggap angin lalu olehnya.
' Begitu bodoh. ' ejeknya dalam hati sembari menatap intens permaisuri itu seolah tidak ingin melewati sedikitpun perubahan ekspresi diwajahnya.
" Selir Wang, kau sangat mencintai suamimu itu bukan? "
Deg!
Ahng Mingmei tertegun dengan bibirnya yang bergetar berhasil meloloskan gumaman yang spontan. " A Zheng.. "
Tawa itu berasal dari Hao Mengqiu, tawa yang begitu mengejek sekaligus hinaan jelas tersirat didalamnya.
Setelah tawanya terhenti, Hao Mengqiu mengalihkan pandangan untuk memperhatikan wajah gadis dihadapannya itu. Sepasang netra hijau zamrud yang begitu jernih tanpa noda, hidung bangir yang dilengkapi dengan bibir tipis setipis kelopak bunga plum. Walau debu dan dan lusuh menyelimuti wajahnya, tapi Hao Mengqiu tidak bisa mengelak kalau Ahng Mingmei memang cantik.
Sayang, parasnya yang cantik tidak cukup untuk menandingi Hao Mengqiu dalam segi apapun.
" Lihatlah! Kau bahkan tidak sadar jika pria itu hanya berpura pura mencintaimu untuk mengendalikanmu seperti boneka sehingga bisa memegang kekuasaan dibaliknya." suaranya yang begitu sinis berhasil menimbulkan kejutan dipihak lain.
Hao Mengqiu mendekatkan wajahnya ke telinga Ahng Mingmei untuk berbisik pelan." Perlu kamu ketahui, A Zheng tidak pernah mencintaimu. Tidak pernah! " terjeda ia dengan senyuman miring yang mulai mengembang.
Dalam kekosongan, dia kembali melancarkan sebuah serangan. " Dia hanya mencintaiku. Bahkan... kita sudah tidur bersama. " Lanjutnya dengan suara yang begitu tenang nyaris seperti bisikan yang dalam.
Ya, itulah kebenarannya. Kebenaran yang ingin Hao Mengqiu katakan kepada Ahng Mingmei sejak awal. Suaminya, Wang Zhengyi sama sekali tidak mencintainya. Pria itu hanya mencintai Hao Mengqiu, hanya Hao Mengqiu, tidak ada yang lain. Mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai satu sama lain.
Disisi lain, Ahng Mingmei.. siapa dia? Hanya seorang gadis yang dilahirkan dari rahim sang Permaisuri terdahulu. Tanpa perlu bekerja keras, Ahng Mingmei diangkat menjadi pemimpin negara, wanita pertama yang memimpin kerajaan besar dengan status dan kekuasaan yang tak tertandingi.
Belum lagi, gadis itu mempunyai banyak selir di haremnya. Dan salah satu selir diantaranya adalah pria yang Hao Mengqiu kagumi sejak kecil. Seorang pria yang memiliki paras menawan dengan surai pirang yang menandakan jika pria tersebut bukanlah berasal dari tanah Utara. Wang Zhengyi, nama pria itu, seorang Pangeran Tahanan yang telah berubah status menjadi Selir tingkat pertama Wang.
Wang Zhengyi adalah alasan Hao Mengqiu dulu menerima perintah ayahnya untuk memasuki istana sebagai pelayan pendamping Ahng Mingmei untuk mengawasi semua gerak geriknya.
Selain bertugas untuk memata-matai Ahng Mingmei, Hao Mengqiu juga tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menggoda Wang Zhengyi di beberapa waktu, dan tentu saja usahanya tidak sia sia karena Wang Zhengyi telah menjadi kekasihnya saat ini.
Disisi lain, Ahng Mingmei mematung ditempat dengan pikirannya yang menerawang jauh ketika sosok seorang pria terlintas dibenaknya. Wajah tampannya, senyuman serta kehangatan yang sosok itu tunjukkan padanya selama ini. Cintanya yang tulus serta perasaan yang dalam diantara mereka---,
A Zheng, tidak mungkin!
Ahng Mingmei tidak berani percaya kalau suaminya akan berselingkuh dengan wanita lain. Apa--, apakah Wang Zhengyi berselingkuh karena Ahng Mingmei tidak bisa memberikan nafkah batin? Akan tetapi, suaminya pasti tahu... tahu kalau dirinya memiliki alasan dibalik semua itu.
Lalu mengapa?
Mengapa Wang Zhengyi melakukan semua ini?
Apakah cinta yang telah Ahng Mingmei berikan tidak cukup untuknya? Begitukah?
Tubuh Ahng Mingmei bergetar hebat, tidak yakin karena rasa sakit yang dirasa atau karena jejak kejutan ini. Pandangannya tiba-tiba terangkat dan dalam sekejap, raut wajah Ahng Mingmei berubah begitu dingin dengan tatapannya yang menajam terarah kesatu arah.
__ADS_1
Tidak! Ahng Mingmei tidak percaya!
Suami yang begitu ia cintai.. mana mungkin berselingkuh dengan Hao Mengqiu yang merupakan temannya sendiri.
' Plak..' entah mendapatkan kekuatan dari mana, Ahng Mingmei menampar wajah Hao Mengqiu dengan kuat.
" Pembohong! Kau berbohong padaku." teriak gadis itu sembari menunjuk Hao Mengqiu dengan tangannya yang bergetar. Air mata mulai menuruni kedua sisi wajahnya.
" ___ " Hao Mengqiu bergeming.
Sedangkan disisi lain, Ahng Mingmei terlihat frustasi dengan pikirannya yang sudah melayang entah kemana.
' Wang Zhengyi hanya berpura pura mencintaimu. Dia hanya ingin mengendalikanmu sebagai boneka. Dia tidak pernah mencintaimu. Dia hanya mencintaiku. Hanya mencintai Hao Mengqiu. Kita telah tidur bersama. ' Kata-kata itu terus berputar dalam benaknya membuat sang pemilik semakin tak terkendali. ' Tidak! itu tidak mungkin! ' Ahng Mingmei menyangkal, tapi ia menutup pendengarannya dengan kedua tangan seolah tidak ingin mendengar ucapan Hao Mengqiu yang terngiang-ngiang dalam kepalanya.
" Tidakk!! A Zheng hanya mencintaiku. Dia tidak akan mengkhianatiku! Tidak akan! " teriaknya frustasi.
Lama Ahng Mingmei berteriak histeris, dia akhirnya lelah. Bukan lelah fisik, melainkan hatinya, dadanya terasa begitu sesak, begitu kecewa, begitu sakit.
Pandangan Ahng Mingmei jatuh ke lantai, hatinya menghentikan benaknya untuk mengakui hal tersebut. " Tidak! A Zheng mencintaiku. Hanya mencintaiku. " Gumamnya lirih menyangkal kebenaran yang tidak ingin ia percaya.
Siapapun yang melihat kondisinya saat ini, pasti tidak akan tega ketika melihat tubuh ringkih milik Permaisuri penguasa utara yang begitu agung itu kini terlihat begitu rapuh sekaligus menyedihkan karena dipenuhi luka dengan air mata yang mengalir deras membasahi wajahnya.
Tiba tiba, tubuhnya seketika oleng ketika sebuah tarikan kuat dilayangkan oleh seseorang dihadapannya.
Srek!
" Terakhir kali---, biarkan nona ini melihat wajahmu yang begitu mengenaskan untuk terakhir kalinya. " Itu adalah Hao Mengqiu yang menjambak surai Ahng Mingmei dengan kuat, memaksanya mendongak keatas. Suaranya begitu rendah dengan jejak kesenangan yang gila, begitu bahagia ketika pemandangan indah bisa ia lihat dari sosok keagungan yang menderita dibawahnya.
Puas! Hao Mengqiu sangat puas ketika melihat wajah Ahng Mingmei yang begitu kosong seolah-olah jiwanya sudah menghilang entah kemana.
Ini... ini adalah keinginan Hao Mengqiu sejak awal.
Merendah, menunduk, cemburu, dan selalu menjadi yang kedua, semua hal itu menjadi alasan kebencian menumpuk didalam hati Hao Mengqiu. Julukan peony kerajaan? Menjadi kekasih Wang Zhengyi? Apa itu semua? Semua itu tidak membuat pria yang ia cintai menjadi milik Hao Mengqiu seutuhnya.
Hal itu dikarenakan Wang Zhengyi tidak bisa menikahinya secara sah, mengingat Ahng Mingmei adalah istrinya dan gadis itu memiliki kedudukan tertinggi di Kekaisaran, secara otomatis menghalangi mereka untuk bisa bersama.
Mengingat hal itu, raut wajah Hao Mengqiu semakin gelap. Ia menggertakkan giginya, ' Semua... semua yang menjadi penghalang antara aku dan A Zheng, siapapun, siapapun itu... akan mati! '
Dengan tak berperasaan, Hao Mengqiu menghempaskan kepala Ahng Mingmei dengan kasar. " Buang dia ke jurang! Aku ingin melihatnya mati dihadapanku." Perintahnya begitu dalam yang melekat tajam.
Salah satu sosok berpakaian serba hitam dengan patuh melangkahkan kakinya untuk melaksanakan perintah sang tuan.
Dan detik berikutnya, Ahng Mingmei tau bahwa ia akan kehilangan nyawa ditangan seseorang yang ia percaya. Gadis itu hanya pasrah ketika pembunuh bayaran itu menendangnya dengan tak berperasaan.
Bibirnya yang pucat sedikit bergetar, " Mengapa kau mengkhianatiku, A Zheng?... Mengapa?" suaranya begitu lirih dengan kilatan luka yang mendalam. Netra hijau zamrudnya perlahan terpejam ketika kedalaman jurang mulai menelan.
' Tidak rela! ' kata itu cukup untuk mewakili perasaannya.
Tidak rela, ya, tidak rela ketika sebuah hubungan yang awalnya dipenuhi dengan kebahagiaan, kini berakhir dengan pengkhianatan yang berujung kepada kematian dengan kepahitan yang tertelan.
Pertemanan, cinta dan sebuah pernikahan..
Semua itu hanya ilusi.
Takdir... telah mempermainkannya.
Mengingat kematian pemilik tubuh sebelumnya yang begitu tragis, membuat Ahng Mingmei tersenyum pahit dan tanpa sadar meloloskan sebuah hinaan.
" Menyedihkan. "
Tiba tiba suara seorang pria yang berasal dari luar kolam pemandian mengagetkan Ahng Mingmei. " Yang Mulia, apakah kau didalam? "
Kepala Ahng Mingmei dengan cepat berputar menghadap pintu panel. Bayangan seorang pria terbentuk akibat cahaya lentera yang menyeruak masuk bisa terlihat. Suara itu.. Ahng Mingmei sangat mengenalnya.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Ahng Mingmei langsung beranjak dari kolam pemandian. Dia berlari kecil kearah pintu, entah mengapa dadanya terasa sesak dengan iringan jantung yang berdetak cepat, begitu tidak sabar, begitu marah, begitu sakit.
Ketika dia membuka pintu tersebut, mata Ahng Mingmei bertemu dengan sepasang netra biru milik ketampanan yang menawan. " A Zheng... "
_____
A/N : Akhirnya, selesai sudah flashbacknya!
Hm, sebenarnya Author juga merasa scene flashback ini kepanjangan mengingat 8 chapter terhabiskan karenanya. Sebenarnya Author gak puas dengan scene flashback ini, tapi Author gak tau harus apa. Mau direvisi juga bingung karena gak dapet ide yang pas. Apalagi waktu Author buat scene ini, kaga ada ide yang lewat ataupun nyelonong masuk kedalam otak Author sekalipun. Haih~terhura diriku.
Tapi itu hal biasa sih menurut Author, kan sekalian belajar begitu. Itu menurut Author yah, karena Author pikir, ini adalah pertama kalinya Author buat cerita yang begini dan ide yang Author dapet juga adanya begini. Jadilah begini,
Haha! Kenapa malah jadi begini-begini.
__ADS_1
Anyway, gak penting! Dibawah ini ada gambar ilustrasi untuk tokoh HAO MENGQIU. Yang pasti gambar itu bukan buatan Author, tapi editan adalah hasil karya Author sendiri.