
Tahun ke-87 Dinasti Ahng, Ahng Mingmei mendapatkan kunjungan dari beberapa orang berpakaian serba hitam yang menyusup kedalam kediaman pribadinya, kediaman naga.
Tidak ada yang tahu jika sang Permaisuri berada dalam bahaya karena menjadi target dari pembunuhan saat itu. Entah mereka memang tidak mengetahuinya, atau.. semua sudah direncanakan oleh seseorang sejak awal?
" Urgh.." Rasa sakit yang menyelimuti tubuhnya membuat Ahng Mingmei mengerang. Dia perlahan membuka matanya mengerjapkannya beberapa kali untuk membiasakan diri dengan cahaya yang berusaha menerjang masuk pandangannya.
Di saat matanya telah menyesuaikan diri dengan situasi sekitar, Ahng Mingmei mencoba menggerakkan tubuhnya. Namun, dia merasa pergerakannya terbatas. Mata Ahng Mingmei pun terbelalak, menatap kedua kaki dan tangannya dirantai ke sebuah dinding layaknya seorang tahanan yang berada di ruang interogasi bawah tanah.
' Apa--,Apa yang terjadi? ' Terkejut Ahng Mingmei sembari terus berusaha untuk melepaskan diri. Kali ini, Ahng Mingmei menampakkan raut wajah ketakutan. Dia tak pernah menyukai perasaan terkekang seperti ini. Tubuhnya yang dirantai membuat nafasnya terasa sesak, ' Lepas! Lepas! Lepas! ' teriak gadis itu dalam hati.
Ahng Mingmei terus berjuang untuk melepaskan diri dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya. Tapi, setelah sekian waktu berlalu, dia akhirnya menyerah. Dengan sangat terpaksa, gadis itu hanya bisa mencoba mengendalikan emosi dan ketidaknyamanan di dalam dirinya.
' Apa yang terjadi? Mengapa aku disini? ' otak Ahng Mingmei berputar, mencoba menebak-nebak apa yang telah terjadi. ' Ada yang menculikku? Merencanakan pembunuhan? Siapa? Apa yang mereka inginkan? ' kelopak matanya terpejam, ' Apa--, apa mereka tahu aku menghilang? Bagaimana dengan kekaisaran nantinya? Lalu.. A Zheng? '
Entah apa yang terjadi, tetapi pintu ruangan tempatnya berada mendadak terbuka. Ahng Mingmei menangkap beberapa sosok berpakaian serba hitam menghampirinya. Ahng Mingmei tidaklah buta bila tidak mengenali siapa mereka. ' Lagi-lagi pembunuh bayaran dari organisasi gelap. ' geramnya dengan mengepalkan kedua tangannya erat.
Mengetahui hal itu, gadis itu segera berkata, " Siapa yang menyuruh kalian? Apa yang kalian inginkan? "
Melihat tidak ada yang berniat menjawab pertanyaannya, Ahng Mingmei hendak berteriak. Akan tetapi, tenggorokannya terasa tercekat ketika pandangannya menangkap sebuah cambuk dikeluarkan dari salah seorang diantara pria berpakaian serba hitam itu. Matanya pun terbelalak, ' Siapa--, siapa yang dengan berani merencanakan semua ini? Siapa? ' geramnya dalam hati.
Ctarr!
" Urgh.. " Ahng Mingmei meringis kesakitan ketika cambuk itu mendarat di kulit putihnya. Kepalanya terangkat dengan sepasang netranya yang tertuju ke satu arah yaitu menatap kedalam mata salah satu pembunuh bayaran yang menorehkan luka padanya. " Siapa yang mengirim kalian untuk membunuhku? " Tanya Ahng Mingmei sekali lagi dengan tajam penuh penekanan.
Hening sesaat, hingga suara tawa yang menggelegar bergema di ruangan. Para pembunuh bayaran itu tertawa begitu keras, tawa mereka begitu mengejek, seolah sedang menertawakan sosok keagungan yang begitu mengenaskan dibadapan mereka.
" Permaisuri yang begitu agung seperti Yang Mulia, tidak perlu mengurusi tuan kami. " ujar salah satu diantara mereka.
" Yang Mulia tenang saja, Tuan akan menemui Yang Mulia sebentar lagi. " lanjut yang lain dengan suara tawa yang menggelegar.
" Tentu saja, Setelah kami memberikan beberapa hukuman kecil kepada anda, Yang Mulia. " lanjut pembunuh bayaran yang mencambuknya dengan suara yang begitu rendah namun tajam bergema mengerikan.
__ADS_1
Ctarr!
Ctarr!
Ctarr!
Lagi dan lagi, suara cambuk yang mendarat dengan keras di kulit pun terdengar dan menggema di seluruh penjuru ruangan dan seberapa keras teriakan memilukan dari Ahng Mingmei terdengar, tidak membuat pembunuh bayaran itu menghentikan tindakannya untuk menorehkan luka ditubuh sang permaisuri.
Selama semalaman lamanya Ahng Mingmei menerima siksaan didalam ruangan itu. Penyiksaannya diikuti dengan penyiksaan lain, pakaiannya pun sudah berwarna merah karena darah yang mengalir dari luka. Sepasang netra hijau zamrud yang biasanya terlihat begitu ceria, seketika berubah menjadi sayu dengan kesadarannya yang mengambang.
' Apa... aku akan--,mati? '
Ketika perasaan putus asa terlintas dalam benaknya, suara pintu berdecit yang terdengar samar di pendengaran berhasil memulihkan kesadaran Ahng Mingmei untuk sesaat. ' Apa mereka kembali.. untuk menyiksaku lagi? ' Dengan paksa, dia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang datang kali ini.
Meskipun penglihatan Ahng Mingmei sedikit kabur karena kesadarannya yang mulai menghilang, tapi Ahng Mingmei yakin, jika sosok yang mendekat ke arahnya itu bukanlah salah satu dari pembunuh bayaran yang menyiksanya sedari tadi.
Bibirnya yang pucat sedikit bergetar, " S--si, siapa...? " Suaranya terdengar serak yang lemah.
" Telan ini! " Perintah pria tersebut sembari memasukkan sebuah pil kedalam mulut Ahng Mingmei, gadis itu tak menolak, dan dengan segera menelan pil yang ia berikan.
Wajah cantiknya yang pucat perlahan terangkat untuk menatap wajah seorang pria yang baru saja menolongnya. Pria itu memakai jubah yang menutupi seluruh wajahnya membuat Ahng Mingmei tidak mengetahui identitas pria itu.
" Te--terima kasih. " suara Ahng Mingmei yang serak terdengar menginterupsi. Pria berjubah hitam itu acuh, dia hanya terfokus untuk melepaskan rantai yang membelenggu sang gadis.
' Krak..' suara rantai yang terlepas terdengar bersamaan dengan Ahng Mingmei yang kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh berderak keras dilantai.
' Greb.. ' Sebuah tangan dingin yang kekar menariknya jatuh kedalam pelukan. " Hati hati. " gumam pria tersebut dengan dingin. Ahng Mingmei hendak membalas, namun didetik berikutnya Ahng Mingmei baru tersadar jika ia sudah berada dalam gendongan sang pria.
' Apa--apa yang pria ini lakukan? ' terkejut ia.
" Kita harus segera pergi. " ujar pria itu seakan mengerti isi pikirannya. Ahng Mingmei hanya pasrah ketika ia dibawa pergi dengan dirinya yang berada dalam gendongan sang pria.
__ADS_1
Setelah berada agak jauh didalam hutan, Ahng Mingmei bisa melihat sebuah kuda yang terikat disalah satu pohon. Melihat hal itu, Ahng Mingmei bisa menyimpulkan jika aksi penyelamatannya sudah direncanakan oleh pria berjubah ini sejak awal. Ahng Mingmei menolehkan wajahnya untuk melihat wajah pria yang tertutup jubah itu. Dia merutuk dalam hati ketika tak mampu mengenali siapa penolongnya.
Mereka menaiki kuda yang sama dengan Ahng Mingmei yang berada dalam pelukan sang pria.
Dengusan kuda yang mengiringi tindakan memacu kuda bisa terdengar. ' Siapa yang berusaha membunuhku? Apakah para menteri itu? Atau.. musuh keluarga kerajaan.' tebaknya dengan dahi yang mengerut kencang, sedang berfikir keras. ' Lupakan! ' Lanjutnya dengan Kerutan didahinya yang perlahan mengendur. ' Aku bisa mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini nanti, tapi sebelum itu-- ' ucapan dalam benaknya terhenti kala ia berkata. " Siapa kamu? Mengapa menyelamatkanku? " tanya Ahng Mingmei tanpa berniat basa basi.
" __ " Hening, tidak ada jawaban.
Melihat pria disisinya hanya bergeming, Ahng Mingmei menghela nafas pelan dan tanpa sadar dia bergumam kecil, " Kenapa pria ini tidak menjawab? Apakah dia juga ingin membunuhku? " suaranya yang begitu rendah masih terdengar di pendengaran pria berjubah itu.
" Aku sudah menyelamatkanmu, tapi kau mencurigaiku? "
Sepasang netra hijau zamrud Ahng Mingmei mengerjap, dan dia dengan cepat berkata. " Bukan begitu. "
" Pelayan pendampingmu. " Suara pria itu yang mengalir tenang menggelitik pendengaran Ahng Mingmei. Ia hendak berbicara, namun terhenti kala pria itu kembali berkata. " Dia adalah otak dari pembunuhan yang menimpamu malam ini. " Suaranya yang begitu tenang menimbulkan kejutan dipihak lain.
Ahng Mingmei tertegun dengan benaknya yang berusaha menyangkal ucapan dari pria berjubah itu. ' Qiu'er? Tidak! Itu tidak mungkin! ' Selagi Ahng Mingmei memikirkan hal ini, pria disisinya mendadak menghentikan kudanya. Hal tersebut mengejutkan gadis itu dan membuatnya menoleh untuk menatap pria di belakangnya.
" Kenapa berhen--" Perkataan Ahng Mingmei terasa tercekat di tenggorokan. Netra hijau zamrudnya membulat seketika saat mendapati sejumlah sosok semakin mendekat ke arahnya dengan tatapan keji.
' Mereka tersadar.. secepat itu? ' batin Ahng Mingmei. Mengenali para pemilik manik itu sejak mereka menorehkan luka padanya.
" Tangkap mereka! " teriakan tersebut langsung membuat pria di sisinya segera turun dari kuda yang mereka tunggangi. Begitu pria itu menyentuh pangkal pedangnya, Ahng Mingmei segera berteriak. " Tidak! Kau harus pergi bersamaku. "
" Pergilah! Aku bisa menangani mereka sendiri. " balas pria tersebut sembari menghunuskan pedangnya dengan dingin.
Mendengar hal tersebut, Ahng Mingmei membelalak. " Tidak! Aku tidak mung--"
" Aku bilang pergi! " Sergah pria itu dengan tajam. Dia sama sekali tidak sempat menanggapi ucapan sang permaisuri karena para pembunuh bayaran itu sudah melesat ke arahnya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung melesat kencang kearah pertarungan.
Bersamaan dengan hal itu, Ahng Mingmei hanya terdiam ditempatnya. Seakan arwahnya menghilang entah kemana ketika pandangannya menangkap pemandangan mengerikan dihadapannya. Dia baru tersadar kala sebuah pedang melesat tajam kearahnya.
__ADS_1
' Tring..' suara dentingan pedang yang tajam terdengar. Itu adalah pria berjubah yang menolong Ahng Mingmei untuk kesekian kalinya. " Apa kau bodoh? Sadarlah! Dan pergi dari sini! " bentaknya penuh tekanan yang suram.
Ahng Mingmei tersentak, dan tanpa menoleh ke belakang, ia memacu kudanya cepat dengan meninggalkan pria itu sendirian ditengah pertarungan. Hal tersebut membuat sang permaisuri memaki dalam hati, karena tidak mampu berbuat sesuatu. ' Tidak berguna! Sebagai seorang Permaisuri aku memang tidak berguna. '