CONSEQUENCE

CONSEQUENCE
026. Terbenam Dalam Lautan Penyesalan


__ADS_3

Meninggalkan keriuhan diluar sana. Di ruangan pribadi kekaisaran, kini hanya tertinggal kedua sosok yang memiliki kedudukan penting terlihat termenung dengan pikiran mereka masing-masing.


Tidak ada yang bersuara, hanya keheningan yang menyapa.


Aroma dupa langka yang terasa menyegarkan dan menenangkan pun terasa berat. Entah apa yang kedua sosok itu pikirkan hingga menguarkan tekanan yang membuat udara di sekitarnya mengambang sesak.


Bruk!


Suara benturan lutut yang terjatuh diatas lantai bisa terdengar. Membuat perhatian salah satu diantara mereka teralihkan.


" Maaf. " Itu adalah Ahng Mingmei yang berkata dengan setengah berseru sembari berlutut untuk memasang postur penuh penghormatan.


Dan didetik berikutnya, ' Dug.. ' Gadis itu tanpa sungkan membenturkan dahinya ke lantai hingga mengeluarkan suara yang cukup keras.


Tindakannya yang tiba-tiba itu membuat ketenangan diwajah Yao Shunye sedikit berubah--, tak menyangka muridnya itu akan merendahkan harga dirinya sebagai seorang permaisuri dengan bersujud dibawah kakinya.


" Murid memohon maaf kepada guru. "


Suara Ahng Mingmei yang sekali lagi terdengar membuat bibir Yao Shunye yang mengait keatas perlahan mengeluarkan suara yang begitu rendah namun tenang ketika ia berucap.


" Sikap apa yang kau tunjukkan ini Yang Mulia? " Tanya Yao Shunye setelah ketenangannya mulai memegang kendali.


" Berhenti bersikap kekanak-kanakan. Berdirilah! " Perintahnya ringan dipenuhi ketidakacuhan.


" __ " Tidak ada jawaban.


Melihat reaksi sang murid yang masih terdiam dalam sujudnya, raut wajah Yao Shunye berubah begitu serius. Kedua alisnya bertaut, dan sepasang mata hitam itu seakan siap menelan Ahng Mingmei hidup-hidup.


" Permaisuri Ming! " panggilnya dengan membentak membuat suaranya bergema dalam ruangan.


" Apa kau tidak sadar kalau tindakanmu saat ini bisa merendahkan harga dirimu sebagai seorang permaisuri? " Tiba-tiba Yao Shunye mengangkat sudut bibirnya membentuk seringai ejekan ketika ia berkata. " Atau kau begitu bodoh hingga tidak sadar akan hal itu? " Suaranya yang begitu rendah namun tajam melekat kedalam.


Setelah Yao Shunye menyelesaikan ucapannya, udara disekitar perlahan berubah menjadi dingin yang membekukan.


" Ya. " Balas Ahng Mingmei dalam sujudnya.

__ADS_1


" Aku memang bodoh, " Teriaknya, mengejutkan Yao Shunye yang berada dalam satu ruangan dengannya. " Aku bodoh karena jatuh cinta kepada pria yang salah. " ia berucap dalam satu tarikan nafas.


Kedua tangan Ahng Mingmei mengepal erat setelah melontarkan untaian kalimat itu, berusaha menahan perasaan sesak yang dirasa. " Aku bodoh karena dengan berani mempertanyakan kepribadian guruku hanya karena sebuah kesalahpahaman. " bibirnya yang mengait keatas perlahan mengalirkan suara yang begitu rendah namun dalam.


" Aku bodoh karena telah membiarkan bibiku meninggal dengan cara yang tidak adil. Aku bodoh dengan memberikan kepercayaan yang besar kepada seseorang yang baru kukenal. "


Ia menarik nafas ketika kembali berucap. " Begitu bodoh---!" suaranya terasa tercekat ditenggorokan ketika ia sedang berusaha menahan air mata yang mulai menggantung lirih. " Begitu bodoh hingga keluargaku tersakiti karenanya. "


" Seharusnya tidak seperti ini---, " suaranya kembali tercekat dengan perasaan bersalah.


Ucapannya membuat Yao Shunye tertegun sejenak dengan pancaran kosong yang melanda pikirannya.


" Seharusnya aku sadar bahwa aku begitu bodoh hingga mengorbankan begitu banyak hanya demi menggenggam cinta yang tak berbalas. " Kali ini air mata sudah menuruni kedua sisi wajahnya.


Mendengar suara Ahng Mingmei yang semakin serak, ekspresi kosong diwajah Yao Shunye seketika pecah--. Digantikan dengan raut wajah khawatir yang samar. Dia hendak membantu gadis itu berdiri, khawatir akan keadaannya. Namun, suara Ahng Mingmei yang kembali terdengar membuat kedua tangan Yao Shunye menggantung diudara dingin.


" Maaf.. "


" ....Aku begitu bodoh, hingga tidak sadar---! " Lagi lagi, suara Ahng Mingmei kembali tercekat dengan tubuhnya yang mulai bergetar karena isakan tangis yang tertahan. " Hingga tidak sadar jika aku mulai kehilangan kalian satu-persatu..."


....Maafkan aku... " Lirihnya dengan suaranya terdengar serak yang lemah. Penuh penyesalan yang mendalam.


Deg!


Yao Shunye merasa jantungnya seakan berhenti untuk sesaat. Sudah bertahun tahun lamanya sejak Ahng Mingmei menangis. Apa yang harus ia lakukan?


" Mei'er. " panggil Yao Shunye dengan menyebut nama kecilnya, mengejutkan Ahng Mingmei yang masih berada dalam sujudnya.


Jari-jari dingin yang kokoh itu perlahan terulur untuk menyentuh bahu Ahng Mingmei lembut. " Apa yang kau lakukan? " Suaranya berubah seratus delapan puluh derajat. " Kau seorang permaisuri, bagaimana bisa kau bersujud padaku seperti ini. "


Ahng Mingmei menengadahkan kepalanya untuk menatap wajah Yao Shunye yang sedang menunduk menatapnya lembut.


Wajah ini, wajah yang dipenuhi kekhawatiran ini, entah mengapa membuat ia merasakan perasaan hangat yang menjalar masuk kesudut hatinya.


Ahng Mingmei menundukkan wajah, jari-jarinya terkepal erat dengan menarik nafas panjang. Gadis itu berusaha menguraikan emosi batinnya yang bergejolak seketika.

__ADS_1


Tanpa disadari olehnya, Yao Shunye meninggalkan jarak yang begitu tipis diantara mereka dengan menampilkan wajah tampannya yang begitu lembut. Lengannya terulur dan dengan lembut menarik Ahng Mingmei dalam dekapan.


Gerakannya begitu pelan, seakan-akan gadis itu adalah sebuah giok yang berharga, jika tidak diperlakukan dengan baik, takut akan pecah kapan saja.


Tindakan Yao Shunye yang tiba-tiba mengejutkan Ahng Mingmei yang berada dalam kebingungan dan keterkejutan yang tertahan.


" Syukurlah---, muridku benar-benar sudah kembali. " suara Yao Shunye bergetar penuh emosi yang tidak dapat dijelaskan. Tatapan matanya yang sayu penuh pancaran kelegaan.


" Gu---, guru. " Ahng Mingmei terlihat terkejut untuk menyembunyikan sedikit ketidaknyamanannya.


Yao Shunye melepaskan pautan diantara mereka dengan meninggalkan jarak yang begitu tipis. Dia menatap muridnya dengan intens seolah tidak ingin melewati sedikitpun ekspresi diwajah cantik sang murid.


Dia menatapnya cukup lama, membuat Ahng Mingmei merasakan ketidaknyamanan. " Guru. " panggil Ahng Mingmei dengan suaranya yang mengalir tenang menyembunyikan ketidaknyamanan.


Yao Shunye sedikit tersentak, namun itu hanya bertahan sebentar sebelum jari-jarinya yang kokoh itu perlahan terulur untuk mengusap dahi Ahng Mingmei yang terlihat sedikit memerah. " Jangan melakukan hal aneh seperti ini lagi. "


" Aku, aku hanya sedang berusaha untuk mendapat maaf dari guru. " cicit Ahng Mingmei dengan menampilkan ekspresi cemas sekaligus takut yang samar. " Itu saja. " lanjutnya dengan suara yang semakin kecil.


Mendengar kata-kata yang keluarkan oleh Ahng Mingmei, Yao Shunye memasang ekspresi marah yang terlihat palsu. " Banyak cara untuk meminta maaf. Mengapa kau tidak menggunakan cara yang lebih baik, hah? " ujarnya dengan menaikkan sedikit nada bicaranya.


" Guru...aku---," Ahng Mingmei terlihat semakin cemas dengan matanya yang sayu menatap pria disisinya itu dengan sendu. Seolah sedang berusaha mengatakan, ' Aku tidak bersalah, aku tidak tahu apapun, jangan salahkan aku. '


Yao Shunye mendesah,


" Kau ini.." Yao Shunye tidak bisa berkata-kata ketika melihat ekspresi memelas diwajah muridnya itu.


" Baiklah, kali ini guru akan memaafkanmu." Tiba-tiba dalam sekejap mata, raut wajah Yao Shunye berubah begitu serius ketika ia kembali berucap. " Tapi tidak ada lain kali. " peringatnya menyembunyikan kekhawatiran.


Tanpa berpikir panjang, Ahng Mingmei menganggukkan kepalanya patuh. " Baik, guru. Murid akan patuh. " ujarnya antusias.


Sikap Ahng Mingmei yang kembali lepas membuat hati Yao Shunye terasa ringan. Sudah lama Ahng Mingmei tidak pernah bersikap selepas ini semenjak berhubungan dengan Wang Zhengyi. Tetapi, setelah kematian yang hampir merenggutnya terakhir kali, muridnya ini benar-benar berubah total. Apa yang mungkin telah terjadi?


" Katakan padaku, apa saja yang telah kau alami setelah mereka menculikmu dari istana." Bibir Yao Shunye yang mengait keatas perlahan mengalirkan suara berat namun dalam. Matanya tidak lolos untuk terus menatap lekat-lekat wajah Ahng Mingmei, seolah tidak ingin melewati sedikitpun ekspresi yang terbentuk diwajah cantik itu.


" Dan bagaimana caranya kau bisa kembali ke kekaisaran dengan selamat tanpa adanya luka sedikitpun ditubuhmu? " suaranya yang begitu tenang menimbulkan sengatan kejutan dipihak lain.

__ADS_1


" Jelaskan! "


__ADS_2