
" Anggap saja aku mendapat berkah dari langit karena aku masih dibiarkan hidup hingga sekarang. " Ucap Ahng Mingmei tanpa berkedip sedikitpun, terlihat begitu meyakinkan, padahal itu hanyalah sebuah omong kosong.
Cerita yang dibubuhi kebenaran juga bumbu kebohongan terdengar lebih nyata dan nyaris tak dapat dibedakan. Ahng Mingmei menjelaskan beberapa detail kejadian yang dialami pemilik tubuh sebelumnya sebelum kematian menjemput permaisuri itu. Dimulai dari penyiksaan ataupun aksi pembunuhan di perbatasan hutan kekaisaran.
" Seingatku, aku dibuang ke jurang dan tidak sadarkan diri setelahnya. Ketika terbangun, aku sudah berada digubuk kecil yang tidak berpenghuni. " Beberapa hal adalah benar dan beberapa hal adalah salah.
Itu adalah omong kosong besar karena ia tidak terbangun disebuah gubuk kecil. Tetapi pada saat itu, dia terbangun dihutan darah bagian inti setelah mengalami penyiksaan saat pertama kali ia menginjakkan kakinya ke dunia ini. Ritual penyatuan jiwa dan raga, setidaknya itu yang dijelaskan oleh Whitely, hewan kontraknya.
" ___ " Yao Shunye memejamkan matanya yang menggelap, berusaha menahan amarah. Kemudian, setelah tenang dia membuka kelopak matanya yang tegas ketika ia berucap sendu, " Siapa? " pertanyaannya yang singkat membuat Ahng Mingmei mengernyit bingung.
" Siapa yang menyelamatkanmu? Guru ingin berterima kasih padanya. " jelas Yao Shunye sekali lagi dengan raut wajahnya yang begitu serius.
' Jederr... ' seperti tersambar petir yang berkilat dimalam hari yang sunyi, Ahng Mingmei tanpa sadar memijit ujung pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening.
Sebelumnya Ahng Mingmei tidak pernah memperkirakan bahwa Yao Shunye akan mengintrogasinya sedetail mungkin. Bahkan, seseorang yang menyelamatkannya pun, Yao Shunye harus tahu siapa itu.
' Benar-benar merepotkan. '
Ahng Mingmei mengangkat pandangannya dan berucap setenang mungkin. " Aku terbangun dan tidak melihat siapapun berada disisiku saat itu. Jadi aku memutuskan untuk segera kembali ke kekaisaran tepat setelah aku sadarkan diri. "
" Mengenai lukamu? " Tanya Yao Shunye sekali lagi karena merasa ada yang sedikit janggal dengan cerita yang Ahng Mingmei katakan padanya.
Bukannya meragukan kejujuran ataupun kebenaran yang diceritakan gadis itu, melainkan lebih bersiaga kepada siapa saja yang berhubungan langsung dengan Ahng Mingmei saat itu. Mungkin saja, salah satu diantaranya bisa dijadikan sebagai saksi untuk menghukum keluarga besar hao sekaligus Wang Zhengyi yang secara tidak langsung ikut andil didalamnya.
" Aku tidak tahu. " Ahng Mingmei mengedikkan bahunya santai. " Seingatku, ketika aku terbangun, aku sudah dalam keadaan sehat tanpa sedikitpun luka ditubuhku. " Ia mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Terlihat begitu meyakinkan dengan raut wajahnya yang terkesan polos dan naif.
Helaan nafas pelan bisa terdengar ketika Yao Shunye berkata. " Hah... aku mengerti. " ia tersenyum dengan raut wajahnya yang dipenuhi kelembutan.
__ADS_1
" Beristirahatlah! Kau pasti sudah lelah. " Lanjut Yao Shunye dengan suaranya yang mengalir tenang, ia begitu tulus menunjukkan kepedulian hati.
Senyuman dengan perasaan mengembang diwajah cantik Ahng Mingmei. Kali ini ia begitu tulus tersenyum ketika mendapat perhatian dari pria disisinya yang akan menjadi gurunya dimasa depan.
Ahng Mingmei tahu jika Yao Shunye begitu tulus menyayangi pemilik tubuh sebelumnya, layaknya sepasang guru dan murid.
Mengetahui hal itu Ahng Mingmei merasa hatinya terasa ringan karena permaisuri itu masih memiliki guru yang begitu menyayanginya didunia yang begitu kejam ini.
Meski jauh didalam lubuk hatinya, Ahng Mingmei merasa sedikit iri dengan kasih sayang yang permaisuri itu dapatkan semasa hidupnya dari kerabat ataupun orang-orang terdekatnya. Ya, meski tidak memiliki orang tua sama seperti yang dirasakan Ahng Mingmei selama ini. Tetapi, Ahng Mingmei merasa itu sudah cukup untuk mengobati kehangatan yang seharusnya didapatkan dari sebuah keluarga.
Melihat jika gadis dihadapannya melamun, Yao Shunye menepuk pipi Ahng Mingmei lembut. Bermaksud menyadarkan gadis itu. " Mei'er, ada apa? " Suaranya yang mengalir tenang berhasil menimbulkan kejutan dipihak lain.
Ahng Mingmei sedikit tersentak, lantaran kaget karena suara Yao Shunye yang terdengar berhasil menariknya kembali kedunia nyata. Tidak sadar jika sedari tadi dirinya terlalu larut dalam pikirannya sendiri.
' Ya ampun Mingmei! Bagaimana bisa kau melamun disaat seperti ini. '
Dengan segera, Ahng Mingmei memasang sebuah senyuman tipis yang canggung. " Aku baik-baik saja, guru. " ia menyentuh tangan Yao Shunye yang masih berada diwajahnya, menepisnya dengan halus. " Kau tidak perlu khawatir. " lanjutnya, bermaksud menenangkan.
Yao Shunye menolehkan wajahnya, menatap sang murid yang sedang balik menatapnya dengan ekspresi kesulitan dan penuh tanya yang tertahankan. " Ada apa? Ada yang ingin kau katakan? "
" Guru, bisakah kau--, " terjeda Ahng Mingmei dengan suaranya yang tersendat sembari menundukkan sedikit kepalanya. Gerak-gerik yang ia tunjukkan menyiratkan kekhawatiran yang aneh.
" Ada apa? Katakan saja apa yang ingin kau katakan, aku tidak akan marah akan hal itu. " ujar Yao Shunye, berusaha menenangkan, seolah mengerti kesulitan apa yang sedang Ahng Mingmei hadapi saat ini.
" Aku---, " Ahng Mingmei mengangkat wajahnya untuk menatap kedalam manik hitam gurunya yang segelap malam.
Ia menarik nafas, sebelum berkata. " Aku ingin guru mengatakan kepada semua orang bahwa aku mengalami hilang ingatan. " ujarnya dalam satu tarikan nafas.
__ADS_1
Mendengar kata-kata yang dikeluarkan oleh Ahng Mingmei, Yao Shunye mengernyitkan dahinya bingung, " Kenapa? " tanyanya sembari menatap Ahng Mingmei lekat-lekat seolah tidak ingin melewati sedikitpun perubahan ekspresi diwajah cantik gadis itu.
Tiba-tiba raut wajah Ahng Mingmei berubah begitu serius. Dalam kekosongan ia melancarkan sebuah kejutan. " Aku ingin membalas dendam dengan caraku sendiri. Dan aku harap kau mendukung keinginanku ini, guru. "
Setelah Ahng Mingmei menyelesaikan ucapannya, ruangan diselimuti keheningan untuk beberapa saat.
Yao Shunye hanya terdiam dengan kerutan didahinya yang semakin dalam, seolah masih mencerna maksud yang ditujukan Ahng Mingmei kepadanya. ' Membalas dendam? Dengan caranya sendiri? Lalu aku? Mendukungnya begitu? '
Ia mengerjapkan matanya setelah kesadarannya mulai mengambil alih. " Kita bisa membicarakan ini lain kali. " balas Yao Shunye kemudian dengan ringan terdengar acuh tak acuh.
" Tapi, Guru---! " terjeda Ahng Mingmei.
" Masih banyak waktu. " Potong Yao Shunye dengan lembut. " Kau bisa menyusun rencanamu terlebih dahulu. "
Ia melengkungkan bibirnya membentuk senyuman manis yang menawan ketika ia berkata, " Lalu kau bisa pergi untuk membalas dendam. " lanjutnya dengan suaranya yang mengalir begitu tenang menyembunyikan ketajaman.
Ahng Mingmei mengerjap terpana, namun ia begitu lihai menyembunyikan keterkejutannya. Bibirnya yang mengait keatas perlahan mengalirkan suara yang merdu namun dalam ketika ia berucap. " Murid tidak tahu harus berkata apa, " Terjeda ia dengan air mata yang mulai menggantung. " Tapi aku ucapkan terima kasih guru, aku sangat beruntung memiliki guru sepertimu. " ujarnya dengan sepasang matanya yang sendu menatap kedalam manik Yao Shunye.
Senyuman hangat perlahan mengembang diwajah Yao Shunye. " Beristirahatlah! Jangan khawatirkan yang lain, aku akan melindungimu apapun yang terjadi. "
Senyuman diwajah tampannya semakin mengembang ketika ia kembali berucap. " Guru berjanji tidak akan membiarkanmu terluka lagi, Mei'er. Tidak akan! " suaranya yang begitu lembut penuh ketulusan mampu melelahkan lapisan es yang telah membeku sekian lama.
Setelah menyelesaikan ucapannya, Yao Shunye mengibaskan lengan baju penuh kewibawaan dia segera melangkah tegas untuk keluar dari ruang Pribadi Kekaisaran. Meninggalkan seorang gadis yang tertegun dengan pancaran dari kedua bola matanya yang penuh emosi yang tidak dapat dijelaskan.
Terlalu lama sejak Ahng Mingmei mengalami kejadian seperti ini.
Ketika dulu seseorang berusaha menjalin hubungan pertemanan atau sekedar menunjukkan kepedulian padanya, Ahng Mingmei selalu berterima kasih dengan berucap lembut sebagai responnya atas segala usaha mereka untuk menjalIn koneksi dengannya. Tidak ada yang tahu, jika semua itu hanyalah sandiwara belaka.
__ADS_1
Sekarang, Ahng Mingmei merasa seluruh tubuhnya dipenuhi perasaan menggelitik yang aneh.
' Ah, inikah yang namanya keluarga? '