CONSEQUENCE

CONSEQUENCE
005. Semoga Tidak Saling Terjerat


__ADS_3

Waktu seakan membeku diudara dengan membawa kesuraman yang tajam.


Kedua sosok yang berlainan jenis itu terlihat saling memandang dengan pandangan yang berbeda. Aura dingin yang dipenuhi tekanan yang suram menguar dari salah satu sosok diantara keduanya.


Auranya membawa tekanan yang begitu mencekik. Namun, tidak berarti bagi sosok gadis yang memiliki keindahan di usia yang belia.


" Pemarah sekali. " gadis itu mencibir sembari memundurkan tubuhnya dengan perlahan. Salah satu tangannya terangkat untuk melemparkan sesuatu kearah sang pria dengan santai.


' Hap.. ' pria itu menangkap sebuah pil yang terlempar kearahnya dengan mudah. Pandangannya terangkat menatap tajam kedalam netra hijau zamrud milik gadis itu seolah mengatakan, apa maksudnya kau memberikan ini padaku?


Gadis itu terkekeh kecil dan berucap," Untukmu, anggap saja sebagai tanda permintaan maaf dariku. " Perubahannya begitu cepat, dengan suaranya yang mengalir tenang. Ia begitu tulus menunjukkan kemurahan hati.


Kata kata yang terlontar dari mulut gadis itu membuat dahi sang pria mengerut kencang. ' Apa yang gadis ini inginkan sebenarnya? Mengapa mendadak berubah begitu baik? ' Pasalnya, gadis itu tiba tiba memberikan sebuah pil kepadanya, setelah apa yang sebelumnya mereka lakukan.


Apa ini yang disebut sebagai kompensasi?


Mengetahui hal itu membuat sepasang netranya berkilat tajam dengan menatap intens kesatu arah, yaitu tepat kearah keberadaan sang gadis yang berdiri tegak dihadapannya.


Melihat tatapan ganas dari pria itu yang seakan siap mengoyaknya ditempat, membuat gadis itu mendecakkan lidahnya kesal. " Ckck, itu hanya sebuah pil penyembuh. Aku hanya berbaik hati membantumu yang sedang sekarat. Apa yang salah dengan hal itu? " Ia menjelaskan. Suaranya begitu jernih dan tampak murni. Tetapi berbanding terbalik dengan tatapannya yang menyembunyikan kelicikan seperti setan kecil yang bersembunyi disudut.


Wajah pria itu berubah begitu serius. Dalam kekosongan dia melancarkan sebuah serangan." Seorang gadis yang bisa bersikap tak senonoh kepada pria yang tak dikenal, mana mungkin bisa dipercaya."


" Gadis sepertimu ini.." terjeda ia dengan kedua netra matanya yang menyipit menatap gadis itu dari atas hingga kebawah seolah sedang berusaha mencari sesuatu.


" Aku tidak yakin jika kamu masihlah seorang gadis." lanjutnya begitu tenang tetapi dipenuhi ejekan yang dingin.


Kilatan ketidaksukaan tercetak samar diwajah cantik sang gadis. Beraninya pria ini menghinanya secara terang terangan. Gadis itu tidak bisa menahan perasaan jengkel, dia melihat pria itu dengan intens seolah sedang berusaha mengamati sesuatu, tiba tiba sebuah ide terlintas didalam pikirannya.


' Srek.. ' suara jubah yang ditarik dengan paksa terdengar.


Gadis itu mencondongkan tubuhnya kearah pria itu berada dengan salah satu tangannya yang menarik kerah jubah pria itu dengan kasar. " Pria cantik, jangan mengambil garis terlalu jauh. Jangan melewati batasanku, mengerti? " suaranya rendah namun dalam penuh kesuraman yang tajam.

__ADS_1


Tubuh pria itu mematung untuk kesekian kalinya ketika melihat mata tajam bak serigala liar sedang menatapnya. Dia tidak bisa memalingkan wajah sejak gadis cantik ini mencengkram dagunya dengan erat.


Wajahnya mulai menggelap dengan kedua alisnya yang menyatu. " Kau berani! " geramnya dengan tatapan yang menghunus tajam.


Seakan tidak ada rasa takut dalam diri gadis itu dia kembali berseru. " Kau bisa mencobanya." Jari jari lentik yang lembut itu perlahan terulur untuk mengusap bibir bawah sang pria dengan lembut, ia menatapnya penuh minat. " Aku tidak keberatan, jika harus memaksamu dengan caraku yang sebelumnya. " Ia menyeringai halus, dengan suaranya yang begitu tenang nyaris seperti bisikan yang dalam.


Wujudnya yang sekarang terlihat seperti siluman rubah yang sedang berusaha mendapatkan buruan incarannya.


" Kau---" Pria itu meneguk ludahnya kasar ketika suaranya seakan tercekat di tenggorokan. ' Gila! Gadis ini benar benar sudah gila! ' Makian itu terus terucap dalam benaknya.


" Kamu---,menjauh dariku. " Bentaknya tajam menyembunyikan getaran takut. Tentu saja, takut jika gadis itu melakukan hal yang tidak senonoh lagi padanya. Tanpa berpikir dua kali, dia menelan pil pemberian gadis itu dengan cepat.


Melihat jika sang pria menelan pilnya dengan patuh. Membuat kekehan kecil terdengar dari balik celah bibir gadis itu. " Bagus! Menjadi pria yang patuh, lebih menarik perhatianku. " Ucapannya yang dipenuhi sirat menggoda membuat pria itu menatapnya dengan semakin ngeri.


Dengan elegan, ia memutar tubuhnya dengan membelakangi pria itu untuk melangkah pergi setelah berkata. " Pria cantik, aku pergi dulu. Kita tidak akan bertemu lagi, walaupun berjodoh juga tidak akan bertemu lagi. " suaranya terdengar begitu santai dengan salah satu lengannya terangkat untuk melambai sebagai tanda perpisahan.


Sebelum gadis itu menginjakkan kakinya meninggalkan gua, sebuah teriakan keras yang mengalun dingin menginterupsi. " Kamu tidak akan bisa pergi! " Suaranya yang begitu rendah seperti berusaha menahan amarah yang bergejolak.


Perlu diingat.


Gadis itu pergi,


Tanpa rasa bersalah sedikitpun!


Melihat kepergian sang gadis yang mencampakannya setelah apa yang baru saja mereka lakukan. Membuat wajah pria itu menggelap menahan amarah. Tatapannya yang tajam tertuju kesatu arah yaitu punggung milik sang gadis yang menghilang dibalik pintu gua.


Gadis ini..


Begitu berani?


Dia hendak beranjak dari duduknya untuk mengejar sosok keindahan itu, namun tindakannya terhenti ketika ia mendadak merasakan sakit dari dalam tubuhnya.

__ADS_1


" Ugh! " ringisnya kesakitan.


Sial!


Apa gadis itu benar benar memberinya sebuah racun?


Ditengah kemarahannya pria itu menggeram tetapi suaranya tertahan oleh sesuatu karena dia merasakan tubuhnya terbakar dan terasa remuk redam.


Dirinya bernafas tidak teratur. Posisi tubuhnya yang awalnya berdiri berubah menjadi terduduk dengan posisi lotus. Dia mencoba untuk tetap tenang dengan mengalirkan energi spiritual kedalam tubuh untuk menekan rasa sakit yang dirasa.


Keringat membanjiri tubuhnya, dengan urat urat nadi yang menonjol keluar. Sangat tercetak jelas dibalik kulit putihnya. Dahinya yang mengerut kencang menandakan rasa sakit yang tertahan.


Tidak tahu berapa lama dirinya menahan kesakitan yang tak berujung itu. Saat kondisinya mulai lemas tak bertenaga, rasa sakit ditubuhnya perlahan lahan mereda.


' Uhuk... ' Muntahan darah hitam yang kental keluar dari mulutnya. Itu adalah racun yang sudah bercampur dengan darah.


Salah satu tangan pria itu terulur untuk memeriksa nadinya sejenak. Dia tertegun, raut wajahnya menunjukkan ekspresi tak percaya. Racun ditubuhnya menghilang dan sudah bersih tanpa sisa. Serta luka luar yang sudah sembuh tanpa meninggalkan bekas luka sedikit pun.


" Gadis itu ternyata masih tahu caranya berkelakuan baik layaknya seorang gadis pada umumnya. " Dengusnya sinis.


Salah satu tangannya perlahan terangkat untuk meraba bibirnya yang terdapat jejak gigitan yang manis. " Kali ini, aku berbaik hati untuk melepaskanmu. "


" Tapi dimasa depan..." terjeda ia.


" Jangan harap untuk pergi dariku, Yang Mulia. " suaranya yang begitu tajam namun dalam dipenuhi otoritas.


Sepertinya... gadis itu telah menyinggung orang yang salah.


_____


A/N: What? Yang Mulia? Pria cantik itu bilang Yang Mulia.

__ADS_1


Yak, silahkan tuturkan tebakan kalian di kolom komentar, hehe.


__ADS_2