
Ahng Mingmei menarik sudut bibirnya membentuk seringai halus. Sepertinya gadis itu sangat--menikmati penderitaan yang Hao Xi Li rasakan ketika ia berada dibawah tekanannya. Ahng Mingmei tidak menyesal karena memilih untuk kembali ke kekaisaran, pertunjukan semenarik ini--mana mungkin dia melewatkannya.
Hao Xi Li ini terlalu memandang tinggi diri sendiri, yang membuatnya begitu sombong dihadapan Ahng Mingmei selaku Permaisuri Ming sang penguasa utara. Entah dari mana keberanian pria itu berasal, tapi yang pasti... dimasa depan, kehidupannya tidak akan pernah tenang sejak Ahng Mingmei memutuskan untuk membalaskan dendam.
Yao Shunye yang berada didekat Ahng Mingmei sedikit menarik kedua sudut bibirnya dan tersenyum senang. Dia sangat menikmati Hao Xi Li yang menderita dibawah tekanan Ahng Mingmei. Sepertinya gadis itu berubah begitu banyak setelah kematian hampir merenggut nyawa kecilnya. ' Seperti ini juga tidak buruk. '
Sedangkan disisi tangga pertama, Ahng Tian Yu sama sekali tidak sadar kalau dirinya hanya terdiam menonton perdebatan Ahng Mingmei dengan Hao Xi Li. Seperti berada dibawah sihir, dia hanya bisa terdiam memperhatikan Ahng Mingmei membereskan Hao Xi Li.
Sedari dulu, Ahng Tian Yu sudah tidak suka dengan Hao Xi Li. Dimatanya, pejabat tua itu seakan menjadi parasit di kekaisaran. Sikapnya yang begitu angkuh dan arogan membuat Ahng Tian Yu tidak nyaman.
Dulu, ketika kaisar sebelumnya memimpin, Hao Xi Li begitu patuh dan hanya menjalankan tugasnya dengan baik. Akan tetapi, sejak masa kepemimpinan digantikan oleh Ahng Mingmei, Hao Xi Li mulai menunjukkan wujudnya yang asli. Semua peraturan dan etika seakan dilupakan oleh Hao Xi Li. Pria itu mulai berani mempertanyakan keputusan Ahng Mingmei selaku pemimpin kekaisaran.
Tahu jika tindakan Hao Xi Li banyak melanggar etika dan mulai melewati batasan. Ahng Tian Yu mulai menegur Hao Xi Li agar tidak melewati batasannya sebagai seorang bawahan. Tapi, melihat tegurannya tidak digubris oleh pria itu, membuat Ahng Tian Yu tersulut amarah hingga berniat membunuh Hao Xi Li ditempat.
Untung saja, Yao Shunye menghentikannya di waktu yang tepat. Kata kata pria itu terus tercetak dalam ingatan Ahng Tian Yu.
' Biarkan Mei'er belajar menjadi seorang pemimpin. Jangan menghentikannya dengan menjadikanmu sebagai perisai sekaligus penghalang baginya untuk tumbuh menjadi dewasa. '
Dan sejak saat itulah, Ahng Tian Yu hanya bisa terdiam dengan membiarkan Ahng Mingmei melawan para menteri yang selalu menentangnya. Semuanya masih tetap sama, hingga gadis itu kembali dari kematian dan merubah segalanya.
Pandangan Ahng Tian Yu yang begitu teduh menyapu keberadaan Ahng Mingmei di singgasana.
' Apakah.. gadis itu telah tumbuh menjadi dewasa? ' batinnya gelisah.
Sedangkan disisi lain, Hao Xi Li sama sekali tidak membuat pembelaan. Pria itu hanya memohon untuk diampuni kesalahannya. Pejabat tua ini sangat cerdas, karena tidak memilih menyanggah ucapan Ahng Mingmei.
Kalau Hao Xi Li lebih memilih menyanggah, itu akan membuat dirinya lebih sulit melepaskan diri dari jeratan kesalahan. Ucapan yang dilontarkan sang Permaisuri begitu jelas dan tepat mengenai sasaran yang memang terjadi sebelumnya.
Belum lagi, wanita itu mempunyai status dengan kekuasaan yang tak tertandingi. Hao Xi Li yang hanya seorang menteri keuangan, mana mungkin bisa dibandingkan dengannya. Meskipun Hao Xi Li memiliki kekayaan serta koneksi yang cukup luas tetapi itu semua tidak akan bisa membuat dirinya sebanding dengan kekuasaan yang dimiliki Ahng Mingmei. Dia tidak memiliki kemampuan untuk itu. Tidak ada!
Dengan tenang yang elegan, Ahng Mingmei beranjak dari singgasananya. Kedua kaki Ahng Mingmei melangkah mendekat kearah Hao Xi Li berada. Rambut hitamnya yang tergerai tertiup hembusan angin, wajah cantiknya menggelap membawa pancaran pesona yang tajam.
Para pejabat merasakan getaran dingin yang menjalar masuk menusuk tulang ketika pandangan mereka menangkap sosok Ahng Mingmei melangkah turun ke tengah aula. Mereka berkeringat dingin dengan detak jantung yang berdetak cepat menahan getaran takut ketika aura dingin menguar dari sosok keagungan itu. Entah apa yang terjadi, mereka merasa bahwa sosok Permaisuri yang sekarang berada dihadapan mereka sudah sangat berubah, berubah hingga menjadi... mengerikan.
__ADS_1
' Tapp.. ' Langkah Ahng Mingmei berhenti tepat dihadapan Hao Xi Li. Kulit tangan yang halus dan lembut milik Ahng Mingmei bergerak terulur menuju bahu sang menteri yang bergetar hebat dalam sujudnya.
Ekspresi diwajah Ahng Mingmei segera berubah menjadi lebih lembut. Nada bicara Ahng Mingmei berubah seratus delapan puluh derajat. " Menteri Hao, apa yang kau lakukan? " Dia menyentuh pundak Hao Xi Li, membantunya untuk segera berdiri. " Berdirilah! Kau adalah seorang menteri keuangan, bukan pelayan!
Selain itu, kau adalah salah satu menteri yang setia mengabdi kepadaku. Mana mungkin Permaisuri ini tega membiarkanmu berperilaku seperti ini. " suaranya yang merdu mengalir tenang tanpa adanya ancaman atau amarah yang tertahan. Tindakannya itu berhasil menimbulkan kejutan dipihak lawan maupun semua orang.
Bohong, semua adalah kebohongan. Hao Xi Li tahu dengan jelas Ahng Mingmei hanya berpura pura bermurah hati kepadanya. Melihat apa yang wanita itu lakukan sedari awal, membuat Hao Xi Li mengambil kesimpulan jika Permaisuri dihadapannya ini sudah berubah. Oleh karena itu, dia harus berhati hati dalam mengambil langkah agar wanita itu tidak menaruh curiga yang berlebih kepadanya.
" Terima--terima kasih, Yang Mulia. " balas Hao Xi Li kemudian dengan terbata bata sembari beranjak berdiri dari sujudnya.
" Ah! Lukamu--" terkejut Ahng Mingmei dengan sepasang matanya yang membulat kala melihat luka didahi Hao Xi Li. " Kasim Hui! " panggilnya tanpa memalingkan pandangan dari Hao Xi Li.
Dari arah belakang, terlihat seorang pria setengah baya berlari tergopoh gopoh menghampiri sang junjungan. Langkahnya terhenti tepat disamping Ahng Mingmei berada. " Hamba disini, Yang Mulia. " jawab kasim Hui dengan memasang postur membungkuk penuh penghormatan.
" Menteri Hao sedang terluka..." bibirnya yang mengait keatas perlahan mengeluarkan suara yang begitu tenang menyembunyikan ketajaman.
" Kau temanilah Menteri Hao untuk berobat ke tabib kekaisaran. " perintah Ahng Mingmei tanpa memalingkan pandangannya. Perubahannya begitu cepat, seakan perdebatan yang baru saja terjadi diantara mereka hanyalah angin lalu belaka.
" Baik, Yang Mulia. " jawab Kasim Hui patuh, ia hendak melangkah pergi, tapi suara Hao Xi Li yang menginterupsi membuat langkahnya terhenti.
Ahng Mingmei menghela nafas, " Menteri Hao, jangan berkata demikian.
Kata katamu ini.. bisa membuat Permaisuri ini salah faham jika kau sedang mengisyaratkan bahwa aku adalah permaisuri yang begitu kejam karena memperlakukan bawahannya dengan begitu buruk. " ia memasang ekspresi kecewa, dengan sepasang mata hijau zamrud penuh keteduhan.
Sebelum Hao Xi Li sempat menjawab ucapan Ahng Mingmei, gadis itu tiba tiba mengangkat salah satu lengannya untuk menepuk bahu Hao Xi Li pelan. " Menteri Hao, kenapa tidak menjawab? "
Hao Xi Li terlihat kelabakan, " Yang--Yang Mu--" terjeda ia.
" Apakah--apakah kesalahpahaman yang aku katakan sebelumnya adalah kebenaran, Menteri Hao? Benarkah demikian? " Potong Ahng Mingmei dengan memasang ekspresi terkejut yang kentara, ia begitu lihai berpura pura hingga orang lain pun tidak akan tahu jika gadis itu sedang bersandiwara.
Mendengar nada bicara Ahng Mingmei yang berubah dengan tiba tiba, membuat Hao Xi Li berkeringat dingin. " Bukan--bukan maksud hamba begitu, Yang Mulia. " Ia semakin membungkuk kedalam seakan sedang berusaha menyembunyikan dirinya.
Dengan segera, raut wajah Ahng Mingmei melembut. " Kalau begitu, segeralah pergi dengan kasim Hui untuk mengobati luka di dahimu itu. " perintahnya dengan tulus menunjukkan kebaikan hati.
__ADS_1
" Ya, terima kasih Yang Mulia. " jawab Hao Xi Li dengan terpaksa. Dia hanya bisa mematuhi titah sang permaisuri. Mana mungkin dia mempunyai hak untuk menolak.
Ahng Mingmei menganggukkan kepalanya puas. " Bagus! " Sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk kurva tipis. " Karena Menteri Hao sedang terluka, Permaisuri ini akan memberikanmu izin untuk beristirahat selama beberapa hari di kediaman. " suaranya yang begitu tenang menimbulkan kejutan dipihak lain.
Dengan anggun, dia memutar tubuhnya hendak melangkah pergi setelah berucap. " Ingatlah, untuk merawat lukamu dengan baik.. menteri Hao. " lanjut Ahng Mingmei dengan senyuman penuh arti.
Hao Xi Li tertegun kala mendengar kata kata terakhir yang dikeluarkan oleh Ahng Mingmei. Dia bukannya tidak mengerti maksud dari perkataan sang Permaisuri.
Wanita itu kurang-lebih sedang menghukum Hao Xi Li sebagai tahanan rumah dengan kondisinya yang sedang terluka sebagai alibi.
Sial!
Sejak kapan permaisuri ini begitu licik.
" Ham--hamba berterima kasih atas kebaikan hati anda, Yang Mulia. " Balas Hao Xi Li kemudian dengan kedua tangannya yang mengepal erat dibalik lengan jubahnya.
Kasim Hui dengan segera mempersilahkan Hao Xi Li untuk mengikutinya. " Mari, Menteri Hao. " ujarnya begitu tenang yang sopan.
Hao Xi Li menegakkan tubuhnya kembali dan segera berbalik untuk mengikuti Kasim Hui dengan patuh. Kedua sosok setengah baya itu pergi menuju tabib kekaisaran meninggalkan aula persidangan yang berada dalam keheningan yang memberat.
......
_____
A/N: Gimana? Gimana? Suka sama karyaku?
" Sukaaa..." nah, karena kalian tadi udah bilang suka, jadi jangan lupa vote, coment, like and share. Dukungan kalian sangat membantu Author pemula ini.
Ehem! karena Author adalah gadis yang baik hati dan tidak sombong. Jadi hari ini Author dengan tulus menunjukkan kemurahan hati memberikan gambar visual dari tokoh Penasehat Kekaisaran, Yao Shunye. Jeng jeng jeng! (σ≧▽≦)σ
Tapi perlu Author ingatkan, gambar itu bukan milik Author. Tetapi Author bisa pastikan, editan adalah karya Author sendiri.
Semoga kalian suka!
__ADS_1