CONSEQUENCE

CONSEQUENCE
015. Terbang Dalam Lamunan


__ADS_3

Hallo readers! Jumpa lagi dengan Maya Ay' haha! Seharusnya Author muncul lagi kamis depan yak, tapi kaga jadi karena tangan Author gatal pengen cepat-cepat uploud nih chapter.


A/N : Author saranin kumpulin beberapa chapter supaya gak penasaran, sekedar saran, yeay~ Happy reading!


______


Mencoba tuk bertahan ditengah kepungan badai cobaan


Lelah dalam melangkah, menggenggam cinta tak berbalas


Warna pelangi hanyalah semu yang dirasakan


Hilang tersalip awan-awan biru yang menderu deru


Lupakan semua kenangan dan janji janji hati


Kepastian sudah diberikan


Namun pengkhianatan menjadi jawaban


Cinta sejati telah dinodai


Hampa terasa sunyi didalam jiwa


Menanti harapan melepas masa-masa kelam


Melangkah maju menuju sebuah harapan


Cinta sejati sudah jauh dan pergi


Berlalu pilu ditelan oleh sang waktu


---Anonim


•••••


Cahaya yang pudar menembus awan. Matahari berangsur-angsur menghilang dari ufuk barat untuk beristirahat diatas perpaduannya dan langit yang digantikan oleh sang rembulan dengan taburan bintang.

__ADS_1


Cahaya bulan seperti kain kasa tipis yang dengan samar menyinari kolam pemandian. Pantulan cahaya dari sang rembulan membentuk sosok bayangan kecantikan yang tampak seperti sebuah lukisan didalam air.


Keheningan menyelimuti kolam pemandian dengan suara riak air yang terdengar samar membuat siapapun jatuh kedalam ketenangan yang damai.


Itu adalah Ahng Mingmei yang baru saja menyelesaikan urusan kekaisaran, dan lebih memilih kembali ke kediamannya untuk berendam. Dia dengan santainya menikmati rasa hangat yang menjalar.


Jubah tipisnya membalut tubuh rampingnya dengan sempurna mencetak lekuk tubuh yang memikat.


Surai hitam panjangnya yang dibiarkan tergerai hingga jatuh kedalam air, begitu dominan dengan keindahan duniawi. Jika ada orang lain yang melihat sosoknya saat ini, pasti akan tertelan kedalam rasa haus yang bergejolak seketika.


Sepasang matanya yang cemerlang perlahan meredup dengan benaknya yang mencoba memutar ingatan pemilik tubuh sebelumnya. Kerutan di dahinya tercetak samar, sulit untuk mengingat ingatan manis.


Hanya ada ilusi yang berujung kedalam kepahitan.


Ahng Mingmei adalah nama dari Permaisuri Ming, putri satu satunya dari kaisar kedua kekaisaran Ahng, Ahng Zhuting. Ibunya bernama Annchi, merupakan seorang tabib pengelana.


Tepat di hari kelahirannya ke dunia, di tahun ke-72 Dinasti Ahng, Ahng Mingmei harus kehilangan ibunya disaat Annchi berusaha melahirkannya ke dunia. Sedangkan ayahnya, Ahng Zhuting tiba tiba menghilang setelah upacara kematian sang ibunda.


Menghilangnya sang ayah dengan tiba tiba, mengakibatkan Kekaisaran dalam kekacauan besar. Kekaisaran yang saat itu berada dalam keadaan genting tanpa adanya seorang pemimpin membuat musuh yang selama ini bersembunyi, mulai menampakkan batang hidungnya.


Salah satu diantaranya adalah Kekaisaran Wang Timur. Tanpa diduga, mereka menyerang kota Ping an sebagai perbatasan diantara kedua negara. Penyerangan mereka menjadi pertanda akan adanya perang besar yang akan terjadi diantara kedua negara tersebut.


Ahng Xuemin yang berada dalam keadaan terdesak, tanpa berpikir panjang memimpin seluruh pasukan kekaisaran bersama dengan Jendral Besar Ahng selaku saudara angkatnya untuk berangkat menuju kota Ping An.


Peperangan besar tak terelakkan.


Jendral Besar Ahng yang memiliki pengalaman dalam hal peperangan, memutuskan untuk turun langsung kedalam medan perang. Memimpin [1]pasukan Yongqi yang berada dibawah kuasanya untuk memukul mundur musuh. Sedangkan, Ahng Xuemin bertugas dalam hal strategi peperangan yang akan dijalankan oleh saudara angkatnya, beserta seluruh pasukan kekaisaran yang berada dibawah kepemimpinannya.


Suara dentuman keras menjadi pertanda dimulainya peperangan besar diantara kedua negara tersebut.


Masing-masing pasukan melaju cepat ketengah medan perang. Teriakan dari para prajurit, suara dentingan pedang, koyakan daging serta raungan kematian menemani tragedi berdarah diperang besar itu.


Para prajurit dari kedua negara jatuh berguguran. Jiwa jiwa yang menghilang akibat peperangan tak terelakkan. Bau amis menguar kental dengan mayat yang berserakan dimana mana.


Kejadian itu terus terjadi selama peperangan berlangsung. Kedua negara pun mengalami kerugian yang besar karena para prajurit yang jatuh berguguran tak terhitung jumlahnya.


Hingga, Kekaisaran Ahng Utara yang saat itu memiliki kesempatan untuk menang lebih besar dari pada musuh. Mengambil keputusan untuk menyerang Kekaisaran Wang Timur dengan membakar tenda tempat persediaan makanan mereka. Rencana mereka berhasil, dan tanpa berpikir panjang, mereka dengan segera menyerang camp musuh yang berada dalam kekacauan.

__ADS_1


" Serang!!! "


Perintah dari sang Jendral Besar Ahng yang menggema, menjadi pertanda bagi pasukan kekaisaran yang tersisa untuk menyerang musuh. Kekaisaran Wang Timur yang belum siap berperang menjadi alasan Kekaisaran Ahng Utara optimis akan kemenangan didepan mata. Mereka berhasil memukul mundur musuh dan kemenangan hampir diterima oleh Kekaisaran Ahng Utara saat itu.


Namun,


Teriakan pasukan yang bergema dari arah berlawanan, membuat kemenangan didepan mata seketika pupus. Pasukan Kekaisaran Ahng Utara yang berada di wilayah musuh, seketika tersudut karena berada dalam posisi terkepung. Ahng Tian Yu yang memimpin pasukan, seketika berwajah pucat. Semua rencana yang sudah ia susun dengan saudaranya menjadi hancur berantakan.


" Ini--, ini, bagaimana bisa? " suaranya terasa tercekat di tenggorokan dengan rasa tidak percaya. Namun dalam sekejap, raut wajah Ahng Tian Yu seketika menggelap ketika pikiran buruk melintas dalam benaknya. " Ada pengkhianat! "


Meskipun Ahng Tian Yu memikirkan kemungkinan itu, dia tidak punya waktu untuk berfikir siapa yang berkhianat kepada Kekaisarannya. Tanpa berpikir dua kali, Ahng Tian Yu segera menyusun rencana dan memimpin pasukan yang tersisa untuk menerobos pasukan musuh. Meskipun itu adalah hal yang mustahil, mereka tidak memiliki pilihan lain selain berusaha mempertahankan harga diri sebagai seorang prajurit.


" Serang!! "


Peperangan kembali terjadi, namun kali ini kemenangan berpihak kepada Kekaisaran Wang Timur. Mereka memimpin keadaan dengan pasukan musuh yang berada dalam genggaman.


Kekalahan telak diterima oleh Kekaisaran Ahng Utara, namun di akhir peperangan. Sebuah pasukan berzirah hitam dari arah utara mendadak muncul dengan seorang pemuda berzirah sebagai pemimpin pasukan.


Lagi lagi, Ahng Tian Yu tercengang untuk kesekian kalinya kala melihat pasukan yang memakai zirah hitam yang familiar terlihat di pandangan.


' Ini.. ' benaknya tercekat ketika pasukan berzirah hitam tersebut membabat habis pasukan musuh.


Melihat hal itu, Ahng Tian Yu segera berteriak lantang. " Bala bantuan telah tiba!! Kita harus tetap berjuang!! Serang!!! " Suaranya yang bergema menjadi penyemangat bagi para prajurit Kekaisaran yang tersisa.


Tidak butuh waktu yang lama, Kekaisaran Ahng Utara berhasil membalikkan keadaan dengan bantuan pasukan berzirah hitam tersebut. Kemenangan pun berada dalam genggaman.


Kekaisaran Wang Timur yang mengalami kekalahan telak, lebih memilih jalan perdamaian dengan mengirimkan salah satu pangerannya untuk menjadi pangeran tahanan sebagai tanda perdamaian antara kedua negara.


Dinasti Ahng tahun ke-72 bulan tiga, Jendral Besar Ahng, beserta Pangeran kedua, Ahng Xuemin kembali ke Kekaisaran dengan membawa kemenangan. Tidak hanya mereka berdua, seorang pemuda dengan wajah rupawannya ikut kembali ke Kekaisaran dengan pasukan berzirah hitam yang berada dibawah pimpinannya.


[2]Pasukan Kematian, nama pasukan tersebut. Sedangkan nama pemuda itu,


" Siapa nama anda, tuan? "


" Yao Shunye, Yang Mulia bisa memanggilku dengan nama itu. "


Dan sejak saat itulah, nama Yao Shunye dielu-elukan oleh seluruh rakyat sebagai malaikat penolong Kekaisaran Ahng Utara, selain Pangeran Kedua, Ahng Xuemin dan Jendral Besar Ahng, Ahng Tian Yu tentunya.

__ADS_1


_____


[1] Pasukan Yongqi adalah pasukan yang memiliki keberanian serta kekuatan yang berada dibawah kepemimpinan Keluarga Besar Ahng. Sang Jendral Besar Ahng, Ahng Tian Yu.


__ADS_2