CONSEQUENCE

CONSEQUENCE
019. Dalam Derap Langkah Yang Pongah Menghujam


__ADS_3

Ahng Mingmei menoleh ke belakang, mendapati tiga sosok berpakaian serba hitam dengan topi jerami di kepala mereka. Hal tersebut membuat sang permaisuri memaki dalam hati, karena tidak mampu mengenali pengejarnya.


Kali ini, sebuah belati melesat kearah mereka, tapi berujung menusuk paha kuda. Alhasil, kuda yang ditunggangi Wang Zhengyi dan Ahng Mingmei meringkik nyaring sebelum akhirnya goyah ke samping.


Sebelum bertemu dengan tanah, tubuh Ahng Mingmei ditarik kedalam dekapan Wang Zhengyi untuk kemudian melompat dari kuda. Namun, tindakan itu diambil tanpa persiapan yang cukup. Siku kiri sang pangeran membentur tanah dengan keras, ditambah dengan beban dari tubuh Ahng Mingmei, suara retakan tulang bisa terdengar.


" Argh! " ringis Wang Zhengyi. Kemudian dia bergegas melirik gadis dalam pelukannya. " Yang Mulia, kau tak apa? "


Mata Ahng Mingmei diselimuti kekhawatiran dan nada bicaranya sedikit bergetar " A--Aku baik-baik saja. Tapi, kau---" pandangannya terarah pada lengan kiri Wang Zhengyi yang terlihat lemas. ' Apakah tulangnya patah? Bagaimana bisa--' belum selesai menyelesaikan kalimat dalam benaknya, suara Wang Zhengyi terdengar menginterupsi.


" Aku baik-baik saja. " Ujarnya sembari mengangkat Ahng Mingmei berdiri dan langsung menariknya berlari. " Kita harus segera pergi. "


Manusia biasa melawan kuda, tidak perlu ditanya lagi siapa yang akan menang. Tidak sempat Ahng Mingmei dan Wang Zhengyi berlari jauh, musuh mereka sudah mengepung. Berbeda dengan sebelumnya, mereka tak langsung menyerang.


Sekarang, dengan posisi yang lebih rendah dari pada lawannya. Ahng Mingmei bisa melihat bahwa selain mengenakan topi jerami, tiga orang berpakaian serba hitam itu mengenakan penutup wajah. Namun, matanya tidaklah buta untuk bisa mengenali karakteristik unik dari bekas sayatan pada mata sebelah kiri ketiga pengejarnya tersebut.


" K-kalian pembunuh bayaran dari organisasi gelap? " Ahng Mingmei mengepalkan tangannya erat berusaha menguatkan tekad. " Apa yang kalian inginkan? " teriaknya dengan berani sembari menatap tajam ketiga pembunuh itu yang mengepung mereka dengan kuda.


" Serahkan dirimu, Permaisuri Ming." balas salah satu pembunuh bayaran itu. " Demikian, kami akan memberikan priamu kematian yang cepat. "


Mendengar hal ini, Wang Zhengyi membelalakkan matanya. " Yang Mulia, segeralah pergi dari sini, aku akan--"


" Jangan harap! " potong Ahng Mingmei seraya mengayunkan pedangnya pada kuda salah satu pembunuh bayaran itu.


Tindakan Ahng Mingmei membuat kuda malang itu meringkik dan bergerak liar, membuat penunggangnya terjerembap ke belakang dan terjatuh. Disisi lain, disela keterkejutannya, kuda itu menendang kuda lain dan menyebabkan kekacauan.


Ahng Mingmei pun mengambil kesempatan ini untuk berlari keluar dari kepungan pengejarnya. " Ayo! " teriaknya seraya menarik Wang Zhengyi, tak memedulikan kekacauan yang disebabkan olehnya.


" Permaisuri sial*n! " maki salah satu pembunuh bayaran yang terjatuh ke tanah itu. Dengan tenaganya yang tersisa, dia meraih busur silang disisinya. Kemudian, dia mulai membidik. " Rasakan ini! "


Bertepatan dengan teriakan pembunuh bayaran itu, Wang Zhengyi menoleh ke belakang. Melihat sebuah panah mengarah kepada Ahng Mingmei, pria itu tanpa berpikir panjang mendorong gadis itu menjauh. Panah itu pun meleset dari sasaran dan menancap pada batang pohon.

__ADS_1


Jantung Wang Zhengyi berdebar kencang, mengira bahwa Ahng Mingmei hampir saja menjadi korban akibat panah tersebut. " Ayo! " teriaknya sembari menarik Ahng Mingmei berdiri dari tanah, tak mempedulikan rasa ngilu yang menusuk lengan kirinya.


" Kita harus per---!" Cipratan darah dan bau anyir yang merebak menggantikan ucapan Wang Zhengyi yang menggantung di udara.


Sepasang mata Wang Zhengyi dan Ahng Mingmei membesar, pandangan mereka perlahan turun ke bawah. Sebuah panah terlihat menembus tubuh sang pangeran tahanan, menyebabkan darah mengalir secara perlahan dari sisi lukanya.


" Ah, Aku.... " Lutut Wang Zhengyi terasa lemas, dan tubuhnya pun perlahan terjatuh ke depan.


" A Zheng! " Ahng Mingmei menangkap tubuh Wang Zhengyi, namun karena beban dari tubuh sang pangeran tahanan yang berbanding jauh dengan kekuatan yang dimilikinya. Membuat tubuh Wang Zhengyi bergetar karena berusaha menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


" A Zheng, bertahanlah! " teriaknya seraya menggenggam tangan Wang Zhengyi erat.


Wang Zhengyi yang sadar bahwa bahaya masih mengelilingi Ahng Mingmei segera berkata. " Lari... tinggalkan aku! " Dia berusaha keras mendorong tubuh gadis disisinya, namun Ahng Mingmei bergeming.


Air mata menggenang di pelupuk mata sang permaisuri, matanya yang dipenuhi sirat kekhawatiran menatap Wang Zhengyi tajam. " Tidak! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu! "


Sementara itu, pembunuh bayaran yang masih terbaring ditanah berteriak. " Kerja bagus! Kau telah menyelesaikan tugas dengan membunuh pangeran tahanan itu. Segera bawa permaisuri kembali ke istana, Penasehat Yao sudah menunggu. "


" Baik! " Balas pembunuh bayaran yang menembak panah. Dia melangkahkan kakinya kearah kedua sosok itu berada.


Mendadak, terdengar suara angin terbelah sebuah benda besar. Kemudian, hal tersebut diikuti dengan suara benda tajam yang menancap pada sesuatu yang keras.


" Tidak!! " Melihat sebuah pedang menancap pada sisi kepala kawannya, salah satu pembunuh bayaran itu tak bisa menahan diri untuk berteriak. Matanya memancarkan kengerian seiring dengan dirinya yang menyadari bahwa kenyataan tak berjalan sesuai rencana. Dia menoleh ke kiri menatap sekelompok prajurit berkuda yang baru saja tiba. " Bajing*n! Kalian---!"


Tak sempat pembunuh bayaran itu menyelesaikan ucapannya, sebuah pedang mengoyak dadanya. Mata penuh ketidakrelaan itu menatap kearah tamu yang datang tak diundang. Namun, dewa pencabut nyawa tak pernah lamban dalam bekerja. Dalam hitungan detik, prajurit tersebut kehilangan nyawanya.


Ahng Mingmei yang terkejut dengan perkembangan keadaan segera mengalihkan perhatian pada sekelompok prajurit berkuda itu. Pandangannya terarah pada seorang pria berkuda yang memimpin di barisan paling depan. Wajah pria yang familiar membuat permaisuri itu bernafas lega.


" Paman! "


****

__ADS_1


Sembari berlutut ditanah, Ahng Mingmei terus menggenggam tangan Wang Zhengyi. Selagi seorang tabib yang dibawa pamannya mencoba memeriksa sang pangeran tahanan, Ahng Mingmei terus berkata. " Kau akan baik-baik saja, kau dengar aku? " Matanya memerah, berusaha keras untuk menahan air mata dari kembali menuruni wajahnya.


Bibir Wang Zhengyi terlihat pucat, jelas itu merupakan efek dari darah yang tak berhenti mengalir lukanya. " Aku... maaf... "


Ahng Mingmei mengerutkan keningnya tidak suka. " Jangan meminta maaf! Sudah berapa kali aku ingatkan bahwa aku tak membutuhkan kata maafmu! Apa kau dengar? " Dia menyentuhkan tangan Wang Zhengyi disisi wajahnya,---terasa dingin. " A Zheng, bertahanlah. Jangan banyak bicara, kau akan baik-baik saja. "


Apakah itu kenyataannya?


" Bagaimana? " tanya Jendral Besar Ahng, paman angkat dari sang permaisuri. " Bisa kau selamatkan? " pertanyaan ini jugalah yang ingin ditanyakan oleh Ahng Mingmei sedari tadi. Oleh karena itu, sang permaisuri melirik pria yang sedang mencoba mencari cara mengobati Wang Zhengyi itu.


Tak sesuai harapan, tabib itu menggeleng pelan. " Maafkan hamba, Yang Mulia. Luka pangeran terlalu parah, hamba tidak mempunyai kemampuan untuk itu. " Dia berujar seraya bersujud ditanah, terlihat tak berdaya.


Melihat tabib itu bersujud, Ahng Mingmei segera berteriak. " Apa yang kau katakan! Cobalah terlebih dahulu! Kau pasti bisa melakukan sesuatu! " Alis pria itu tertaut, pancaran matanya menunjukkan harapan akan sebuah keajaiban.


Sayangnya, tabib itu bukanlah dewa. Luka yang diderita Wang Zhengyi tak bisa dia sembuhkan.


" Kau bahkan belum mencoba! A Zheng, dia---" Tak sempat Ahng Mingmei menyelesaikan ucapannya, dia terlebih dahulu mematung ditempat. Wang Zhengyi yang terbaring dihadapannya tak lagi membuka mata. " A Zheng? " Ahng Mingmei berusaha memanggil sang pangeran tahanan, tapi hanya keheningan yang menyambutnya. " A Zheng! " permaisuri itu berteriak, ia menyentuh sisi wajah Wang Zhengyi yang terasa begitu dingin. " A Zheng, bangunlah! Aku mohon, bangunlah! " air matanya tak lagi mampu terbendung. " Wang Zhengyi!! "


Melihat kondisi keponakannya yang tak terkendali, Ahng Tian Yu berjongkok didepan Ahng Mingmei dengan tangan kokohnya yang terulur untuk menepuk punggung permaisuri itu pelan. " Yang Mulia, tenanglah. Sebaiknya kita harus segera membawa pangeran Wang kembali ke istana, mungkin saja gurumu bisa menyembuhkannya."


Deg!


Ahng Mingmei langsung menolehkan wajahnya menatap sang paman, " Ya, paman benar. " wajahnya berbinar penuh harapan. " Guru, dia pasti bisa menyelamatkan A Zheng. " ia mengalihkan pandangannya untuk menatap para prajurit. " Apa yang kalian lihat? Segera bawa pangeran kedalam kereta! " bentaknya memerintah dengan tajam.


Sesampainya di istana, Yao Shunye dengan tenang mengobati Wang Zhengyi yang berada diambang kematian. Terlihat mustahil memang jika sang penasehat bisa mengobati luka yang diterima sang pangeran saat ini.


Selama semalaman lamanya Ahng Mingmei terus setia menemani Wang Zhengyi. Sepasang matanya yang semula sayu seketika berbinar penuh kelegaan ketika Wang Zhengyi tersadarkan diri setelah hari sudah berganti.


Bersamaan dengan kabar baik itu, keputusan yang diambil sang Permaisuri membuat semuanya berubah dan semakin tak terkendali kala hubungan mereka semakin diperkuat dengan hubungan suci...


Pernikahan.

__ADS_1


__ADS_2