CONSEQUENCE

CONSEQUENCE
017. Pengangkatan Permaisuri Ming


__ADS_3

Sebulan sejak tragedi berdarah itu, Yao Shunye selaku Guru Besar Kekaisaran mendesak muridnya, Ahng Mingmei untuk mengambil alih kepemimpinan negara.


Tidak ada lagi keturunan sah dari Keluarga kekaisaran kecuali Ahng Mingmei seorang.


Ahng Tian Yu?


Pria itu hanyalah seorang jendral yang berada dibawah naungan Kaisar terdahulu yang kebetulan beruntung karena diangkat oleh Kaisar Ahng Zhuting untuk menjadi saudara angkatnya.


Otomatis pria itu tidak berhak untuk menduduki takhta karena tidak memiliki darah naga dalam nadinya.


Jadi, pilihan terakhir untuk kekaisaran adalah mengangkat Ahng Mingmei untuk menjadi pemimpin negara yang selanjutnya.


Ahng Mingmei yang waktu itu masih berusia lima tahun enggan untuk memimpin Kekaisaran.


Tetapi, apakah anak itu berhak menolak?


Tentu saja tidak.


Jangan salahkan orang lain, salahkan dirinya karena terlahir dari rahim seorang permaisuri yang kelak akan memiliki kedudukan serta tanggung jawab besar ditangan.


Ahng Mingmei hanya bisa menerima ketika dirinya diangkat menjadi Permaisuri Kekaisaran Ahng Utara.


Namanya berubah menjadi permaisuri Ming. Dia menghormati Yao Shunye dari Guru besar kekaisaran menjadi Penasehat Kekaisaran.


Setelah Ahng Mingmei naik takhta, terjadi gejolak antara menteri dan rakyat. Mereka meragukan kemampuan Ahng Mingmei di usianya yang masih begitu belia. Yang menjadi alasan utama adalah... ia seorang wanita.


Mana mungkin seorang wanita bisa memimpin kekaisaran yang besar ditangan?


Belum lagi, Ahng Mingmei masih begitu belia, tidak mungkin dia bisa mengemban tanggung jawab sebagai seorang Permaisuri pertama yang memiliki kedudukan tertinggi di Kekaisaran.


Jendral Besar Ahng selaku pamannya berada di garda terdepan untuk mengurus para menteri yang memberontak serta menenangkan emosi rakyat dengan tujuan melindungi keponakannya itu.


Sedangkan Penasehat Yao mengurus politik dibelakang tirai selama beberapa tahun kedepan. Membantu Ahng Mingmei menstabilkan rakyat, serta menjalankan pemerintahan. Menunggu setelah Ahng Mingmei dewasa, lalu mengembalikan kekuasaan padanya.


Hari demi hari berlalu, Ahng Mingmei yang masih kecil harus mengemban tugas serta tanggung jawab yang besar diusianya yang begitu dini. Setiap pagi harus menghadiri pengadilan pagi, lalu dilanjutkan mengurusi tumpukan berkas di ruang Baca Kekaisaran, kemudian belajar mengurusi jalannya pemerintahan dari gurunya hingga larut malam.


Ahng Mingmei harus melakukan hal yang sama setiap harinya, dia terlalu sibuk sehingga tidak ada waktu untuk bercengkrama dengan orang lain selain guru dan para pelayan di kediamannya.


Karena itulah, Ahng Mingmei tidak bisa bermain layaknya anak kecil lainnya diusia mereka yang sama.


Belum lagi, Ahng Mingmei selalu ditekan oleh orang-orang disekitar dengan norma dan etika yang ada sebagai alibi. Sebagai seorang Permaisuri yang mengedepankan masa depan kekaisaran, tentu saja Ahng Mingmei kecil menjadi gadis yang selalu menjaga sopan santun.


Dia selalu menghadiri perjamuan ataupun perayaan dengan memakai tudung untuk menutupi wajahnya sebagai Permaisuri dengan alasan menjaga etika sopan santun. Karena tindakannya itu, banyak orang yang mengira jika Ahng Mingmei memiliki wajah yang begitu jelek sehingga tidak berani memperlihatkan wajahnya didepan umum.


Sehingga rumor buruk mengitari kerajaan, wajah Permaisuri begitu buruk hingga bayi bisa menangis karena melihat wajahnya, permaisuri pantas mendapatkan kutukan dewa dengan wajahnya yang cacat, permaisuri... buruk rupa.

__ADS_1


Jadi, selain julukan Putri pembawa malapetaka, Ahng Mingmei juga mendapat julukan Permaisuri buruk rupa.


Ketika rumor ini merebak dan sampai ke telinga Sang Permaisuri, Ahng Mingmei hanya bisa menangis dan memilih diam. Anak itu sangat yakin bahwa suatu saat semua kebenaran pasti akan terungkap.


Semuanya masih berjalan seperti biasa, hingga, hari-hari Ahng Mingmei yang begitu rumit seketika berubah ketika takdir mempertemukannya dengan seorang anak laki- laki yang ia kenal dengan nama..


Wang Zhengyi.


•••••


Pertemuan mereka berawal ketika Ahng Mingmei tak sengaja melihat Wang Zhengyi yang sedang ditindas oleh beberapa pelayan.


Tidak seperti bangsawan pada umumnya, anak itu sama sekali tidak menjatuhkan hukuman kepada para pelayan yang sudah jelas melanggar aturan istana.


Padahal dengan statusnya sebagai Permaisuri penguasa utara, Ahng Mingmei bisa saja mengambil nyawa para pelayan itu dengan mudah. Tetapi sepertinya pemikiran anak itu sangat berbeda jika dibandingkan dengan para bangsawan lainnya.


Hm, bisa dibilang terlalu baik.


Tanpa sungkan, Ahng Mingmei mengulurkan tangannya untuk membantu anak laki laki itu berdiri. " Siapa namamu? Apa kau terluka? Apa mau aku panggilkan tabib untukmu? " Tanyanya beruntun penuh sirat kekhawatiran.


" __ " bukannya menerima uluran tangan dari Ahng Mingmei, Wang Zhengyi malah berkowtow penuh penghormatan.


" Terima kasih atas kemurahan hati anda, Yang Mulia. " tiba tiba Wang Zhengyi membenturkan kepalanya hingga menyentuh tanah, mengejutkan Ahng Mingmei.


Dahi Ahng Mingmei mengerut dengan benaknya yang mencoba untuk menggali ingatannya yang samar tentang nama ' Wang Zhengyi ' ini. Sepertinya gurunya pernah menyebutkan nama anak ini di pengadilan pagi.


Mata bulatnya yang seketika berbinar seakan menjadi pertanda bahwa ia mengingat beberapa hal tentang anak laki-laki dihadapannya ini.


Wang Zhengyi adalah pangeran kesembilan dari kekaisaran Wang Timur. Pangeran itu adalah [1]pangeran tahanan yang dikirim ke kekaisaran Ahng Utara sebagai tanda perdamaian diantara kedua negara karena perang besar yang terjadi lima tahun yang lalu.


Mengetahui hal ini, raut wajah Ahng Mingmei seketika berubah menjadi sendu. Dia merasa kasihan kepada Wang Zhengyi, tidak menyangka bahwa akan ada orang tua yang mengirimkan anaknya sendiri ke negara musuh untuk dijadikan sebagai tanda perdamaian.


Kedua tangan kecilnya terulur untuk menyentuh bahu Wang Zhengyi. " Berdirilah! Apa yang kau lakukan pangeran Wang. "


Senyuman manis penuh kelembutan perlahan mengembang diwajah Ahng Mingmei ketika ia membantunya untuk berdiri. " Kau adalah seorang pangeran, jangan bersujud kepadaku seperti ini. "


Wajah Wang Zhengyi terangkat untuk bersitatap dengan sepasang manik hijau zamrud yang begitu jernih tanpa noda milik sosok keagungan yang sedang balik menatapnya lembut.


Pancaran kedua bola mata sendu menatap Ahng Mingmei, pancaran yang menyiratkan rasa kesedihan dan kesepian yang mendalam. Anak ini sangat menyedihkan!


Setelah mereka berdiri sejajar, Ahng Mingmei segera berseru. " Namaku, Ahng Mingmei. Semoga kau tidak keberatan jika aku mengunjungimu dilain hari. " Sebuah senyuman manis terukir diwajah cantiknya yang begitu menggemaskan.


Melihat tidak ada respon dari pihak lain, dia segera menambahkan. " Dan semoga saja kau juga tidak keberatan, jika kita bisa berteman dimasa depan, " itu adalah sebuah harapan yang begitu tulus ia ucapkan.


Mendengar hal itu, Wang Zhengyi tertegun. Tidak menyangka sekaligus tak percaya bahwa sosok keagungan kecil dihadapannya itu ingin berteman dengannya.

__ADS_1


Ini...,


Mulai saat itulah, Ahng Mingmei yang tidak pernah memiliki teman begitu antusias untuk menjalin hubungan dengan sang Pangeran.


Meski anak itu selalu pergi secara diam-diam dari kediamannya tanpa seizin sang guru. Itu semua sama sekali tidak menyurutkan tekad Ahng Mingmei untuk bertemu dengan teman barunya itu.


Dibawah langit sore dengan semburat keindahan matahari diufuk barat, kedua sosok berbeda usia sedang bernaung dibawah pepohonan yang rindang. Mereka terlihat begitu serasi diusia yang begitu dini.


Nafas salah satu diantaranya terdengar tersengal-sengal, " Hah.. Hah.. A Zheng--" suaranya terasa tercekat dengan nafasnya yang tidak beraturan, sepertinya anak itu kelelahan dengan keringat yang membasahi wajah cantiknya.


Bagaimana tidak? Dia baru saja selesai berlatih pedang dengan anak disisinya sebagai partner.


Seseorang yang dipanggil 'A Zheng' oleh anak di sebelahnya itu hanya tersenyum dengan salah satu tangannya yang terulur untuk menyeka keringat didahi sang anak. " Lain kali Yang Mulia tidak perlu memaksakan diri. Aku bisa mengalah jika Yang Mulia ingin " Tegurnya dengan lembut.


Kedua anak itu tak lain adalah Ahng Mingmei dan Wang Zhengyi.


Mendengar ucapan Wang Zhengyi yang terkesan meremehkannya. Ahng Mingmei mengerucutkan bibirnya kesal. " Kau sedang meremehkanku ya?"


Sebuah senyuman mengembang diwajah Wang Zhengyi, merasa lucu dengan kesalahpahaman sang Permaisuri.


" Aku tidak berani, Yang Mulia. " ia menyerahkan secangkir teh yang sudah ia siapkan sebelum kembali berkata, " Minumlah, Yang Mulia. Aku yakin kau pasti sudah haus sekarang. " Ia mengalihkan pembicaraan dengan kekehan kecil penuh sirat menggoda.


Tanpa berpikir panjang, Ahng Mingmei meraih teh itu dan meminumnya dalam sekali teguk. Tindakannya yang sembrono, membuat Wang Zhengyi membelalak, " Yang Mulia, apa yang kau lakukan? " terkejut ia.


Hening.


Hingga suara tawa nyaring seperti dering lonceng merdu terdengar ketika Ahng Mingmei tidak bisa menahan kegeliannya. Kedua mata indahnya menyipit ketika ia tertawa begitu riang.


Ahng Mingmei tidak bisa menghentikan tawanya kala kedua mata bulatnya menangkap ekspresi terkejut diwajah Wang Zhengyi yang anehnya terlihat lucu dimatanya.


Entah mengapa, ia bisa tertawa hanya karena hal sekecil itu.


Selama beberapa saat, Wang Zhengyi terkesima ketika melihat wajah polos Ahng Mingmei yang tertawa begitu riang tanpa beban layaknya gadis kecil pada umumnya.


Tanpa ia sadari, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk kurva tipis. Seolah ia sangat menikmati sosok keagungan yang memiliki keindahan diusia yang begitu belia itu sedang terpampang nyata dihadapannya.


Dan,


Sejak saat itulah.


Hubungan diantara mereka semakin erat seiring berjalannya waktu. Namun, hubungan itu perlahan-lahan berubah karena sebuah perasaan yang tumbuh seiring usia mereka yang semakin beranjak dewasa.


Cinta.


Mungkin kita bisa menyebutnya dengan itu.

__ADS_1


__ADS_2