CONSEQUENCE

CONSEQUENCE
016. Ketenangan Sebelum Badai


__ADS_3

Hallo readers! Kembali lagi dengan Maya Ay' Author yang cerewet ini, haha!


Sebelumnya Author mau minta maaf karena udah gak update lebih dari seminggu, tapi Author kaga sengaja, suer! Author tuh niatnya mau update, eh! siapa tahu takdir berkata lain.


Kalian tau kenapa Author ngilang lebih dari seminggu ini?


" __ "


Ya, karena paketan Author tiba-tiba habis setelah download beberapa film anime,→_→


Jadi Author berharap kalian memaafkan kecerobohan Author kali ini, hehe. Dan sebagai tanda permintaan maaf dari Author, Author akan memberikan visual karakter untuk tokoh ' Jendral Besar Ahng, Ahng Tian Yu dan Permaisuri Annchi. '


Yeay~happy reading!


...



_______


Dinasti Ahng, Tahun ke-72 bulan empat, Kekaisaran Ahng Utara mengangkat Ahng Xuemin selaku pangeran kedua menjadi kaisar berikutnya.


Setelah menjadi kaisar, untuk menghargai jasa Yao Shunye yang menjadi alasan kemenangan Kekaisaran dalam perang. Ahng Xuemin memberikan status Gong/Adipati kepada Yang Shunye, namun pria itu menolak.


Yao Shunye lebih memilih untuk menjadi Guru dari putri kakaknya, kaisar kedua, Ahng Zhuting. Ahng Xuemin menaruh curiga, pasalnya Yao Shunye adalah pemuda yang tidak diketahui asal usulnya. Belum lagi, Ahng Mingmei yang merupakan keponakan kecilnya itu adalah putri yang berharga dan harus dijaga olehnya.


Tetapi bujukan Ahng Tian Yu membuat kaisar itu mengalah dan mengambil keputusan untuk membuat beberapa perjanjian dengan Yao Shunye, baru setelah itu, Ahng Xuemin menaruh kepercayaan dengan memberikan status Guru Besar Kekaisaran pada pemuda tersebut.


Tahun demi tahun berlalu, Ahng Mingmei tumbuh menjadi anak yang baik hati dan berhati lembut. Mengingat Ahng Xuemin lah yang mendidik anak itu sejak kecil. Terkecuali, Gurunya Yao Shunye dan pamannya, Ahng Tian Yu tentunya.


Ahng Mingmei hidup dengan bahagia, meskipun ia seorang anak yatim piatu. Kasih sayang dari paman jendralnya, didikan dari paman kaisarnya serta ajaran dari gurunya membuat Ahng Mingmei tidak pernah merasakan kesepian meski ia tidak memiliki orang tua di sisinya.


Namun, semua kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ketika sebuah rumor buruk tentang salah satu anggota kekaisaran beredar di masyarakat.

__ADS_1


Penyebab Peperangan besar yang terjadi lima tahun yang lalu adalah Putri satu-satunya Kekaisaran Ahng Utara, Ahng Mingmei.


Berbagai macam isu pun mengitari istana dan sampai ke telinga kaisar. Sang putri adalah penyebab kekacauan besar itu terjadi. Sang putri membuat rakyat menderita. Sang putri... adalah pembawa sial.


Ketika isu ini merebak, Ahng Mingmei terpukul hingga mengurung dirinya di kediaman. Sedangkan paman kaisarnya, Ahng Xuemin segera meredam rumor buruk yang beredar di seluruh tanah Kekaisaran Utara.


Disisi lain, pamannya, Ahng Tian Yu yang sedang berada di kota Ping An, tanpa berpikir panjang ia memerintah bawahannya untuk membantu meredam rumor buruk yang ada.


Tetapi, bukannya teredam, rakyat malah mengutuk sang putri dengan julukan Putri pembawa sial. Ahng Xuemin tentu saja geram, dia akhirnya memberi perintah kepada Pangeran Mahkota, Ahng Yuan Yi untuk membungkam orang-orang yang menjadi penyebab rumor buruk tentang sang putri di masyarakat.


Ahng Xuemin memberikan izin kepada anaknya itu untuk membawa para prajurit Baohu disisinya untuk membantu. Dia menyerahkan token [1]pasukan Baohu kepada Ahng Yuan Yi, agar bisa memerintah prajurit pelindungnya dengan lebih leluasa, begitu percaya kepada sang anak.


Rumor memang teredam, tetapi masalah yang akan datang pasti akan menimbulkan guncangan besar pada ketenangan serta tatanan Kekaisaran Ahng Utara yang baru saja berada dalam keadaan aman.


Dinasti Ahng, Tahun ke-77 bulan lima, tidak lama setelah rumor buruk tentang Sang Putri teredam, sebuah kabar duka menyelimuti istana.


Kaisar Ahng Xuemin dan Permaisuri Ye Xiwen meninggal. Dan penyebab kematian sang naga beserta sang phoenix adalah putra mereka sendiri, Pangeran Mahkota Ahng Yuan Yi.


Ya, Pangeran Mahkota melakukan pemberontakan.


Ahng Mingmei yang mengetahui berita duka tersebut ingin segera menemui paman kaisarnya. Namun, gurunya Yao Shunye menghentikannya dengan membawa Ahng Mingmei pergi dari istana. Ahng Mingmei kecil yang tidak mengetahui apapun, tentu saja marah.


" Guru---, mengapa guru membawaku pergi? Paman---" suaranya terasa tercekat di tenggorokan dengan air mata yang mengalir deras.


" Dia masih--" lagi lagi, suaranya tercekat dengan dipenuhi perasaan bersalah. " Kita harus menyelamatkan di--" Ucapannya terhenti kala sebuah totokan dilayangkan oleh Yao Shunye kepada sang putri agar dia bisa membawa Ahng Mingmei keluar dari istana dengan selamat.


" Paman... Maaf... Maafkan aku... " Gumaman Ahng Mingmei yang begitu lirih masih cukup keras untuk bisa didengar oleh sang guru. Mendengar hal itu, Yao Shunye hanya bisa menghela nafas sebelum ia bergegas pergi dari istana.


Tepat setelah sepasang guru dan murid itu berhasil keluar dari istana, Pangeran Pertama, Ahng Yunke membawa prajurit kekaisaran lainnya untuk menangkap Ahng Yuan Yi yang memberontak.


" Tangkap pemberontak itu! Jangan biarkan dia tetap hidup! " itu adalah perintah yang menjadi awal dari tragedi berdarah diantara kedua bersaudara itu.


Digelapnya malam, Teriakan dari para prajurit, suara dentingan pedang, koyakan daging serta raungan kematian menemani tragedi berdarah dimalam itu.

__ADS_1


Para prajurit dari kedua kubu jatuh berguguran. Jiwa-jiwa yang menghilang akibat pertarungan tak terelakkan. Bau amis menguar kental dengan mayat yang berserakan di lantai istana kekaisaran.


Pertarungan besar kembali tak terelakkan.


Disisi lain, Ahng Tian Yu yang mendapat kabar dari Yao Shunye tentang konflik internal antar kedua pangeran, tanpa berpikir dua kali, ia kembali ke istana dengan membawa pasukan bersamanya.


Dalam perjalanan, Ahng Tian Yu mengutuk dirinya sendiri karena terlalu lalai dalam menjaga kekaisaran. Bahkan, sang kaisar beserta permaisuri harus meregang nyawa karena kelalalainya tersebut. Seharusnya Ahng Tian Yu tidak meninggalkan saudaranya itu sendirian, seharusnya ia membiarkan pasukan Yungqi yang berada dibawah kuasanya tetap berada di sisi sang kaisar, seharusnya--,


Dadanya terasa sesak dengan perasaan bersalah. Beruntung, beruntung Yao Shunye mengambil tindakan yang benar dengan membawa keponakannya pergi dari istana dengan segera. Jika tidak, Ahng Tian Yu tidak tahu harus bagaimana lagi jika Ahng Mingmei terluka atau meregang nyawa ditangan orang-orang serakah itu.


Kedua tangannya yang memegang kekang tali kuda terkepal erat. Tidak! Dia tidak akan membiarkan hal yang terjadi kepada saudaranya, bisa menimpa keponakannya itu. Tidak akan!


Ahng Tian Yu beserta pasukannya melaju cepat menuju kekaisaran. Menjelang tengah malam, mereka baru bisa menginjakkan kakinya di istana. Pertama kali yang mereka lihat adalah mayat para prajurit yang berserakan dimana mana serta darah yang menguar menimbulkan bau amis yang menyengat.


" Cepat selesaikan! " suara bariton dari sang jendral besar menjadi perintah bagi para prajurit.


Setelah memberi perintah, Ahng Tian Yu segera memacu kudanya cepat untuk pergi ke dalam istana. Ketika ia menginjakkan kakinya dilantai aula, tatapannya terpaku pada kedua sosok pemuda yang sedang bertarung dengan sengit.


Ahng Tian Yu hendak menghentikan pertarungan mereka, namun di detik berikutnya, sepasang matanya seketika membelalak.


Deg!


Apa yang pria itu tidak inginkan sudah terjadi dan sekali lagi.. ia terlambat.


" Tidak!!! "


Hanya itu, hanya itu yang terlontar dari mulutnya.


Ahng Tian Yu tidak menyangka, bahwa kedua pangeran yang menjadi penyebab tragedi di malam berdarah itu meregang nyawa dengan cara yang mengenaskan. Mereka kehilangan nyawa dengan pedang yang tertancap didada masing-masing. Saling membunuh untuk melepaskan hasrat duniawi.


Kedudukan tidak bisa diraih, namun nyawa hilang ditangan orang yang kita sayangi.


Benar benar miris!

__ADS_1


_____



__ADS_2