CONSEQUENCE

CONSEQUENCE
023. Sandiwara


__ADS_3

" Yang Mulia? " Wang Zhengyi menatap Ahng Mingmei dengan bingung, heran kenapa Ahng Mingmei menatapnya seakan menatap makhluk aneh.


Tiba tiba, air mata menuruni wajah istrinya itu. Melihat hal itu, entah mengapa Wang Zhengyi merasa jantungnya seakan berhenti untuk sesaat. Sudah bertahun tahun lamanya sejak Ahng Mingmei menangis. Apa yang mungkin telah terjadi?


" Yang Mulia, apakah kau tidak apa apa? Kenapa kau menangis? Apakah ada yang sakit? " tanyanya lembut dengan tulus menunjukkan rasa penuh perhatian.


Bukannya menjawab, Ahng Mingmei malah melemparkan dirinya kedalam dekapan Wang Zhengyi, ia memeluknya erat, sana sekali tidak berniat melepaskan Wang Zhengyi meskipun sesaat.


Wang Zhengyi yang tiba-tiba mendapat perlakuan agresif dari sang gadis tidak bereaksi. Dia malah mematung ditempat dengan dahinya yang mengerut kencang karena berada dalam kebingungan serta keterkejutan yang tertahan. Terlihat termenung dengan pikirannya yang melayang jauh entah kemana.


Kesadarannya mulai kembali ketika suara Ahng Mingmei yang menggelitik pendengarannya bisa terdengar ketika gadis itu berucap. " A Zheng, ini kau! " Kelopak mata Ahng Mingmei terpejam, " Syukurlah---!"air mata mengalir ketika suaranya terasa tercekat di tenggorokan.


" Syukurlah, aku masih bisa bertemu denganmu--," lagi lagi tenggorokannya terasa tercekat dengan perasaan tidak percaya." Syukurlah.... " lirihnya.


Wang Zhengyi kembali tertegun untuk kesekian kalinya ketika mendengar kata-kata yang dikeluarkan oleh gadis yang saat ini sedang memeluknya erat. Tidak menyangka bahwa Ahng Mingmei masih bisa mengkhawatirkan dirinya meskipun dia berada diambang kematian sekalipun.


Dia mengerjap waras setelah ketenangannya mulai memegang kendali. Kemudian menarik nafas pelan dengan sepasang manik barunya yang terpejam seolah menikmati perasaan hangat yang menggelitik tubuhnya.


" Tenanglah. " Jari-jarinya yang lembut namun kokoh itu perlahan terangkat untuk menyentuh kepala Ahng Mingmei lembut, berusaha menenangkan sang gadis. " Aku disini.. aku tidak akan pernah meninggalkanmu. " gumamnya dengan suara rendah yang cukup keras untuk Ahng Mingmei dengar.


Ahng Mingmei tertawa dalam hati, mengerti maksud yang ditujukan Wang Zhengyi padanya. Pria itu kurang-lebih sedang berusaha menenangkannya saat ini. ' Ya ampun! Sepertinya aku menemukan aktor yang hebat di dunia kuno ini. Benar benar tidak disangka. ' Ia mencibir dalam hati.


Tindakan Wang Zhengyi yang seperti ini terlihat begitu tulus dan alami, tanpa adanya celah sedikitpun. Bahkan, siapapun tidak akan tahu bahwa pria itu hanya sedang berpura-pura.


Hal itu membuat Ahng Mingmei mau tidak mau mengakui jika Wang Zhengyi berbakat dalam bidang aktor. Seandainya pria itu berada didunia modern, Ahng Mingmei yakin jika dia bisa menjadi aktor yang populer dan akan menyabet banyak penghargaan karena bakatnya. Bahkan, Wang Zhengyi bisa disandingkan dengan dirinya yang mendapat julukan dewi aktor dengan keindahannya yang tiada tara.


Sungguh membuat orang kagum.


Setelah selesai menangis, Ahng Mingmei melepaskan pelukannya. Dia menghapus air matanya dan menarik napas dalam-dalam. " Maaf, A Zheng. " ucapnya membuat Wang Zhengyi menatapnya dengan semakin dalam.


" Yang Mulia, jangan meminta maaf padaku. " Senyuman lembut yang menawan perlahan mengembang diwajah tampannya.

__ADS_1


" Aku tidak berani menerimanya, kau bahkan tidak berbuat salah padaku, untuk apa meminta maaf, hm? " ujar Wang Zhengyi dengan salah satu lengannya yang terulur untuk mengusap air mata yang tersisa diwajah cantik sang gadis yang seindah bunga bermekaran dimusim semi.


Hening.


Ahng Mingmei bergeming sembari merutuk dalam hati, ' Dasar penggoda ulung, pria bajing*n.' Makian itu terus terucap dalam benaknya bersamaan dengan sudut bibirnya yang terangkat untuk membentuk senyuman manis yang menawan. " Anggap saja aku meminta maaf kalau aku berbuat salah dimasa depan. " balasnya kemudian.


Deg!


Untuk beberapa saat, Wang Zhengyi terkesima melihat wajah Ahng Mingmei yang begitu polos dan tampak murni. ' Cantik sekali. ' ketika pikiran itu terlintas dalam benaknya, Wang Zhengyi mengerjapkan kedua matanya, berusaha mendapat kesadarannya untuk menariknya kembali kedunia nyata.


' Sejak kapan aku merasa gadis ini begitu cantik? '


Ada sedikit getaran emosi di mata Wang Zhengyi ketika pertanyaan itu terlintas dalam benaknya.


Melihat jika pria didepannya tidak menyahut dan malah sibuk dengan pikirannya sendiri membuat Ahng Mingmei berinisiatif menyadarkan Wang Zhengyi yang sudah jatuh kedalam pesonanya. ' Haih~jangan salahkan aku, jika aku sudah ditakdirkan untuk terlahir dengan paras yang cantik. '


" A Zheng, " panggil Ahng Mingmei sembari menarik lengan baju milik Wang Zhengyi pelan. " Ada apa denganmu? Mengapa melamun? " suaranya yang mengalir lembut penuh perhatian menggelitik pendengaran Wang Zhengyi, membuat pria itu tersentak karena berada dalam keterkejutan yang tertahan.


" Ah! Ya, Yang Mulia? "


' Sial! Ada apa denganku? ' batin Wang Zhengyi sebelum ia memaksakan sebuah senyuman. " Aku hanya memikirkan Yang Mulia saja, tidak ada hal lain. " Ujarnya membuat Ahng Mingmei menatapnya semakin aneh.


Dengan segera, Wang Zhengyi mengalihkan pembicaraan diantara mereka dengan melepaskan [1]Zaoshan-nya untuk kemudian disampirkan di tubuh Ahng Mingmei yang hanya memakai jubah tipis yang basah. " Pakailah, Jangan sampai kedinginan. " Perubahannya begitu cepat, ia dengan tulus menunjukkan kepedulian hati.


Ahng Mingmei tidak menolak dan hanya tersenyum sebagai jawaban. Meskipun Ahng Mingmei cukup malas untuk melihat senyuman palsu diwajah pria itu, tetapi dia tidak bisa berbuat apapun.


Menolaknya? Tidak mungkin. Ahng Mingmei tidak mungkin menolaknya secara terang-terangan. Dia baru saja memulai rencananya, jadi mana mungkin ia menghancurkan rencananya sendiri dengan menolak pria ular itu.


Ya, pria ular. Ahng Mingmei telah mendapatkan julukan yang tepat untuk pria bajing*n seperti Wang Zhengyi ini.


" Terima kasih, A Zheng. "

__ADS_1


" Tidak perlu berte---!" terjeda Wang Zhengyi ketika suara bariton dari seseorang diluar ruangan terdengar menginterupsi.


" Apa yang sedang kalian lakukan? "


Kedua orang didalam ruangan otomatis mengalihkan pandangan mereka kearah dimana suara itu berasal. Terlihat seorang pria dewasa sedang berdiri diambang pintu dengan seorang tabib di belakangnya. Guratan wajahnya yang begitu tegas namun mempesona membawa pancaran yang dipenuhi kewibawaan.


Pria itu tidak lain adalah Yao Shunye, sang Penasehat Kekaisaran sekaligus Guru dari Permaisuri Ming.


Melihat yang datang kali ini adalah gurunya, Ahng Mingmei dengan segera melangkah kearah Yao Shunye berada. " Guru, kau datang! " ujarnya begitu antusias.


Gadis itu terlihat sangat menggemaskan dengan ekspresi di wajahnya yang penuh binar kepolosan dan terkesan bahagia dengan kedatangan Yao Shunye di kediamannya, Kediaman Naga.


Sikap Ahng Mingmei yang lepas membuat Yao Shunye mengernyit heran. " Hamba memberi salam kepada Yang Mulia. " ia menundukkan sedikit kepalanya untuk memasang postur penuh penghormatan. " Maaf atas kelancangan hamba karena telah mengganggu Yang Mulia dengan kedatanganku yang tiba-tiba. " ujarnya sembari mengangkat kepalanya tanpa menunggu persetujuan Ahng Mingmei selaku permaisuri yang memiliki kedudukan melebihi dirinya. Berbanding terbalik dengan suaranya yang mengalir tenang namun sungkan penuh keformalan layaknya atasan dan bawahan.


" Ah, " terkejut Ahng Mingmei. Tidak menyangka bahwa respon pria tampan dihadapannya itu tidak sesuai ekspektasi.


Sepertinya gadis itu melupakan informasi penting tentang hubungan pemilik tubuh sebelumnya dengan sang guru yang bisa dibilang cukup buruk.


Ahng Mingmei merutuk dalam hati, bagaimana aku bisa melupakan hal sepenting ini, dasar bodoh kau Mingmei! ' Dia berdehem pelan untuk memecahkan kecanggungan. " Ehem, bukan masalah. "


Ia mengangkat sudut bibirnya membentuk senyuman manis yang menawan. " Aku belum bertanya, apa yang sedang guru lakukan disini? " Perubahannya begitu cepat, ia begitu lihai mengalihkan pembicaraan.


Raut wajah Yao Shunye masihlah tetap dingin dan datar. Ia terlihat begitu tenang, sama sekali tak terusik dengan tindakan muridnya yang sedikit aneh. " Yang Mulia baru saja kembali ke Kekaisaran setelah selamat dari kematian karena mendapatkan berkah dari langit. " sindirannya yang halus membuat sudut bibir Ahng Mingmei sedikit berkedut.


" Jadi, aku datang membawakan tabib untuk memeriksa keadaanmu, Yang Mulia. " Lanjut Yao Shunye sebelum ia mengalihkan pandangan menatap ketempat Wang Zhengyi berada. " Namun siapa sangka, Selir Wang sudah datang lebih awal dariku. " Itu adalah sebuah pernyataan yang menyembunyikan kesarkasan.


Setelah Yao Shunye menyelesaikan ucapannya, udara didalam ruangan mulai diselimuti oleh keheningan yang memberat.


.


_____

__ADS_1


A/N : Dibawah ini ada gambar visual untuk tokoh Wang Zhengyi. Khusus untuk tokoh Wang Zhengyi, gambarnya Author ambil dari komik sebelah.



__ADS_2