
Enzy yang berada di ruangannya tampak serius dengan mempelajari dokumen-dokumen mengenai kasus yang ia tangani.
Di saat ia serius berkutat dengan laptopnya tiba-tiba ponselnya berdering tanda panggilan masuk, ia melihat nama bunda yang tertera di sana, Enzy mengeryitkan keningnya melihat hal tersebut, karena tak biasanya mertuanya itu menelponnya di jam-jam seperti ini.
Enzy dengan cepat meraih ponselnya yang ia letakkan di samping laptopnya, kemudian menjawab panggilan tersebut.
π "Assalamualaikum Bun." Ucap Enzy.
π "Walaikumsalam sayang, bunda ganggu gak ?" Balas Diva kemudian bertanya.
π "Gak kok Bun, emangnya ada apa ya ? Tumben-tumbenan bunda nelpon jam segini" Jawab Enzy tak mungkin ia mengatakan kalau ia terganggu, kemudian bertanya.
π "Syukurlah kalau begitu, ini sayang, bunda pengen ajakin kamu keluar makan siang, tapi itupun kalau kamu gak sibuk." Jelas Diva seberang sana.
π "Bagaimana ya Bun, tapi sepertinya siang nanti aku gak bisa, soalnya aku sudah ada janji dengan klaiyen untuk bertemu di kantor siang ini." Ucap Enzy merasa tak enak menolak ajakan mertuanya.
π "Oh ya sudah kalau gitu, kapan-kapan aja, kalau begitu bunda tutup dulu ya sayang, bunda hanya mau mengatakan itu."
π "Maaf ya Bun." Sesal Enzy.
π "Gak apa-apa sayang, bunda ngerti kok, yang jelas kamu jangan sampai kelelahan, ingat kesehatan lebih penting dari segalanya sayang." Ucap Diva mewanti-wanti menantu perempuannya.
π "Iya Bun." Sahut Enzy.
π "Bunda tutup ya sayang, assalamualaikum."
π "Walaikumsalam."
Panggilan tersebut berakhir, Enzy kembali melanjutkan pekerjaannya.
...πππππ...
"Mike, bagaimana berkasnya apa sudah kamu siapkan ?" Tanya Barlie pada asistennya itu yang sibuk mengemudi.
"Sudah tuan." Jawab Mike sedikit menoleh kebelakang, dimana bosnya duduk di jok belakang.
"Bagus." Ujar Barlie lalu kembali melihat riwayat hidup pengacara yang akan menangani kasusnya.
...πππππ...
Nendra mengunjungi kantor dimana Enzy bekerja, rencananya Nendra akan bertemu dengan tuan Yohanes sebagai pendiri kantor advokat tersebut, karena pak Yohanes sedang tidak berada di tempat maka ia memutuskan untuk menghubungi Enzy, untuk bertemu sambil menunggu tuan Yohanes tiba, karena Nendra malas untuk bolak balik.
Nendra berjalan sambil memainkan ponselnya untuk mengirimkan pesan kepada Enzy, menanyakan keberadaan saudarinya itu.
^^^β’ Nendra^^^
^^^"Dimana ? Aku lagi di kantor kamu sekarang."^^^
β’Enzy
"Di ruangan aku, langsung aja kesini !
^^^β’Nendra^^^
^^^"Baiklah, tapi aku gak ganggu kan ?"^^^
β’Enzy
"Gak, kesini aja, tapi sorry aku harus ke ruangan sebelah dulu."
^^^β’Nendra^^^
__ADS_1
^^^"Kalau begitu aku tunggu di cafetaria aja."^^^
Saat sibuk memainkan ponselnya, Nendra dan Chelsea berpapasan keduanya saling menunduk Nendra sibuk dengan ponselnya sedangkan Chelsea sibuk dengan dokumen di tangannya.
Nendra mau pun Chelsea menghentikan langkahnya, karena merasa tak asing dengan orang berpapasan dengannya, Nendra berbalik begitupun dengan Chelsea, keduanya saling berpandangan.
"Kamu ? Ucap Chelsea
"Chelsea ? Tebak Nendra
Keduanya saling menunjuk satu sama lain, dikalah saling mengingat, seolah tak percaya dengan apa yang dilihat, Nendra mencoba mendekat, menatap Chelsea dengan seksama.
"Apa benar kamu Chelsea, teman sekelas Enzy juga saudara ku Rendra, dulu ?" Tanya Nendra memastikan.
"Benar saya Chelsea, apa kabar ?" Jawab Chelsea lalu menanyakan kabar pria dihadapannya hanya sekedar berbasa-basi.
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana ?"
"Seperti yang kamu lihat, sudah lama yang kita gak bertemu." Sahut Chelsea.
"Apa kamu sibuk ? Jika tidak bagaimana kalau kita ngobrolnya di cafetaria saja." Ajak Nendra.
"Ahhh baiklah." Chelse mengangguk setuju dengan ajakan Nendra.
"Aku pikir tadi kamu Rendra." Ucap Chelsea setelah duduk di sebuah kursi di cafetaria kantor tersebut.
"Emang kenapa wajah aku mirip ya sama Rendra." Canda Nendra.
"Ya jelas mirip lah, orang kamunya kembar." Sahut Chelsea.
"Mau pesan apa ?" Tanya Chelsea kemudian.
"Cappucino aja." Jawab Nendra pandangannya tak pernah luput dari wajah cantik Chelsea yang masih sama seperti dulu.
...πππππ...
Enzy memasuki ruangan yang didalamnya sudah ada Sinta selaku parner kerjanya, yang selalu saja mencari-cari kesalahan Enzy.
"Apa maksudmu dengan mengambil kasus yang saya tangani, apa kamu sudah merasa hebat hah ?" Cecar Sinta dengan gaya angkuhnya.
"Sorry, tapi sepertinya kamu salah persepsi, saya tidak pernah mau mengambil alih klaiyen atau kasus yang kamu tangani, tapi pak Yohanes sendiri yang menyuruhku untuk mengatur dan menanganinya." Jawab Enzy masih berusaha sabar menghadapi wanita yang bernama Sinta tersebut.
"Gak usah bawa-bawa nama bos kamu, bilang saja kalau kamu memang mau menjatuhkan ku, atau kamu ingin tenar di khalayak umum, iya ? Apalagi klaiyen itu adalah salah satu artis papan atas." Sinta kembali mencecar Enzy dengan tuduhan yang tak mengenakkan.
"Sorry tapi sepertinya Anda telah salah berbicara seperti itu nona Sinta, tanpa saya menumpang tenar kepada klaiyen tersebut, saya sudah tenar sebelum saya menjadi salah satu tim di kantor ini, apa perlu saya mengingatkan siapa saya nona ?" Tantang Enzy tentu saja menohok.
Sinta sudah tidak bisa berkata apapun lagi, karena apa yang dikatakan Enzy itu memang benar, bahwa Enzy sudah tenar lebih dulu, bahkan sejak masih status mahasiswa karena Enzy adalah salah satu anak tunggal pengusaha perhiasan terbesar di negara ini, dan di tambah lagi adalah menantu dari tuan Kenan pengusaha terbesar di Asia, istri dari Khayran Delvin Al Fariziq anak sulung dari tuan Kenan juga pengusaha suses hingga sekarang.
"Baiklah, aku tidak akan ikut campur lagi dengan klaiyen yang akan bertemu nanti, kata pak Yohanes kita di suruh berkumpul untuk menentukan siapa yang akan menangani kasus tersebut, dan saya sudah katakan sebelumnya kalau saya tidak ingin di libatkan dengan kasus ini, saya memilih untuk mundur." Ucap Sinta.
"Itu terserah anda nona, jika sudah tak ada lagi yang ingin anda bicarakan saya akan keluar, karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan, dan untuk siapa yang akan dipilih pak Yohanes nanti, itu terserah pak Yohanes sendiri, mau anda, saya, atau yang lainnya saya tidak peduli." Ujar Enzy penuh penekanan.
"Permisi." Ucapnya lagi kemudian pergi dari ruangan tersebut dengan perasaan kesal, sekesal-kesalnya mendengar apa yang dikatakan Sinta.
...πππππ...
Di Cafetaria.
"Jadi kamu meneruskan perusahaan orangtua kamu sekarang ?" Tanya Chelsea sambil menyeruput capuccino miliknya.
"Iya, itu yang harus aku lakukan, karena Rendra lebih memilih masuk di dunia politik." Jelas Nendra.
__ADS_1
Chelsea mengangguk paham.
"Kamu pasti gak percaya aku bisa melakukan itu kan ?" Lanjut Nendra.
"Kata siapa ? Bahkan kamu sangat cocok dengan profesi kamu sekarang ini, sejak dulu kamu memang ahli di bidang seperti ini." Sahut Chelsea.
"Dari mana kamu tahu aku ahli di bidang ini ? Bukannya dulu kamu selalu nyuekin aku ya, padahal aku sengaja menemui Enzy juga Rendra di fakultas kalian, sekalian melihatmu." Ujar Nendra mengingat masa kuliah dulu.
"Ngomong-ngomong, sekarang kamu jauh lebih cantik." Ucap Nendra membuat Chelsea langsung bersemu merah.
"Apa kamu juga mengatakan ini pada wanita lain, atau bahkan dengan istrimu ?" Tanya Chelsea.
"Tidak ! Aku tidak pernah mengatakan ini selain kepada mamiku, dan untuk istri....." Nendra menjeda ucapannya menatap Chelsea dengan tatapan berbeda.
"Aku belum menikah, karena wanita yang ingin aku jadikan istriku kelak, baru saja bertemu dengannya." Lanjut Nendra.
"Oh, mudah-mudahan kalian akan segera menikah." Sahut Chelsea.
"Iya, terimakasih doa nya." Nendra menatap Chelsea sambil berkata seperti itu.
Keduanya sama-sama terdiam, sambil meminum capuccino mereka.
"Ehhhh, Sorry... Sorry, aku baru bisa bergabung." Tiba-tiba Enzy datang bergabung dengan Nendra dan Chelsea.
"Gak apa-apa kok, kamu pasti habis menemui Sinta kan ?" Sahut Chelsea.
"Iya." Jawab Enzy kemudian mamanggil pegawai cafetaria untuk memesan apa yang di inginkannya.
"BTW muka kamu kenapa kesal seperti itu ?" Tanya Nendra melihat raut wajah Enzy.
"Bagaimana aku tidak kesal, punya parter suka nyinyir mulu." Terang Enzy.
"Chel... Sejak kapan bertemu dengan Nendra, rencananya baru saja aku ingin mempertemukan kalian, tapi udah ketemu duluan ternyata." Ujar Enzy.
"Iya, saat di lobi tadi, saat aku sibuk mengirim pesan kepadamu, tiba-tiba kami berpapasan." Bukan Chelsea yang menjawab melainkan Nendra.
"Iya Nzy, awalnya sih aku kira Rendra." Sahut Chelsea menimpali.
"Oh iya Nzy, apa kamu sudah bertemu calon klien itu, katanya sih siang ini akan datang." Tanya Chelsea.
"Belum, mungkin setelah jam makan siang, lagian pak Yohanes atau mbak Siska belum menghubungiku." Jawab Enzy kemudian beralih tersenyum pada pelayan yang mengantarkan pesanannya.
Visual
Nendra
Chelsea
...To be continue...
...Jangan lupa bosan-bosan ya readers, dan author sangat mohon berikan komentar atau pendapat kalian mengenai setiap part nya, komentar kalian sangat membuat semangat author untuk terus up......
...Terimakasih...
...LIKE...
...KOMENT...
__ADS_1
...VOTE...