
Barlie mengehembuskan nafas kasar menatap ponselnya, yang tak kunjung berbunyi pertanda panggilan dari seseorang yang ia harapkan.
"Tuan, kamu terlihat lebih tampan jika di lihat secara langsung dari pada lewat foto." Ucap wanita yang duduk berhadapan dengannya.
Ya sosok pria dan wanita yang dilihat Chelsea adalah Barlie, namun Chelsea tak mau ambil pusing dengan itu, mungkin saja wanita itu kekasih atau bahkan istri dari pria tersebut.
"Saya sangat senang dan merasa terhormat bisa melayani tuan malam ini." Ucap wanita yang ternyata seorang wanita bayaran.
"Emmm, saya hanya butuh hiburan, jadi saya butuh teman." Sahut Barlie acuh lalu memakan makanannya tanpa mau melihat ke arah wanita di hadapannya itu.
"Tuan, apakah tuan baik-baik saja sehingga tak mau menatapku, apa saya kurang menggoda menurut tuan ?" Tanya wanita tersebut karena melihat sikap Barlie sejak tadi yang dingin kepadanya.
"Jika tuan merasa tidak tertarik dengan saya saya bisa pergi dan mengembalikan uang yang tuan telah transfer, karena saya tidak bisa menerima uang begitu saja." Lanjutnya.
"Sorry, saya tidak bermaksud seperti itu, hanya saja saya kepikiran dengan masalah keluargaku dengan pekerjaan ku, jadi saya kurang fokus dengan mu." Jelas Barlie melihat ke arah wanita itu.
"Keluargaku, semuanya tidak ada yang mau mendengarkan ku, semuanya sibuk dengan dunianya sendiri." Cerita Barlie.
"Jika tuan butuh teman untuk bicara atau bersenang-senang, tuan bisa menghubungiku kapan pun, saya pasti selalu siap untuk anda tuan." Ucap wanita tersebut.
"Aku selalu ada untukmu baby." Ucap wanita itu lagi memegang tangan Barlie yang berada di atas meja, diusapanya dengan sensual lalu mengedipkan matanya menggoda.
"Baiklah cepatlah makan, lalu kita pergi dari sini !" Seru Barlie menarik tangannya dari wanita itu.
"Saya sudah kenyang tuan." Sahut wanita tersebut.
"Baiklah mari kita pergi, saya harap kamu bisa menghiburku." Ucap Barlie kemudian beranjak dari duduknya di ikuti wanitanya.
"Tentu tuan, saya jamin anda akan puas." Ujar wanita tersebut lalu menggendeng lengan Barlie sengaja menempelkan bagian dadanya di lengan pria itu, sedangkan Barlie membiarkan wanita itu bersikap semaunya, Barlie berjalan keluar dari sana dengan wajah datarnya.
Saat tiba di parkiran ponsel Barlie berbunyi tanda notif pesan masuk, Barlie menghentikan langkahnya melepaskan tangan wanita bersamanya dari lengannya lalu merogoh ponselnya dari saku jasnya.
Barlie membuka pesan tersebut yang ternyata sebuah foto seorang wanita berpakaian seksi yang berfoto berlatarkan sebuah suangai dan perahu khas negara yang dikunjungi wanita yang ada di dalam foto itu, hal itu bukannya membuatnya senang, malah membuat Barlie semakin kesal.
"Ayo !" Ajak Barlie pada wanitanya sambil mengembalikan ponselnya pada saku jas yang dikenakannya.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
"Semoga perjalanannya lancar sampai rumah." Ucap Enzy pada Siska yang terlihat siap-siap untuk segera pulang, sedangkan Enzy masih sibuk berkutat dengan laptop dan berkas yang menumpuk.
"Nzy, Apa pekerjaan mu belum selesai juga ?" Tanya Siska mengambil tasnya yang berada di atas meja kerja Enzy, karena memang keduanya sedang bekerja dalam satu ruangan tadi.
"Mungkin sejak tadi selesai jika saja seseorang tak memberiku kasus sebanyak ini." Ujar Enzy kesal tanpa beralih dari laptopnya.
Pasalnya tiba-tiba saja Sinta mengambil cuti untuk beberapa hari kedepan dengan alasan sakit dan perlu batres, dan memberikan semua kasus yang ditanganinya pada Enzy.
"Dasar emang tu ya maklampir, dia pasti sengaja tuh." Ucap Siska mencebikkan bibirnya tak suka dengan wanita yang ia sebut maklampir itu siapa lagi kalau bukan Sinta.
"Apa perlu bantuanku ?" Tanya Siska menawarkan.
"Tidak perlu, bukannya kak Siska akan menemani putra kakak yang sedang sakit di rumah." Tolak Enzy halus, pasalnya siang tadi asisten rumah tangga Siska mengabari kalau putranya sedang sakit.
"Kak Siska tidak perlu khawatir, sebentar lagi aku akan menyelesaikannya." Lanjut Enzy melihat Siska masih belum pergi.
"Kamu yakin bisa menyelesaikannya cepat ?"
__ADS_1
"Kak Siska ini sepertinya lupa aku ini siapa ?" Ujar Enzy menyombongkan diri.
"Iya...Iya...Tahu... Baiklah Nyonya yang sudah sangat ahli, kalau begitu saya permisi." Ujar Siska kemudian berjalan keluar.
"Hati-hati !" Seru Enzy meninggikan sedikit volume suaranya karena Siska sudah berada di ambang pintu.
"Ok ! Kamu juga hati-hati di sini." Sahut Siska.
Di tengah kesibukannya ponsel Enzy berdering tanda panggilan masuk.
📞 "Iya yank...?" Ucap Enzy menjawab panggilan dari suaminya, Khay.
📞 "Sayang, kamu dimana ?"
📞 "Aku masih di tempat kerja yank, sepertinya aku akan lembur."
📞 "Jangan bilang kamu lupa, aku sudah mengingatkanmu tadi malam."
📞 "Maksudmu acara makan malam yang diadakan Bang Kavi dan Kia untuk perayaan kehamilan keduanya." Tebak Enzy
📞 "Iya, kamu akan datang kan sayang ?"
📞 "Maaf... Sepertinya aku tidak sempat, soalnya deadline pekerjaan ku sangat mepet, maaf.. "
📞 "Lupakan ! Kapan kamu selesai ? Apa aku harus menjemputmu ?
📞 "Tidak perlu menjemputku, aku tidak tahu sampai kapan aku menyelesaikannya, sampaikan maafku pada bang Kavi, Kia dan yang lainnya, sampaikan juga ucapan terbaik untuk mereka dariku."
📞 "Oke." Sahut Khay di seberang sana lalu memutuskan sambungannya sepihak tanpa mengucapkan salam perpisahan atau semacamnya terlebih dahulu seperti biasa.
Enzy menghela nafas kasar berpikir sejenak.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Khay menatap ponselnya sambil menghela nafas sedikit kecewa dengan sikap istrinya yang menurutnya terlalu mementingkan pekerjaannya ketimbang berkumpul dengan keluarga. Sedangkan Khay kini sudah berada di restoran dimana Kavi dan Kia mengadakan acara.
"Ada apa bang ? Apa terjadi sesuatu ?" Tanya Diva datang menghampiri putranya yang ada di sudut ruangan.
"Gak ada Bun, Enzy tidak bisa datang, dia lembur." Ucap Khay berusaha tak menampakkan kekesalannya terhadap bundanya juga seluruh depan keluaragnya.
Namun sepertinya Diva tahu kalau Khay sedang menyembunyikan kekesalannya.
"Sudah gak apa-apa, mengertilah dengan pekerjaannya." Ujar Diva mengusap lengan putranya itu lembut.
"Ya udah ayo kesana, semuanya sudah pada datang." Ajak Diva kemudian merangkul lengan Khay untuk bergabung.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Jam menunjukkan pukul 22.00 malam, Enzy baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap-siap untuk pulang, saat memasukkan laptopnya dalam tas kerjanya ponselnya berbunyi tanda notif pada salah satu akun media sosialnya, Enzy menghentikan aktivitasnya lalu membuka motif tersebut, Enzy tersenyum melihat apa yang suaminya itu posting, dimana Susana acara makan malam bersama keluarganya, di dalam foto tersebut terlihat Kavi dan Kia tampak sangat bahagia apalagi saat foto Kavi yang mencium penuh sayang perut Kia yang masih belum membuncit.
Dalam hati Enzy ia merasa sangat iri melihat momen tersebut, kapan ia akan melakukan momen seperti itu ? Atau apakah ia tidak akan pernah merasakannya.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Jam hampir menunjukkan pukul 11 malam, Enzy baru tiba di apartemennya, ia langsung melangkahkan kakinya masuk ke kamar, Enzy berpikir Khay pasti sudah tidur, namun saat tiba di kamar ia malah tidak mendapati keberadaan pria tersebut, Enzy buru-buru membersihkan badannya lalu mengganti pakaiannya menggunakan pakaian dres tidurnya, tidak butuh waktu lama Enzy sudah terlihat lebih segar, lalu berjalan keluar kamar menuju ruang kerja Khay, dan benar saja Khay sedang berada disana terlihat Khay tak menghiraukan keberadaannya.
__ADS_1
Enzy mendekati meja kerja Khay, lalu berdiri tepat di samping suaminya itu.
Karena Khay masih menghiraukannya, Enzy berinisiatif, Enzy menarik salah satu tangan Khay yang sibuk mengetik di laptopnya, lalu Enzy naik di atas pangkuan Khay dengan posisi saling berhadapan.
"Maaf...." Enzy mengeratkan pelukannya pada bahu lebar sambil menyembunyikan wajahnya pada celuruk leher Khay.
Khay menghela nafasnya pelan, menghilangkan rasa kesalnya pada istrinya, Khay berpikir kalau istrinya itu sengaja menghindari acara tersebut, karena merasa iri dengan itu.
Khay membalas pelukan Enzy, lalu mencium sekilas kepala bagian belakang istrinya.
"Sudah makan belum ?" Tabya Khay.
"Sudah." Jawab Enzy serak.
Khay menarik Enzy beralih menangkup wajahnya, kemudian mendaratkan kecupan yang cukup dalam pada kening Enzy, lalu kembali memeluknya sama dengan posisi sebelumnya.
"Sayang jangan terlalu banyak berpikir, aku tidak mau nanti kamu malah sakit " Ucap Khay.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, kamu sengaja kan menghindari acara makan malam." Lanjut Khay hati-hati.
"Maaf..." Cicit Enzy.
"Tidak perlu meminta maaf sayang, jujur aku sempat kecewa terhadapmu, karena berpikir kamu lebih mementingkan pekerjaan dari pada acara keluarga kita." Ujar Khay mengusap lembut rambut panjang istrinya yang terurai.
"Kamu tahu sendirikan, kita bisa bahagia dengan kehidupan kita yang seperti ini." Tambah Khay.
Khay merasakan setetes cairan membasahi tengkuknya, dan ia yakin kalau itu adalah air mata istrinya.
"Sayang sudah ya, tidak usah menangis, walaupun tanpa kehadiran anak di tengah-tengah kita, maka percayalah aku akan tetap sayang dan cinta sama kamu, sungguh." Ucap Khay mengeratkan pelukannya.
"Aku juga sayang dan cinta kamu Yank, terimakasih karena mau menerimaku dan selalu bersabar menghadapi sikapku yang sering kekanak-kanakan dan juga keras kepala." Ucap Enzy.
"Iya sayang, sekarang istirahatlah ! Aku akan menyelesaikan ini dulu, nanggung sayang." Seru Khay.
"Aku mau nungguin kamu." Sahut Enzy melepaskan pelukannya, kemudian ingin beranjak dari posisinya, namun baru saja Enzy akan turun dari pangkuan Khay, tapi Khay menahan pinggangnya.
"Disini aja !" Ucapnya.
"Tapi kamu lagi kerja."
"Gak apa-apa." Jawab Khay kemudian menarik kepala Enzy agar bersandar pada dadanya, setelah itu Khay melanjutkan pekerjaannya dengan Enzy yang masih berada di pangkuannya.
...To Be Continue........
...Selamat hari raya idul Adha bagi umat yang menjalankan, Mohan maaf lahir dan batin...
...🙏🙏🙏🙏🙏...
...Jangan lupa bosan-bosan ya readers, dan author sangat mohon berikan komentar atau pendapat kalian mengenai setiap part nya, komentar kalian sangat membuat semangat author untuk terus up......
...Terimakasih...
...LIKE...
...KOMENT...
__ADS_1
...VOTE...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...