
Kini semua keluarga berkumpul di meja makan, termasuk Clarie yang ikut-ikutan.
"Begini semuanya, aku sengaja mengundang kalian berkumpul, dan maaf untuk ayah sama bunda karena harus pulang dari berlibur kalian, hanya karena ini." Ucap Kavi membuka pembicaraan di sela-sela makan malam mereka.
"Sebenarnya ada apa bang, jangan sampai ini gak penting." Sahut Khay.
"Begini...
"Biar aku aja mas." Sela Kia memegang lengan suaminya.
Kia menatap semua yang ada dimeja makan satu persatu.
"Aku hamil." Ucapan Kia sontak membuat semua orang menatapnya dengan raut wajah biasa-biasa saja, kemudian semuanya saling menatap satu sama lain, membuat Kia mengeryitkan keningnya bingung.
"Wow...Wow...Wow...." Sahut Clarie dengan tampang penuh menyebalkan Dimata Kia.
"Kamu bilang ini sangat penting, dan meminta kami berkumpul ?" Ujar Khay.
"Bahkan Ayah sama Bunda bela-belain membatalkan rencana kami terbang ke Turki." Timpal Kenan ikut-ikutan menggoda putrinya itu.
"Huh ? Ada apa dengan reaksi kalian, apa kalian tidak seneng jika aku hamil ?" Tanya Kia tak menyangka reaksi keluarganya.
"Aku HAMIL loh ini HAMIL yah, Bun." Sambung Kia menekankan kata Hamil.
Clarie langsung bertepuk tangan sangat heboh kemudian di ikuti semua orang kecuali Enzy yang tampak kurang bersemangat.
"Selamat saudariku, semoga kamu selalu bahagia dan sehat selalu hingga persalinan." Ucap Clarie dramatis sambil memegang bahu Kia yang kebetulan duduk bersebelahan.
"Sangat tulus." Cibir Kia memutar bola matanya jengah kepada wanita yang ada di sebelah kirinya itu, sementara Kavi mengelus punggung istrinya itu karena melihat kekesalannya.
"Yeh.... Saudariku bakal jadi ibu lagi." Sorak Clarie lagi-lagi membuat kehebohan dengan bertepuk tangan dengan sangat keras di ikuti yang lainnya, Khay yang menyadari raut wajah langsung menghentikan tepuk tangannya.
"Khay, kami sudah mau memiliki dua anak, kamu kapan ?" Tiba-tiba pertanyaan Kavi langsung membuat Enzy menghentikan suapannya, dan kembali meletakkan sendoknya, membuat suasana tiba-tiba menjadi hening.
"EKmmm.... Oh iya sudah berapa usia kandungan kamu sayang ?" Tanya Diva mengalihkan karena menyadari perubahan raut wajah Khay dan Enzy menjadi sendu.
"Sudah masuk 4 minggu Bun." Jawab Kia kemudian menyikut perut Kavi karena telah salah bicara.
Semuanya pun kembali melanjutkan acara makan malam mereka, sebelumnya Kenan mengitrupsi kalau sekarang lebih baik melanjutkan makannya.
__ADS_1
Diva tersenyum lalu mengusap punggung menantu perempuannya yang kebetulan duduk di sebelahnya, begitupun dengan Khay menggenggam tangan istrinya, apalagi Khay melihat mata Enzy memerah seperti menahan tangisannya.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Kavi menghampiri Khay yang tengah duduk sendirian di kursi teras depan sambil memainkan ponselnya.
"Kenapa gak masuk ?" Tanya Kavi duduk di kursi sebelah Khay yang terhalang dengan meja kecil.
"Ah, aku baru saja menerima telpon dari Klaiyen, dan sekalian aku periksa beberapa e mail masuk." Jelas Khay.
"BTW selamat ya bang, atas kehamilan kedua Kia, semoga Kia dan kandungannya sehat dan selamat sampai lahiran." Ucap Khay.
"Terimakasih, dan maaf soal yang tadi." Ucap Kavi kemudian meminta maaf.
"Tidak apa-apa bang, aku maklum kok." Sahut Khay tersenyum.
"Khay apa kamu tidak pernah memikirkan atau menginginkan untuk memiliki keturunan ?" Tanya Kavi hati-hati takut menyinggung perasaan saudara iparnya itu.
"Kalau memikirkan aku tidak terlalu ambil pusing soal itu, aku sudah berserah kepada Allah, dan jika ditanya soal keinginan, semua pasangan pasti sangat menginginkan itu, apalagi diusia pernikahan kami yang sudah satu dekade, tapi balik lagi, semuanya sudah aku serahkan semuanya kepada Allah, bagaimana jalan dan takdir yang Allah gariskan kepada kami, insyaallah saya sudah sangat ikhlas menerimanya apapun itu." Ucap Khay panjang lebar tatapannya lurus kedepan melihat pepohonan hias di depan teras tersebut.
"Tapi yang aku lihat Enzy.....
"Maksudnya ?
"Kadang dia memintaku untuk menikah dengan wanita lain yang sempurna yang bisa memberiku keturunan." Jawabnya.
"Apa kalian pernah mencoba bayi tabung ?"
"Kami sudah melakukan itu bahkan sudah dua kali namun terus gagal entah kenapa, padahal kata dokter mengatakan bahwa kami berdua baik-baik saja, terakhir kami melakukannya satu tahun yang lalu." Terang Khay.
"Jujur Bang, aku terkadang berpikir untuk mengangkat seorang anak dari panti, namun setiap kali aku mengutarakan keinginan aku pada Enzy ia selalu menolaknya, katanya ia takut tidak bisa memperlakukan anak tersebut seperti halnya anak kandungnya sendiri, dan hanya membuatnya berdosa karena tak becus mengurus seorang anak yatim." Sambung Khay.
"Ya sabar, aku percaya suatu saat nanti Allah akan memberikan yang terbaik untuk kalian, percayalah Allah tidak akan pernah diam melihat hambanya yang bersabar dan berserah diri padanya." Ucap Kavi sedikit memajukan badannya lalu menepuk punggung saudara iparnya itu.
"Thanks bang." Sahut Khay.
"Emm, sama-sama bro." Balas Kavi.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi Enzy berdiri di belakang jendela sambil membawa nampan berisikan dua cangkir kopi yang niatnya untuk diberikan kepada Khay dan Kavi, namun baru saja tiba di ambang pintu tiba-tiba ia mendengar pembicaraan keduanya, dan memilih bersembunyi di belakang jendela yang berada tepat dibelakang kursi yang Khay dan Kavi tempati sekarang, air mata Enzy jatuh begitu saja mendengar semua yang dikatakan suaminya. Dadanya sesak mengingat dirinya yang tidak sempurna menurutnya, wanita yang tidak bisa memberi kebahagiaan untuk suaminya, wanita yang gagal karena tidak bisa mengandung, itulah yang selalu menjadi pemikiran-pemikiran Enzy jika mengingat dirinya, dan keluarga kecilnya.
__ADS_1
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Di sisi lain, seorang pria parlente dengan gaya khasnya memasuki gedung kantornya yang cukup besar, raut wajahnya tampak sangat geram menahan emosinya, membuat setiap karyawan yang berpapasan dengan menunduk takut.
Pria itu berumur sekitar 25 tahunan, dia salah satu direktur perusahaan otomotif yang cukup besar di kota Xx.
"Katakan pada setiap kepala devisi untuk segera meeting lima belas menit lagi, saya tidak ingin ada terlambat." Ujarnya tegas pada salah satu pria yang bekerja sebagai asistennya.
"Baik pak." Sahut asistennya tersebut.
Lima belas menit kemudian, semua kepala devisi telah berkumpul di ruangan rapat, semuanya tampak tegang melihat atasan mereka seolah akan memakang orang hidup-hidup, apalagi tatapannya yang tajam menatap setiap orang yang ada disana bergantian.
"Bagaimana soal kasus pengalihan nama perusahaan kita ?" Tanyanya to the poin.
"Sepertinya sepupu bapak akan melanjutkannya di jalur hukum, mereka sudah membuka kasus ini ke pihak pengadilan." Jelas salah satu dewan tertinggi di perusahaan tersebut.
"Baiklah, saya akan mengikuti permainannya." Sahut pria tersebut yang di ketahui bernama Barlie Nilson, pria keturunan Belanda-Indo.
"Mike, saya ingin kamu mencari tim pengacara handal dan tentunya sangat berkompeten, dan saya ingin melihat prestasinya sebelum memilihnya sebagai yang menangani kasus ini." Perintah Barlie pada asistennya itu yang bernama Mike.
"Baik tuan, secepatnya saya akan mendapatkannya." Sahut Mike.
"Bagus, kalau bisa besok saya sudah ingin mendengar kalau kamu sudah menemukan yang tepat." Ujar Barlie lalu pergi meninggalkan ruangan rapat tersebut.
...To be Continue...
...Jangan bosen ya readers, mohon berikan komentar kalian, siapa tau aja readers punya saran.......
...Dukung author dengan memberikan...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...
__ADS_1