Dambaan

Dambaan
Dambaan Part 19


__ADS_3

Setelah melakukan pergulatan hingga pukul sebelas menjelang siang, Enzy langsung tertidur di dekapan suaminya karena kelelahan.


Sementara Khay tersu tersenyum memperhatikan istrinya yang terlelap di dadanya, Khay mengusap punggung Enzy yang polos, sambil sesekali mencium pucuk kepala istrinya itu.


"Emmm...." Enzy melenggu karena merasa terganggu, perlahan ia membuka matanya lalu mendongak menatap Khay yang masih terus menciuminya.


"Kenapa bangun, Hem ? Tidur lagi aja sayang, kamu pasti lelah !" Seru Khay kemudian mencium kening istrinya sekilas.


"Aku lapar yank." Rengek Enzy.


Khay tersenyum gemas melihat sikap istrinya yang kini manja.


"Baiklah kalau begitu aku akan memesan sesuatu untukmu, apa yang kau inginkan sayang ?" Tanya Khay.


"Kamu ini tidak peka, saat aku katakan seperti itu, harusnya kamu mengajakku makan di luar." Ucap Enzy memajukan bibirnya membuat Khay semakin gemas ingin kembali menyerang istrinya itu.


Khay mengaguk-anggukkan kepalanya tersenyum mendengar ucapan Enzy.


Enzy mengeratkan pelukannya, lalu mencium sekilas dada polos suaminya itu.


"Aku ingin keluar jalan-jalan denganmu, rasanya sudah lama kita melakukan hal seperti itu." Ucapnya Enzy.


"Apa kamu mau ?" Tanya Enzy.


"Tentu aku mau sayang, maaf ya, karena aku belum sempat mengajakmu jalan-jalan akhir-akhir ini." Ucap Khay kemudian kembali mengecup kening istrinya seolah tak ada bosan-bosannya.


"Ya sudah sana kamu mandi, aku akan mandi di kamar mandi di luar." Lanjut Khay menyuruh istrinya agar segera mandi, karena takut istrinya terlalu kelaparan.


Enzy mengaguk kemudian bangun dari posisinya di ikuti Khay.


Khay menarik pinggang Enzy agar merapat padanya, membuat Enzy tersenyum.


"Ya cepat ya !" Bisik Khay tepat di dekat telinga Enzy.


Enzy menggunakan kepalanya, pipinya bersemu karena posisi mereka, apalagi dadanya tak tertutupi sehelai benang pun, karena selimut yang ia kenakan melorot kebagian perutnya.


Kemudian Enzy menarik selimut untuk menutupi tubuhnya kemudian turun dari tempat tidur, begitupun Khay mengambil boxernya yang tergeletak di samping tempat tidur lalu memakainya.


Enzy berbalik saat Khay mengenakan boxernya, dan masih duduk di tepian tempat tidur.


"Yankkk, mau mandi bareng gak ?" Enzy berniat menggoda suaminya itu.


Dan benar saja, Khay langsung menengok menatap Enzy.


"Sayang jangan menggodaku." Ucap Khay ingin segera menyusul Enzy yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Aku benar-benar sudah lapar, mending kamu secepatnya mandi di luar aja ya pak suami." Ucap Enzy berhasil memberikan harapan palsu kepada suaminya itu.


Khay yang di PHP langsung merubah raut wajahnya yang tadinya bersemangat langsung menjadi cemberut.


"Buruan mandinya, aku juga akan mandi !" Seru Enzy tertawa mengejek.


Khay cemberut memperlihatkan puppy eyesnya lalu mengangguk, berharap istrinya luluh dan benar mengajaknya mandi bareng, tapi sepertinya sia-sia bersikap imut seperti itu karena Enzy mengacuhkannya lalu masuk ke kamar mandi.


"Sayanggg...." Panggil Khay.


"Buruan mandi tuan, gak usah merengek !" Seru Enzy dari dalam kamar mandi.


"PHP !" Teriak Khay lagi.


"Biarin." Sahut Enzy lagi.

__ADS_1


Khay menghela nafas, lalu berjalan ke arah lemari penyimpanan handuk, kemudian berjalan keluar kamar.


...🍁🍁🍁🍁🍁...


"Kenapa membawaku kesini, bukannya ini restoran dimana bang Kavi dan Kia mengadakan makan malam, waktu itu ?" Tanya Enzy sambil melihat-lihat sekitar restoran.


"Iya, apa kamu suka ?" Jawab Khay kemudian balik bertanya.


"Suka, suasananya nyaman, apalagi makannya terlihat enak." Sahut Enzy tersenyum.


"Suasananya beda dari yang lain, romantis bukan ?" Tanya Khay menarik tangan Enzy yang berada diatas meja.


"Iya, mungkin ini alasan bang Kavi dan Kia memilih tempat ini untuk merayakan kebahagiaan mereka." Ujar Enzy.


"Apa kita bisa melakukan hal itu di tempat ini juga nanti." Lanjut Enzy tiba-tiba sendu.


"Sayang, tidak mesti kita merayakan kabar gembira seperti itu, mungkin kita bisa melakukan sesuatu di tempat ini, misalnya merayakan anniversary kita nanti." Ucap Khay mengelus punggung tangan istrinya itu.


"Tapi aku berharap, kita merayakan ketika kita menyampaikan kabar gembira buat seluruh keluarga kita."


"Sayang, berhenti ! Aku tidak ingin merusak suasana kencan kita dengan membahas masalah ini, atau kita pindah tempat saja." Ucap Khay melepaskan genggaman tangannya pada tangan istrinya.


"Maaf, ya sudah kita lanjutkan saja makan kita." Seru Enzy mengembalikan ekspresi wajahnya seperti semula, ia tidak ingin bertengkar hanya gara-gara hal sensitif seperti itu.


Khay mengaguk seraya tersenyum.


Khay kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku jaket yang ia kenakan, lalu memberikankan kepada Enzy.


"Ini apa ?" Tanya Enzy menerima kotak tersebut.


"Buka aja sayang !" Seru Khay tersenyum.


Enzy membuka kotak tersebut, saat membukanya matanya melotot melihat apa isi kotak tersebut.


"Iya sayang, sini aku bantu pakai." Jawab Khay mengambil gelang tersebut lalu memakaikan ke pergelangan tangan kanan Enzy, sebelumnya Khay membuka gelang yang dipakai Enzy sebelumnya.


"Gelang simpul ini memiliki makna yang bagus, yaitu saling terikat satu sama lain, tanpa batas." Jelas Khay.


"Benarkah, terimakasih banyak suamiku." Girang Enzy.


"Iya, kata pemilik toko sih begitu, lihat aja simpulnya, tidak ada batasan ! Dan kamu tidak perlu berterimakasih sayang, ini hanya hadiah kecil dariku, untuk istriku yang cantik dan tentunya sangat aku cintai ini." Jelas Khay membuat Enzy bersemu merah mendengar ucapan Khay yang terakhir.


"Aku juga amat sangat mencintaimu suamiku, dan aku sangat beruntung memiliki suami seperti mu, dan di cintai laki-laki hebat sepertimu juga." Ucap Enzy berkaca-kaca.


"Sudah gak usah nangis ! Lebih baik sekarang kita makan, katanya tadi kamu lapar kan ?"Ujar Khay berdiri mencondongkan tubuhnya lalu mengusap pipi Enzy lalu kembali duduk.


Enzy tersenyum sambil sesekali melihat gelangnya, sementaranya Khay tersenyum melihat istrinya sangat menyukai gelang yang diberikan.


Di saat sedang sibuk makan, Khay membuka pesan yang baru saja masuk di ponselnya, Khay terlihat sangat serius dengan ponselnya, membuat Enzy menatapnya penasaran.


1 menit...


2 menit... Hingga


3 menit, Khay masih sibuk menotak-atik ponselnya, dan selama itupun juga Enzy terus menatapnya.


Khay sadar terus di perhatikan istrinya, lalu tersenyum tanpa rasa bersalah sedikitpun karena telah mengacuhkan istrinya hingga beberapa menit.


"Aku dapat pesan dari Doni, katanya ada beberapa dokumen penting perusahaan yang mesti aku cek sayang." Jelas Khay.


"Mau lihat ? Nih lihatlah !" Tambah Khay kemudian memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan room chat Khay bersama Doni.

__ADS_1


"Kenapa kamu menjelaskan, aku tidak memintanya." Ketus Enzy.


"Aku hanya ingin memberitahumu sayang, agar kamu tetap merasa senang, dan tidak seperti itu !" Terang Khay kemudian menunjuk wajah Enzy yang terlihat sangat jelas kalau wanita itu sedang kesal dan penasaran.


Enzy mengedikan bahunya sembari memajukan bibir bawahnya seolah ia terlihat acuh, Khay mengikuti juga menaikkan bahunya sambil tersenyum mengejek, membuat Enzy semakin mendelik.


"Itu terserah kamu ! Lalu bagaimana soal rencana kamu untuk membuka satu kantor cabang di Surabaya ?" Seru Enzy lalu mengalihkan topik.


"Kantor cabang ?" Khay memperjelas pertanyaan Enzy, kemudian di jawab anggukan dari wanita cantik tersebut.


"Semuanya sudah berjalan lancar, lokasinya juga sudah di dapatkan, tinggal pembangunan nya saja, sayang." Jelas Khay.


"Sambil menunggu pembangunan, kami akan menyewa sebuah gedung sementara, agar cabang di Surabaya itu bisa segera beroperasi, mengingat dikota tersebut banyak peluang untuk mendapatkan keuntungan besar." Jelasnya lagi.


"Jangan terlalu memaksakan diri untuk mencapai tujuan, kamu juga butuh istrirahat, akhir-akhir ini, walaupun kita jarang memiliki waktu lama dirumah, tapi aku perhatikan kamu terlalu sibuk mengurusi masalah pembukaan cabang perusahaan kamu itu." Ucap Enzy khawatir soal kesehatan suaminya.


"Perusahaan kita sayang, apa kamu lupa perusahaan siapa yang berusaha aku kembangkan ini, itu perusahaan milik mendiang papa Rafa dan mama Hera sayang, orangtua kamu, aku tidak ingin mengecewakan mereka, aku akan berusaha untuk tetap menjaga kestabilan perusahaan, kalau bisa aku akan kembangkan hingga mendunia, aku ingin mereka bangga disana, dan melihat bahwa kita bisa menjaga peninggalan mereka." Jelas Khay panjang lebar, karena memang Khay memfokuskan dirinya pada perusahaan mendiang mertuanya juga perusahaan yang dia kembangkan sendiri di bidang perhotelan juga resto, di tambah lagi dengan club olahraganya, yang sudah banyak melahirkan atlet-atlet hebat.


"Iya aku mengerti yank, tapi aku khawatir, kamu akan melakukan apa jika kamu terjatuh sakit, pikirkan kesehatan kamu juga." Ucap Enzy.


"Kalau aku sakit, tinggal ke dokter sayang." Sahut Khay santai.


"Ckkkk dibilangin." Decak Enzy lalu menyuap sepotong steaknya.


"Sayang, aku melakukan ini semua karena demi kamu, demi rumah tangga kita, aku tidak ingin nantinya kamu akan merasa kekurangan." Ujar Khay.


"Yank, kamu dengar ini baik-baik, aku tidak butuh kemewahan jika itu memang tidak bisa kita capai, tapi aku sangat membutuhkan kamu, pria yang kini menjadi suami yang sangat aku banggakan dan cintai." Ucap Enzy.


"Ya sudah, kalau begitu aku tidak akan terlalu memaksakan diri, dan terlalu memporsir kerjaan, tapi kamu juga harus janji jangan pernah tinggalkan aku, aku sangat mencintaimu istriku." Ucap Khay.


Enzy mengangguk sambil memperlihatkan senyumnya yang selalu memabukkan Khay.


Khay meraih tangan Enzy lalu ia usapnya punggung tangan istrinya itu menggunakan ibu jarinya sambil menatap mata Enzy lekat, membuat Enzy menaikkan alisnya.


"Sayang apa aku boleh meminta sesuatu lagi padamu ?" Tanya Khay terlihat sangat serius.


"Apa ? Selagi aku bisa aku akan memberinya padamu." Sahut Enzy.


"Sayang, please, berhentilah memikirkan seorang anak, kita tinggal berserah diri aja kepada Allah sambil berusaha." Ucap Khay menjeda ucapannya sejenak.


"Dan, jika memang kamu sangat menginginkan seorang anak di tengah-tengah kita, kita bisa mengadopsi seorang anak di panti asuhan, lagian itu juga salah satu perbuatan yang sangat baik, kita bisa menjaga seorang anak yatim." Tambah Khay hati-hati takut istrinya itu kesal.


"Iya insyaallah aku tidak akan memikirkan hal seperti itu lagi, tapi.....


"Tapi apa sayang ?"


"Tapi, untuk mengadopsi anak, sepertinya aku belum bisa yank, karena aku masih bekerja, aku takut menelantarkan seorang anak yatim yang kita tanggungjawabi, dan membuat kita malah semakin berdosa." Lanjut Enzy.


"Aya sudah terserah kamu sayang, yang jelasnya aku tidak ingin lagi mendengar kamu mengeluh dan menangis memikirkan momongan." Sahut Khay.


...To Be Continue...........


...Jangan lupa terus berikan jejak setelah membaca setiap Partnya, semoga selalu menghibur kalian....


...LIKE...


...KOMENTAR...


...VOTE...


...TERIMAKASIH...

__ADS_1


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...


__ADS_2