Dambaan

Dambaan
Dambaan Part 6


__ADS_3

Setelah bersih-bersih dan mengganti pakaiannya dengan dres santai, Enzy mempersiapkan makan siang diatas meja makan, sambil menunggu Khay membersihkan badannya.


"Yank, udah selesai ?" Tanya Enzy dikalah ia melihat Khay berjalan mendekat ke meja makan.


"Sudah !" Jawab Khay langsung mendudukkan dirinya disalah satu kursi yang biasa ia duduki.


"Mau makan apa, biar aku sajikan ?" Tanya Enzy mengambil piring yang ada di depan Khay.


"Makan kamu sayang." Jawab Khay tersenyum menggoda sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Mesum ! Aku serius yank mau makan apa ?" Ujar Enzy kemudian kembali mengulangi pertanyaannya.


"Apa aja sayang, asalkan kamu yang ambilkan aku akan makan apapun." Jawab Khay.


Enzy tersenyum sambil geleng-geleng kepala lalu menyajikan nasi beserta lauk pauk ke piring Khay lalu meletakkannya didepan suaminya tercinta.


"Silahkan dimakan tuan Khay." Enzy mempersilahkan Khay makan diselingi dengan candaannya.


"Terimakasih nyonya Khay, jadi makin cinta deh." Sahut Khay.


"Sudah, makan gih, keburu makanannya dingin nanti !" Seru Enzy kemudian mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


"Emmm... Ngomong-ngomong apa parner kerjamu itu tidak menganggumu lagi hari ini ?" Tanya Khay di sela-sela makan mereka.


"Yank, kamu jangan membahasnya aku jadi gak nafsu makan jika mengingatnya." Sahut Enzy.


"Ya sudah sayang, cepat makan gih, aku ingin mengahabiskan waktu libur kita dengan janji kamu tadi pagi."


"Emmm...." Enzy hanya berdehem.


"Tapi ngomong-ngomong aku masih tak habis pikir, kenapa Sinta selalu saja sentimen kepadaku." Ucap Enzy mengingat perlakuan salah satu parner kerjanya.


"Sinta ?" Tanya Khay menaikkan sebelah alisnya, pasalnya Khay memang tak mengetahui nama partner kerja Enzy yang selalu saja sentimen kepadanya itu.


"Maksudnya partner kerja yang sering aku ceritakan itu." Jawab Enzy dan di angguki Khay sebagai tanggapannya.


"Mungkin karena kamu yang selalu bersikap arogan dan sombong, apalagi saat melihat sikap angkuhmu." Jawab Khay mengingat sikap istrinya saat bekerja.


"Jangan katakan seperti itu ! Emang dasarnya aja wanita itu selalu iri denganku, kata mbak Siska sih karena aku cantik, ditambah lagi suaminku itu kamu." Ucap Enzy dengan percaya diri yang tinggi.


"Emangnya suami mu ini kenapa sayang, Hem ? Sampai dia harus iri, lagian siapa juga yang bilang kamu cantik." Goda Khay dan langsung mendapatkan ancaman garpu yang digunakan Enzy.


"Becanda sayang, aku tahu suamimu ini tampan, tajir, di tambah lagi dengan istriku yang cantik baik diluar maupun hatinya." Ucap Khay membuat Enzy tersenyum, hingga membuat wajahnya memerah karena pujian dari suaminya yang mengatakan kalau dirinya cantik.


"Sayang." Panggil Khay dengan nada seriusnya.


Enzy yang dipanggil dengan seperti itu langsung beralih menatap suaminya, yang tadinya ia sibuk makan.


"Jika ada sesuatu yang mengganggumu, kamu bisa memberitahuku !." Ujar Khay.


"Emmmm, aku masih bisa mengurusnya sendiri, kamu tidak perlu memikirkan itu." Sahut Enzy kembali melanjutkan makannya.


"Lagian tidak perlu juga aku memberitahumu, ini pekerjaan ku." Tambah Enzy.


"Lalu buat apa suamimu ini ? Jika kamu tidak memberitahuku lalu apa yang ada dipikaranmu ?" Ujar Khay meninggikan sedikit nada bicaranya mendengar ucapan Enzy.

__ADS_1


"Tidak usah seperti itu ! Aku hanya bercanda mengatakan itu tadi !" Ucap Enzy tersenyum berhasil membuat suaminya itu sedikit kesal dengan ucapannya yang seolah-olah tidak membutuhkan suaminya.


"Gak lucu." Sahut Khay merajuk.


"Yank." Panggil Enzy.


"Hmm...


"Kamu ingat gak yank, teman sekelas aku dulu yang bernama Chelsea, gadis yang pernah ditaksir Nendra itu, bahkan Nendra sengaja ke fakultas kami untuk melihat gadis yang ditaksirnya itu?" Ujar Enzy.


Khay tampak berpikir, lalu mengangguk kemudian menggeleng.


"Tidak ingat." Sahut Khay kemudian minum.


"Sekarang dia juga berkerja di tempatku, dan menjadi timku." Jelas Enzy.


"Ya bagus dong, kamu jadi tambah teman gibah lagi." Sahut Khay santai, pasalnya ia tahu kalau istrinya sudah bertemu dengan Siska pasti ada aja digibahin, lebih-lebih Siska yang sangat cerewet itu.


"Ishh nyebelin." Kesal Enzy kemudian beranjak dari kursinya lalu membereskan bekas makan mereka lalu membawanya ke dapur untuk dicuci.


Saat sedang sibuk mencuci piring tiba-tiba saja lengan kekar memeluk perutnya dari belakang.


"Yank, aku sedang mencuci piring." Ucap Enzy saat merasakan tangan Khay mulai nakal.


Khay sama sekali tak menghiraukan ucapan istrinya itu, tangan Khay malah semakin menjadi, terus meraba tubuh bagian belakang Enzy dengan sangat sensual.


"Ck.... Khay kamu menggangguku." Decak Enzy.


"Teruslah mencuci ! Seru Khay dengan nada sensualnya kemudian mengecupi tengkuk Enzy yang terlihat jelas karena rambut panjang Enzy ia cepol sehingga memperlihatkan leher jenjangnya.


"Aku akan membantumu sayang." Ujar Khay perlahan membawa tangannya itu kedepan, tapi bukannya membantu, Khay malah memegang tangan Enzy yang sibuk mencuci piring dengan spon, tentu saja posisi Khay masih berada dibelakang Enzy.


"Berhentilah bermain-main, orang sepertimu tidak akan berpikir membantuku untuk mencuci piring." Sahut Enzy.


"Sayang, hari ini hari libur kita, kamu juga sudah berjanji kepadaku tadi pagi." Ucap Khay kembali mencium punggung Enzy yang dilapisi dres rumahan yang berbahan satin.


"Lagian, apa kamu sengaja menggodaku dengan menggunakan dres seperti ini, ini terlihat sangat menggoda sayang." Lanjut Khay melihat dres yang digunakan Enzy terbilang sangat seksi yang hanya sebatas atas lutut, dan memiliki lengan hanya sebahu.


"Aku tidak berniat menggodamu." Sahut Enzy.


Khay terus menciumi bagian belakang Enzy sambil memberikan sentuhan-sentuhan lembutnya membuat Enzy merasa risih.


"Khay, berhentilah !"


"Tolonglah sayang, tolonglah...!" Ucap Khay terus meminta.


Enzy geleng-geleng kepala jengah mendengar suaminya itu merengek.


"Khay, aku ha....


Enzy tak dapat lagi melanjutkan ucapannya karena Khay tiba-tiba menarik lengannya dan membuat Enzy langsung berbalik dan keduanya saling berhadapan, Khay semakin memojokkan Enzy kebelakang hingga tubuhnya bersandar di wastafel.


"Khay, apa kamu benar-benar akan melakukannya disini ?" Tanya Enzy melihat wajah Khay semakin dekat dengannya.


"Emmm....." Khay hanya berdehem sambil sedikit menganggukkan sedikit kepalanya, tanpa pikir panjang Khay langsung membungkam mulut Enzy dengan mulutnya, baru saja Khay akan me*"**t bibir yang menjadi candunya itu, tiba-tiba saja ponsel Khay yang sebelumnya ia letakkan di dekat kompor berdering tanda panggilan masuk.

__ADS_1


"Abaikan saja !" Seru Khay saat Enzy mendorong bahu Khay.


Saat akan kembali memulainya ponsel itu kembali berdering.


"Yank..."


"Aku bilang abaikan saja, sayang !"


"Yank, sepertinya kamu harus menjawabnya terlebih dahulu." Ujar Enzy lagi-lagi karena ponsel itu kembali berbunyi tak ada hentinya membuat Khay yang baru saja kembali memulainya mengeram kesal.


"Sebaiknya ini penting, jika tidak aku akan mencabik-cabik nya." Frustasi Khay meraih ponselnya.


Enzy menertawakan suaminya itu saat terlihat jelas dilayar ponsel tersebut tertera nama NYONYA BESAR yang artinya itu adalah dari Diva sang bunda.


"Silahkan dicabik-cabik yank." Ejek Enzy.


Khay hanya cemberut melihat istrinya itu menertawakannya lalu menjawab panggilan tersebut.


📞 "Assalamualaikum nyonya, ada apa, kenapa menelpon diwaktu seperti ini ?" Ucap Khay lalu bertanya.


"Kupikir kamu akan mencabik-cabik nya ?" Ucap Enzy tanpa mengeluarkan suara, membuat Khay menatapnya sedikit kesal sambil cemberut.


📞 "Bang kamu pasti lupakan untuk pergi kerumah adikmu hari ini kan ?" Tanya Diva diseberang sana.


📞 "Bunda dan ayah memberimu waktu tiga puluh menit untuk tiba disini." Lanjut Diva.


📞 Baiklah nyonya besar aku dan Enzy akan segera kesana." Ucap Khay.


Setelah panggilan itu berakhir Khay menatap istrinya dengan tatapan memprihatinkan, lagi-lagi ia gagal mendapatkan jatah dihari liburnya.


"Ada apa ? Tanya Enzy tertawa.


Tanpa menjawab Khay menyatukan kening mereka, kemudian mendusel-dusel hidung Enzy menggunakan hidungnya.


"Sudah ! Nanti malam kita bisa melanjutkannya lagi." Ucap Enzy.


"Tapi.....


"Sudah Yank, aku janji, buruan kita ganti baju, gak enak kita sudah di tungguin yang lainnya." Ucap Enzy menyela.


"Emmm ayo pergi." Sahut Khay mengangguk pasrah dan tak bersemangat, kemudian merangkul pinggang Enzy untuk segera pergi ke kamar untuk bersiap-siap.


To Be Continue


...Jangan bosen ya readers, mohon berikan komentar kalian, siapa tau aja readers punya saran.......


...Dukung author dengan memberikan...


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...


...TERIMAKASIH...

__ADS_1


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...


__ADS_2