Dambaan

Dambaan
Dambaan Part 7


__ADS_3

Mobil sports jenis sedan milik Khay memasuki gerbang hitam yang menjulang tinggi keatas. Khay membunyikan klakson mobilnya saat melewati seorang security yang berdiri di dekat pintu gerbang setelah membukanya.


"Kupikir kamu mau memarahi bunda, tapi yang aku lihat kamu malah melajukan mobil dengan cepat sehingga kita tiba tak sampai tiga puluh menit." Enzy masih saja mengejek suaminya itu, karena saat bersiap-siap Khay terus mengomel akan marah kepada bundanya karena telah merusak moment nya.


"Beliau bundaku, kamu mau punya suami yang durhaka, lagian berhentilah mengejekku aku masih kesal karena telah gagal memakanmu tadi." Ujar Khay merangkul pinggang istrinya berjalan menuju pintu masuk rumah mewah milik adiknya itu yang baru saja mereka tempati.


Keduanya pun berjalan dengan Khay merangkul pinggang Enzy, sedangkan Enzy membawa paperbag berisikan mainan untuk ponakannya tercinta, siapa lagi kalau bukan putra dari Kavi dan Kia.


"Daddy.... Mommy....." Seorang anak laki-laki berumur 7 Tahun berlari menghampiri Khay dan Enzy setelah pasangan suami istri itu tiba di teras rumah.


"Oh, Pangeran Daddy." Ucap Khay merentangkan kedua tangannya begitupun anak kecil bernama Axel langsung masuk kedalam gendongan sang paman yang ia panggil dengan sebutan daddy karena keinginan Enzy sendiri, ia ingin dipanggil Mommy dan otomatis Khay di panggung daddy.


"Sama Daddy doang nih pelukannya, sepertinya mommy sudah dilupakan." Enzy pura-pura merajuk.


Axel segera turun dari gendongan Khay lalu beralih memeluk Enzy, Enzy berlutut untuk mensejajarkan tingginya dengan ponakannya tersebut, Enzy membalas pelukan Axel lalu memberinya ciuman bertubi-tubi diwajah bocah laki-laki itu.


"Ini buat Axel." Enzy memberikan paperbag berisikan mainan itu kepada Axel.


"Terimakasih Mommy." Ucap Axel kesenangan mendapatkan mainan dari wanita yang ia panggil mommy itu.


"Sama-sama sayang." Ucap Enzy.


"Udah-udah, lebih baik kita masuk, yang lain udah pasti nungguin kita." Ucap Khay.


"Ok Daddy." Axel memberikan tanda hormat pada Khay, lalu ketiganya masuk sambil berpegangan tangan dengan Axel berada ditengah-tengah Khay dan Enzy, layaknya sebuah keluarga.


Khay dan Enzy memang sangat menyayangi Axel, keduanya menganggap keponakannya itu sebagai putra kandung sendiri, bahkan Axel lebih dimanjakan Enzy daripada mamanya sendiri yang tak lain adalah Kia.


...🍁🍁🍁🍁🍁...


"Clarie, kamu benar-benar ingin menguji kesabaran ku." Ucap Kia kepada Clarie saat mereka berada di ruang tamu.


"Aku bilang, aku tidak ingin warna hitam pada sofaku." Lanjut Kia melihat sofa yang baru saja Clarie tempatkan disana.


Pasalnya Clarie yang bekerja sebagai desain interior, yang dipercayakan Kavi untuk mendesain rumahnya.


Clarie yang duduk bersandar di sofa, sambil bersedekap dada santai saja mendengar setiap protes yang dilayangkan Kia.


"Lalu kamu mau warna apa" Tanya Clarie santai sambil memainkan kukunya.


"Aku mau warna abu-abu." Jawab Kia.


"Suamimu yang meminta, kalau sofa yang ada diruang tamu warnanya ini, ya warna hitam, bahkan pemilihan model sofa suamimu juga yang memilihnya." Terang Clarie berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati Kia yang sejak tadi berdiri di depan sofa tersebut.


"Lagian saat aku bertanya kamu maunya apa, kamu malah mengatakan terserah mas Kavi saja, ya ini." Lanjut Clarie menunjukkan sofa yang sejak tadi diprotes Kia.


"Tap......


"Oi.... Oi.... Lihat siapa yang datang." Clarie menyela ucapan Kia, saat melihat Khay dan Enzy masuk beserta Axel bersama mereka.


"Ngapain kamu disini ?" Tanya Enzy kesal melihat keberadaan wanita cantik itu, sampai sekarang Enzy masih belum bisa akur jika bertemu dengan Clarie.


"Hay nyonya, anda lupa kalau ini juga rumah saudari ku." Ucap Clarie.


"Hay, Clarie." Tegur Khay karena sudah melihat kekesalan istrinya, apalagi Clarie sangat suka membuat kesal Enzy.


"Maksudku, aku kesini karena menyelesaikan pekerjaan ku." Ujar Clarie.


"Bilang saja, kamu kesini hanya untuk menumpang makan, kamu sengaja memperlambat pekerjaanmu, kalau aku tahu begini aku tidak mengijinkan mas Kavi mempercayakan ini padamu." Sahut Kia menatap sinis Clarie, Kia masih kesal dengan Clarie karena warna Sofa nya, ditambah Clarie dan Kia memang jarang akur, tapi sebenarnya mereka sangat akrab.

__ADS_1


"Kali ini bukan hanya untuk menyelesaikan pekerjaan, tapi karena aku tahu saudara laki-laki kesayangan ku akan datang, makanya aku kesini." Ucap Clarie enteng lalu dengan sangat sengaja bergelayut manja di lengan Khay.


"Clarie, jangan memberiku kesulitan, lihat tatapan istriku." Tegur Khay melepaskan rangkulan Clarie dari lengannya.


"Menjaulah dariku ?" Lanjut Khay.


"Carilah pasangan yang tepat, atau kamu akan melajang seumur hidupmu !" Seru Enzy sinis bercampur kesal menatap Clarie.


"Emmm benar yang dikatakan kak Enzy, karena semakin kamu tua, tidak akan ada lagi pria yang ingin kepadamu, dan akhirnya menjadi perawan tua." Sahut Kia menimpali.


"Hay Kia, pedas amat kamu ngomong, aku ini saudarimu loh, saudari ini." Ucap Clarie menujuk dirinya sendiri.


"Sajak kapan aku bilang ingin menjadi saudarimu, sahabat saja aku tidak ingin." Sarkas Kia.


"Sepertinya mulutmu itu kebayang makan cabai Ki, pedes amat tau gak ?" Ujar Clarie ngelangsa.


"Hay....Hay... Berhenti ! Lagian buat apa kamu menyuruh kita berkumpul disini ?" Khay menyela perdebatan Kia dan Clarie, lalu bertanya maksud adiknya itu menyuruh mereka berkumpul.


"Kita tunggu mas Kavi pulang dulu, nanti aku akan katakan saat makan malam nanti." Ucap Kia enteng membuat Khay membulatkan matanya sempurna.


"Emangnya suami kamu kemana ?" Tanya Khay.


"Dia ada rapat penting hati ini, jadi pagi tadi ia pergi, dan akan pulang malam nanti." Jawab Kia.


"Lalu kenapa menyuruh kami berkumpul secepat ini Oneng, kamu merusak momen saja." Geram Khay mengepalkan tangannya di depan wajah adiknya itu, saking kesalnya.


"Momen apaansih ?" Tanya Kia heran melihat kakaknya sampai sekesal itu.


"Aku ah...." Kesal Khay lalu masuk kedalam meninggalkan para wanita yang menatap aneh kepergiannya, kecuali Enzy, karena Enzy tahu kenapa suaminya sampai kesal seperti itu, karena telpon dari bundanya yang menyuruhnya segera kemari, jadi batal mendapatkan jatahnya.


"Kak Enzy, bangkhay kenapa sih, momen apa maksudnya ?" Tanya Kiaasih sangat penasaran.


Enzy tersenyum kemudian menaikkan bahunya acuh, lalu menyusul kepergian suaminya kedalam, tak lupa mengajak Axel ikut bersamanya.


...🍁🍁🍁🍁🍁...


"Kalau bunda lihat Abang disini, berarti Abang sudah ada disini Bun." Ucap Khay masih kesal.


"Bang, ngomong yang sopan, jangan mentang-mentang kamu sudah dewasa kamu berani-beraninya ngomong seperti itu." Tegur Kenan.


"Maaf yah, Bun, lagian aku kesal sama bunda." Sahut Khay.


"Kesal kenapa, perasaan bunda lagi gak ngapa-ngapain, ketemu kamu aja, barusan." Sahut Diva heran mendengar putranya itu kesal kepadanya.


"Bunda tad.....


"Assalamualaikum, yah, Bun." Belum sempat Khay menjawab tiba-tiba Enzy masuk keruang tengah menyapa kedua mertuanya itu, lalu menyalami tangan keduanya bergantian tak lupa memeluknya.


"Bunda sama ayah apa kabar ?" Tanya Enzy setelah duduk di samping ibu mertuanya.


"Alhamdulillah kami sehat sayang, kamu sendiri bagaimana ?" Jawab Diva lalu balik bertanya.


"Alhamdulillah semuanya juga baik Bun." Jawab Enzy sambil mengusap lembut rambut Axel yang duduk disampingnya.


"Mommy, nginep kan ?" Tanya Axel.


"Gak, kami gak akan nginap boy." Jawab Khay cepat.


"Mom." Rengek Axel pada Enzy.

__ADS_1


"Iy.....


"Enggak sayang, malam ini kita gak bisa nginap, lain kali saja." Lagi-lagi Khay menimpali saat Enzy akan mengiyakan permintaan Axel.


"Boy, sini dulu sama Daddy !" Seru Khay memanggil Axel agar duduk di pangkuannya.


Axel menuruti permintaan pamannya itu, lalu duduk di pangkuannya dengan cemberut.


"Daddy janji, secepatnya Daddy akan menginap, atau Axel yang menginap ditempat Daddy sama mommy, tapi untuk malam ini tidak, bisa karena ada yang mesti Daddy sama mommy kerjakan, ok boy !" Bujuk Khay pelan-pelan mencoba memberikan pengertian pada bocah laki-laki itu, pasalnya jika ia menginap sudah pasti bocah itu pasti menganggunya dengan Enzy.


"Daddy promise ?" Tanya Axel memberikan jari kelingking nya untuk berjanji.


"I'm promise boy." Jawab Khay menautkan kelilingnya di pada kelingking kecil Axel.


"Baiklah."


"Good boy."


"Bang, emangnya kamu kerja apa, sepertinya sangat penting ?" Tanya Kenan.


"Orangtua mana tahu." Sahut Khay dan langsung mendapatkan timpukan bantal dari sang Ayah.


"Ayah juga pernah muda bang, sok-sokan." Cebik Kenan.


"Bilang aja ayah iri, lagian apa Ayah masih mampu, apa ayah gak takut encok ?" Ledek Khay pada ayahnya itu.


"Enak aja encok, kamu terlalu meremehkan ayahmu ini, bukannya ayah tidak mampu, tapi ayah hanya kasihan dengan bundamu yang sudah tidak bisa lagi mengimbangi permainan ayah." Ujar Kenan tak mau kalah.


"Bunda apa-apaan ?" Pekik Kenan saat sebuah cubitan keras yang dirasakan pada pinggangnya.


"Ngomong apa kamu, hah ?" Ucap Diva menatap tajam suaminya itu membuat Kenan bergidik negeri.


"Gak ada Bun, ayah gak ngomong apa-apa." Elak Kenan.


"Aduh...sakit Bun, tolong lepasin ya, sakit ini." Mohon Kenan saat Diva semakin menguatkan cubitannya.


"Makanya jangan asal ngomong, malu sama umur." Ujar Diva melepaskan cubitan mautnya.


Bonus visual


Khay



Enzy



...To be Continue...


...Jangan bosen ya readers, mohon berikan komentar kalian, siapa tau aja readers punya saran.......


...Dukung author dengan memberikan...


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...

__ADS_1


...TERIMAKASIH...


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...


__ADS_2