Dambaan

Dambaan
Dambaan Part 20


__ADS_3

Setelah makan siang, Enzy dan Khay lanjut untuk berbelanja bahan dapur dan perlengkapan rumah lainnya.


"Rasanya sudah lama kita tidak berbelanja seperti ini, dan apa kamu tahu sayang, setiap kali kita belanja seperti ini, itu mengingatkan ku saat pertama kali kita berbelanja bareng pas awal-awal kamu nerima aku sebagai suamimu." Ucap Khay panjang lebar sembari tersenyum.


Khay terus mendorong troli mengikuti Enzy yang terus memilih apa saja yang akan ia beli.


"Kenapa kamu masih mengingat masa lalu, aku berasa malu saat mengingat-ingat awal-awal pernikahan kita, aku angkuh, sombong, keras kepala, dan selalu menuduhmu." Ujar Enzy.


"Tapi sekarang kamu udah gak benci aku kan sayang, yang ada kamu malah bucin banget sama aku, gak mau jauh-jauh lagi." Goda Khay membuat Enzy memajukan bibir bawahnya mengejek.


"Sayang." Panggil Khay membuat Enzy menoleh menatapnya sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Emmm ?"


"Kamu tahu gak, dulu aku sangat senang pas kamu mau menerima aku buat jadi suami kamu, dan saat pertama kali kamu enggan menerima uang pemberian aku." Ujar Khay.


"Gitu aja seneng, dan aku engganlah Nerima uang kamu, apalagi aku belum tahu kalau ternyata kamu punya bisnis sendiri, aku kira itu uang pemberian ayah." Jelas Enzy.


"Kok malah segan sih sayang, itukan memang hal kamu, tapi lihatlah sekarang, malah kamu semua yang pegang kendali keuangan aku."


"Iya aku yang megang kendali, karena kalau tidak kamu gak ada henti-hentinya jajan mobil, sampai-sampai aku susah bedain mana mobil baru atau bukan." Ucap Enzy.


"Namanya juga hobi sayang, lagian ayah juga seperti itu, begitupun dengan bang Kavi."


"Aku tahu itu hobi, aku bahkan sangat tahu juga kalau kamu menghasilkan uang setiap waktu, dalam jumlah yang banyak, tapi perlu kamu tahu kamu juga harus pandai menyisihkannya, roda kehidupan akan terus berjalan yank, tidak mungkin kita selalu berada di atas terus, masih bagus jika Allah terus memberi kita rezeki seperti ini, tapi bagaimana jika malah sebaliknya ?" Ucap Enzy panjang lebar mengingatkan suaminya.


"Aku benar-benar sangat beruntung deh punya istri seperti kamu, sudah cantik, baik, suka menabung lagi, jadi tambah cinta deh." Ucap Khay mencubit gemas pipi istrinya itu, membuat Enzy memutar bola matanya malas.


"Emmm, ya sudah ayo kita bayar !" Ajak Enzy karena merasa semua yang dia butuhkan sudah ia dapatkan.


"Yakin udah selesai, gak ada yang dilupakan ?" Tanya Khay memastikan.


"Yakin." Jawab Enzy.


Kedua pun berjalan menuju kasir, setelah menunggu antrian yang cukup banyak, akhirnya mereka selesai dan keluar dari tempat tersebut.


"Habis ini mau kemana lagi sayang ?" Tanya Khay sambil menenteng beberapa kantong belanjaan, sedangkan Enzy hanya membawa satu kantong saja, itupun isinya hanya snak ringan.


"Aku mau lihat baju dulu yank." Jawab Enzy.


"Ya sudah, kalau begitu tunggu sini aja dulu, gak apa-apa kan ?"


"Emang mau kemana ?"


"Aku mau naroh belanjaan dulu sayang, masa mau dibawah-bawah terus." Jawab Khay.


"Oh iya ya ?" Tolong bawa ini juga yank, biasakan ?" Ucap Enzy mengulurkan kantong belanjaan yang ia bawah.


"Bisa, ya udah tunggu sini, jangan kemana-mana !" Titah Khay kemudian memberikan ciuman jauh sebelum melangkah pergi.


Enzy bukannya mebalas ciuman jauh dari suaminya, ia malah geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat sikap suaminya, jelas sangat terlihat kalau suaminya itu sangat mencintainya, lagi-lagi Enzy berucap syukur dalam hati, karena Tuhan sangat berbaik hati memberikannya sosok suami seperti Khay.


...🍁🍁🍁🍁🍁...


Di sisi lain, tak jauh dari tempat Enzy menunggu suaminya kembali, Barlie dan Manda terlihat batu keluar dari restoran.

__ADS_1


"Habis ini kita kemana ?" Tanya Barlie.


"Kita ke salah satu outlet menjual segala jenis brand dan item, aku ingin cari sesuatu disana." Jelas Manda berjalan di samping Barlie.


"Emmmm...." Barlie berdehem sambil mengangguk menyetujui ucapan Manda.


"Hati-hati jalannya, gak usah terlalu terburu-buru !" Tegur Barlie melihat Manda terburu-buru.


"Masalahnya Bar, barang yang aku inginkan itu limited, aku gak mau aja sampai kehabisan." Sahut Manda.


"Iya tapi gak usah terburu-buru juga, bisa kan ?"


"Gak bisa Bar, ayo buruan !" Manda menarik lengan Barlie agar berjalan lebih cepat.


Sedangkan Barlie hanya bisa pasrah di tarik-tarik seperti itu.


Barlie menaikkan sebelah alisnya saat tak sengaja melihat seseorang yang sangat ia kenali.


"Nona, nona Enzy !" Panggil Barlie.


Enzy yang sejak tadi sibuk memainkan ponselnya menoleh kebelakang karena merasa dirinya terpanggil.


"Oh, tuan Barlie ?" Ucap Enzy tersenyum.


"Apa yang Anda lakukan disini ?" Tanya Barlie seolah melupakan ada Manda di sebelahnya.


"Saya kesini buat berbelanja." Jawab Enzy.


"Bagaimana perkembangan kasusnya, saya harap tuan puas dengan pekerjaan kami, selalu tim pengacara Anda." Ucap Enzy ramah.


"Bukan cuma saya tuan, tapi atas nama tim saya juga." Ujar Enzy.


Sedangkan Manda hanya diam sejak tadi, ia merasa diabaikan.


"Oh iya tuan, Anda jangan lupa empat hari lagi persidangan awal." Enzy mengingatkan.


"Baik." Sahut Barlie.


"Oh iya, nona Enzy perkenalkan, ini Manda." Barlie memperkenalkan Manda pada Enzy.


"Dia adik saya nona Enzy." Lanjut Barlie memperkenalkan Manda sebagai adiknya.


Enzy tersenyum kemudian mengulurkan tangannya.


"Enzy." Enzy mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Manda, namun sepertinya Manda diam, hati wanita itu sakit saat mendengar Barlie memperkenalkannya sebagai adiknya, apalagi melihat Barlie seolah mengagumi wanita jauh lebih dewasa darinya itu.


"Man, perkenalkan dia pengacara yang menangani kasusku." Ucap Barlie.


Manda menerima uluran tangan Enzy kemudian ikut memperkenalkan dirinya.


"Manda." Ucap Manda tersenyum yang sedikit ia paksakan.


"Jaga kakak kamu itu, dan katakan padanya agar lebih mengontrol emosinya." Ujar Enzy kepada Manda.


Manda hanya mengangguk menanggapi.

__ADS_1


"Ayolah nona Enzy, saya seperti itu karena saya sangat emosi, jadi marah-marah kepada anda juga rekan Anda, saya minta maaf akan itu." Sahut Barlie.


"Baiklah kalau begitu saya duluan tuan." Pamit Enzy tak ingin berlama-lama bersama mereka, apalagi melihat Manda yang terlihat nyaman dengannya.


"Nona Enzy, tunggu !" Cegah Barlie saat Enzy berbalik.


"Iya ?" Enzy menoleh.


"Nanti saya akan menghubungi Anda." Jawab Barlie.


"Anda bisa menghubungkan saya, jika memang itu penting." Ucap Enzy kemudian pergi.


"Nona Enzy itu baik, ramah, tapi sayang ada tembok yang menghalangi." Ucap Barlie.


Manda memutar bola matanya malas lalu pergi meninggalkan Barlie sendirian.


...🍁🍁🍁🍁🍁...


"Siapa kedua orang itu ? Apa kamu mengenalnya ?" Tanya Khay melihat Enzy mengobrol dengan Manda dan Barlie.


"Dia tuan Barlie bersama adiknya, tuan Barlie itu Klaiyen aku yank." Jelas Enzy.


Khay mengangguk sambil terus memperhatikan Barlie dan Manda berjalan tak jauh dari tempat mereka sekarang.


"Tadi dia menyapaku terlebih dahulu, gak enak kan kalau saya acuhkan, apalagi dia klaiyen aku, dia juga sedikit membahas kasusnya." Jelas Enzy melihat suaminya dalam mode on cemburu.


"Begitu ?" Sahut Khay masih terus memperhatikan keduanya.


"Berhenti melihat mereka seperti itu ! Atau adiknya itu jatuh cinta padamu mengira kamu sengaja tebar-tebar pesona, aku lelah jika harus cemburu." Seru Enzy.


Khay tersenyum menggoda melihat Enzy, lalu melangkahkan kakinya lebih mendekat.


"Sebenarnya siapa yang lebih menggoda ? Apa kamu tidak sadar sayang, Hem ?" Ucap Khay menggoda.


"Ckkk... Satu-satunya pria yang buta karena jatuh cinta padaku hanya kamu." Ujar Enzy.


"Aku harap hanya aku laki-laki buta yang mencintaimu." Ucap Khay memegang tangan istrinya lalu ia cium punggung tangan itu.


"Siapa lagi yang akan ada, walaupun ada aku yakin pria itu tidak akan bisa tenang, karena tuan suami ini sangat posesif." Sahut Enzy membuat Khay tersenyum dan tidak tau malunya Khay mencium sekilas bibir Enzy di tempat umum, tanpa mempedulikan orang-orang yang melihatnya.


"Lihat-lihat tempat juga kalau mau nyosor, kita dilihat banyak orang, malu." Oceh Enzy menundukkan wajahnya karena merasa diperhatikan banyak orang.


"Aku gak peduli, orang aku nyosor istri sendiri." Ucap Khay santai seolah tak terjadi apa-apa.


"Ishh Dasar tak tahu malu, ayo aku mau belanja perlengkapan kita." Ajak Enzy langsung merangkul lengan suaminya itu pergi dari sana.


To be Continue


LIKE


KOMENT


VOTE


...TERIMAKASIH ...

__ADS_1


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...


__ADS_2