Dambaan

Dambaan
Dambaan Part 21


__ADS_3

Saat akan memasuki sebuah toko, Manda menghentikan langkahnya, membuat Barlie menoleh.


"Ada apa ?" Tanya Barlie santai sambil menatap Manda yang terlihat kurang semangat seperti awal mereka berangkat.


"Tadi itu siapa ?" Tanpa menjawab pertanyaan Barlie, Manda malah balik bertanya.


"Siapa yang kamu maksud ?" Barlie kembali melontarkan pertanyaan, tanpa berniat menjawab pertanyaan Manda, bukannya tidak mengerti, bahkan Barlie sangat mengerti siapa yang istrinya itu maksud.


Manda memutar bola matanya malas, lalu kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam toko.


Barlie tersenyum lalu mengejarnya.


"Tunggu ! Yang kamu maksud nona Enzy ? Barlie mencekal tangan Manda agar berhenti.


"Emmm, siapa lagi." Ketus Manda.


Barlie terkekeh melihat sikap Manda yang menurutnya menggemaskan.


"Apa kamu sudah lupa, perasaan kamu masih muda, Mada sudah pikun." Goda Barlie.


"Bukannya sudah jelas, kalau nona Enzy itu adalah orang yang menangani kasusku." Lanjut Barlie.


"Aku tahu itu, tapi yang aku lihat, dari cara kamu memandangnya juga berbicara padanya, kamu berbeda, aku rasa lebih dari itu." Ucap Manda berusaha menahan ekspresi wajahnya agar terlihat biasa-biasa saja, namun sepertinya Barlie tahu kalau sebenarnya ia jeloues.


"Kenapa ? Ada apa dengan caraku memandangnya juga berbicara, Hem ?" Tanya Barlie membukukan badannya mendekatkan wajahnya lebih dekat dari wajah Manda, sehingga Manda memundurkan dirinya selangkah.


"Jelas apa yang kamu pikirkan ! Bersikap biasalah pada hal seperti ini !" Seru Manda penuh penekanan.


Barlie tertawa...


"Lihatlah diriku sayang ! Pria seperti ku selalu mendapatkan apa yang di inginkan." Ucap Barlie kembali menegakkan tubuhnya.


"Tapi...." Barlie sengaja menjeda ucapannya.


"Tapi apa ?" Tanya Manda penasaran.


"Tapi, ada satu hal yang tidak bisa kudapatkan." Lanjutnya.


"Pasti wanita tadi, bukan ?" Tebak Manda.


Barlie menaikkan bahunya acuh menanggapi tebakan Manda.


"Ayo, katanya mau membeli sesuatu !" Barlie merangkul bahu Manda kemudian melanjutkan langkah mereka masuk ke salah satu toko.


"Pilihlah yang kamu mau !" Seru Barlie yang hanya di angguki Manda.


Manda tak lagi bersemangat, ia terus memikirkan pertemuan mereka dengan Enzy tadi.


"Man, tolong pilihin dasi dong !" Seru Barlie.


Tanpa menjawab Manda mendekati Barlie yang sedang berdiri tepat di depan etalase yang memperlihatkan banyak macam dasi disana.


"Aku mau coba yang itu." Tunjuk Barlie pada salah satu dasi berwarna hijau army.


"Ini ?" Tanya Manda memegang dasi yang di tujuk Barlie.


"Iya." Jawab Barlie.


Manda mengambil dasi tersebut.


"Bagaimana ?" Tanya Barlie.


"Emmm, bahannya cukup bagus, halus, sepertinya ini terbuat dari sutra." Jelas Manda sambil berjalan mendekati Barlie yang berdiri beberapa langkah dari etalase tersebut.


Manda mencoba meletakkan dasi tersebut di depan dada Barlie, lalu memperhatikan apakah terlihat Coco atau tidak.


"Bagaimana bagus gak ?" Tanya Manda.


Coba pasang di leher aku !" Titah Barlie.


Tanpa protes Manda melakukan apa yang di perintahkan Barlie, sedangkan Barlie terus memperhatikan wajah Manda yang begitu dekat padanya.


"Apa kamu benar-benar suka warna ini ?" Tanya Manda masih sibuk dengan aktivitasnya.


"Iya, seingatku aku belum memiliki warna ini." Sahut Barlie masih menatap wanita di hadapannya itu.


"Sudah ! Coba kamu bercermin !" Ujar Manda sedikit melangkah mundur.


Barlie bercermin memperhatikan dirinya di cermin sambil sesekali merapikan simpulan dasi di lehernya.


"Bagus ! Apa aku jadi tambah tampan ?"


"Banget." Sahut Manda apa adanya.

__ADS_1


...🍁🍁🍁🍁🍁...


Chelsea datang ke perusahaan Nendra, karena ia di percayakan bergabung dalam tim kuasa hukum perusahaan milik keluarga Nendra, dan kali ini ia ditugaskan untuk mengantarkan beberapa dokumen penting.


Chelsea bingung saat ia akan masuk ke dalam gedung yang menjulang tinggi tersebut, karena ini kali pertamanya ia pergi ke tempat tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu nona ?" Tanya salah satu security yang berjaga di pintu lobi tersebut.


"Iya pak, ini, saya mau mengantarkan beberapa dokumen penting, kami dari tim kuasa hukum yang di percayakan oleh pak Nendra." Jelas Chelsea.


"Silahkan masuk nona, nona bisa bertanya pada resepsionis, dimana letak ruangan pak Nendra." Ujar security tersebut.


Baru saja Chelsea akan bertanya pada resepsionis, di saat itu juga Nendra keluar dari lift.


"Hay Chel, ngapain disini ?" Sapa Nendra langsung menghampiri Chelsea.


"Emmm.... Ini Nend, aku...aku...aku." Chelsea terlihat sangat gugup berhadapan dengan Nendra, baru kali ini ia segugup ini saat bertemu klaiyen, padahal ia sudah banyak menghadapi beberapa persidangan untuk mendampingi klaiyennya.


"Bagaimana kamu bisa sampai disini ? Apa kamu sendirian ?" Tanya Nendra.


"Aku.. Aku...Aku kesini buat memberikan ini." Ucap Chelsea lalu memberikan map berisikan dokumen. Namun belum juga Nendra menerima map tersebut, tanpa sengaja Chelsea menjatuhkannya karena saking gugupnya, apalagi sejak tadi Nendra menatapnya.


"Maaf...Maaf...,aku gak sengaja." Dengan cepat Chelsea berjongkok untuk mengambil dan merapikan isi map yang berserakan, begitupun dengan Nendra ikut berjongkok membantu Chelsea.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, lagian apa kamu baik-baik saja, kenapa kamu segugup itu ?" Ujar Nendra lalu membantu Chelsea untuk berdiri, setelah merapikan map tersebut.


"Oh, gak apa-apa Nend, aku gak apa-apa." Sahut Chelsea sudah tidak segugup tadi.


"Ini dokumennya, kalau begitu aku permisi." Ujar Chelsea memberiku map tersebut, Nendra menerimanya dengan senyuman yang tidak pernah luntur dari wajah tampannya.


"Ayo !" Nendra menarik tangan Chelsea keluar dari gedung tanpa meminta persetujuan wanita itu, ia mau ikut atau tidak.


"Nend, kita mau kemana ?" Tanya Chelsea melihat keselilingnya karena banyak pasang mata yang memperhatikan keduanya, karena seluruh karyawan keluar untuk makan siang.


"Ikut aja, kamu belum makan siang, kamu makan siang sama aku." Ucap Nendra terdengar tak ingin di bantah.


"Iya tapi gak usah tarik-tarik Nend, kita dilihatin banyak karyawan kamu." Ucap Chelsea.


"Gak usah peduliin mereka." Nendra bukannya melepaskan, ia malah beralih merangkul bahu wanita itu, membuat Chelsea semakin menunduk menyembunyikan rona merah diwajahnya.


...🍁🍁🍁🍁🍁...


"Ini hidangan utama di restoran sini." Ucap Nendra saat seorang pelayan meletakkan menu yang disebut Nendra.


"Ini apa ?" Tanya Chelsea.


"Tahukah kamu, aku suka makan di restoran ini, aku suka dengan menu utamanya, sederhana tapi ini sangat berkhasiat, apalagi dimakan saat musim pancaroba seperti ini." Lanjut Nendra menjelaskan.


"Apa seenak itu ?" Tanya Chelsea kelihatan ragu untuk mencicipinya.


"Itu mungkin tak seenak makanan yang biasanya di menu-menu restoran bintang lima, tapi rasa makanan ini cukup istimewa bagi aku, kamu harus mencicipinya." Terang Nendra lalu memotong menjadi potongan kecil ayam tersebut, lalu sedikit menambahkan saus herbalnya.


"Nih, cicipi !" Serunya menyodorkan ayam yang sudah ia potong itu di depan mulut Chelsea.


Dengan malu-malu Chelsea menerima suapan dari Nendra.


"Bagaimanapun ?" Tanya Nendra.


"Lumayan, benar kata kamu, rasanya unik, beda dari yang lain." Jawab Chelsea.


...🍁🍁🍁🍁🍁...


Khay menandatangani beberapa dokumen, hari ini Khay selesai menghadapi rapat di perusahaan D&KA. Corp, yang sekarang di pimpin Kavi, sedangkan Khay lebih memilih menjadi wakil CEO saja.


Kini tinggal Khay dan Kavi berada diruang rapat.


"Kenapa akhir-akhir ini Abang terlihat begitu bahagia ?" Tanya Khay tanpa beralih dari berkas yang ia tanda tangani.


Sedangkan Kavi sibuk senyum-senyum sendiri memperhatikan hasil USG Kia pagi tadi.


"Itu karena kehamilan Kia yang kedua, aku sangat bahagia Khay, aku gak nyangka bakal di berikan secepat ini, padahalkan baru dua bulan Kia melepaskan implannya pencegah kehamilannya." Jelas Kavi.


"Berhenti membahas itu ! Aku sangat iri Bang." Sahut Khay memutar bola matanya malas.


"Apa kamu memikirkan soal adopsi itu ?" Tanya Kavi.


"Mmmm, aku tidak tahu kapan Enzy akan setuju."


"Seperti yang dikatakan Enzy, beri dia waktu, mungkin suatu saat dia akan setuju, benar juga yang Enzy katakan, bagaimana kalian akan mengadopsi seorang anak, jika kalian masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing."


"Bang, aku tidak pernah bermain-main akan hal mengadopsi seorang anak, walaupun kami sibuk nantinya, aku jamin kami masih bisa mengusrusnya dengan baik."


"Abang mengerti Khay, tapi coba kamu pikirkan lagi, apa kamu bisa mengurusnya dengan baik, sedangkan kalian saja selalu sibuk, bahkan sering pulang malam, bukan ? Pikirkan kedepannya Khay, pikirkan bagaimana jika anak itu merasa kesepian dan kurang kasih sayang kalian nantinya, bukannya hidup lebih baik jika kalian adopsi, tapi malah lebih buruk." Ucap Kavi panjang lebar.

__ADS_1


"Enzy mungkin khawatir tentang itu." Tambah Kavi.


"Tapi bang, aku bisa mempekerjakan baby sitter, lagian tidak setiap hari kami sibuk dan pulang malam."


"Cobalah mengerti Khay, Abang hanya bisa mengatakan ini, tapi Abang rasa selama Enzy masih bekerja kalian memang tidak bisa mengadopsi seorang anak, anak itu bukan hanya butuh materi Khay, seorang anakpun juga sangat membutuhkan kasih sayang dari orangtua, itu yang paling utama."


"Coba kamu pikirkan lebih baik lagi !" Lanjut Kavi menepuk bahu adik iparnya itu.


"Baik, aku bisa menunggu sampai ia siap." Ucap Khay pasrah.


"Bersabarlah !" Ujar Kavi di angguki Khay.


"Permisi Tuan Kavi, dan tuan Khay, saya membawakan anda kopi juga makanan ringan."


Di sela obrolan mereka Mila masuk sambil membawa sebuah nampan dengan sepiring kudapan dan dua cangkir kopi.


"Terimakasih." Ucap Khay datar.


"Saya tidak mengizinkan mu masuk, pergi !" Usir Kavi dengan tatapan tak sukanya dengan sekertarisnya itu.


"Dan jika saya tidak meminta mu masuk jangan sekali-kali kamu masuk, paham !" Tegas Kavi menambahkan.


"Maafkan saya tuan Kavi, tapi saya melihat ini sudah tiba waktunya jam makan siang, mungkin saja tuan Khay sudah merasa lapar, jadi saya berinisiatif untuk membawakan ini." Ujar Mila kekeh, tak lupa lirikan menggodanya yang ia tujukan pada Khay yang hanya diam sambil memperhatikan dokumen yang ia pegang.


"Kalau begitu saya permisi." Pamit Mila saat kedua pria tersebut hanya diam tak mempedulikannya.


"Tetapi jika anda membutuhkan sesuatu Tuan Khay, Anda bisa segera menghubungi saya." Mila kembali menoleh.


"Ok !" Sahut Khay datar.


"Mila keluar !" Seru Kavi menekankan.


Kavi memijit keningnya yang terasa pusing sekaligus kesal melihat sikap centil sekertarisnya itu.


"Mmmm, apa yang membuat tuan Kavindra menjadi sekesal itu ?" Goda Khay kepada saudara iparnya itu setelah melihat Mila benar-benar pergi dari ruangan tersebut.


"Ckkk, sudah jelas, dia berusaha merayumu." Sahut Kavi." Kemudian mengambil satu keping biskuit yang dibawa Mila tadi.


"Oh, tapi aku sudah memiliki wanita cantik dirumah, istriku." Ujar Khay santai ikut memakan biskuit yang sama.


"Dan jangan lupa aku sangat mencintainya, jadi anda tidak perlu khawatir bro, sampai aku tergoda dengan wanita seperti dia, dia bukan tipeku sama sekali." Tambah Khay.


"Aku tahu, tapi aku merasa tidak nyaman dengannya, sebelumnya dia terus menggangguku, sampai suatu hari ia di labrak oleh Kia." Jelas Kavi membuat Khay terkekeh karena mendengar Kia melabrak wanita itu, Khay tidak bisa membayangkan saat Mila dilabrak oleh Kia yang notabennya sangat mengerihkan jika ada hal yang mengganggunya, ataupun hak miliknya.


"Kenapa kamu tertawa ?" Tanya Kavi.


"Aku gak bisa bayangkan bang, bagaimana wajah sekertarismu saat di labrak macan Abang itu, tahu sendirilah bagaimana Kia.


"Mila sempat tidak masuk beberapa hari karena merasa malu telah di permalukan di depan seluruh karyawan, entah dia punya malu atau tidak, dia masih bertahan bekerja disini." Terang Kavi


"Lagian aku khawatir dia akan kembali berulah dan sasarannya itu kamu." Lanjutnya.


"Jika seperti itu, kenapa Abang masih mempertahankannya bekerja disini ?"


"Prestasi kerjanya sangat bagus, sayang juga harus memberhentikannya, apalagi belum mendapat yang pantas menggantikan posisinya."


Khay mengangguk paham dengan semua yang dijelaskan saudara iparnya itu.


"Bagaimana, apa sudah kamu tandatangani semua ?" Tanya Kavi.


"Sudah, kalau begitu aku akan pergi dulu." Jawab Khay kemudian berpamitan lalu beranjak dari duduknya.


"Kenapa terburu-buru ?"


"Emm, aku harus mampir ke suatu tempat, aku ingin membeli sesuatu untuk Enzy." Jelas Khay merapikan jasnya yang tak kusut sama sekali.


"Woowww, ternyata kamu sangat memanjakan istrimu itu brother ?" Goda Kavi ikut beranjak dari kursinya.


"Tentu, dia wanita istimewa bagiku setelah Bunda." Sahut Khay.


"Ya sudah aku pergi, panggil aku jika Abang butuh bantuan." Lanjut Khay lalu berjalan meninggalkan ruangan rapat tersebut sambil memasang kancing jasnya.


...To be Continue...


...Semoga suka jalan ceritanya dan gak ngebosenin, terimakasih karena readers masih setia menunggu kelanjutan ceritanya, walaupun author akhir-akhir ini jarang sekali update....


...Jangan lupa selalu memberikan author dukungan dan semangat dengan cara memberikan.........


...LIKE...


...COMENT...


...VOTE...

__ADS_1


...TERIMAKASIH...


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...


__ADS_2