
Di hari libur Khay harus pagi-pagi sekali untuk mengantarkan sang nyonya untuk pergi menghadiri acara konferensi pers klaiyennya.
Selama dalam perjalanan menuju tempat di mana akan di adakan konferensi pers, Khay terlihat tidak bersemangat dan sedikit kesal, karena dihari weekend seperti ini Khay ingin sekali bersantai dirumah, kemudian berolahraga untuk membakar lemak-lemak yang ada pada tubuhnya.
"Terimakasih sudah mengantarku." Ucap Enzy setelah mobil yang dikendarai Khay tiba di pelataran sebuah hotel berbintang.
"Emmm...." Khay hanya berdehem menoleh sekilas kepada Enzy yang masih duduk disamping kemudi, lalu kembali melihat kearah luar dari jendela mobil di samping kanannya.
"Masih merajuk ?" Tanya Enzy.
"Emmmm....Karena kamu tidak ingin melakukan apa yang aku minta pagi tadi." Sahut Khay merajuk layaknya anak-anak yang tidak berikan mainan yang di inginkan.
"Hemmm....Enzy menghela nafas lelahnya karena sejak pagi ia sudah membujuk pria dewasa yang kekanak-kanakan di dekatnya itu, pria itu merajuk hanya saja ia dibangunkan pagi-pagi sekali bukan hanya itu yang membuatnya merajuk juga kesal tapi Khay meminta jatah selesai sholat subuh tadi namun Enzy dengan keras menolaknya.
"Sungguh, kamu merajuk layaknya wanita yang sedang PMS." Ucap Enzy merasa lucu melihat tingkah suami kesayangannya itu.
"Sudah jangan merajuk lagi, nanti aku kasih apa yang kamu mau." Lanjut Enzy seolah berjanji kepada anak kecil berusia lima tahun.
Sedangkan Khay masih diam, bahkan Khay memperagakan gaya bicara Enzy tanpa mengeluarkan suaranya atau menyeh-menyeh masih melihat arah luar.
Enzy geleng-geleng kepala melihat suaminya sedang mengejeknya, tapi bukannya marah Enzy malah tersenyum melihatnya.
Enzy melepaskan seatbeltnya lalu memajukan wajahnya agar lebih dekat pada Khay, lalu mencium pinggir bibir suaminya itu cukup lama, lalu kembali pada posisinya.
Khay yang membuat serangan mendadak itu berusaha menahan senyumnya, lalu menoleh menatap Enzy yang masih duduk disebelahnya menatapnya sambil tersenyum manis.
"Sudah jangan merajuk lagi, aku berjanji sebentar malam akan ku berikan, dasar mesum !" Ucap Enzy kemudian keluar dari mobil meninggalkan Khay yang sangat senang mendengar janji istri tercintanya.
"Sayang, hubungi aku jika sudah selesai, aku akan pulang dulu." Khay menurunkan kaca mobilnya lalu berteriak.
"Emmm...." Enzy berdehem sembari mengagukkan kepala.
Khay tersenyum melihat istrinya itu masuk, sampai bayangan Enzy tak terlihat kemudian Khay kembali menaikkan kaca mobilnya, kemudian menjalankan mobilnya untuk pulang terlebih dahulu, ia berencana untuk beristirahat dan melakukan sedikit olahraga di apartemen, kebetulan di apartemen mereka sudah ada ruangan khusus untuk Khay berolahraga lengkap dengan alat-alat pitnes.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Seorang pria tampan baru memasuki lobi apartemen dan berdiri di depan lift menunggu lift terbuka untuk membawanya dimana unit yang akan ia tuju, pria sepertinya baru pindah terlihat pria itu membawa tas ransel di punggungnya, dan sebuah koper yang ia deret menggunakan tangan kanannya.
"Baru saja pindah ?" Tanya seorang wanita cantik yang juga sedang menunggu lift.
Pria yang berumur sekitar 25 tahunan itu hanya diam tak membalas pertanyaan wanita yang tampak berusaha dekat dengannya itu.
"Kebetulan aku juga tinggal di sini, unitku ada di lantai 10, kamu di lantai berapa ?" Ucap wanita itu lalu kembali bertanya, namun lagi-lagi tak mendapatkan respon apapun.
Wanita itu tampaknya belum menyerah, wanita itu menggeser tubuhnya agar lebih mendekat.
"Karena kita tinggal ditempat yang sama, ada baiknya jika kita mengenal satu sama lain."
"Agar kedepannya kita saling membantu, bukankah seperti itu jika bertetangga ?" Lanjut wanita itu meminta persetujuan.
"Apa kamu butuh bantuanku, sepertinya kamu kerepotan ?" Wanita itu menawarkan dirinya,
ingin mengambil alih koper yang di pegang pria tersebut. Bukannya memberikan, pria itu malah menjauhkan kopernya dari wanita itu, membuat wanita itu sedikit mendengus kesal karena sejak tadi ia dicuekin.
Saat pintu lift terbuka pria itu langsung masuk mendahului wanita itu, baru saja pintu lift akan tertutup tiba-tiba seorang wanita muda memanggil pria tersebut dengan sedikit berteriak.
__ADS_1
"Kak Zyan, kak, tungguin !"
Pria yang bernama Zyan menahan pintu lift agar tak tertutup.
"Zea, kenapa kamu lari-lari seperti itu, kalau kamu jatuh bagaimana ?" Tegur Zyan dengan sangat lembut membuat wanita tadi yang berada di belakang mereka mendengus, karena sejak tadi ia berusaha mendekati Zyan namun ia terus dicuekin, giliran wanita yang bernama Zea itu, Zyan sangat lembut dan sangat perhatian.
"Tadi aku melihat kak Zyan, awalnya aku pikir itu bukan kakak, tapi itu benar kakak, kakak kenapa pulang nggak bilang-bilang ?" Oceh Zea lalu cemberut pertanda ia kesal.
"Kalau aku bilang itu bukan kejutan sayang." Sahut Zyan mengelus lembut pucuk kepala wanita yang berdiri disampingnya.
"Emmm, pokoknya aku marah sama kakak." Rajuk Zea.
"Sudahlah sayang, jangan merajuk gitu dong, kamu jelek tahu gak, masa orang tersayangnya pulang malah merajuk gitu sih, sudah ya !" Ujar Zyan.
"Iya.... Iya...
"Anak pintar."
"Kalau aku tidak menurut kamu kakak pasti akan bilang aku anak nakal, dan tidak menurut pada su....
"Ehh.... ngomong-ngomong itu di belakang siapa ?" Zea tidak jadi melanjutkan perkataannya, karena sadar disitu bukan hanya ada mereka berdua.
"Gak tahu." Jawab Zyan acuh.
"Sepertinya sejak tadi dia memperhatikan kakak, mungkin dia tertarik." Tebak Zea menduga-duga.
"Tapi aku tidak." Sahut Zyan.
"Kak Zyan.
"Kamu jangan berkata seperti itu, nanti wanita itu berpikir kalau kamu itu sombong." Seru Zea.
"Biarkan saja ! Aku tidak peduli sama sekali, dan tidak ingin memikirkannya, yang perlu aku pedulikan dan pikirkan hanya kamu, ok !" Ucap Zyan.
Pinta lift terbuka tepat dilantai 9, Zyan dan Zea keluar dengan senyuman mengembang di antara keduanya.
"Kamu benar-benar tega kak." Ucap Zea.
Zyan hanya tersenyum sembari mengangkat kedua bahunya acuh.
"Kakak, harusnya kamu tidak perlu bersikap dingin seperti itu pada orang lain, terutama pada wanita, dunia ini tidak hanya ada kita berdua." Ucap Zea.
"Tapi duniaku hanya ada kamu dan aku." Sahut Zyan tersenyum menggoda.
Saat tiba di depan unit mereka , tiba-tiba Khay keluar dari unitnya dengan pakaian olahraga yang masih menempel dibadanya dan langsung menyapa Zea.
"Hay Zea cantik kesayangan bang Khay." Sapa Khay sengaja menggoda Zyan yang pasti akan kesal dengan sikapnya itu pada wanitanya.
"Hay, bang Khay..." Zea balas menyapa pria yang sudah ia anggap seperti Abangnya sendiri, karena Khay lah dan Enzy yang menjaganya saat ia berada di kota Xx, karena kedua orangtuanya berada di luar negeri, dan Zyan baru saja tiba habis melakukan perjalanan bisnis selama sebulan.
"Oh, Zyan kamu baru kembali, hampir saja aku menjodohkan Zea dengan orang lain." Goda Khay.
"Bang Khay jangan macam-macam, aku baru pergi satu bulan, dan jika itu terjadi akan kupastikan kak Enzy akan pergi ninggalin Abang." Sahut Zyan menatap jengah pada pria yang selalu saja menggodanya, pria yang tak lain adalah putra dari sahabat orangtuanya yang sudah seperti saudaranya sendiri.
"Suamimu sangat posesif." Bisik Khay tepat ditelinga Zea namun masih bisa di dengar jelas oleh Zyan.
__ADS_1
"Ah... Baiklah untuk menyambut kedatangan seorang tuan Zyan yang terhormat mari aku bantu membawa barang anda tuan." Ucap Khay.
"Tidak perlu aku bisa sendiri." Sahut Zyan kesal.
"Ya sudah, lagian aku hanya bercanda tadi, Zea ayo sayang, kita masuk." Ujar Khay kemudian merangkul bahu Zea mengajak wanita muda itu masuk ke unit pasangan muda tersebut yang berada tepat di depan unit Khay dan Enzy.
"Bang Khay !" Tegur Zyan.
"Ada apa ?" Sahut Khay santai.
"Bang, tangannya dikondisikan." Peringat Zyan menegaskan.
"CK....rangkul doang, posesif amat." Decak Khay melepaskan rangkulannya dari bahu Zea.
"Kayak dia gak aja." Sahut Zyan malas lalu masuk ke unitnya sambil menarik tangan Zea istrinya.
Saat Khay akan ikut masuk, tiba-tiba Zyan berdiri di depan pintu menghalangi Khay untuk masuk.
"Bang Khay gak usah ikut, ganggu orang aja !" Ucap Zyan lalu menutup pintu dengan kurang ajarnya.
"Kurang asem kamu Zyan, mentang-mentang baru pulang, ingat istri kamu masih muda, jangan terlalu memaksanya." Teriak Khay di depan pintu unit Zyan dan Zea.
Baru saja Khay akan melangkah akan pergi ke minimarket yang masih berada di kawasan apartemen, tiba-tiba ponselnya berdering tanda panggilan masuk.
📞 "Iya sayang, ada apa ?" Tanya Khay setelah menjawab panggilan yang ternyata dari sang istrinya tercinta.
📞 "Aku sudah selesai, kamu jemput aku sekarang." Ujar Enzy diseberang sana.
📞 "Ok Sayang, tunggu ! 20 menit lagi aku sampai disana."
📞 "Gak usah ngebut-ngebut yank !"
📞 "Gak, toh tempat kamu sekarang juga dekat dari apartemen kan ?"
📞 "Iya, pokoknya hati-hati, aku tunggu di depan lobi !"
📞 "Iya sayang, ummuaaa...."
Khay kembali masuk ke apartemennya, mengambil kunci mobil, tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu, toh ia hanya mau menjemput nyonya besarnya.
To be continue
...Jangan bosen ya readers, mohon berikan komentar kalian, siapa tau aja readers punya saran.......
...Dukung author dengan memberikan...
...LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...
__ADS_1