
"Gak sia-sia gue ngeluarin uang banyak hehehehe." Batin Khay.
Flashback On
Saat sedang sibuk memperhatikan foto Khay yang ia dapat, tiba-tiba Fina di kejutkan oleh seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
"K...Khay, hehehehe." Kaget Fina cengengesan, lalu ia buru-buru menyembunyikan ponselnya di belakang tubuhnya.
"Oh, Khay ada apa ? Waw sepertinya sudah lama sekali tidak bertemu, bagaimana kabarmu juga Enzy ?" Cerocos Fina berpura-pura tidak tau apa-apa, sambil memperlihatkan senyuman terbaiknya.
Khay tersenyum.
"Kami baik-baik saja." Jawabannya sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah wanita dihadapannya itu.
"Syukurlah kalau begitu, kebetulan aku kesini hanya untuk cuci mata." Ujar Fina.
"Emmmm." Khay berdehem mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Fina capek sendiri untuk berpura-pura, ia tidak terima jika sahabatnya di khianati.
"Be***ek kamu Khay, kamu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa." Kesal Fina menimpuk bahu Khay menggunakan tas mahalnya.
"Emangnya ada apa ?" Tanya Khay tanpa ada rasa sedikit bersalah.
"Dasar buaya ! Siapa wanita itu, hah ? Fina menunjuk ke arah dimana ia melihat Khay tadi bersama dengan seorang wanita.
"Jika, Enzy mengetahui jika kamu menghianatinya, kamu akan mati di tangannya, kamu sadar akan hal itu, bukan ?" Fina beruc sambil mengeratkan giginya saking geram dan kesalnya.
"Tahu apa ?" Lagi-lagi Khay bertanya dengan santainya, membuat Fina semakin geram, Fina sudah mencak-mencak di hadapan wajah Khay, ingin sekali mencabik-cabik wajah pria di hadapannya itu.
"Kamu jangan pura-pura tidak tahu apa yang aku maksud tuan Khayran yang terhormat, perlu Anda tahu apa yang Anda lakukan tadi, bukanlah perihal yang baik, dan...." Fina menekankan setiap kata-katanya.
"Dan ?" Khay menaikkan kedua alisnya penasaran apa yang akan selanjutnya yang dikatakan Fina.
"Dan jika Enzy tahu...." Fina mengarahkan telunjuknya menujuk Khay mulai dari atas hingga bagian intimnya.
"Kekkkkkk....! Dia akan memotong kecil-kecil senjatamu, dan membuangnya ke toilet, atau memberi makan bebek." Lanjutnya.
Khay langsung menutup bagian intimnya, bergidik ngeri, namun sedetik kemudian ia kembali bersikap santai.
"Ayolah Fin, anggap saja aku tidak melakukan apa-apa, dan anggap juga kamu telah menyelamatkan kebutuhan hari-harinya." Ujar Khay mencoba untuk negosiasi.
"Ohhh... Kebutuhan hari-harinya ya ? Dasar sialan ! Apa kamu terlahir dari seorang baj***Ngan sombong ?" Kesal Fina, ia tidak terima jika sahabatnya dikhianati.
"Ckk, santai kenapa sih Fin, apa kamu tidak takut keriput ?" Dengan santainya Khay berkata seperti itu.
"Ya sudah ceritakan, siapa dan apa yang kamu lakukan dengan wanita itu ? Apa ada yang terjadi dengan kalian ?" Ujar Fina ngegas.
"Jangan ngegas juga kali Fin, apa kamu tidak malu dilihat orang-orang ! Lagian tidak ada yang terjadi juga." Ujar Khay.
"Tapi untungnya kamu datang kesini, jadi..." Khay menjeda ucapannya membuat Fina penasaran.
"Jadi aku butuh bantuanmu." Lanjut Khay.
"Oh maaf, aku tidak punya uang." Ketus Fina.
"Ckk... Ini bukan tentang uang." Ucap Khay.
"Lalu ? Apa kamu mau memintaku menyembunyikan pengkhianatan kamu, iya ? Oh maaf aku tidak bisa." Ujar Fina ingin pergi meninggalkan Khay, namun dengan cepat, Khay mencekal tangan Fina agar tidak pergi.
"Jangan gila kamu Khay !" Seru Fina menepis tangan Khay kasar dari lengannya.
"Please bantu aku ya Fin, aku mohon." Mohon Khay memelas.
"Bantuan apa ?" Tanya Fina.
"Bantu aku membuat istriku cemburu." Jawab Khay sedikit berbisik.
__ADS_1
"Aku rasa kamu benar-benar sudah gila Khay." Ujar Fina.
"Aku tidak gila." Sahut Khay.
"Lalu apa ? Kenapa kamu ingin membuat dirimu dalam masalah, sudah tahu punya istri macan." Ucap Fina, sepertinya wanita itu sudah mengerti.
"Tolonglah." Memelas Khay.
"Tidak ! Aku tidak akan melakukannya." Tegas Fina.
"Aku akan membelikan mu tas yang kami incar." Tawar Khay.
"Kamu yakin, dan darimana kamu tahu tas yang aku incar sekarang ?"
"Kamu lupa, suami kamu kerja dimana ?"
"Katakan rencana pertama ! Aku akan membantumu, aku ada di pihak kamu kali ini, aku tidak akan mengecewakan mu." Girang Fina, siapa yang tidak kegirangan jika akan mendapatkan tas seharga seharga satu buah mobil Honda Civic.
"Dasar betina." Ucap Khay.
Flashback Off
"Apa yang kamu lihat ?" Enzy memergoki Khay sedang melihatnya.
"Emmm, aku melihat ada sesuatu di wajahmu." Jawab Khay menunjuk bagian rahang Enzy.
Enzy memegang bagian yang ditunjuk Khay, namun ia tak menemukan apa-apa.
"Disini." Ujar Khay berpura-pura mengambil sesuatu dari yang ia tunjuk tadi.
"Sudah hilang." Ucapnya kemudian setelah berpura-pura membuangnya.
"Kamu mengerjai ku ya ?" Tuduh Enzy menatap suaminya penuh selidik.
"Gak sayang, mana berani aku mengerjaimu." Jawab Khay kemudian memajukan bibirnya seolah ia mencium wanitanya itu.
"Genit sama istri sendiri gak apa-apa." Sahut Khay.
"Ginit simi istri sindiri gik pipi." Enzy misuh-misuh menirukan bicara Khay.
"Gemes banget, jadi pengen makan kamu sayang." Khay semakin menggoda Enzy sambil menarik pipi wanita yang sudah mendampinginya selama sepuluh tahun itu.
Enzy hanya mencebikkan bibirnya, lalu melanjutkan fokusnya pada ponselnya.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Di gedung kantor, dimana Enzy bekerja, Barlie tampak menunggu di depan ruangan Enzy, karena kata seseorang ada klaiyen yang berkonsultasi dengan pengacara hebat itu.
"Terimakasih nona, saya akan mengikuti semua saran dari nona, kalau begitu saya permisi." Ucap seorang selebriti wanita yang tampak berumur kira-kira 40an keluar dari ruangan Enzy di ikuti Enzy dari belakang.
"Baik, hati-hati Bu !" Peringat Enzy yang dijawab anggukan dan senyuman manis oleh wanita itu.
"Hay nona Enzy." Sapa Barlie, yang membuat Enzy sedikit kaget karena tidak menyadari keberadaan Barlie disana.
"Oh, tuan Barlie." Ucap Enzy, sedikit memundurkan dirinya karena Barlie berdiri cukup dekat dengannya, membuat Enzy sedikit risih.
"Saya sudah menunggu nona sejak tadi." Ucap Barlie.
"Ada apa tuan menungguku, apa ada masalah, bukannya masalah Anda sudah ditangani dengan baik, dan akan segera selesai." Ujar Enzy.
"Tidak ! Saya kesini bukan untuk membahas soal itu, saya kesini sengaja membawa ini untuk Anda nona." Jelas Barlie memberikan paperbag kepada Enzy.
"Apa itu tuan ?" Tanya Enzy belum menerima paperbag tersebut.
"Ini ada sedikit makan siang, saya harap anda suka." Jawab Barlie.
"Maaf tuan, tapi saya tidak bisa menerimanya." Sahut Enzy.
__ADS_1
"Nona, terimalah, anggap saja ini bentuk bagian kecil kata terimakasih ku." Ucap Barlie.
"Anda tidak perlu repot-repot seprti itu tuan, karena itu sudah menjadi tugas dan kewajiban saya." Ujar Enzy kemudian berjalan lebih dulu, karena ia harus menyerahkan berkas pada Siska rekannya.
"Nona tolong terimalah, atau aku akan membuangnya saja, jika begitu." Kekeh Barlie mengejar Enzy yang sudah berjalan lebih dulu, dan langsung berdiri dihadapan Enzy, otomatis langkah Enzy berhenti seketika.
"Nih silahkan diterima, jika nona Enzy tidak ingin memakannya, nona bisa memberikan ini pada rekan nona." Lanjut Barlie memberikan paperbag itu langsung ke tangan Enzy.
"Baiklah, terimakasih." Mau tak mau Enzy terpaksa menerimanya.
Bukannya Enzy mau menolak pemberian seseorang apalagi itu makanan, tapi ia hanya tidak ingin menerima pemberian dari orang yang sembarangan, apalagi ia tidak begitu dekat dengan orang tersebut.
"Saya harap ini pertama dan terakhir tuan melakukan hal seperti ini." Tambah Enzy.
"Maaf Bu'Enzy anda di panggil untuk keruangan Bu'Sinta." Ucap salah seorang staf.
"Ada apa ya mbak ?" Tanya Enzy.
"Kurang paham juga Bu'." Jawabnya lalu pamit pergi.
"Baiklah saya akan segera kesana." Sahut Enzy tersenyum ramah.
"Tuan Barlie, kalau begitu saya duluan." Pamit Enzy di angguki Barlie.
"Jangan lupa persidangan putusan perkaranya Minggu depan !" Peringat Enzy sebelum melangkah pergi.
"Baik." Jawab Barlie.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Enzy masuk keruangan Sinta, dimana wanita yang selalu sinis dan sentimen kepadanya duduk dengan angkuhnya di kursi kerjanya.
"Ada apa bu'Sinta memanggil saya ?" Tanya Enzy menjaga etika.
"Duduk dulu Bu'Enzy yang terhormat !" Seru Sinta mempersilahkan dengan raut wajah meremehkan.
"Begini Bu'Enzy, saya tidak bisa menerima permintaan pengalihan perkara yang anda tangani ke saya." Ucap Sinta.
"Apa Anda tahu Bu Enzy, saya sudah cukup banyak bekerja akhir-akhir ini, maka dari itu saya juga butuh cuti." Lanjutnya.
"Maksudnya, perkara yang mana Bu Sinta maksud, karena saya mengajukan dua perkara ?" Tanya Enzy.
"Perkara soal penyuapan itu." Jawab Sinta.
"Tapi bukannya anda sudah menerima kasus tersebut, bahkan sudah jalan setengah, anda harusnya tidak boleh memutuskan di tengah jalan seperti ini." Ucap Enzy.
"Tapi, maaf Bu Enzy, saya melakukan ini bukan tanpa alasan, saya merasa tidak mampu melanjutkan kasusnya, dan saya percaya Bu'Enzy yang sudah memiliki latar belakang prestasi yang bagus, bisa menanganinya dengan sangat baik." Jelas Sinta.
"Tapi Bu Sinta, bukannya saya sudah memberikan cara kerjanya kepada Anda, harusnya anda bersikap profesional !" Enzy sudah mulai kesal namun sebisa mungkin ia tahan agar tak mengatakan hal-hal yang buruk kepada wanita menyebalkan dihadapannya itu.
"Selain itu saya sudah mengajukan ini sudah cukup lama." Lanjutnya.
"Intinya saya sudah tidak bisa lagi melanjutkan kasus ini, saya juga sudah melaporkan ini kepada atasan langsung, dan beliau sudah menyetujui, karena saya juga berhak mengambil cuti saya." Jawab Sinta.
"Bukan cuma anda yang butuh cuti Bu Sinta, saya juga memiliki keluarga, jika memang anda todak sanggup, kenapa sebelumnya anda menerima ini ?" Kesal Enzy nada bicaranya sudah naik satu oktaf.
"Bu Enzy terhormat, saya harap anda bisa menjaga bicara Anda kepada saya, karena bagaimanapun saya lebih dulu disini dibandingkan anda, secara otomatis saya lebih senior dan berpengalaman daripada Anda." Dengan angkuh Sinta berucap.
"Saya tahu nona Sinta yang terhormat, memang anda lebih senior dari saya, dan berpengalaman dari saya, tapi anda jangan lupa prestasi yang saya dapat lebih unggul daripada Anda, Permisi !" Setelah mengatakan itu Enzy keluar dari ruangan yang membuatnya pengap karena menghadapi wanita tak tahu diri dan tak sombong itu.
To Be Continue
LIKE
KOMENTAR
VOTE
__ADS_1
TERIMAKASIH 🙏🙏🙏🙏🙏