Dambaan

Dambaan
Dambaan Part 9


__ADS_3

"Huft... Gak kerasa waktu sudah menunjukkan hampir 12 malam, kita bahkan selalu lupa waktu jika kita kerumah ayah bunda ataupun bang Kavi dan Kia, apalagi saat kamu sudah bersama Axel." Ucap Khay saat mereka memasuki apartemen, dan Khay meletakkan Tote bag berisikan kotak-kotak makanan yang sengaja Diva bungkus untuk mereka. Sedangkan Enzy hanya diam sejak ia dalam perjalanan pulang, Khay menatap Enzy dengan menaikkan sebelah alisnya.


Enzy melihat Khay sejenak kemudian ingin segera naik ke kamarnya.


"Ada apa ?" Tanya Khay membuat Enzy menghentikan langkahnya, kembali menatap Khay dengan tatapan tak seperti biasanya, dan Khay sangat tahu itu.


"Aku tidak apa-apa." Jawab Enzy memaksakan senyumannya kemudian kembali melihat kearah lain.


"Sayang, aku sudah bersamamu selama 10 tahun, jadi bagaimana aku tidak tahu kalau sebenarnya kamu tidak sedang baik-baik saja, jelas sekali terlihat dari raut wajahmu kalau kamu sedang memikirkan sesuatu." Ucap Khay.


Enzy terdiam sejenak lalu menoleh menatap manik mata suaminya itu yang berada dihadapannya yang sedikit berjarak karena terhalang meja makan.


"Khay, kapan kita bisa memiliki anak, kapan aku bisa hamil lagi ?" Ucap Enzy sendu matanya sudah berkaca-kaca.


Khay memutar bola matanya malas, kemudian hembuskan nafasnya kasar.


"Jangan bahas ini lagi !" Seru Khay menaikkan nada bicaranya satu oktaf.


"Khay, kita sudah bersama lebih lama dari bang Kavi dan Kia, tapi lihatlah mereka, mereka bahkan sudah mau memiliki dua anak." Sahut Enzy.


"Lalu apa yang harus kita lakukan ? Jangan coba-coba tidak masuk akal !" Ujar Khau mulai kesal.


"Tidak masuk akal bagaimana maksudmu Khay, aku hanya ingin memiliki keluarga kecil yang bahagia, karena di tengah-tengah kita ada malaikat kecil kita." Sahut Enzy juga ikut meninggikan suaranya.


"Walaupun tanpa anak ditengah-tengah kita, kita sudah hidup bahagia Nzy, aku bahagia selama kamu di sampingku."


"Tapi Khay, Aku....


"Enzy !" Khay menyela perkataan Enzy yang akan kembali berucap, tentu dengan nada bicara yang sedikit membentak, membuat Enzy bungkam seketika.


"Sudah cukup ! Setiap kali kita membahas ini kita selalu berakhir bertengkar, aku tidak ingin bertengkar denganmu, jadi stop membahasnya ! Sudah seringkali aku tekankan kalau kita bisa hidup bahagia seperti ini." Ucap Khay.


Enzy diam seribu bahasa mendengar semua perkataan suaminya, Khay tidak pernah mengerti bagaimana perasaannya, Enzy menganggukkan kepalanya samar mentap Khay dengan tatapan sendunya, kemudian berjalan pergi dari sana tanpa sepatah katapun, hanya ada air mata yang jatuh tanpa aba-aba.


"Enzy, Nzy...." Khay terus berteriak manggilnya, namun Enzy terus berjalan menaiki gundukan tangga satu persatu, tanpa menggubris panggilan dari Khay, sampai terdengar kalau pintu kamar tertutup.


"Akkhhhhh, sial..." Umpat Khay mengeram prustasi sambil menjambak rambutnya.


...🍁🍁🍁🍁🍁...


Setelah membersihkan badannya, Khay berjalan mendekat ke tempat tidur, dimana Enzy sedang berbaring disana sambil membelakanginya.


Khay mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur, menatap punggung istrinya itu.


"Sayang, apa kamu sudah tidur ?" Khay mencoba berbicara lebih tenang dengan istrinya.


"Bukannya kita sudah sepakat untuk membicarakan dan menyelesaikan semuanya jika ada masalah sebelum hari esok tiba." Lanjut Khay lembut, dikalah Enzy masih saja terdiam tak menggubrisnya.


Enzy yang semula menutup matanya, langsung membukanya, namun masih tak berniat menanggapi perkataan dari Khay.


"Jika kamu terus diam seperti ini, mana bisa kita menyelesaikan dan bicara baik-baik, aku tidak mengerti apa yang kamu pikirkan." Lanjutnya lagi.


"Tapi jika kamu tidak bicara, aku tidak akan pernah mamahamimu." Tambah Khay membuat Enzy merasa semakin kesal dan jengah, karena Khay berbicara seolah-olah tak mengerti permasalahannya, atau memang tak peka dengan perasaannya, bukannya tadi Enzy sudah katakan apa yang dia inginkan, masalah apa yang membuat Enzy seprti ini.

__ADS_1


Karena masih belum mendapatkan tanggapan apa-apa dari Enzy, Khay menarik selimut yang sama dengan Enzy, Khay masuk kedalam selimut tersebut lalu membaringkan tubuhnya sambil memeluk Enzy dari belakang, kemudian menciumi tengkuk istrinya tersebut.


"Sayang, madep sini dong, bicaralah !" Ucap Khay lembut semakin mengeratkan pelukannya pada perut istrinya itu.


"Sayang, suamimu ini bukan cenayang yang bisa mengetahui isi pikiranmu,." Kata Khay.


"Sayang, balik badan dan bicaralah dengan suamimu ini, suamimu mencoba baikan, loh ini, aku juga minta maaf karena meninggikan suaraku tadi." Lanjut Khay kemudian mencium tengkuk Enzy lagi.


"Kamu harus tidur, Khay, udah malam ! Besok kita harus bekerja." Sahut Enzy dingin setelah cukup lama terdiam membuat Khay langsung melepaskan pelukannya dengan perasaan kesal, kemudian menyadarkan tubuhnya di tumpukan bantal.


"Nzy ku mohon jangan keras kepala, bangunlah dan bicara denganku !" Seru Khay mulai terpancing emosi.


"Sudah ku katakan kepada Khay, ini sudah malam, kita ada pekerjaan besok." Sahut Enzy tetap pada posisinya membalakangi Khay.


"Dan tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan." Tambahnya.


"Gak ada apanya, katamu ?" Sahut Khay benar-benar sudah emosi.


"Kamu pikir aku tidak peka, kenapa kamu bisa sampai seperti ini ? Kamu sudah begini sejak kepulangan kita dari kediaman bang Kavi juga Kia, Bilang kepadaku apa yang kamu mau !!" Seru Khay membentak di akhir kalimatnya.


Enzy membelalakkan matanya mendengar bentakan Khay, hatinya dirasa sakit, namun sebisa mungkin iya tak mengeluarkan air matanya.


"Apa kamu benar-benar akan bisa memberikan apa yang aku mau ?" Tanya Enzy dengan nafas memburu menahan emosinya.


Enzy bangun dari posisinya sejak tadi, lalu menatap Khay dengan tatapan tajam, mata memerah menahan tangis dan amarahnya karena sejak tadi Khay membentaknya.


"Kamu tahu apa yang aku mau Khay ! Tapi apa itu bisa terwujud dengan aku yang tidak sem....


"Enzy aku bilang berhenti berkata seperti ini." Sela Khay lagi-lagi membentaknya.


"Apa kamu lupa kata Dokter, kamu itu baik-baik saja, kita berdua normal Nzy, hanya saja kamu perlu bersabar." Ucap Khay.


"Sampai kapan Khay, sudah delapan tahun aku bersabar, tapi mana hasilnya ? Bisa saja dokter itu salah, bahkan kita sudah mencoba jalan lain dengan bayi tabung, dua kali Khay, dua kali kita mencobanya tapi apa, GAGAL juga kan, itu tandanya aku tidak normal." Seru Enzy meledak-ledak kali ini air matanya tak lagi bisa ia bendung.


"Baiklah jika kamu tatap kekeh ingin memiliki anak, besok kita adopsi saja di panti." Putus Khay.


"Enggak !" Tolak Enzy.


Khay mengeram prustasi dengan permasalahan rumah tangganya yang selalu saja mengarah ke hal seperti ini.


"Lalu apa mau kamu ? Bentak Khay menarik kasar rambutnya.


"Aku ingin kamu memiliki anak dari darah daging mu sendiri." Jawab Enzy.


"Maka dari itu bersabarlah !" Sahut Khay.


"Bukan itu maksudku, maksudku aku ingin kamu mencari wanita yang bisa memberikanmu keturunan yang bisa kita rawat bersama." Jelas Enzy.


"Jangan gila kamu, itu sama saja kamu mempermainkan hati wanita lain." Ucap Khay benar-benar kesal mendengar ucapan istrinya.


"Tapi Khay, aku....


"Anak...Anak...Anak.... Terus yang ada dipikiran kamu, lebih baik kamu tidur, dan jangan harap aku bisa mencari wanita lain, jangan harap !" Tegas Khay lalu berbaring membelakangi Enzy.

__ADS_1


"Aku ingin kamu bahagia Khay, aku tahu kamu sangat menginginkan itu, apa kamu pikir aku tidak sakit saat memintamu mencari wanita lain, aku sakit Khay, sakit banget mala, tapi aku ingin melihatmu bahagia, aku mencintaimu, apa kamu tahu itu." Ucap Enzy serak karena sudah menangis.


Khay yang mendengar itu kembali bangkit, menarik bahu Enzy menjadi mereka berhadapan, Khay menatap lekat-lekat manik mata istrinya itu.


"Apa kamu tahu ? Jujur aku sangat menginginkan keturunan, karena setiap pasangan pasti menginginkan itu, tapi....." Khay menghentikan ucapannya lalu mengangkat dagu Enzy yang sedang menunduk menjadi menatapnya.


"Tapi aku bisa bersabar, berserah diri kepada Allah, aku percaya Allah akan membalasnya nanti entah itu kapan." Lanjutnya.


Enzy menangis sesenggukan tanpa bisa menjawab semua yang dikatakan suaminya, Khay menarik tubuh istrinya itu lalu ia dekap dengan erat, sesekali Khay memberikan kecupan demi kecupan di pucuk kepala wanitanya.


"Tapi aku kadang iri, wanita seumuran ku, bahkan lebih muda dariku sudah memilki anak, apalagi saat aku melihat akun media sosial mereka yang memposting kelucuan kelucuan anak mereka." Ucap Enzy dalam dekapan suaminya tanpa mebalasnya.


"Sudah yang sabar ya sayang, aku mengerti perasaan kamu, hanya saja aku tidak ingin kamu membahas masalah wanita lain, apalagi memintaku untuk mencari wanita lain demi mendapatkan keturunan, aku ingin memilki keturunan hanya dari rahim kamu, dari rahim wanita hebat dan cantik seperti istriku ini." Ucap Khay kemudian menggoda istrinya itu diakhi kata-katanya sambil mencubit gemas dagu Enzy.


"Aku mencintaimu Yank, sangat." Ucap Enzy kemudian melingkarkan lengannya di pinggang suaminya itu, menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria tersebut yang menjadi suaminya, suami yang sangat pengertian dan tentunya sangat mencintainya.


"Aku juga cinta kamu sayang, sekarang tidur ya !" Sahut Khay mebalas ungkapan cinta dari mulut istrinya.


Enzy kemudian menganggukkan kepalanya.


"Yank, peluk !" pinta Enzy manja.


"Iya sayang, tentu." Sahut Khay membawa Enzy dalam dekapannya menjadikan lengan kirinya sebagai bantalan Enzy.


"Yank, mau coba gak ?"


"Coba apa sayang ?" Tanya Khay menundukkan wajahnya menatap Enzy yang mendongak menatapnya.


"Coba buat Khay junior, siapa tahu aja jadi." Ucap Enzy kemudian kembali menenggelamkan wajahnya di dada sang suami karena malu.


"Emmm udah berani minta duluan, bilang aja pengen sayang, malah berkedok pengen coba." Goda Khay.


"Apaansih gak ya, ya sudah kalau tidak mau." Sahut Enzy hampir tak terdengar karena wajahnya masih ia sembunyikan di depan dada Khay.


Khay tersenyum melihat sikap istrinya yang masih saja malu-malu, padahal sudah lama mereka bersama, bahkan sudah sepuluh tahun.


Kemudian Khay memulai apa yang di ucapkan Enzy tadi.


...To be continue...


...Jadi ikut mewek, karena author benar-benar mendalami peran Enzy yang sangat menginginkan keturunan, karena author pernah merasakan apa yang dirasakan Enzy, tapi author gak sampai sepuluh tahun, author saja yang gak sampai sepuluh tahun sedih banget dan hampir menyerah, apalagi Enzy yang sudah sepuluh tahun........


...Mari para reader kita doakan Enzy sama-sama agar secepatnya di berikan momongan. amiiinnn 🤲🤲🤲...


...Jangan bosen ya readers, mohon berikan komentar kalian, siapa tau aja readers punya saran.......


...Dukung author dengan memberikan...


...LIKE...


...KOMEN...


...VOTE...

__ADS_1


...TERIMAKASIH...


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...


__ADS_2