
Enzy sibuk mengeluarkan pakaian yang sudah ia cuci dari mesin cuci sambil bersenandung membawakan lagu bahagia bersamamu yang di bawakan Adera
πΆHatiku hilang di dasar samudra cinta
Aku temukan kembali saat kau menyinari hidupku
Bagiku kaulah yang membuat dunia indah
Mewarnai hari-hariku
Sempurnalah jiwaku, bahagia bersamamu
Saat keluar dari ruanga khusus untuk mencuci dan tiba-tiba pintu apartemen terbuka menampakkan Khay yang baru saja pulang, dengan keadaan sedikit berantakan dan berjalan sedikit oleng.
"Hay, yank kamu baru pulang ? Ini sudah jam 10 malam." Ucap Enzy masih menenteng keranjang cuciannya yang akan ia bawa ke roftoop untuk ia jemur esok pagi.
Khay melonggarkan dasi yang serasa mencekek lehernya lalu berjalan mendekati Enzy dengan sedikit sempoyongan.
"Emmm, maaf tadi di perjamuan aku bertemu beberapa klaiyen sampai lupa waktu." Ucapnya langsung memeluk pinggang Enzy membuat keranjang yang di pegang Enzy terjatuh untung saja isinya tidak tumpah, Khay ingin menciumnya, belum sempat Khay mencium pipi Enzy, dengan cepat Enzy menutup mulut suaminya itu.
"Astaga Khay, kamu minum-minum bahkan sampai mabuk begini." Ucap Enzy mencium Ara alkohol dari mulut suaminya itu.
"Khay menyingkirlah kamu sangat bau, kamu minum atau mandi dengan alkohol sih." Ucap Enzy mendorong bahu Khay.
"Sayang, tadi aku juga bertemu Doni beserta istrinya, Ucap Khay malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Bilang padanya, kapan-kapan aku akan mampir ke restorannya jika pekerjaanku sedikit lenggang."
"Aku sudah mengatakannya seperti itu."
"Apa kamu tidak ingin bertanya, tentang apa yang Rania tanyakan padaku ?" Lanjut Khay bertanya.
"Dia mungkin bertanya, dimana aku berada, seperti biasa." Sahut Enzy menebak.
Rania yang tak lain istri Doni memang sangat dekat dengan Enzy, begitupun dengan istri Leo yang bernama Fina.
"Emmm...Dia bertanya padaku, kenapa istri tersayang ku tidak ikut bersamaku." Terang Khay menciumi leher jenjang milik Enzy.
"Aku sayang sama kamu, sayang." Lanjut Khay mencium ujung bibir Enzy.
Saat akan menciumnya kembali, Enzy dengan cepat mendorong tubuh Khay agar menjauh.
"Berhentilah ! Pergilah mabuk ketempat lain, kamu sangat bau." Ucap Enzy.
"Sayang...." Rengek Khay ingin memeluk Enzy kembali dan lagi-lagi Enzy mencegahnya.
"Aku bilang stop, apa kamu tidak melihat keranjang pakaian yang sudah aku cuci terjatuh." Seru Enzy sedikit kesal.
"Sayang, kamu mencuci, sudah aku katakan kamu tidak perlu melakukan apapun." Ucap Khay.
"Aku sudah mencucinya, lagian kenapa aku tidak perlu melakukan apapun, itu sudah menjadi kewajibanku." Ucap Enzy sudah mulai sangat kesal.
"Lain kali, kamu gak perlu melakukan itu sayang, kita bawa di laundry saja, lagian aku bisa mempekerjakan ART untuk mengurus apartemen." Ucap Khay.
"Pokoknya berhenti melakukan apapun !" Lanjut Kavi.
Mengambil keranjang cucian itu dan akan membawanya.
Emosi Enzy sudah mulai mencuak, ditambah lagi ia sudah kesal melihat kahy mabuk, Enzy merebut paksa keranjang yang di pegang Khay.
__ADS_1
"Kamu mengatakan ini, setelah aku mencucinya selama satu jam lebih, ok, lakukan apa yang kamu mau, dan aku tidak akan mau lagi peduli denganmu." Kesal Enzy kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut, sebelum ia benar-benar pergi Enzy kembali menyerahkan keranjang cucian tersebut kepada Khay.
"Sayang, sayang jangan marah dong." Teriak Khay namun diabaikan oleh Enzy.
...πππππ...
π "Apa-apaan, lakukan saja ?" Enzy sedang berbicara di telepon sambil duduk di tempat tidur dengan selimut menutupi kakinya hingga ke pinggang.
π ".........
π "Wanita diluaran memang tak tau diri suka mendekati pria yang sudah beristri." Enzy terlihat meninggikan suaranya ikut emosi membahas masalah wanita penggoda dengan seseorang diseberang telpon.
π "........
π "Betul, jika benar dia mencoba bermain-main diluar sana...." Enzy menjeda ucapannya karena melihat Khay baru saja keluar dari kamar mandi dan berjalan mendekatinya, Enzy memutar bola matanya malas melihat suaminya yang tersenyum padanya.
π "Kamu harus memotong-motongnya dan menyiramnya masuk kedalam toilet." Lanjut Enzy menggebu-gebu.
π "........
π "Baiklah, sampai ketemu lain waktu, aku tutup dulu telponnya, bay..." Ucap Enzy kemudian mengakhiri panggilannya lalu meletakkan ponselnya di atas nakas samping tempat tidur.
"Siapa ?" Tanya Khay.
"Rania, menurutmu siapa lagi ?" Jawab Enzy sedikit ngegas.
Khay merangkak naik ketempat tidur, dan sengaja melewati Enzy, sehingga hampir saja ia menindihnya. Khay mendudukkan dirinya disamping Enzy dan mulai memegang pinggang istrinya itu.
"Khay, aku peringatkan sekarang !" Mendengar peringatan Enzy Khay langsung menarik kembali tangannya kemudian menyandarkan dirinya di kepala tempat tidur.
"Aku sedang tidak mood, jadi jangan coba-coba menggangguku jika kamu tidak ingin tidur di luar." Ancam Enzy menekankan saat dirasa tangan Khay berada di bagian belakangnya.
Khay mengubah posisinya menjadi duduk tepat di samping Enzy, dan sedikit lebih mendekat, Khay ingin sekali memeluk istrinya itu, namu ia juga merasa takut-takut kalau wanitanya itu bertambah kesal padanya.
"Maaf, jika aku salah mengatakan itu tadi." Ucap Khay, sementara Enzy sedikit menjauhkan dirinya, dan Khay juga ikut mendekatkan dirinya pada Enzy, membuat Enzy menatapnya kesal lalu beralih kembali menatap kedepan.
"Aku hanya tidak ingin kamu kelelahan, kamu sudah cukup lelah, dengan bekerja, jangan memaksakan diri di rumah !" Lanjut Khay.
Khay menyandarkan kepalanya di bahu Enzy.
"Maafkan aku." Ucap Khay mendusel-dusel dibahu Enzy.
"Maafkan aku karena tidak berpikir." Lanjut Khay memohon masih di posisi yang sama.
"Tapi aku juga melakukan, apa kamu ingin aku tinggal dirumah sendirian sama seperti orang bodoh." Sahut Enzy kesal.
"Tidak seperti it....
"Aku marah, karena aku ingin melakukannya untuk kamu, untuk rumah tangga kita, aku ingin menjadi istri yang berbakti yang baik buat suamiku, apa aku salah jika aku melakukan pekerjaan rumah tangga yang notabennya memang tanggung jawab aku sebagai istri, dan aku melakukannya karena memang aku masih mampu." Ucap Enzy.
"Iya aku mengerti, tapi apa lebih baik kita mempekerjakan ART, untuk membantumu." Sahut Khay merangkum bahu istrinya itu.
"Lupakan aku mau tidur, besok aku harus berangkat menghadiri konferensi pers klaiyen aku." Ucap Enzy memindahkan tangan Khay yang merangkulnya kemudian berbaring membelakangi Khay.
Khay tersenyum melihat sikap merajuk istrinya itu, Khay ikut membaringkan dirinya masuk kedalam selimut yang sama lalu memeluk Enzy dari belakang.
"Khay..."
"Emmm...."Sahut Khay mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Aku sedang tidak mood sekarang." Ucap Enzy.
"Aku tidak akan melakukan lebih, aku hanya ingin seperti ini." Ucap Khay namun tangannya tak diam didalam selimut sana.
"Khay tangan kamu." Tegur Enzy dirasa tangan Khay bergerak nakal pada perutnya.
"Pelukan saja sayang, biarkan aku memelukmu." Sahut Khay kini ia sudah menenggelamkan wajahnya di celuruk leher Enzy bagian belakang.
"Khay...." Lagi-lagi Enzy menegurnya.
"Maafkan aku, please maafkan ya...ya...ya...." Ucap Khay sedikit mengangkat kepalanya dan ia letakkan di leher Enzy.
"Emmm....." Sahut Enzy jenga mendengar rengekan suaminya itu.
"Emmm apa ?"Goda Khay mencium pipi istrinya itu.
"Ya sudah tidak jadi." Sahut Enzy kemudian menutup matanya.
Khay tersenyum, kemudian ia merubah posisinya menjadi menindih Enzy yang masih berbaring menyamping.
"Jadi kamu sudah memaafkan aku kan, sayang?" Tanya Khay.
"Iya." Sahut Enzy tak menghiraukan apa yang dilakukan pria yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
Khay tersenyum penuh arti saat mendengar sahutan Enzy, kemudian ia semakin mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Enzy namun tiba-tiba
BRUK......
Enzy mendorong cukup keras tubuh Khay dari atasnya, hingga Khay terjatuh dari tempat tidur, dan bokongnya mendarat sempurna dilantai keramik yang keras itu.
"Ishhh sayang, kamu tega banget sih." Ringis Khay memegangi bokongnya.
"Makanya jangan banyak tingkah, aku sudah maafkanmu, tapi dengar ini baik-baik !" Ucap Enzy sedikit menahan senyumnya melihat Khay terjatuh, sebenarnya ia juga merasa khawatir disaat yang bersamaan melihat suaminya itu kesakitan.
"Jika aku ingin mengerjakan rumah sendirian tanpa bantuan ART, maka aku akan melakukannya, dan jangan pernah memperkerjakan ART tanpa persetujuanku." Lanjutnya kemudian menarik selimut yang juga ikut terjatuh bersama Khay.
"Dan satu lagi, jika kamu masih ingin tidur di tempat tidur, jangan coba-coba mengangguku." Tambah Enzy kemudian berbaring dengan posisi membelakangi Khay.
"Sayang, bantuin dong, sakit banget ini boking aku, aku tidak bisa beranjak dari sini." Ucap Khay terdengar manja.
"Gak usah manja, aku tahu kamu cuma mau modus." Sahut Enzy tanpa menoleh.
"Say.....
"Tidur diluar Khay.!" Seru Enzy menyela saat Khay kembali akan merengek.
Mendengar itu, Khay memilih diam, dari pada ia tidur di luar, yang akan berakhir tidak bisa tidur, walaupun Enzy mengatakan tidak ingin di ganggu, tapi jika sudah tertidur lelap, maka secara tidak sadar enzy akan memeluknya, karena hal itu yang sering terjadi.
...To be continue...
...Jangan bosan-bosan ya readers, mungkin alurnya membuat Anda bosan, tapi beginilah alurnya, author sengaja tidak memberikan konflik besar, cukup dengan pertengkaran-pertengkaran kecil saja, karena si kehidupan rumah tangga tidak ada yang mulus,bukan ?...
...LIKE...
...KOMENT...
...VOTE...
...TERIMAKASIH...
__ADS_1
...πππππππ...