
Dengan percaya dirinya Mila duduk dengan santainya pada kursi yang ada di ruangan VVIP restoran tersebut. Sambil menunggu kedatangan Khay yang diharapkan nya, Mila terlebih dulu memoles wajahnya dengan bedak.
Saat Sedang asik merias wajahnya pintu ruangan tersebut terbuka, membuat atensi Mila teralihkan, sebelumnya Mila sudah sangat senang karena Khay beneran mau datang, namun beberapa detik setelah raut wajahnya berubah plus kaget melihat siapa yang datang, bukannya Khay tapi malah pawangnya yang datang.
"Siapa ya ?" Mila menetralkan raut wajahnya agar terlihat setenang mungkin lalu bertanya seolah iya tidak tahu siapa yang saat ini berada di hadapannya.
Tanpa menjawab pertanyaan Mila, Enzy meletakkan tas mahalnya tepat di atas meja di hadapan Mila, Mila yang melihat itu meneguk ludahnya, dalam pikirannya kapan ia akan memiliki tas seperti itu.
Dengan angkuh, Enzy mendudukkan dirinya di depan Mila, Enzy melepaskan kacamatanya, lalu duduk di hadapan Mila.
"Kamu Mila kan ?" Tanya Enzy angkuh menatap wanita dihadapannya dengan tatapan mengintimidasi.
Jangan lupakan Enzy memang memiliki sifat angkuh jika ia bertemu orang yang menurutnya gak ia kenal, apalagi orang itu mencoba mengusiknya.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Setelah dari restoran, Enzy masuk ke apartemen, saat membuka pintu ia kaget melihat khay berdiri di hadapannya dengan tatapan datar mengintimidasi sambil bersedekap dada, membuat Enzy sedikit takut.
"Kenapa kamu berdiri disini, lalu kenapa kamu menatapku seperti itu ? Kamu membuatku takut." Ucap Enzy pelan-pelan mendekati Khay.
Bagaimana denganmu ? Kamu dari mana saja, dan apa yang telah kamu lakukan ?" Khay malah balik bertanya dengan nada dingin.
Enzy meneguk ludahnya kasar, apa suaminya ini marah karena ia tahu kalau ia habis menemui wanita gelapnya.
"Menurutmu apa yang aku lakukan ?" Bukannya ada yang menjawab pertanyaan masing-masing mereka malah saling melemparkan pertanyaan.
Tanpa menjawab Khay mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, lalu menunjukkan pesan dari Mila juga pesan balasan yang Enzy kirim.
"Ini !" Khay mengarahkan ponselnya di depan Enzy.
Enzy terdiam, ia merasa malu, kesal, cemburu bercampur menjadi satu, ia tidak tahu harus mengatakan apalagi, bahkan Enzy tak berani menatap wajah mengintimidasi suaminya itu.
"Bagaimana kamu tahu ?" Tanya Enzy akhirnya.
"Kamu jelas mengirimkan pesan padanya, bagaimana mungkin aku tidak tahu." Jawab Khay.
"Jadi, apa yang kamu lakukan pada Mila ?" Tanya Khay mengintimidasi.
Khay berusaha menahan senyumnya dikala ia melihat tingkah Enzy yang diam, Khay tahu kalau istrinya itu cemburu.
"Apa kamu marah ?" Tanya Enzy pelan.
Khay mamajukan bibirnya, mengerihkan bahunya, ia masih berpura-pura, membuat mimik wajahnya sedatar mungkin.
"Katakan dulu ! Apa yang telah kamu lakukan padanya ? Agar aku bisa memutuskan apa aku harus marah atau tidak." Ujar Khay.
Emmmm
Flashback On
"Jadi kau ada urusan apa dengan suamiku ? Sampai kau ingin menemuinya, bahkan di tempat yang privasi seperti ini." Tanya Enzy walaupun masih tenang, tapi tidak bisa dipungkiri kalau raut dan hawa ruangan tersebut seketika menjadi seolah ruangan persidangan.
"Suami siapa ? Siapa yang kau bicarakan ?" Mila masih mencoba untuk mengelak.
"Oh...Maaf." Ucap Enzy menegakkan posisi duduknya yang tadi bersandar sambil bersedekap dada.
"Saya lupa memperkenalkan diriku sebelumnya, mungkin kau belum mengetahui saya ini siapa ? Perkenalkan saya Enzy istri dari Khayran, pria yang coba kamu goda, betul ?" Ujar Enzy penuh penekanan setiap kata yang ia keluarkan dari mulutnya, jangan lupakan tatapan mengintimidasi, seolah ia mengintimidasi seorang terdakwa.
"Oh... Jadi ini rupa asli dari tuan Khayran, pantas saja tuan Khayran lebih tertarik padaku." Ucap Mila menantang tak lupa senyum meremehkannya, membuat Enzy semakin naik pitam.
"Dan lelucon macam apa ini, saya tidak peduli jika kau adalah istrinya, saya akan tetapi mendekatinya, membuat tuan Khayran jatuh kepadaku." Lanjut Mila sungguh percaya diri sekali wanita mu****an ini.
Enzy terkekeh geli mendengar perkataan murahan yang disampaikan Mila.
__ADS_1
"Apa aku terlihat sedang membuat lelucon ? Dan saya peringatkan kau jangan terlalu percaya diri karena jika suami saya ingin bermain belakang, suami saya tidak akan sampai bermain kepada wanita rendah seperti kau ini." Ucap Enzy nyelekik hingga usus.
Mila tampak sangat kesal, ia tidak terima apa yang Enzy katakan padanya, ia merasa harga dirinya dijatuhkan.
"Jangan coba-coba mengusik rumah tanggaku, Saya memperingatkan kau demi kebaikanmu, karena kau tidak akan pernah mendapatkan apa yang kau inginkan." Ucap Enzy menekankan dan tersirat nada ancaman.
"Belum terlambat untuk merubah pikiranmu sekarang, karena suamiku hanya menyukai satu wanita untuk mendampingi hidupnya, yaitu tipe seperti ku." Lanjut Enzy masih dengan nada penekanan yang kuat.
Mila tampak diam, ia benar-benar ketakutan melihat tatapan dan nada bicara Enzy sejak tadi.
"Baiklah, saya sudah keluar terlalu lama, suamiku sudah pasti menungguku, dan merindukanku."
"Dan untuk kau, nona Mila, saya peringatkan semoga kau selamat hingga dirumah." Lanjut Enzy mengancam.
"Tidak aman jika wanita seperti nona ini, pulang sendirian, apalagi telah mengusikku, saya rasa nona Mila tahu sendirikan saya ini siapa ?" Ucap Enzy kemudian beranjak dan berdiri dihadapan Mila yang sudah terlihat cemas.
Enzy membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya lebih dekat kepada Mila.
"INI HANYA PERINGATAN KECIL DARI SAYA." Ucap Enzy lalu pergi meninggalkan Mila yang sudah ketakutan mendengar ancaman dari seorang Enzy.
Flashback Off
Hahahaha...." Khay tertawa terbahak-bahak mendengar cerita istrinya, bagaimana istrinya itu mengancam wanita lain yang mencoba menggodanya.
Kini Khay dan Enzy sudah pada sofa yang ada diruang tengah.
"Apa kamu sudah gila karena marah ? Kenapa kamu malah tertawa ?" Enzy memberenggut kesal melihat respon suaminya setelah menceritakan apa yang telah ia lakukan.
"Serius sayang, aku tahu apa yang akan kami lakukan." Sahut Khay masih di sisa-sisa tawanya.
"Menurutmu apa yang akan aku lakukan ?" Tanya Enzy sinis.
Khay memajukan wajahnya agar lebih dekat dari Enzy, lalu berbisik tidak jauh dari telinga istrinya itu.
"Kamu CEMBURU." Jawab khay berbisik.
"Apa yang sedang kamu mainkan ?" Tanya Enzy BT.
"Lucu juga kalau istri ku cemburu." Khay semakin menggoda Enzy, sambil mencubit gemas pipi istrinya itu.
Enzy memberenggut kesal, mendapatkan perlakuan seperti itu, apalagi ia melihat wajah menyebalkan suaminya.
"Awalnya, aku ingin pergi menemuinya sendiri, tapi, kamu sangat manis, ketika kamu marah, maka dari itu aku membiarkan istriku ini menanganinya." Lanjut Khay.
Sedangkan Enzy hanya misuh-misuh mendengar ucapan Khay, ia sangat kesal merasa di permainakan suami menyebalkannya itu.
"Dan...." Khay sengaja menghentikan ucapannya.
Enzy langsung beralih menatap tajam Khay, penasaran apa yang akan Khay katakan selanjutnya.
"Dan, kamu tak mengecewakan ku sama sekali." Lanjutnya sambil menaik turunkan alisnya menggoda Enzy.
"Dasar !!" Cebik Enzy mendorong bahu Khay yang mendekat kepadanya.
"Kenapa ? Apa kamu ingin suamimu ini yang menemuinya ?" Tanya Khay tersenyum menggoda.
Enzy langsung menatap nyalang suaminya, membuat Khay terkekeh melihatnya.
"Dalam mimpimu ! Kamu terlalu lemah, jika membiarkanmu menemuinya sudah pasti kamu ragu-ragu, dan mungkin saja tergoda, dan dia akan semakin mendekatimu." Oceh Enzy kesal.
"Segitunya kamu terhadapku sayang, dan perlu kamu ingat ! Aku tidak akan lemah ataupun tergoda." Khay menarik lengan Enzy lalu ia rangkul, sedangkan Enzy membiarkan saja Khay seperti itu.
"Kamu tahukan ? Aku hanya akan tergoda pada satu wanita, yaitu kamu, istriku." Lanjut Khay.
__ADS_1
"Gombal." Ucap Enzy memutar bola matanya malas, sambil memajukan bibir bawahnya.
Khay tersenyum, ia sangat gemas melihat kejengahan istri tercintanya itu.
"Sini !" Khay menarik lengan Enzy agar lebih mendekat.
"Ngapain ?" Tanya Enzy malas.
"Makanya sini !" Jawab Khay menarik lengan Enzy, Enzy pun menurut lalu duduk lebih merapat pada Khay.
"Senyum yang manis !" Titah Khay merangkul bahu Enzy lalu mengarahkan kamera ponselnya kepada mereka berdua.
"Mau ngapain ?"Tanya Enzy menatap Khay sibuk mengatur posisi yang bagus.
"Senyum!" Ujar Khay menarik ujung bibir Enzy agar tersenyum.
"Tidak !" Enzy menepis tangan KKhay yang berada di bahunya.
"Pokoknya harus !" Tegas Khay.
Enzy sangat terpaksa menuruti kemauan Khay, namun masih cemberut.
"Senyum sayang !"
Enzy memaksakan senyumannya.
"Satu...Dua... Tiga...."
Setelah mendapat foto yang bagus, Khay langsung mengirimnya ke nomor Mila.
^^^•Khay^^^
^^^"Maaf atas nama istriku, dan saya berharap kamu tidak lagi mengusiku, ataupun kehidupan rumah tanggaku atau kamu tahu sendiri bagaimana istri saya, istri saya tidak pernah main-main dengan ancamannya.^^^
Setelah mengirim pesan tersebut, Khay memperlihatkan nya pada Enzy.
"Nih !" Khay menunjukkan ponselnya yang menampilkan pesan yang dikirimnya untuk Mila.
Enzy memperhatikan pesan tersebut dan membacanya dengan seksama, Enzy memaksakan dirinya agar tidak tersenyum.
"Emmm, baik." Sahut Enzy.
"Apakah berarti aku telah berbuat baik ?" Ucap Khay menatap Enzy dengan tatapan seolah meminta sesuatu.
"Ya." Jawab Enzy masih sok judes.
"Karena aku berbuat baik....." Khay merangkul lengan Enzy lalu menyandarkan kepalanya pada bahu wanitanya itu.
"Mana hadiahku ?" Lanjut Khay ingin mencium Enzy namun dengan cepat Enzy menahan wajah Khay yang tinggal sedikit lagi menciumnya.
"Menjauhlah, biarkan aku pergi." Enzy berusaha mendorong tubuh Khay yang terus saja ingin menciumnya.
"Khay menjauhlah, aku masih kesal dengan mu !" Seru Enzy yang tak dihiraukan Khay, dan akhirnya pria itu berhasil mencuri ciuman di pipi Enzy.
"Diamlah Khay !" Seru Enzy kesal.
"Sayang ayolah, aku kangen !" Khay semakin menggodanya.
"Dalam mimpimu ! Siapa suruh membuatku marah." Ucap Enzy lalu beranjak dari sana, kemudian pergi meninggalkan ruang tengah tersebut.
"Sayang, ayolah !" Teriak Khay yang tak dihiraukan Enzy.
Khay tersenyum melihat kepergian Enzy yang menaiki anak tangga satu persatu sambil menghentak-hentakkan kakinya.
__ADS_1
"Maaf sayang." Gumam Khay tersenyum.
To Be Continue.....