
Sejak perdebatan mereka siang tadi, Manda tak pernah lagi berbicara dengan Barlie, Manda seolah menghindari pria yang sudah menjadi suaminya sejak dua tahun lalu itu.
Ya, keduanya telah menikah atas dasar perjodohan, mereka sama sekali tak saling mengenal sebelumnya, Manda tidak menyukai Barlie karena sikap Barlie yang selalu berubah-ubah kadang manis dan kadang juga angkuh, tapi berbanding terbalik dengan Barlie, sebenarnya pria itu sudah menyukai istrinya sejak pertemuan pertama mereka, namun sikap Manda yang dingin dan berterus terang kalau wanita itu sama sekali tak menyukainya, itulah alasan Barlie bersikap demikian.
Barlie memasuki kamar setelah selesai mengerjakan pekerjaannya di ruang kerja saat selesai makan malam tadi, saat masuk kamar Barlie mendapati Manda sudah berada di tempat tidur sambil terpejam.
"Maafkan sikap aku yang tadi." Ucap Barlie kemudian ikut naik ketempat tidur.
Manda yang sebenarnya belum tertidur pura-pura tidak mendengarnya.
Karena tidak mendapatkan respon, Barlie memeluk istrinya itu sambil menenggelamkan wajahnya diceluruk leher Manda.
Walaupun mereka belum saling mengakui perasaan masing-masing, tapi mereka sudah saling menerima satu sama lain, dan bersikap seperti layaknya pasangan suami istri, walaupun mereka belum melakukan seperti halnya pasangan yang mestinya dilakukan pasangan yang sudah menyandang sebagai suami istri.
"Man, maafkan aku, aku akui aku salah karena bersikap seperti tadi." Ucap Barlie kembali meminta maaf, karena Manda masih mendiaminya, walaupun ia sudah melingkarkan lengannya di atas perut wanita di sampingnya itu.
"Aku tidak bermaksud membuatmu kesal." Tambahnya.
"Emm, tapi kenapa kamu tidak memberitahuku soal masalah yang kamu hadapi saat ini." Sahut Manda dingin tanpa membuka matanya.
"Aku hanya tidak ingin menganggumu, bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu ingin mencapai cita-cita mu selama ini, dan kamu juga pernah katakan kalau ini kesempatan yang tidak bisa kamu lewatkan." Jelas Barlie mengubah posisinya yang sebelumnya mencium celuruk leher Manda, dan kini beralih meletakkan kepalanya di atas dada Manda lalu menatapnya dari bawah.
"Tapi kamu harus tetap memberitahuku !" Sahut Manda yang masih setia memejamkan matanya.
"Maaf, tapi apa karena masalah ini kamu kembali, dan meninggalkan semuanya ?"
"Bukannya itu sangat penting untukmu ?"
"Sudah kukatakan, kalau aku meninggalkan pekerjaan ku bukan karena ini, hanya kebetulan saja, dengan kepulangan ku, juga saat Mike memberitahuku." Tukas Manda membuka matanya lalu menatap Barlie yang ternyata menatapnya juga.
"Apa kamu tahu, aku kecewa saat aku mengetahui ini dari orang lain." Lanjutnya.
"Aku khawatir, kamu tahu ?" Gumam Manda hampir tak terdengar.
"Apa kamu sudah peduli denganku ?" Tanya Barlie mendengar gumaman Manda.
"Bagaimana aku tidak peduli, kamu suamiku sekarang, sudah sepatutnya seorang istri mengkhawatirkan suaminya." Ujar Manda kembali memejamkan matanya.
"Apa berarti kamu sudah memiliki perasaan dengan suamimu ini ?" Tanya Barlie lagi, berharap Manda menjawabnya dengan YA.
"Sudah lebih baik kamu tidur, ini sudah malam ! Jangan terlalu berharap lebih !" Seru Manda.
Mendengar seruan wanitanya itu, membuat Barlie menghela nafas berat, kemudian mengubah posisinya dan berbaring di sebelah wanita yang kini sudah ia peristri dua tahun lalu.
"Man." Panggil Barlie.
"Emmm."
"Apa aku boleh memelukmu ?"
"Kenapa kamu bertanya, biasanya juga kamu seperti itu." Sahut Manda.
__ADS_1
Barlie tersenyum lalu memiringkan badannya menghadap Manda yang terbaring terlentang, lalu memeluk Manda dengan menelungsupkan wajahnya di celuruk leher Manda yang berbau yang lembut, membuat Barlie tenang.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Karena hari ini hari libur, Khay sengaja bangun pagi-pagi, setelah sholat subuh tadi ia tak tidur lagi seperti biasanya, Berbeda dengan Enzy mungkin karena kelelahan ia kembali melanjutkan tidurnya subuh tadi.
Pagi ini Khay tampak berkutat di dapur, dengan telaten ia mencampurkan telur dan tepung dan beberapa bahan kue lainnya, menurutnya ini sudah benar, bahkan Khay membuat di setiap sudut ruangan itu sangat berantakan dengan tepung yang berserakan dimana-mana, bahkan kulit telur berceceran di lantai, bahkan beberapa butir telur yang berceceran juga dilantai karena terjatuh dan pecah.
"Apa yang sedang kamu lakukan ?" Tiba-tiba Enzy datang mengagetkan Khay yang sibuk sendiri mengocok adonan yang sudah ia campur.
Khay langsung menoleh, lalu membelakangi Enzy yang berdiri pada mini bar yang ada di dapur tersebut.
"Coba aku tebak, kamu mau berbuat romantis tapi malah mengacaukan dapurku, apa begitu pak suami ?" Tebak Enzy tersenyum melihat sikap suaminya.
Khay menoleh sejenak, lalu mendelik melihat istrinya itu, sebenarnya ia sedikit kesal karena semalam Enzy menolak untuk melakukan apa yang harusnya mereka lakukan sebagai pasangan suami-istri, dengan alasan sedang lelah.
"Jangan coba-coba marah ya pak suami ! Apa kamu tahu, ini hari weekend, apa kamu tidak ingin melakukan sesuatu denganku ?" Ucap Enzy lagi.
"Karena ini hari libur, aku ingin melakukan sesuatu untukmu." Sahut Khay tanpa melihat ke arah Enzy yang sedang tersenyum melihat suaminya yang sedang merajuk, pikirnya.
"Dengan mengubrak-abrik dapur ku seperti ini ?" Goda Enzy.
"Aku tidak mengobrak-abrik, tapi aku sedang membuat kue untukmu." Tegas Khay.
Enzy mengaguk sambil tersenyum, lalu berjalan menghampiri Khay.
"Seorang Khayran, ingin membuat kue untukku, aku sangat tersanjung." Ucapnya.
"Tapi yang aku lihat, tuan ini hanya mengobrak-abrik dapur milikku." Ucap Enzy lalu berdiri tepat disamping suaminya yang masih sibuk mengocok adonannya didalam wadah kaca.
"Dannn..." Enzy menggantung ucapanya lalu berdiri menghadap Khay.
"Dan apa ?" Khay menghentikan kegiatannya lalu ikut menghadap Enzy dengan posisinya sekarang saling berhadapan.
"Kupikir, melakukan apa yang paling kamu bisa." Lanjut Enzy mengalungkan tangannya pada leher suaminya itu sambil menatapnya menggoda.
Khay menghela nafas pelan, lalu menarik pinggang Enzy agar lebih merapatkan tubuh mereka.
Khay mengusap bibir ranum Enzy yang selama ini menjadi candunya, menggunakan ibu jarinya dengan gerakan penuh sensual membuat Enzy sejenak memejamkan matanya kemudian menatap manik mata suaminya yang selalu membuatnya terhipnotis.
"Karena hari ini hari libur... Aku berencana membiarkanmu untuk beristirahat dengan nyaman." Ucap Khay sensual lalu mengecup sekilas bibir ranum istrinya itu.
"Tapi aku tidak pernah memintanya." Sahut Enzy tak kalah sensualnya.
Khay tersenyum sejenak lalu dengan satu kali tarikan, Khay membalikkan Enzy bertukar posisi lalu menyandarkan wanitanya pada setkichen, dengan tanpa aba-aba Khay langsung meraup bibir Enzy, tidak puas bermain-main di bibir Enzy, Khay lebih turun menjelajahi leher jenjang milik istrinya itu sehingga meninggalkan bekas kemerahan hingga beberapa bagian.
"Jangan disini." Ucap Enzy serak menahan gejolak dari dalam dirinya.
Khay menganggukkan kepalanya, lalu mengangkat tubuh Enzy apa bridal style menuju kamar mereka.
Setibanya di dalam kamar, Khay langsung merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur king size milkinya, lalu melanjutkan kegiatan panas pasangan tersebut di pagi-pagi seperti ini, ditambah lagi susana diluar sana tampak hujan deras, menambah kesan romantis keduanya.
__ADS_1
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Di tempat lain
Barlie tampak menikmati sarapannya yang dibuat istrinya.
Manda yang melihat itu tersenyum sendiri, melihat Barlie makan dengan sangat lahap.
"Pelan-pelan aja makannya !" Ujar Manda sok cuek.
"Makan dengan benar ! Lanjutnya kemudian ikut menikmati sarapan.
Hingga beberapa menit kemudian keduanya selesai sarapan.
"Bar, apa kamu ada waktu hari ini ?" Tanya Manda.
"Emang ada apa ?" Tanya Barlie balik.
"Aku bertanya Bar, aku butuh jawaban bukan pertanyaan." Ujar Manda.
"Tidak ada, aku free hari ini, emang kenapa ?" Ucap Barlie, kemudian bertanya.
"Aku pengen pergi ke mall, ada sesuatu yang ingin aku cari, tapi aku malas buat jalan sendiri." Jelas Manda.
"Baiklah, jam berapa kamu perginya ?" Tanya Barlie.
"Kamu mau nemenin ?" Tanya Manda berbinar.
"Iya, aku juga bosan tinggal dirumah, itung-itung sedang refreshing." Jawab Barlie.
"Terimakasih." Senang Manda kemudian beranjak dari kursinya beralih memeluk Barlie tak lupa mendaratkan kecupan pada pipi pria tersebut.
Barlie mengangkat senyumannya samar, takut Manda melihatnya.
"Emmm, sama-sama, jam berapa kita perginya ?" Tanyanya.
"Mungkin agak siangan sih, sekalian kita makan siang disana nanti." Jawab Manda.
"Ok." Ucap Barlie.
To Be Continue........
Jangan bosan-bosan ya readers, dan author sangat mohon berikan komentar atau pendapat kalian mengenai setiap part nya, komentar kalian sangat membuat semangat author untuk terus up...
...Terimakasih...
...LIKE...
...KOMENT...
...VOTE...
__ADS_1
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...