Dambaan

Dambaan
Dambaan Part 14


__ADS_3

Di kediaman Khay dan juga Enzy, lebih tepatnya di apartemen mereka, setelah makan malam tadi Khay pamit untuk ke ruang kerjanya karena masih ada yang mesti ia selesaikan.


Jam sembilan malam tepat, Khay kembali dari ruang kerja, saat memasuki kamar Khay mendapati Enzy masih berkutat dengan beberapa berkas dan juga laptop di atas pangkuannya sambil bersandar pada beberapa tumpukan bantal di atas tempat tidur.


Khay mendekati Enzy dan melihat apa yang sedang di kerjakan nya itu, Enzy yang tadinya serius pada pekerjaannya menjadi mengalihkan atensinya pada suaminya itu, yang berdiri tepat disampingnya.


Tanpa berkata apa-apa, Khay berjalan mengitari tempat tidur lalu ikut naik, Khay menarik selimut untuk menutupi sebagian dirinya.


"Sudah mau tidur ?" Tanya Enzy sejak tadi memperhatikan gerak-gerik suaminya.


Khay menggelengkan kepalanya.


"Belum." Sahut Khay kemudian menyandarkan kepalanya pada tumpukan bantal yang sudah ia susun sebelumya agar merasa nyaman.


"Apa karna kamu terganggu aku bekerja disini ? Jika kamu terganggu aku akan bekerja di luar." Ujar Enzy menatap Khay.


Khay tersenyum mendengar perkataan Enzy.


"Gak apa-apa tetaplah disini ! Aku tidak merasa terganggu sekalipun kamu ingin teriak-teriak." Ujar Khay lebay.


"Lebay !" Cibir Enzy kemudian mencium pipi Khay sekilas lalu kembali mengerjakan pekerjaannya.


Sedangkan Khay tersenyum senang mendapatkan ciuman dari Enzy, Khay menatap Enzy yang kembali sibuk pada pekerjaannya hingga ia kembali angkat bicara.


"Sayang." Panggil Khay.


"Ada apa ?" Enzy menoleh menatap suaminya.


"Apa kamu ingat besok, hari apa ?"


Enzy tampak berpikir sejenak, lalu bertanya.


"Hari apa ?"


Khay memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan istrinya.


Enzy yang melihat itu tersenyum, melihat tingkah suaminya, ia hanya pura-pura tak mengingatnya, Enzy hanya berniat ingin menggodanya.


"Aku ingat Yank, tadi hanya bercanda." Ucap Enzy.


Khay tidak merespon ucapan Enzy, Khay malah memajukan bibir bawahnya, lalu melihat ke arah lain.


Enzy tahu kalau suami manjanya itu merajuk, Enzy merapikan berkas-berkas berserta laptopnya lalu ia letakkan di atas nakas.


"Loh, udah gak lanjut kerjanya ?" Tanya Khay yang melihatnya.


"Emm, masih bisa di kerjakan besok, sekarang aku mau bersama suamiku." Jawab Enzy kemudian merebahkan dirinya menjadi bersandar pada bahu lebar Khay, tak lupa pula Enzy melingkarkan lengannya pada perut suaminya itu.


"Ayo kita tidur, dan berhenti berpikiran yang tidak-tidak !" Ujar Enzy, sebenarnya ia tahu kalau suaminya itu sedang memikirkan sesuatu tapi ia tak tahu entah apa itu.


Enzy mulai memejamkan matanya, setelah mendapatkan posisi ternyaman yaitu di dada bidang sang suami yang sangat ia cintai itu.


"Aku..." Saat Khay berujar Enzy kembali membuka matanya lalu sedikit mengangkat wajahnya untuk menatap Khay.


"Aku tidak bisa berhenti berpikir." Lanjut Khay.


"Yank...Aku kan sudah pernah bilang...


"Karena dipikiranku cuma ada kamu, sayang." Sela Khay.


"Aku gak bisa berhenti memikirkanmu." Ucap Khay lagi kemudian merubah posisinya kini Khay yang bersabda di dada Enzy yang masih setengah bersandar pada tumpukan bantal.


Enzy tersenyum melihat sikap suaminya yang manja, Enzy mengusap rambut lebat suaminya sesekali menciumi kepalanya.


Sedangkan Khay yang mendapatkan perlakukan seperti itu dari sang istri tercinta, ia semakin mengeratkan pelukannya.


Khay kembali menarik dirinya, menjadi setengah menindih Enzy, lalu mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi pada wajah Enzy sehingga hampir bersentuhan.


"Senyum-senyum seperti ini, apa kamu malu ?" Goda Khay membuat wajah Enzy semakin merona.


"Kamu ngomong apasih ?"

__ADS_1


"Malu ?"Khay semakin menggodanya.


"Aku gak malu."


"Ngaku aja sayang." Seru Khay kembali mendusel-dusel di celuruk leher Enzy.


"Enggak !" Sahut Enzy merasa kegelian dengan apa yang dilakukan Khay padanya, Enzy mendorong bahu Khay agar berhenti, namum kekuatannya tak jauh lebih kuat dari pada Khay dan berakhir, melakukan apa yang seharusnya suami isteri lakukan.


...🍁🍁🍁🍁🍁...


Di sisi lain


Chelsea baru saja selesai memakai beberapa alat perawatan kulit sebelum ia tidur, Chelsea mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja riasnya lalu berjalan menuju tempat tidur, bukannya ia langsung tidur, tapi Chelsea mala menyandarkan dirinya pada kepala tempat tidur.


Chelsea tampak berpikir apa ia mengirimkan pesan pada kontak yang sudah ia dapatkan apa tidak.


"Tapi ini sudah jam delapan, apa aku tidak menganggunya ?" Tanyanya pada dirinya sendiri.


Setelah cukup berpikir akhirnya Chelsea mencoba mengetikkan beberapa kata.


"Hallo Nend, ini aku Chelsea.....


"Kenapa kesannya aku jadi memperkenalkan diri ya ? Nendra kan sudah pasti tahu ini aku." Chelsea menggelengkan kepalanya lalu menghapus pesan yang sudah ia ketik buat Nendra.


"Hallo Nend, apa kabar ?"....


"Begini bagus gak sih ?" Chelsea tampak gak yakin dengan apa yang baru ia ketik kembali...


"Gak...gak... !" Chelsea kembali menghapus ketikannya.


"Apa kamu punya waktu luang, Nend ?" Chelsea kembali mengetikkan pesannya.


Chelsea tersebut membaca kembali pesan yang sudah ia ketik.


"Apa aku tidak seperti perekrutan"MLM" ?" Chelsea merasa geli sendiri.


Chelsea sudah seperti orang gila karena terus berbicara sendiri, Chelsea melatakkan ponselnya pada pangkuannya.


"Aku gak bisa...gak bisa...gak bisa...." Frustasi Chelsea menggelengkan kepalanya.


"Atau ?" Sepertinya Chelsea mendapatkan sebuah ide.


Chelsea kembali menghapus pesan yang sudah ia ketik sebelumnya lalu kembali mengetikkan kata demi kata yang sudah ia susun.


^^^β€’Chelsea^^^


^^^"Apa besok kamu gak sibuk Nend, aku menemukan restoran yang rekomend, apa kamu mau ikut ?"^^^


"Apa aku terlalu blak-blakan ya ?" Enzy kembali menimang apa yang ia lakukan.


"Ah... sepertinya aku terlalu blak-blakan." Saat Chelsea akan mengahapus kembali pesannya, namun sudah terlambat pesannya sudah terkirim.


"Masih bisa di hapus, sebelum Nendra melihatnya." Gumamnya.


β€’Nendra


"Ok, besok aku free."


Tiba-tiba balasan dari Nendra masuk, membuat Chelsea gelagapan, ia merasa malu karena pesan yang ia kirimkan barusan. Namun tak bisa ia pungkiri kalau sebenarnya ia merasa sangat senang dengan balasan dari Nendra yang ternyata menyetujui ajakannya, bahkan Chelsea terus melihat pesan balasan tersebut hingga berkali-kali untuk memastikan apa itu benar.


...🍁🍁🍁🍁🍁...


Di restoran


Pengunjung tampak sangat ramai bahkan hampir memenuhi restoran tersebut, mulai dari lantai bawah hingga atas semua terlihat padat.


"Wowww.... Semua menu tampak enak nona Chelsea yang cantik." Ucap Rendra heboh seolah tak pernah melihat makan enak sebelumnya.


"Gak usah norak !" Cibir Nendra masih terlihat kesal pada saudara kembarnya itu, pasalnya saat akan berangkat tadi, tiba-tiba Rendra datang berkunjung keeumah orangtuanya bersama istrinya, dan siapa sangka wanita yang di peristri Rendra adalah Prilly, sahabat Kia jaman SMA.


Rendra yang melihat kembarannya itu tampak rapi dengan pakaian kesualnya penasaran, karena tidak biasanya Nendra seperti itu.

__ADS_1


Saat Nendra masuk kedalam mobilnya, dengan tak tahu malunya Rendra ikut masuk, katanya dia mau ikut dan tak ingin di bantah, membuat Nendra mau tak mau terpaksa membawa ikut kembarannya itu.


Bahkan saat tiba di restoran, Rendra terkejut melihat siapa wanita yang tengah menunggu kedatangan Nendra.


"Jika lain kali nona Chelsea ingin meneraktir kami makanan enak seperti ini, kamu jangan pernah sungkan untuk menghubungi kami." Ucap Rendra menghiraukan kekesalan Nendra yang tengah duduk berdampingan dengan Chelsea.


"Baiklah." Ucap Chelsea tertawa melihat tingkah Rendra tak juga berubah, masih kocak dan ribut, walaupun sekarang menyandang sebagai salah satu pejabat.


"Tunggu sebentar ! Sebenarnya ini acara makan dalam rangka apa ini ? Apa ada yang spesial ?" Tanya Rendra menatap Nendra dan Chelsea bergantian.


"Tidak dalam rangka apapun, lebih baik kamu makan !" Jawab Nendra sinis.


"Baiklah baiklah, sorry kalau aku mengganggu kalian, salah sendiri Nendra gak bilang mau kemana." Ujar Rendra dengan tak tau dirinya menyalahkan Nendra padahal dia sendiri yang tiba-tiba saja masuk kedalam mobilnya dan kekeh ingin ikut tanpa mau mendengarkan ucapan Nendra sebelumnya.


Nendra yang mendengar Rendra menyalahkannya hanya memutar bola matanya malas.


"Makan ini Chel !" Seru Nendra memberikan potongan daging yang sudah ia potong-potong kecil terlebih dahulu kedalam piring Chelsea.


Hal tersebut tak luput dari pandangan Rendra yang menatap keduanya curiga.


"Ada apa ?" Tanya Nendra kala mendapati Rendra menatapnya dengan tatapan aneh.


"Gak apa-apa, lanjutkan saja !" Jawab Rendra sedikit canggung.


Nendra memberikan tisu kepada Chelsea, membuat Chelsea menerimanya sambil menaikkan kedua alisnya seolah ia bertanya kenapa ?


"Itu !" Nendra menujuk saus yang melekat pada ujung bibir wanita disampingnya itu.


Chelsea menghapus noda yang dimaksud Nendra namun tak kunjung bersih, karna Chelsea menghapusnya pada tempat yang salah, Nendra yang melihat itu langsung berinisiatif untuk menghapus noda pada ujung bibir Chelsea membuat Rendra melototkan matanya, apalagi jarak antara wajah Nendra dan Chelsea sangat dekat, bahkan jika orang yang melihatnya dari sisi berbeda bisa-bisa dikira kedua orang tersebut disangka sedang berciuman.


"Ekkmm..." Rendra berdehem membuat Nendra dan Chelsea langsung teralihkan, seketika itu juga wajah Chelsea sangat merona karena malu melihat tatapan Rendra yang seolah sedang menggodanya.


"Chel apa kamu sedang demam ? Kenapa wajahmu merona seperti itu ?" Rendra semakin menggoda Chelsea.


Chelsea yang mendengarnya itu hanya menggeleng, menundukkan kepalanya, wanita itu benar-benar seperti anak ABG yang kedapatan sedang berpacaran membuat Nendra gemas sendiri melihatnya.


"Berhenti menggodanya, lebih baik sekarang kamu pergi dari sini !" Seru Nendra menatap sengit saudara kembarnya itu, lalu mengusirnya.


"Emmm, tanpa kamu suruh pun aku akan segera pergi, nyesel aku ikut sama kamu." Ucap Rendra lalu beranjak dari kursinya.


"Woiiii bang***t kunci mobil gue..!" Teriak Nendra mengumpan saat Rendra membawa kunci mobilnya.


"Mobil kamu gue bawah brother, kamu pulang sama kekasihmu saja !" Ucap Rendra tanpa menoleh.


Karena teriakan kedua saudara kembar tersebut membuat atensi para pengunjung beralih pada mereka.


"Maaf...Maaf...." Ucap Nendra saat pengunjung lain melihat kearahnya.


"Masih belum berubah ya kalian ?" Ujar Chelsea.


"Emmm seperti itulah, sorry atas perbuatan Rendra tadi." Ucap Nendra.


"Iya gak apa-apa aku ngerti kok." Sahut Chelsea menampilkan senyuman termanisnya membuat detak jantung Nendra semakin tak karuan.


Saat mengedarkan pandangannya, Chelsea tak sengaja melihat seseorang yang ia kenal, ya dia adalah Barlie klaiyen Enzy.


Pria itu tampak sedang bersama dengan seorang wanita, wanita itu tampak sangat seksi dengan pakaian yang pres dibadan, hingga membuat lekuk tubuh indah wanita itu terlihat jelas.


...To be continue...


...Jangan lupa bosan-bosan ya readers, dan author sangat mohon berikan komentar atau pendapat kalian mengenai setiap part nya, komentar kalian sangat membuat semangat author untuk terus up......


...Terimakasih...


...LIKE...


...KOMENT...


...VOTE...


...πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™...

__ADS_1


__ADS_2